Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!

Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.



June 1, 2008

Damai Pak Pos!

Melihat tayangan di TV, setelah BBM naik ternyata terjadi gejolak di berbagai daerah. Mahasiswa ngamuk. Di Jakarta mahasiswa membakar ban di jalan depan kampusnya. Di Makassar mahasiswa menganiaya polisi, yang dibalas dengan serbuan polisi ke kampus. Sopir angkutan umum juga ngamuk dengan mogok kerja, bahkan merusak angkutan umum lainnya yang masih memberikan layanan. Ada yang mogok makan. Ada yang bunuh diri (sangat memprihatinkan!).

Banyak orang punya kebiasaan ‘membunuh tukang Pos’, yaitu melampiaskan kemarahan kepada orang yang berada di depannya. Misalnya ada tukang pos yang mengantar surat. Ternyata surat tersebut terlambat datang dari jadwal semestinya. Seringkali kekesalan langsung ditumpahkan kepada Pak Pos yang mengantar surat itu. Kesalahan ditimpakan kepada tukang pos. Padahal, belum tentu itu salah si tukang pos. Boleh jadi si pengirim surat menuliskan alamat yang tidak jelas. Boleh jadi jalanan macet, atau sepeda motor Pak Pos mogok di jalan karena kurangnya biaya pemeliharaan. Bahkan boleh jadi pihak pengirim surat memang terlambat mengeposkan, namun tidak mau mengakui!

“Jangan bunuh Pak Pos nya”, berdamailah dengan dia karena bisa jadi dia hanyalah korban dari masalah lain yang sesungguhnya.

Seringkali YANG ADA DI DEPAN MATA BUKANLAH SUMBER MASALAH SESUNGGUHNYA. Cobalah kita analisis 2 atau 3 lapis di belakangnya. Mungkin kita bisa temukan penyebab sesungguhnya. (more…)


May 25, 2008

Strategi meningkatkan kualitas

Bagaimana meningkatkan kualitas hidup kita?

Kebanyakan orang sangat bersemangat meningkatkan suatu hal (misalnya kesehatan, ibadah, penghasilan, ilmu, dsb) dengan serta merta. Dalam jangka pendek hasilnya mulai terlihat, namun tak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian menjadi loyo dan kembali kepada keadaan semula.

Dalam industri manufaktur telah diteliti bahwa cara terbaik meningkatkan kualitas adalah dengan membuat kondisi menjadi stabil terlebih dahulu. Misalnya ingin mengurangi cacat produk, maka hal pertama yang dilakukan adalah membuat agar jumlah cacat dari waktu ke waktu menjadi stabil terlebih dahulu. Misalnya, cacat produksi terkadang 2 persen, lalu di lain waktu 10 persen, kemudian 3 persen, dst. Ini adalah kondisi tidak stabil. Maka dicari terlebih dahulu kondisi kestabilan, misalnya stabil cacat 10 persen! Walau cacatnya cukup banyak, asalkan sudah stabil di angka tersebut berarti proses produksi sudah stabil. Bila proses produksi sudah stabil (berlangsung tetap, konsisten, bisa dikontrol), barulah dilakukan peningkatan kualitas misalnya cacat dikurangi hingga 8 persen.

Jadi strategi peningkatan kualitas dimulai dari melakukan stabilisasi, yang berarti adalah membuat proses menjadi terkontrol. (more…)


April 13, 2008

AIO : mengenal lebih jauh pribadi seseorang

Bagaimana cara termudah mengenal pribadi seseorang? Salah satu cara termudah adalah dengan rumus A-I-O : Activity, Interest, Opinion.

Perhatikan dialog berikut ini.

“Pak, boleh tidak saya diskusikan hal ini nanti hari Sabtu?”

“Wah, nggak bisa nih. Aku main golf di Bandung.”

Dari dialog itu kita tahu bahwa aktivitas hari Sabtu bapak tersebut adalah main golf. Tentu akan berbeda dengan jawaban berikut ini.

“Wah, belum bisa nih. Hari Sabtu saya ngantar anak, ada acara bazaar di SD nya.”

Bagaimana pendapat Anda? Bisakah Anda membayangkan perbedaan pribadi orang pertama dengan orang kedua? Yang satu mungkin mengisi kegiatan Sabtu dengan para mitra bisnisnya, melalui main golf bersama. Yang kedua cenderung seorang yang lebih berorientasi keluarga, dengan mengantar anak acara bazaar di Sekolah Dasar.

Kalau Anda penjual mobil Kijang, kemana Anda akan memilih untuk menjual, orang pertama atau kedua? Kalau Anda menjual Jaguar, kemana Anda akan menjualnya? Tentu Anda bisa menebak. Inilah pendekatan profil (profiling) dengan memperhatikan aktivitas seseorang. (more…)


March 22, 2008

Bagaimana caranya investasi bila tak punya uang?

Membaca kembali buku Wink and Grow Rich tulisan Roger Hamilton (sudah ada terjemahnya) menyegarkan kembali ingatan akan prinsip-prinsip investasi. Buku ini menarik karena ditulis dalam bentuk cerita, seperti halnya buku klasik Who Moved My Cheese.

Saya ingin investasi, tapi, saya nggak punya uang. Gimana ya?

Begitulah pertanyaan kebanyakan orang. Demikian pula pertanyaan Richard, anak kecil yang ayahnya sedang sakit, dalam cerita itu. Pertanyaan itu dibahas dengan bijak oleh tokoh si Tukang Ledeng (the Plumber), seorang pengusaha yang bekerja dalam bisnis mengurus pipa air.

“Kalau tidak punya uang untuk diinvestasikan, maka investasikanlah waktumu,” demikian pesan si Plumber. Ibarat tetes air, maka setiap hari kita diberi bekal 24 tetes air untuk diinvestasikan. Kebanyakan tetes tersebut dibelanjakan (spent) saja, dan luput untuk diinvestasikan (invest).

Kebanyakan orang menghabiskan 24 jam setiap harinya untuk hal-hal berikut : tidur, makan, mandi, kerja, santai, dan ngobrol-ngobrol. Semua hal itu adalah waktu yang dibelanjakan. Loh, bukankah kerja menghasilkan uang? Ya, kerja memang menghasilkan uang. Namun waktu yang digunakan bekerja pada hakekatnya adalah waktu yang ditukarkan dengan uang. Sifatnya berjangka pendek. Pekerjaan beres, Anda dibayar. Selesai.

Orang-orang yang sukses sekarang ini, dulunya juga tidak punya uang seperti kebanyakan orang lainnya. Bedanya, mereka menginvestasikan waktunya, selain tentu ada yang dibelanjakan. Dimana mereka menginvestasikan waktu? Ada dua tempat, satu adalah untuk menjalin jaringan rekanan (network), dan ke dua untuk meningkatkan kemampuan diri (myself). (more…)


March 2, 2008

Penghematan

Kasus ini sering terjadi, maunya perusahaan menghemat dengan melakukan pemotongan anggaran di sana sini, ternyata justru menimbulkan pemborosan jangka panjang.

Sebuah sekrup di bagian pesawat terbang kecil selalu saja patah. Tiap kali teknisi harus menggantinya. Karena sebal terus-menerus mengganti, akhirnya teknisi tersebut mengganti dengan sekrup yang lebih kuat. Akibatnya? Sayap pesawatnya yang patah. Ternyata sekrup tadi berfungsi sebagai ‘sekering’ yang menunjukkan ada masalah pada beban di sayap.

Demikian cerita yang disampaikan Profesor Diran saat saya kuliah dulu. Cerita itu demikian membekas dalam ingatan karena mengajarkan satu hal, gejala bukanlah masalahnya. Bertindak praktis tanpa mengetahui latar belakang suatu hal, bisa mengakibatkan bencana secara keseluruhan. Karena teknisi tersebut tidak tahu bahwa sekrup tersebut memang didesain untuk patah (guna menghindari kerusakan yang lebih besar) maka dia menjadi ceroboh mengganti dengan sekrup yang lebih kuat (menganggap masalah ada di sekrup), padahal fungsi sekrup tersebut adalah ‘sekering’ pemberi tanda bahwa ada masalah besar sedang terjadi (beban sayap yang terlalu besar). (more…)


February 16, 2008

Azim Premji tentang Mengapa karyawan pindah

azim premjiMengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, “Bill Gates” Muslim dari India (terbitan Mizania 2007).

Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro, dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri teknologi informasi di India. Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana.

Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.

Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan?

Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.

Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat.

Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan. “Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru,” katanya tak lama setelah bergabung. “Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi mutakhir.” Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini. (more…)


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/05/24/sepia-modus/


Next Page »


Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here