Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test! |
Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims. |
Kerendah-hatian untuk Tidak Cepat Menilai
Statistik menunjukkan bahwa di antara berbagai masalah, ternyata yang nyata merupakan masalah hanya 7 %, sisanya (93 %) adalah masalah yang diciptakan oleh "kecerdasan" manusia itu sendiri. Bagaimana pikiran kita menilai sesuatu itu tidak baik, sesuatu itu tidak seharusnya begini atau begitu, seringkali teramat subyektif , dan oleh karena itu tidak valid. Keterbatasan fikiran manusia , membuat banyak simpulannya bersifat relatif.
Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi, yang memancarkan sinar matahari Sepia, tidak cepat terjebak oleh kerangka penilaiannya sendiri atas semua peristiwa yang menimpanya. Lihat kasus penilaian berikut ini :
Evelyn adalah seorang wanita yang berparas cantik. Masih, sedikit memiliki keturunan Cina dan maka wanita Indo-Cina ini menggabungkan kecantikan Cina dan kesederhanaan Indonesia. Evelyn bernasib cukup baik, berhasil menyelesaikan kuliahnya dari suatu universitas yang terkenal di Bandung.
Segera setelah lulus kuliah, Evelyn menikah. Ia menikah dengan seorang sarjana cerdas dari universitas lain yang terkenal juga di Bandung. Suaminya amat mencintainya, dan pekerja keras. Tergolong cukup santun dan berpenampilan, Evelyn pun sangat mencintai suaminya.
Segera setelah menikah, tanpa terasa setahun pun waktu telah berlalu. Karena suami Evelyn amat mencintainya, maka ia melarang Evelyn untuk pergi bekerja. Dia ingin Evelyn mengandung anak – anaknya dan mengasuh anak – anaknya dengan baik. Di sisi lain, karena menghadapi situasi ketidaktentuan krisis yang demikian hebat, suami Evelyn bekerja siang dan malam tidak kenal lelah.
Evelyn sebagai seorang yang tadinya aktif bergaul, kini mulai mengisi hari – harinya dengan siaran sinetron dan sepi yang mulai menggigit. Terkadang ia merasa lesu dan tak bergairah. Apalagi bila mulai jam 17.00 ia menunggu-nunggu kehadiran suaminya yang tak kunjung tiba. Akhirnya terpaksa pada jam 19.00 an , Evelyn makan sendiri tanpa teman. Dan tertidur di sofa sambil melihat TV. Ia nyaris – nyaris tak kuasa bangun ketika mendengar bel rumah kontrakannya berbunyi jam 22.00. Suaminya pulang.
Sambil menahan kantuk Evelyn membukakan pintu , dan ia pun berkata pada suaminya bahwa "... sudah lama saya menunggu, sampai tertidur." Tak kuasa menahan kantuk Evelyn ngeloyor pergi ke kamar tidur. Suaminya, sambil menahan capek, dengan sedikit bingung mengurus dirinya sendiri. Dia pulang dengan banyak permasalahan yang ingin dicurahkannya pada istrinya. Namun, siapa tahu istrinya demikian mengantuk untuk mendengarkannya.
Kejadian – kejadian yang mirip pun berulang selama nyaris setahun. Evelyn mulai merasa, ada sesuatu yang hilang dan menyiksa batinnya. Suaminya pun mulai merasa, ada sesuatu yang hilang dan menyiksa batinnya. Evelyn mulai berpikir, bahwa, kenapa kini setelah nikah suaminya tidak pernah mengajak kencan lagi sesering dulu waktu sebelum menikah, kenapa kini segalanya mulai berlangsung hambar dan mekanistis tanpa romantisme, kenapa bunga – bunga asmara yang menggebu nampaknya mulai layu. Suaminya pun mulai berpikir, bahwa, kenapa kini Evelyn tidak semenggebu-gebu dulu kalau menyambutnya pulang kantor, dan tidak lagi tampil prima dan cantik seperti dulu pada saat sebelum menikah; dan yang paling menyedihkan adalah seolah istrinya tidak tanggap dengan berbagai permasalahannya di kantornya, khususnya pada saat – saat ia sangat membutuhkannya.
Ekonomi pasangan muda itu meningkat perlahan – lahan , namun dalam benak dan pikiran masing – masing, terdapat benih yang amat menakutkan. Masing – masing "menilai" pasangannya dari sudut pandang "kekurangannya", dan dalam jangka panjang, asmara yang dibangun akan menjadi retak; sehingga keutuhan rumah tangga hanya dipertahankan karena kepentingan ekonomi, sosial dan kepentingan anak – anak, bukan karena asmara yang murni dan tulus sebagaimana semula. Pasangan Evelyn dan suaminya ini terus berjuang melawan kerasnya arus kehidupan, dengan ujian dan cobaannya, namun terus berusaha mempertahankan "penilaiannya". ........ Alangkah banyaknya pasangan yang saling mencinta seperti ini memasuki suatu kehidupan setelah pernikahan yang seperti neraka, dan tidak jarang diantaranya berakhir dengan perceraian. Di negara – negara Barat, angka perceraian menyentuh 50 %.
Dua orang yang baik dan jujur, masing – masing memiliki pemikiran dan keinginan yang wajar sebagai manusia, akhirnya terpaksa menempuh jalan hidup sendiri – sendiri, hanya karena masing – masing merasa bahwa "penilaiannya" adalah paling benar. Terpenjara dalam keterbatasan "penilaiannya".
Alangkah baiknya bila Evelyn memulai penilaiannya dengan keyakinan bahwa suaminya melakukan segalanya demi cintanya pada dirinya dan keluarganya dan sebaliknya suaminya pun memulai penilaiannya dengan keyakinan bahwa istrinya pasti mencintainya sepenuh hati seperti semula dan apa yang menyebabkan ia mengantuk dan kurang merespon sehingga ia bisa membantu mengatasinya. Mungkin akhir dari kisah ini akan jauh berbeda bila pasangan muda ini bisa merendahkan dirinya dengan tidak membiasakan melakukan penilaian sesuai dengan pikiran dan keinginan masing – masing.
Kemampuan mengendalikan fikiran untuk tidak segera stres dan bersedih karena sesuatu yang tidak sesuai dengan penilaian seseorang menunjukkan tingginya kecerdasan spiritual dalam diri orang tersebut. Tuhan Maha Indah dan menciptakan segala sesuatu Indah. Dan tidak ada apa pun yang terjadi, "sejelek apa pun" menurut penilaian kita, kecuali atas Ijin Nya jua.
Keadaan menjadi semakin rumit ketika seseorang telah merasa memiliki penilaian yang benar berdasar Hukum Tuhan, berdasar Kitab Suci atau berdasar Wahyu yang ia yakini. Misalnya, "Kenapa keadaan di masyarakat saya dipenuhi maksiat, sehingga hampir tidak ada seorang pun (kecuali saya ?) yang lolos dari maksiat?" Penilaian orang "yang merasa dirinya saleh" ini, sering akan memenjara dirinya dalam jurang derita tanpa akhir berkepanjangan.
Beberapa hal yang layak kita pertimbangkan sebelum menilai perbuatan orang lain sebagai baik atau buruk misalnya adalah
- Apakah kita mengetahui konteks perbuatan orang itu ?
- Apakah kita mengetahui masalah – masalah yang sedang dihadapi orang itu ?
- Apakah kita mengetahui apa yang sebenarnya diharapkan orang itu dari perbuatannya ?
- Apakah kita mengetahui sistem pemikiran orang itu secara menyeluruh ?
Bila kita tidak mampu menjawab dengan yakin keempat pertanyaan tersebut mungkin, memberikan ruang bagi setiap individu lain untuk berbuat sesuai dengan keinginan, pikiran, konteks dan masalah mereka sendiri adalah salah satu tanda tingginya kecerdasan spiritual.
Kebiasaan untuk selalu secara sentralistik menilai kejadian dan perbuatan orang lain dengan ukuran – ukuran subyektif kita akan menyebabkan banyak hal yang sebenarnya bukanlah masalah menjadi masalah, seperti halnya hasil survey di atas, bahwa dari semua masalah yang ada yang benar – benar merupakan masalah hanyalah 7 %.
Mungkin kisah berikut ini bisa membantu kita untuk melihat betapa relatifnya penilaian – penilaian kita akan sesuatu.
Alkisah, di zaman Raja Daud Yang Perkasa (‘a.s.), ada seseorang yang hendak berpergian dengan anaknya membawa seekor keledai kecil. Ayah dan anak ini berjalan dan keledainya dituntun, karena mereka kasihan untuk menaiki keledai ini. Ketika orang – orang melihat mereka berjalan dengan menuntun keledainya, orang – orang berkomentar, "Bagaimana ayah dan anak ini, mengapa mereka membawa keledai tapi tidak dinaiki ? " . Maka kemudian, si ayah naik menaiki keledai tersebut, dan si anak mengikutinya dengan berjalan menuntun si keledai. Ketika orang – orang melihat mereka, orang – orang berkomentar, "Bagaimana ayahnya? Mengapa ia tega membiarkan anaknya berjalan sedang ia naik keledai ? " . Maka kemudian, bergantian, si anak naik menaiki keledai tersebut, dan si ayah mengikutinya. Ketika orang – orang melihat mereka, orang – orang berkomentar, "Sungguh anak yang kurang ajar, mengapa ia tega membiarkan ayahnya yang sudah tua berjalan sedang ia naik keledai ? " . Maka kemudian, keduanya, ayah dan anak mengendarai keledai tersebut bersama-sama. Ketika orang – orang melihat mereka, orang – orang berkomentar, "Kejam benar kedua orang ini, mengapa mereka tega menaiki keledai yang demikian kecil ini bersama – sama. Sungguh kasihan keledai yang malang ? " . Maka kemudian, keduanya, ayah dan anak turun dari keledai tersebut dan membopong keledai tersebut berdua. Ketika orang – orang melihat mereka, orang – orang berkomentar, "Sungguh bodoh ayah dan anak ini, mengapa ia malah membopong keledai dalam perjalanannya" . Maka kemudian, sang ayah menasihatkan pada anaknya, "Demikianlah , Nak, kalau engkau mengikuti omongan manusia, mereka akan membuatmu tidak kemanapun."
Kisah di atas menunjukkan betapa sering penilaian seseorang akan sesuatu teramat relatif. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, yang mempertimbangkan sinar matahari Sepia, menyadari bahwa Yang Penilaiannya Mutlak hanyalah Tuhan Sendiri, sedangkan penilaiannya atas segala kejadian maupun perbuatan orang lain selalu memiliki ruang kemungkinan untuk salah.
Ada beberapa tips dari Deepak Chopra yang dapat digunakan untuk melatih aspek matahari Sepia sisi kecerdasan spiritual ini .
" Saya akan menerapkan tindak-netralitas. Saya akan memulai hari-hari saya dengan pernyataan, " Hari ini aku tidak menghakimi apa pun yang terjadi," dan sepanjang hari akan mengingatkan pikiran saya supaya tidak menghakimi. "
"Saya akan menyisihkan waktu setiap hari untuk berinteraksi dengan alam dan mengamatinya dalam kesunyataan intelegensi alam yang terwujud pada setiap diri makhluk hidup. Duduk tenang menyaksikan matahari terbenam, mendengarkan gemuruh lautan atau riak-riak sungai, atau mencium semerbak aroma bunga. Inilah kebahagiaan dalam kesunyataan saya, dan lewat berhubungan dengan alam, akan saya nikmati denyut nadi kehidupan, ... "
" Hari ini saya akan bertekad untuk bertindak-netral. Saya akan membiarkan diri sendiri dan orang lain kebebasan sebagaimana adanya. Saya tidak akan memaksakan ide saya bagaimana mereka seharusnya. Saya tidak akan memaksakan mencari pemecahan masalah, yang hanya mencipta masalah baru saja. Saya akan ikut serta dalam segalanya dengan menjaga jarak. "
" Hari ini saya akan menyerahkan diri pada ketidakpastian sebagai faktor esensial pengalaman saya. Dalam kehendak saya menerima ketidakpastian, pemecahan suatu masalah akan muncul dengan spontan dari kekacauan. Semakin tidak-pasti suatu masalah, semakin lega saya rasanya, karenaktidak-pastian adalah jejak saya menuju kebebasan. Lewat kebijaksanaan ketidakpastian, saya akan menemukan kepastian saya. "
Hakikat dan intisari dari ibadah sebenarnya tidak lain adalah merendahkan-diri. Sujud yang biasa dilakukan dalam Shalat seorang Muslim misalnya tidak lain adalah suatu simbol merendahkan kepala dan ide kita serendah-rendahnya di bawah Kehendak Yang Maha Mutlak yang selalu terwujud dalam semesta. Sujud mengembalikan eksistensi seseorang ke haribaan Eksistensi Mutlak Yang Maha Indah.
|
Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda. http://sepia.blogsome.com/2005/07/22/kompetisi-yang-selalu-menang/ |




