Perlukah mengajarkan konsep Bebas Finansial kepada karyawan?
Kesimpulan : perlu, tapi.. ada catatannya….
Kiyosaki membuat kehebohan dengan membuka ‘kedok’ para pengusaha dalam memanfaatkan karyawannya. Konsep Employee – Self Employee – Businessman – Investor (E-S-B-I) disambut oleh banyak orang yang terutama adalah kelompok E, seakan memberikan kemungkinan baru buat ‘memerdekakan’ mereka. Dalam buku Rich Dad Poor Dad digambarkan bahwa banyak orang bertindak seperti kuda yang mengejar wortel, sehingga mengesankan kelompok bisnisman (B) mengeksploitasi kelompok karyawan (E).
Konsep Kiyosaki tidak populer di perusahaan. Sejauh ini belum saya dengar pelatihan berbasis konsep Rich Dad yang dilakukan resmi oleh perusahaan. Tampaknya memang visi Kiyosaki yang mengusung bebas finansial tidak sejalan dengan visi perusahaan.
Saya tidak memihak. Keduanya saya kira benar. Seperti juga yang disampaikan Rich Dad dalam buku Kiyosaki tersebut, “banyak orang yang memilih untuk tidak bebas finansial..”, katanya. (more…)


Sebuah buku berjudul Good to Great yang terbit tahun 2001 memberikan wawasan baru bagaimana sebuah perusahaan bisa menjadi luar biasa. Ada lima ciri yang ditemukan oleh Jim Collins dan timnya dari riset selama 5 tahun terhadap 28 perusahaan terpilih yang diseleksi dari 1400 lebih perusahaan. Salah satu yang menarik adalah ‘konsep landak’ (Hedgehog Concept).
Seperti manusia, sebuah organisasi kini dipandang bagaikan individu. Organisasi dapat memiliki karakter dan juga kompetensi. Dengan demikian, kerangka SEPIA dapat digunakan untuk evaluasi harmoni sebuah perusahaan. Bagaimana sisi Spiritual perusahaan tersebut? Bagaimana sisi Emosional nya? Bagaimana pula dengan Power, Intelektual dan Aspirasi nya?



