Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!

Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.



July 6, 2008

SEPIA Kaizen 1 : Bagaimana cara menerapkan SEPIA dalam kehidupan kita?

Umumnya setelah seseorang mengikuti pelatihan akan mengalami ‘pelunturan’ motivasi beberapa saat sesudahnya. Mungkin Anda pernah mengikuti pelatihan, baik gratis maupun mahal, kondisi penurunan semangat tetap bisa terjadi.

Bukan salah pelatihannya (karena nyatanya Anda selalu bersemangat saat berlangsung dan sesaat sesudah pelatihan). Bukan salah Anda juga (karena banyak orang mengalami hal yang sama seperti Anda). Memang alamiahnya demikian. Jika semua pelatihan bersifat menetap dengan instan, mestinya semua orang sudah berlipat lebih baik daripada diri mereka sebelumnya. Bahkan, kalau kita ini bisa terus mengalami suatu pengalaman secara menetap, mungkin kita tak akan lagi tertarik barang baru, film baru, nonton pertandingan bola yang baru, mencoba kegiatan baru, juga tak perlu memperbaiki cara shalat, atau mengaji Qur’an berulang-ulang. Kalau sesuatu itu bisa menetap instan dalam diri kita, maka dia tak perlu diperbaharui. Dan jelas itu bukan kodrat manusia. Manusia justru diciptakan dengan ‘kegembiraan yang akan meluruh dengan waktu’ supaya dia berusaha lagi dan berusaha lagi.

Jadi, jika hasil pelatihan Anda melenyap hingga tak berbekas, itu normal.

Tentu saja kondisi normal belum tentu kondisi terbaik. Pribadi yang unggul biasanya memang ‘tidak normal’ alias ‘istimewa’ karena dari waktu ke waktu ia berubah menjadi semakin baik dari kondisi sebelumnya. Nah, bagaimana kita menjadi pribadi ‘istimewa’ yang semakin hari semakin baik ini?

Jawabannya adalah sebuah rahasia kecil : terapkan dan ulangi.

Demikian hasil penelitian Ken Blanchard yang ditulis dalam Know Can Do!: Put Your Know-How Into Action. (sudah diterjemahkan ke Indonesia)

Menerapkan SEPIA

Untuk menerapkan SEPIA caranya sederhana. Gunakan perangkat (tools) SEPIA berikut ini.

1. Tujuh domain kehidupan

Mari kita perhatikan 7 bidang kehidupan kita, yaitu (ide dikutip dari Brian Tracy di buku Focal Point) : (more…)


June 30, 2008

Resep Istimewa

Bagaimana membuat sesuatu yang istimewa?

Dengan meyakininya.

Inilah resep rahasia mie istimewa keluarga Po dalam Kungfu Panda. Tidak ada bumbu rahasia. Tidak ada teknik rahasia. Keyakinan bahwa sesuatu itu istimewa akan membuatnya menjadi benar istimewa.

Kabarnya begitu pula kisah awal Coca Cola, resep istimewa yang awalnya adalah paten obat (namun sering diceritakan bermula dengan sebuah kuali ajaib!). (more…)


June 15, 2008

Dalil vs Dalih

Kitab suci bisa digunakan sebagai dalil, bisa juga digunakan sebagai dalih.

Apa bedanya?

Kalau dijadikan dalil, artinya aturan-aturan di dalamnya kita gunakan sebagai rujukan, sebagai pegangan. Ringan kita laksanakan, berat pun kita laksanakan.

Sebaliknya kalau dijadikan dalih, maka aturan di dalamnya hanya kita jadikan rujukan saat sesuai dengan kemauan kita. Artinya, yang ringan kita jalankan, yang susah kita abaikan.

Itulah beda dalil dengan dalih. Beda satu huruf yang berarti perbedaan bumi langit.

Alasan-alasan yang kita gunakan sehari-hari ternyata juga ada yang dalil, ada yang hanya dalih. Kapan kita mengetahui suatu alasan itu dalil, dan kapan dalih?

Anda akan tahu bahwa sesuatu itu dalil (prinsip hidup) ketika Anda menjalaninya secara konsisten. Seringkali dalil akan berbenturan dengan keinginan nafsu kita. Misalnya, teman-teman kita pada bagi-bagi uang sisa proyek tanpa aturan pembagian yang jelas. Kalau Anda punya dalil bahwa itu haram, dan Anda mengimaninya, mungkin Anda menolak untuk ikut mendapatkan pembagian. Tentu saja ada dilema yang serius akan Anda hadapi. Yang paling sulit adalah menghadapi sikap tak suka dari kalangan kolega sendiri. Nah, kalau bisa bertahan terhadap situasi sulit itu, berarti prinsip tersebut adalah dalil bagi yang bersangkutan. Sebaliknya, jika kemudian dia mencari-cari aturan lain yang bisa membenarkan perilaku yang hati nurani kita menganggap salah, maka jelaslah aturan itu kita gunakan sebagai dalih.

Jadi, ketika suatu aturan kita gunakan sebagai referensi, maka ia digunakan sebagai dalil. Sedangkan ketika suatu aturan digunakan sebagai alibi pembenaran, maka dia menjadi dalih. Materi aturan itu sama saja, motivasi penggunaannya yang berbeda.

Cirinya sederhana: dalil mendahului sikap, sedangkan dalih mengikuti sikap.

Mari kita ambil contoh populer, menikah lagi. (more…)


May 25, 2008

Strategi meningkatkan kualitas

Bagaimana meningkatkan kualitas hidup kita?

Kebanyakan orang sangat bersemangat meningkatkan suatu hal (misalnya kesehatan, ibadah, penghasilan, ilmu, dsb) dengan serta merta. Dalam jangka pendek hasilnya mulai terlihat, namun tak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian menjadi loyo dan kembali kepada keadaan semula.

Dalam industri manufaktur telah diteliti bahwa cara terbaik meningkatkan kualitas adalah dengan membuat kondisi menjadi stabil terlebih dahulu. Misalnya ingin mengurangi cacat produk, maka hal pertama yang dilakukan adalah membuat agar jumlah cacat dari waktu ke waktu menjadi stabil terlebih dahulu. Misalnya, cacat produksi terkadang 2 persen, lalu di lain waktu 10 persen, kemudian 3 persen, dst. Ini adalah kondisi tidak stabil. Maka dicari terlebih dahulu kondisi kestabilan, misalnya stabil cacat 10 persen! Walau cacatnya cukup banyak, asalkan sudah stabil di angka tersebut berarti proses produksi sudah stabil. Bila proses produksi sudah stabil (berlangsung tetap, konsisten, bisa dikontrol), barulah dilakukan peningkatan kualitas misalnya cacat dikurangi hingga 8 persen.

Jadi strategi peningkatan kualitas dimulai dari melakukan stabilisasi, yang berarti adalah membuat proses menjadi terkontrol. (more…)


May 19, 2008

Rekreasi

Merasa kecapekan? Sama.

Merasa kekurangan waktu? Sama juga.

Letih, gelisah, seperti ada beban berat di kepala? Sama.

Sebulan ini irama hidup saya guncang karena bolak-balik ke Jakarta. Bagi yang sudah terbiasa jauh dari keluarga mungkin ini bukan masalah. Saya tidak terbiasa, makanya jadi masalah. Dan karena banyak hal tidak bisa saya kerjakan (misalnya menemani anak menunggu jemputan sekolah, duduk-duduk ngobrol dengan dosen lain, nge-blog dengan santai, dsb yang sudah rutin sebelumnya), maka saya menjadi letih.

Kelelahan fisik bisa diatasi dengan tidur nyenyak (olahraga dikit, push-up push-up, lalu tidur). Kelelahan pikiran, nah ini yang perlu ekstra pemulihannya. Kebanyakan keletihan diakibatkan beban pikiran.

Saya perlu berwisata.

Kebanyakan orang berwisata untuk mengembalikan kesegaran pikiran. Setiap hari libur, tempat wisata penuh dengan orang-orang yang ingin menghilangkan kepenatan. Anehnya, setelah liburan penatnya tidak hilang!

Apa yang salah?

Mari kita definisikan kembali rekreasi. Re-kreasi artinya penciptaan kembali. Apa yang di rekreasi? Diri kita! Dan ini berarti adalah fisik, jiwa, dan ruh.

Apakah ketika kita berwisata ketiga hal yaitu fisik, jiwa, dan ruh kita mendapatkan energi baru? Jangan-jangan karena macet menuju tempat wisata justru membuat fisik kita makin ambruk. Jangan-jangan karena membawa beban pikiran pekerjaan kita, maka wisata kita hanya menghadirkan fisik bersama keluarga, namun tanpa hadirnya hati kita. Jangan-jangan karena cara kita bersenang-senang saat wisata, justru ruh kita makin layu. Akibatnya setelah wisata semua makin penat dan letih. (more…)


May 12, 2008

Main-main hasilnya bukan main

“Nggak perlu terlalu serius ikut trainingnya…, main-main saja tapii hasilnyaa… bukan maeen.. !!” Kata Ibu Rini sambil tersenyum. Sebagai pimpinan di bagian SDM Bank BTN Pusat beliau memberi sambutan sebelum acara training dimulai.

Jum’at pagi itu saya dan Pak Agus Nggermanto menjadi instruktur pelatihan. Bukan pelatihan SEPIA, tapi COBIT yaitu suatu standar untuk Teknologi Informasi (IT). Pelatihan kami berlangsung dengan suasana gembira seperti pesan Ibu Rini tadi. Santai tapi serius. Serius tapi santai. Dan tentu saja… main-main tapi hasilnya bukan main!

Bagi saya dan Pak Agus, jargon “main-main hasilnya bukan main” adalah jargon yang bukan main-main. Ini konsep dengan filosofis tinggi. Tahukah Anda bahwa banyak hal besar dimulai dengan main-main?

Jerry Yang hanya main-main saja saat mengumpulkan link-link terkait pemain basket NBA, tak dinyana jadi perusahaan besar Yahoo! (more…)


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/kiat6165/


Next Page »


Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here