Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.



June 15, 2007

Bank Kaum Miskin (2)


“Beri tepuk tangan untuk kawan kita, teladan perjuangan melawan kemiskinan.”
Hugo Cavez, Presiden Venezuela

buku bank kaum miskinSeraya berekspansi, kami pantau kemajuan para peminjam melalui siklus pinjaman berturutan. Kebanyakan, besaran pinjaman mereka meingkat sejalan pertumbuhan bisnis dan meningkatnya kepercayaan dirinya. Beberapa peminjam yang paling dinamis menggunakan laba yang didapatnya untuk membangun rumah baru atau memperbaiki rumahnya sekarang. Tiap kali saya mengunjungi sebuah desa dan melihat sebuah rumah dibangun dari laba usaha yang dibiayai Grameen, saya merasa tergetar, meski saya masih menyesal karena ada banyak peminjam lainnya yang tidak mampu melakukan investasi besar macam itu.

Tahun 1984, saya lihat iklan Bank Sentral bangladesh yang mengumumkan rencana pembiayaan baru untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) di wilayah pedesaan. Menanggapi iklan itu, Grameen Bank mengajukan ke Bank Sentral permohonan bantuan untuk mengenalkan program KPR ke peminjam. Kami jelaskan bahwa kami dibatasi oleh kondisi para peminjam kami yang sangat sederhana, yang tidak bisa membayar uang sebesar yang disebutkan dalam iklan Bank Sentral. Para peminjam kami tidak bisa meminjam 75.000 taka (sekitar AS$2.000), tetapi kami sungguh ingin meminjamkan KPR sejumlah 5.000 taka (AS$125) untuk mereka.

Permohonan kami ditolak. Para staf ahli dan konsultan Bank Sentral memutuskan bahwa apapun yang dibangun dengan harga AS$125 tidak akan memenuhi pengertian struktural sebuah rumah. Secara spesifik mereka nyatakan bahwa rumah macam itu tidak sesuai dengan “jenis rumah di negeri ini”.

Saya protes. “Siapa peduli dengan ‘jenis rumah di negeri ini’?” ujar saya. “Yang kami inginkan adalah atap yang tidak bocor dan ruang kering yang bisa dihuni oleh para anggota kami.”

Kami berusaha agar konsultan-konsultan Bank Sentral bisa melihat sendiri dampak besar kredit rumah yang sangat kecil ini terhadap kondisi para peminjam kami saat ini. Tetapi semua argumentasi kami kandas. Mereka tidak akan mengalah. (more…)


Bank Kaum Miskin (1)

“Siapa nama ibu?” saya bertanya.

“Sufiya Begum.”

“Umur ibu?”

“Duapuluh satu.”

Saya tidak menggunakan pena dan buku catatan karena akan membuatnya takut. Nantinya, saya hanya mengizinkan mahasiswa saya membuat catatan pada kunjungan-kunjungan berikutnya.

“Apakah bambu ini milik ibu?” tanya saya.

“Ya.”

“Bagaimana ibu mendapatkannya?”

“Saya membelinya.”

“Berapa harga bambunya?”

“Lima taka.” Saat itu , jumlah ini setara AS$22 sen.

“Apakah ibu punya uang lima taka?”

“Tidak, saya pinjam bambunya dari paikar.”

“Perantara? Bagaimana caranya?”

“Saya harus menjual kembali bangku bambu saya pada mereka untuk membayar pinjaman saya.”

“Ibu jual seharga berapa satu bangkunya?”

“Lima taka lima puluh poysha.”

“Jadi untungnya lima puluh poysha?”

Dia mengangguk. Keuntungan itu hanya 2 sen. (more…)


November 12, 2006

Norman Borlaug, pemberi makan dunia

BorlaugSiapa manusia yang paling berjasa di abad ke-20? Kita bisa menjawabnya dengan menyebut sederetan pemimpin besar seperti Roosevelt dan Churchill, atau ilmuwan besar seperti Einstein dan industrialis raksasa seperti Henry Ford. Selain nama-nama besar ini, Norman Borlaug patut menjadi favorit.

Akan tetapi, siapa kini yang mengenal Norman Borlaug? Siapa yang tahu bahwa pada tahun 1970 ia mendapat Hadiah Nobel untuk Perdamaian atas jasanya memberi makan kepada jutaan manusia, mencegah kelaparan massal, dan karena itu memungkinkan perdamaian yang lebih abadi? Siapa yang masih ingat bahwa di tahun 1960-an ia mengawali revolusi hijau, sebuah peningkatan produktivitas pertanian yang dahsyat dan mempengaruhi perkembangan banyak negara, termasuk negara kita?

…..

“Saya juga tidak kenal,” demikian batin saya, menjawab pertanyaan Rizal Mallarangeng yang meresensi buku The Man Who Fed The World karya Leon Hesser di Kompas minggu 22 Oktober lalu. Saya tidak kenal siapa Norman Borlaug. Guru-guru saya juga tidak mengenalkannya. Tapi saya kenal karya Norman ini : IRRI (International Rice Research Institute) di Filipina yang terkenal dengan padi IR36 dan IR64 waktu saya sekolah menengah dulu. Guru-guru saya juga mungkin tidak tahu bahwa ada tokoh yang berjasa besar mengantar swasembada beras Indonesia tahun 1984, walaupun tidak secara langsung. Ya ini orangnya, Norman Borlaug. (more…)


September 10, 2006

Toyoda : Setiap orang perlu mengambil proyek besar dalam hidupnya

Sebagai seorang bocah, Sakichi Toyoda belajar ilmu pertukangan kayu dari ayahnya. Toyoda kecil adalah seorang anak yang cerdas dan kreatif. Saat itu industri tenun adalah industri yang paling berkembang di tanah kelahirannya, wilayah pertanian di pinggiran Nagoya, Jepang. Toyoda muda dengan ilmu pertukangan kayu yang diwarisi dari ayahnya, pada tahun 1894 membuat sebuah mesin tenun yang lebih murah namun bekerja lebih baik daripada mesin yang sudah ada.

Toyoda sangat puas dengan mesin tenunnya. Namun dia melihat neneknya, ibunya, juga wanita-wanita lain masih harus bekerja keras untuk memintal dan menenun. Toyoda ingin membuat mereka terbebas dari kerja keras itu. Maka dia kemudian menciptakan mesin tenun yang ditenagai mesin. Saat itu adalah jaman dimana seorang pencipta harus mengerjakan semuanya sendiri. Karena kurangnya sumber tenaga untuk penggerak mesin, maka Toyoda belajar lebih dahulu tentang mesin uap, membeli mesin uap bekas, dan mencoba berkali-kali secara trial error hingga berhasil. Toyoda kemudian mendirikan Toyoda Automatic Loom Works pada tahun 1926, yang kemudian menjadi cikal bakal konglomerasi Toyoda. (more…)


June 4, 2006

Andy Bechtolsheim : Bila saya bertemu “Google Guy”

Filed under: Kecerdasan Power, Profil

andyGoogle sekarang adalah salah satu perusahaan paling populer di internet. Nilai saham Google kini sekitar 120 trilyun rupiah.

Perusahaan ini dimulai secara ‘tidak sengaja’ dengan proyek BackRub, yaitu suatu algoritma untuk melacak bibliografi di internet. Ini seperti melacak balik daftar pustaka suatu buku untuk mendapatkan referensi paling utama dari suatu ilmu. Larry Page dan Sergey Brin yang menggagas ide ini semula hanya ingin tahu andai saja kita dapat melacak link secara mundur, sehingga di belantara web kita dapat menemukan sumber awal dari sebuah informasi. Proyek iseng-iseng itu dipasang di asrama kampus dengan modal minim. Yang paling menyita biaya tentunya adalah hardisk yang banyak hingga mencapai terabyte.

Tak disangka proyek bibliografi ini kemudian menjadi cikal bakal search engine. Banyak mahasiswa kampus Stanford yang memakainya sehingga tak kurang dalam setahun bandwidth kampus menjadi sering anjlok. (more…)


May 7, 2006

Tukang becak naik haji : kisah Wahid yang cerdas finansial

Kisah nyata ini dimuat Pikiran Rakyat Sabtu 6 Mei 2006.

Wahid (56), penarik becak yang biasa mangkal di kawasan Gunung Pereng, Kec. Cihideung, Tasikmalaya, bersyukur mampu menunaikan haji bersama istrinya Siti Hujaenah pada tahun 2004.

“Saya merasa bersyukur, karena dari hasil cucuran keringat ini bisa naik haji dan menyekolahkan anak, kata haji Wahid saat ditemui di Terminal Bus Tasikmalaya, demikian dituturkan Pikiran Rakyat.

Wahid mulai menarik becak tahun 1972 di Gunung Pereng. Sejak awal Wahid bertekad memiliki becak sendiri, maka dia mencicil becak secara kredit Rp 150,00/hari. Tentunya jumlah yang cukup besar waktu itu. Cicilan itu dia bayar kurang lebih selama setahun. Lunas membayar becak, Wahid mulai membeli tanah buat tempat tinggalnya. Berkat kerja keras siang malam dan kedisiplinannya dalam mengelola uang maka ia mampu membeli tanah dan membangun rumah.

Usai memiliki rumah Wahid kembali mengambil cicilan becak. Becak itu kemudian dia sewakan kepada rekan lainnya. Ternyata hasilnya lumayan. Dari 1 becak sewaan itu Wahid terus menambah hingga kini memiliki 40 becak! Sebanyak 25 becak disewakan dengan tarif Rp 4000,00/hari. “Sisanya saya kreditkan kepada orang lain,” ujarnya. (more…)


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/06/08/super-eksekutif/


« Previous PageNext Page »


Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here