Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Selamat ulang tahun Opera!Buku Sepia : model diri Anda menentukan nasib Anda »

May 6, 2009

Buku SEPIA, a small story

buku sepiaBuku SEPIA ini tidak akan Anda dapatkan lagi di toko buku. Gramedia juga tidak jual. Buku sulit laku? Bukan, bukan karena buku ini sulit laku, terbalik, justru karena buku ini pertama kali dijual tahun 2003 langsung menjadi best seller. Lalu dicetak lagi, juga habis lagi. Lalu tidak dijual lagi. Loh kok?

Karena semua penulisnya – termasuk saya – tampaknya kurang berminat menjual buku ini. Contohnya, tidak mengontak distributor buku. Ketika cetakan pertama habis di Gramedia, buku ini tidak dipasok hingga 1,5 tahun lamanya. Ketika dicetak lagi dan dijual lagi, dan habis lagi, ternyata hingga 3 tahun sesudahnya (yaitu sampai tahun 2009 ini) tidak juga kami memasoknya kembali ke toko buku. Juga menolak tawaran penerbit besar yang ingin mencetaknya. Aneh?

Nggak juga, ini gara-gara semua penulisnya sukses dengan bisnisnya masing-masing. Sedemikian sukses sehingga bisnis buku SEPIA (dan juga training-trainingnya) ini tidak lagi menarik dibandingkan bisnis yang mereka tekuni masing-masing.

Yah, betul saya memang masih peduli. Makanya situs ini masih ada.

Dulu buku ini diberi judul : SEPIA, Kecerdasan Milyuner. Judul dahsyat. Siapa sih yang tidak ingin jadi milyuner? Makanya waktu itu buku ini laku keras. Trus, judulnya dibuat lebih sopan: SEPIA, 5 Kecerdasan Utama Meraih Bahagia dan Sukses. Judul yang rendah hati, dan akibatnya penjualannya pun menjadi ikut rendah hati (lebih lama terjual habis). Hehe. Terkadang kalau kita makin jujur memang justru makin tidak menjual. Para Nabi yang jujur juga kurang menjual. Para tukang ramal kampungan yang heboh, lebih menjual. Orang-orang ternyata lebih menyukai kehebohan.

Tapi buku ini menurut saya – nggak enak juga ngomongnya, kan saya ikut nulis? – menawarkan hal yang tidak umum. Begini ceritanya.

Ingatkah Anda dengan teman SD yang paling pintar dulu? Pertanyaannya, apakah dia sekarang menjadi teman Anda yang paling sukses? Sebagian akan menjawab ya, sebagian lebih besar lagi akan menjawab tidak!

Ingatkah teman SMA Anda yang paling sholeh dulu? Sekarang dia dimana? Sukseskah? Tampaknya Anda akan setuju kalau saya katakan korelasi jumlah ibadah dan kesuksesan secara statistik mendekati nol, artinya tidak ada korelasi. Yang sholeh ada yang sukses, ada yang tidak (bahkan banyak yang tidak). Sementara yang bejat, eh sukses juga banyak, yang gagal pun ada.

Bagaimana dengan teman yang paling rajin? Rajin belajar, rajin membantu teman, rajin, berolahraga, rajin membaca? Yah, nggak kelihatan juga tuh.

Intinya : kalau Anda percaya bahwa IQ, EQ, dan SQ adalah resep sukses Anda, maka –maaf- buku ini BUKAN untuk Anda! Saya tidak berniat mengubah cara pandang seseorang.

Kalau Anda termasuk yang sangsi dan sadar bahwa pintar, rajin, dan sholeh tidak banyak membantu sukses, nah, justru buku ini cocok dengan Anda!

Saya ulangi : kalau Anda bukan pemuja IQ, EQ, SQ, maka buku ini tepat buat Anda!

Karena buku SEPIA menunjukkan bahwa ”cerdik” adalah resep sukses. Bukan ”pintar”, bukan ”tekun”, juga bukan ”alim”.

Kami menyebutnya : Kecerdasan Power.

Pernahkah Anda ketahui orang yang nggak pinter, males-malesan, nggak kelihatan sholeh, eh tapi sukses? Nah, itulah fenomena yang dijelaskan buku ini. Apakah Jengis Khan sholeh? Apakah pintar? Hmmm… Apakah tekun? Not sure. Apakah cerdik. Hmmm, ya.

Buku ini juga menjelaskan peran penting ambisi, sesuatu yang awalnya berkonotasi jelek. Tapi kami memberinya nama yang lebih sesuai dan lebih indah : Kecerdasan Aspirasi.

Ini juga kiat milyuner yang jarang diperhatikan. Mereka semua memiliki mimpi. Ketika buku ini digagas tahun 2001, kita semua belum mengenal baik ’the Law of Attraction’, sekarang sudah populer. Bahwa mimpi kita akan menarik peluang untuk menjadi kenyataan. Waktu itu, buku SEPIA ini sudah memberikan argumen yang baik tentang hal ini, dengan nama Kecerdasan Aspirasi.

Kecerdasan Power dan Kecerdasan Aspirasi? Anda belum pernah mendengarnya bukan? Karena kami yang membuatnya. Tanpa menunggu bule luar negeri menyebutnya, tanpa menunggu seorang psikolog menelitinya. Simpel saja. Kami merasa ada hal yang hilang, ya kami bikin saja (kita ini sering merasa inferior, untuk menyebut kecerdasan spiritual saja menunggu seorang Danah Zohar melemparkan istilah itu. Kalau sebuah istilah tidak digaungkan penulis asing, kita suka merasa malu mengutipnya).

Sebelum Anda capek-capek mengontak saya lewat sms, tanya dulu pada diri sendiri : Apakah saya termasuk orang yang mengandalkan pintar-tekun-baik hati untuk sukses? Kalau ya, hmm… saran saya tidak usah beli buku ini.

Oh ya, ada cerita yang terlewat. Sejak kecil saya itu dianggap pinter sama teman-teman saya. Dan Alhamdulillah perjalanan sekolah saya juga mulus-mulus saja. SD saya, SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, waktu saya kecil dulu adalah SD filial dengan gedung seadanya di sebelah kandang sapi (betul, sebelah kelas saya memang kandang sapi). Itu tahun 70-an akhir. Sekarang ternyata SD Muh. Sapen itu menjadi teladan regional Asia Tenggara. Luar biasa. Jadi, SD saya ternyata bagus. Sekolah berikutnya adalah SMP 5 dan SMA 1 Yogya. Semua yang terbaik di kota saya. Lalu kuliah di ITB. Terbaik juga se Indonesia.

Nah, setelah masuk masa kerja, saya merasa ada yang aneh. Sepertinya saya bukanlah yang paling sukses diantara teman-teman. Padahal saya -merasa- pinter, rajin, - dan mudah-mudahan alim - , kok sepertinya yang saya inginkan tidak tercapai dengan mulus.

Lalu ketika anak saya mau masuk TK, saya mulai mengevaluasi diri. Benarkah apa yang saya yakini sejak dulu? Apakah anak saya akan saya didik dengan pengetahuan sama yang saya terima dulu. Akhirnya saya mengajak dua kolega hebat saya untuk menulis buku. Jadilah buku SEPIA. Intisari dari banyak bacaan kami tentang orang hebat, orang yang menyejarah, teori psikologi, materi trainig, dan lain-lain.

Setelah buku itu selesai, buku SEPIA, saya tersadar. Jadi selama ini saya adalah orang pintar, yang baik hati, yang rajin, tapi jauh dari ’cerdik’. Saya terlalu pintar, dan karenanya menjadi tidak cerdik. Saya selalu mengandalkan diri sendiri (karena serba bisa), dan kurang memanfaatkan (ups, lebih sopan : meminta bantuan) orang lain. Itulah kelemahannya. Makin Anda pintar, makin Anda tidak cerdik.

Sejak menulis buku SEPIA itu, saya mulai megurangi kepintaran saya, agar menjadi lebih cerdik. Mengurangi kerajinan saya pada banyak hal (tapi tetap rajin pada hal-hal penting) agar lebih berani menyuruh (ups, meminta bantuan) orang lain. Dan saya mengurangi kebiasaan mengait-ngaitkan keberuntungan yang saya peroleh dengan prestasi amal ibadah saya (maksudnya : jangan menganggap Anda sukses karena semata-mata doa dan amalan Anda. Ingat, banyak kaum yang ingkar dengan Tuhan, juga menganggap kesuksesannya karena kecintaan Tuhan pada mereka, padahal Tuhan hendak menghukum mereka. Lihat saja Firaun, Qarun, dan Haman.)

Sebelum Anda bingung, saya jelaskan dulu. SQ berkaitan dengan KEBAHAGIAN Anda. Tapi kurang bukti keterkaitan dengan sukses Anda (ya itu tadi, tidak ada kabar bahwa Jengis Khan adalah orang yang sholeh. Kayaknya malah banyak dosa membunuh orang.). Di buku SEPIA ini, KESUKSESAN lebih dikaitkan dengan PQ, yaitu Kecerdasan Power. Sedangkan keberuntungan – kalau Anda percaya – lebih dikaitkan dengan AQ, yaitu Kecerdasan Aspirasi, dimana Anda menarik PELUANG keberuntungan dengan pikiran Anda.

Baca saja deh, bukunya. (kalau ada teman yang sudah punya, pinjam saja. Atau fotokopi saja. Tidak harus beli untuk bisa membacanya. Atau beli saja satu buku, keroyokan uangnya, dibaca keroyokan juga.)

Loh, masih ada satu lagi cerita terlewat.

Pernah memperhatikan direktur utama perusahaan Anda? Apakah dia orang terpintar? Apakah paling rajin? (eh, Anda juga rajin kan. Kok tidak jadi direktur?) Apakah paling sholeh? (mudah-mudahan).

Saya yakin direktur utama perusahaan Anda itu menjadi top pimpinan karena Kecerdasan Power. (dan Anda juga bisa, kalau juga melatih Kecerdasan Power Anda)

NB : buku ini telah membantu saya mendapat banyak teman yang hebat-hebat. Terimakasih kepada semua temanku. Semoga Anda semua menjadi hebat selalu. Amin.

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

14 Comments »

    Gravatar Image
  1. Salam SEPIA,
    Kira2 dimana saya bisa mendapatkan buku tsb kalo emang tidak dijual lagi, apakah ada ebook nya mungkin? Terus terang saya sudah banyak koleksi Post2 nya mas Khairul, fans berat lah… dan sekarang lagi pingin sukses nih.
    Terima kasih,

    Wassalam

    Comment by Kusti — May 7, 2009 @ 10:31 am

  2. Gravatar Image
  3. Wa’alaikum salam Kusti. Msh ada sisa buku di rumah dan kantor. Bisa pesan via sms ke 0815 7200 7299 . Insya Allah dikirim via pos paket. Biayanya 50 ribu, transfer ATM, sdh termasuk biaya kirim ke seluruh Indonesia. Ada jg versi ebook, harganya sama. Bentuk buku lebih nyaman utk dibaca rame2 (jd belinya urunan saja). Amal jariyahnya jd banyak buat semua. Amiin. :)

    Comment by khairulu — May 7, 2009 @ 11:15 am

  4. Gravatar Image
  5. Salam…
    SEPIA…mari bangkit lagi!

    Sebagai salah satu penulis SEPIA, sedih juga saya menatap nasibmu oh… SEPIA.

    Bagaimana pun SEPIA memang hebat!

    Comment by angger — May 9, 2009 @ 2:40 am

  6. Gravatar Image
  7. syukur lah blog ini hidup kembali, setelah akhir 2008 cukup lama vakum :)
    .
    saya pembaca buku SEPIA dan blog ini.
    rasa2nya akhir2 ini saya mulia menerapkan SEPIA,
    tapi anehnya saya menerapkannya tanpa sadar dan tanpa saya rencanakan sebelumnya. Ya semoga saja perubahan kecil yang tak disadari ini membawa ke arah yang lebih baik.

    Anyway terima banyak kasih atas inspirasisnya Pak Kherul :)

    Comment by azki — May 9, 2009 @ 3:47 pm

  8. Gravatar Image
  9. Mas Khairul…menurut saya penggunaan kata pintar untuk orang yang terlalu mengandalkan dirinya sehingga tidak cerdik kurang tepat. Bukankah orang cerdik itu merupakan orang yang pintar memanfaatkan semua sumber daya yang ada..sebenernya yang membuat orang tidak cerdik sesuai definisi Mas Khaerul adalah orang yang hanya mengetahui satu aspek saja dari sesuatu. Misalnya saja, Paman saya. Dia seorang instalatir Listrik, tetapi yang dia tahu hanya bagaimana caranya memasang instalasi listrik di perumahan, sehingga tidak mampu berkembang, dah mentok pengetahuannya. Jadi dia bisa dikatakan bahwa hanya mengetahui cara memasang instalasi listrik. Nah…beda soalnya dengan bapak saya, selain dia mengerti instalsi listrik (pernah jadi instalatir listrik), dia mampu membangun jaringan (client), dan mengerti bagaimana berhubungan dengan orang-orang penting di kelistrikan, kemudian mampu juga mengatur orang untuk mengerjakan sebuah pekerjaan kelistrikan. Nah dengan kemampuan itu dia mampu membuat sebuah perusahaan kontraktor listrik..

    Salam Kenal Mas Khaerul,

    Hadi Ismanto

    Comment by Hadi Ismanto — May 11, 2009 @ 5:43 am

  10. Gravatar Image
  11. Terimakasih atas masukannya, Mas Hadi. Menurut saya pintar lebih berorientasi daya cipta, sedangkan cerdik adalah kemampuan memanfaatkan daya cipta tersebut. Misalnya, Amir pintar matematika. Budi bodoh matematika, tapi berani buka bimbel. Dia membuka iklan les privat anak SD. banyak ibu-ibu menelpon Budi. lalu Budi meminta Amir untuk mengajar les privat tersebut. Amir pintar, Budi cerdik.

    Kisah cerdik banyak ditunjukkan kancil.

    Kebanyakan orang pintar terbiasa hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Sedangkan yang kurang pintar ‘terpaksa’ mengandalkan orang lain, tapi justru akhirnya pandai melihat peluang dari kekuatan-kekuatan di sekelilingnya. Jadilah dia ‘pintar’ memanfaatkan kepintaran orang lain. Ini yang saya maksud dengan ‘cerdik’, untuk membedakan dengan istilah ‘pintar’.

    Comment by khairulu — May 11, 2009 @ 10:04 am

  12. Gravatar Image
  13. Lebih bagus lagi kalo ada dua-duanya ya…atau tidak mungkin ada 2 kualitas tersebut (pintar dan cerdik) dalam satu orang? Karena manusia itu sepertinya sulit untuk berubah (makhluk kebiasaan), ketika dia biasa pintar ya sedikit kemungkinan bisa cerdik, kalo dah kebiasa mengandalkan kepintaran orang lain, nggak mungkin juga khan dia misalnya Budi pintar matematika seperti pada contoh mas Khaerul?

    Terima kasih

    Comment by Hadi Ismanto — May 12, 2009 @ 5:24 am

  14. Gravatar Image
  15. Ha..ha..Mas Khairul..bener dong ada yg bilang yg penting itu bukan hanya pintar…tapi harus pintar-pintar :)
    Saya mau juga dong bukunya..

    Comment by Luci — May 12, 2009 @ 11:29 pm

  16. Gravatar Image
  17. assalammualaikum wr wb
    mas khaerul.
    saya pembaca setia blog ini,
    dari tahun 2006 tapi kemudian vakum waktu 2009
    untunglah blog ini mulai aktif lagi
    isi nya sangat memotifasi dan membantu.
    salah satu isi nya yg sangat berkesan bagi saya yg mengenai cinta harus memiliki berkat mas saya jadi lebih sadar tentang makna cinta sebenarnya thks ya mas..
    semoga tulisan mu bisa menjadi amal

    wassalammualaikum wr wb

    Comment by dwiki — May 14, 2009 @ 2:59 am

  18. Gravatar Image
  19. Begitu sukarkah menghasilkan buku, sama ada buku fiksyen, buku ilmiah atau buku bukan fiksyen? Buku individu yang hendak menjadi penulis tetapi ramai yang tidak berjaya, apatah lagi sebagai penulis yang dapat memberikan sumbangan yang bermakna di dalam dunia penulisan. Malah bukan menjadi rahsia lagi, ada yang masih lagi bermain dengan angan-angan. Mengapa anda hendak menadi penulis buku? Menulis buku dapat dilakukan sepenuh masa sebagai profesional dan dapat juga sebagai kerjaya sampingan.

    Comment by tips menulis buku — June 6, 2009 @ 2:09 am

  20. Gravatar Image
  21. mas khairul, buku ini masih ada gak ?
    kalo ada, minta no rek nya dong (kalo ada yang bca) …
    sy tertarik dan mau beli buku ini kalo masih ada ..
    kalo bisa, jawabnya ke email sy aja yah … hehe
    teruslah berkarya !!!!

    nuhun

    Comment by byakugie — July 23, 2009 @ 12:35 am

  22. Gravatar Image
  23. pintar cerdik dan bejo atau beruntung.betul begitu …

    Comment by madah arifiani — July 29, 2009 @ 12:17 pm

  24. Gravatar Image
  25. mau juga jadi cerdik

    Comment by anggono — October 20, 2009 @ 4:09 pm

  26. Gravatar Image
  27. pak, kalo karakter kita tidak sesuai dengan tugas dalam pekerjaan kita, gimana cara mengatasinya? thank you…

    ::: coba pilih tugas dimana ‘kelemahan kita tak lagi relevan’, artinya tugasnya tidak membutuhkan sesuatu yg merupakan kelemahan kita. Misal, kalau tidak tega-an, ya jangan jadi tentara (nanti kasihan melulu dengan musuh). Kalau tidak bisa tega, lalu jadi akuntan, ya oke-oke saja kan? Tega tidak relevan dengan akuntansi, tapi cukup relevan dengan tentara saat berperang. khairulu

    Comment by ning — November 24, 2009 @ 6:26 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2006/02/03/jaringan-pemikir-di-dalam-perusahaan/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here