Fokus (bagian 2) : dimanakah fokus diarahkan?
Orang yang fokus ternyata sering ‘tidak beruntung’. Hehe, benar, terlalu fokus menyebabkan kita tidak beruntung. Sebuah penelitian oleh Wiseman menunjukkan bahwa orang yang terlalu fokus seringkali justru luput dari peluang-peluang yang melintas di depannya. Orang yang gagal menunjukkan ciri sikap yang kaku dan tegang, sehingga perhatiannya hanya terpusat pada fokusnya. Sebaliknya orang yang beruntung, dalam penelitian Wiseman yang ditulis di buku Luck Factor, menunjukkan fleksibilitas dalam memindahkan fokusnya.
Mari kita ambil contoh Ray Kroc pendiri jaringan restoran McDonald’s. Sebenarnya dia adalah salesman hebat dengan rekor penjualan yang bagus untuk peralatan mixer minuman. Ketika dia menemukan McDonald’s pertama kali, dia merasa bahwa peluang menjual burger ala McDonald’s adalah peluang yang sangat bagus. Dia tinggalkan karirnya sebagai salesman alat mixer, dan pindah menjadi ’sales’ burger. Di sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa Ray Kroc tetap fokus menjadi ’salesman’, hanya kali ini fokus produknya adalah jaringan restoran siap saji.
Jadi, dimanakah fokus harus kita arahkan? Jawab : pada peluang terbaik.
Jim Collins dalam bukunya Good to Great mendapatkan bahwa perusahaan yang berhasil menjadi ‘great’ ternyata mengalokasikan sumber daya terbaiknya bukan pada masalah terberat tapi pada peluang terbaik. Alasannya, mengalokasikan sumberdaya terbaik untuk masalah terberat hanya akan menjadikan perusahaan berpindah dari ‘bermasalah’ menjadi ‘baik-baik saja’, artinya tidak banyak peningkatan. Sedangkan bila mengalokasikan sumberdaya terbaik untuk peluang terbaik, maka perusahaan bisa berubah dari ‘baik-baik saja’ menjadi ‘luar biasa’.
Kesimpulan Jim Collins ini tentu selaras dengan guru dia, yaitu Peter Drucker. Drucker adalah penggagas konsep bahwa sumberdaya terbaik harus digunakan untuk menggarap peluang terbaik. Perusahaan harus fokus kepada peluang. Menurut Drucker, pimpinan perusahaan yang baik juga harus fokus pada peluang, dan biarkan wakilnya yang menyelesaikan masalah. Artinya, energi puncak perusahaan adalah fokus pada peluang.
Kita sebagai pribadi pun sama saja. Energi terbaik, kekuatan terbaik, dan talenta terbaik kita, seharusnya diarahkan kepada peluang terbaik. Tentu saja kita tetap harus menyelesaikan masalah-masalah, namun alokasi energi untuk meraih peluang seharusnya lebih banyak.
Pertanyaan berikutnya : jadi apa itu peluang terbaik?
Artikel terkait :







Trus, gimana ni kelanjutannya? peluang terbaik itu sangat luas kn? bahkan penilaian kita tergantung info yang diberikan. klo peluang itu dikomunikasikan dengan ‘cara yang luar biasa’ bisa jadi keliahatan menarik.
trus klo di internet kan banyak peluang, klo loncat-loncat kapan selesainya??
bingung…
Comment by Investasi Syariah — November 23, 2009 @ 5:46 am
Sip lah…!
Fokus pada peluang terbaik.
Pada saat yang sama tetap open mind, terbuka terhadap segala situasi, bahkan terhadap sesuatu yang tak terduga.
Jadi tetap fokus menuju surga… hahaha….
Salam…
Comment by angger — November 24, 2009 @ 12:26 am
Salam
Mohon maaf sebelumnya krn mau menyebarkan pesan penting berikut: Mari Kita Gemakan Secara Bersama spirit “Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan” sebagai sinyal kepada semua orang bahwa rakyat siap melawan segenap usaha dan tindakan yang merusak jatidiri bangsa dan negara Indonesia dengan cara menjadi anggota group http://www.facebook.com/group.php?gid=166373827613
Comment by risman — November 24, 2009 @ 10:25 am