Merasa kecapekan? Sama.
Merasa kekurangan waktu? Sama juga.
Letih, gelisah, seperti ada beban berat di kepala? Sama.
Sebulan ini irama hidup saya guncang karena bolak-balik ke Jakarta. Bagi yang sudah terbiasa jauh dari keluarga mungkin ini bukan masalah. Saya tidak terbiasa, makanya jadi masalah. Dan karena banyak hal tidak bisa saya kerjakan (misalnya menemani anak menunggu jemputan sekolah, duduk-duduk ngobrol dengan dosen lain, nge-blog dengan santai, dsb yang sudah rutin sebelumnya), maka saya menjadi letih.
Kelelahan fisik bisa diatasi dengan tidur nyenyak (olahraga dikit, push-up push-up, lalu tidur). Kelelahan pikiran, nah ini yang perlu ekstra pemulihannya. Kebanyakan keletihan diakibatkan beban pikiran.
Saya perlu berwisata.
Kebanyakan orang berwisata untuk mengembalikan kesegaran pikiran. Setiap hari libur, tempat wisata penuh dengan orang-orang yang ingin menghilangkan kepenatan. Anehnya, setelah liburan penatnya tidak hilang!
Apa yang salah?
Mari kita definisikan kembali rekreasi. Re-kreasi artinya penciptaan kembali. Apa yang di rekreasi? Diri kita! Dan ini berarti adalah fisik, jiwa, dan ruh.
Apakah ketika kita berwisata ketiga hal yaitu fisik, jiwa, dan ruh kita mendapatkan energi baru? Jangan-jangan karena macet menuju tempat wisata justru membuat fisik kita makin ambruk. Jangan-jangan karena membawa beban pikiran pekerjaan kita, maka wisata kita hanya menghadirkan fisik bersama keluarga, namun tanpa hadirnya hati kita. Jangan-jangan karena cara kita bersenang-senang saat wisata, justru ruh kita makin layu. Akibatnya setelah wisata semua makin penat dan letih. (more…)