Strike the Oil
“Loh, siapa nih yang berani nulis ‘gas’ di sini?” komentar teman saya sambil tertawa.
Dia geolog. Dan dia tahu, usia saya sebagai ‘interpreter geologi’ masih seumur jagung. Nah, seorang ‘textbook interpreter’ ini sudah berani mengambil kesimpulan bahwa ada gas di lokasi ini dan itu. Kami tertawa bersama. Saat itu kami sedang menyiapkan presentasi uji coba metode Waveform Tomography pada sebuah seksi seismik dengan struktur geologi cukup kompleks. Ini uji coba buta (blind test) dari sebuah perusahaan yang tertarik dengan teknologi kami.
Surprise, analisis itu ternyata sangat akurat! Tepat pada posisi yang kami tunjuk tersebut sudah terdapat ladang minyak (kami tidak tahu sebelumnya). Bahkan titik bor yang kami rekomendasikan ternyata hanya meleset 25 meter dari lokasi sesungguhnya. Jackpot. We strike the oil! (thanks to WaveTomo yang hasilnya memudahkan interpretasi)
Waviv
Sekitar 3 tahun yang lalu, tahun 2006, Yogi rekan seruangan saya pulang dari Belanda dengan cerita bahwa hasil risetnya mendapat apresiasi tinggi dari Shell Oil Company. Dia merumuskan suatu pre-conditioner untuk solver matematik yang robust dalam menyelesaikan persamaan gelombang akustik. Kabarnya solver ini dipakai untuk teknologi seismik dan optik Blu-Ray (juga untuk semua aplikasi akustik seperti teknologi radar, supresi sonic jet, medical MRI, dll). Tapi dia belum pernah mengakses teknologi tersebut ke mesin komputer Shell. Dia membuat solvernya, orang Shell membawa solver itu ke komputer mereka, dan kembali dengan puas. Solver itu temuan yang penting bagi Shell.
“Ayuk kita coba buat”, celetuk saya. Yogi setuju. “Matematika di seluruh dunia sama. Kalau mereka bisa, kita juga bisa”, kata Yogi. Kami membuat misi sederhana yang muluk : membuat software pencari minyak untuk menghemat devisa negara. (Hehe. Dua orang naif yang tidak tahu banyak tentang sulitnya dunia minyak, menganggap bahwa bikin software itu mudah. Kalau tahu dari awal bahwa ini hal susah, mungkin malah tidak berani memulai… Persis seperti kisah kodok tuli yang berani melakukan hal mustahil justru karena ketuliannya.)
Dan sesungguhnyalah kami berdua buta total dengan makhluk bernama seismik. Yogi berasal dari grup aerodinamika, sedangkan saya dari grup desain pesawat & sistem transportasi udara. Kami adalah dua dosen di Aeronautika ITB yang lebih familiar dengan seluk-beluk pesawat terbang.
Oke, cari dulu nama ‘.com’ yang masih tersedia. Dipilih waviv.com karena hanya 5 huruf dan masih cukup keren (nama 5 huruf untuk .com sudah langka). Lalu utak-atik sedikit dibuatlah kepanjangannya : Wave Imaging and Visualization. Nama sedikit maksa, tentu saja.
Thanks to Google and internet, kami bisa melacak paper ilmiah hingga tahun 80 an. Hal yang 10 tahun lalu mustahil dilakukan dari Indonesia (itulah mengapa saya menjadikan pendiri Google sebagai ‘hero’ saya). Dengan menggabungkan teman dari informatika, geofisika, dan geologi, dimulailah riset kecil untuk ‘reversed engineering’. Karena metode ini bukan metode seismik yang baku, maka praktis kami semua tidak ada yang tahu makhluk gerangan apa yang sedang kami coba rekonstruksi ini.
Kaizen
Sejujurnya, beberapa kali kami ingin berhenti karena frustasi. Teknologi ini ternyata sulit dan rumit. Gabungan ilmu matematika, geofisika, dan informatika. Istilah-istilah aneh seperti conjugate gradient, Kirchhoff, MPI, dll, dipelajari sedikit demi sedikit. Tanya sana-sini tidak banyak yang tahu (mungkin tanya ke orang yang salah..). Saya pribadi mempunyai tekad yang kuat untuk membuktikan bahwa ‘kungfu SEPIA’ bisa dipakai (haha, maunya). Tantangan berat ini mestinya dihadapi dengan kombinasi kecerdasan aspirasi, power, intelektual, emosi, dan spiritual sekaligus. Berhenti kapan pun bisa, jadi kenapa harus berhenti sekarang?
Enam bulan kemudian…
algoritma kelas ‘sepeda roda tiga’ sudah selesai. Ini kasus reflektor sederhana, diproses dengan matlab di laptop. Komentar teman saya, “kalau ini sih belum bisa dipakai cari minyak…”
Setelah satu setengah tahun kemudian…
algoritma kelas ‘becak’ selesai. Kualitas gambar meningkat. Ini kasus crosshole tomography. Diproses dengan Fortran pada 6 komputer paralel. Komentar teman saya, “Hmm… menarik.”
Setelah dua setengah tahun…
algoritma kelas ‘mobil pick up’ selesai. Kasus makin rumit. Masih diproses dengan 6 komputer paralel. Memerlukan waktu berminggu-minggu untuk memproses sebuah gambar. Surprise, hasil yang ini mendapat apresiasi Best Oral Presentation Paper di forum HAGI 2008 (terimakasih sekali kepada rekan-rekan HAGI – Himpunan Ahli Geofisika Indonesia - yang telah memberikan dorongan moril amat luar biasa ini. Pengaruhnya sangat besar buat tim kami!)
Setelah tiga tahun…
naik kelas menjadi ‘mobil sedan’. Ada yang membelikan blade servers dengan 176 prosesor. Kali ini tes Marmousi yang rumit bisa diselesaikan.
Dan selanjutnya…
inilah ‘the real test’, memproses gambar yang sangat sulit. Suatu ‘white (blank) area’ karena complex structure. Metode standar tidak menghasilkan reflektor akibat banyaknya difraksi di bagian tersebut yang menjadikan kualitas stacking menjadi buruk (hehe, yang bukan orang geofisika pasti mumet dengan istilah-istilah ini). Apakah pakai WaveTomo gambarnya jadi jelas? Tidak juga. Hasil stacking masih hampir ‘blank’. Tapi WaveTomo memberikan infromasi lain, dimana letak reflektor-reflektor utama bisa diterjemahkan dari perilaku pergerakan gelombang. Ini adalah cara yang berbeda dengan cara yang umum dipakai. Ibarat orang buta, kalau gagal dilihat pakai ‘mata’, ya dilihat pakai ‘telinga’. Kalau gagal dilihat pakai ‘stacking method’, ya kita lihat pakai ‘velocity method’.
Ini hasil WaveTomo
Ternyata di situ (lingkaran merah) memang ada minyak! (Diberitahukan secara informal setelah pertemuan selesai.) Dengan konfirmasi tersebut, maka keseluruhan gambar menjadi terpercaya untuk dijadikan rujukan bagi pengeboran selanjutnya.
(Yang paling puas hari itu adalah Pandu, programmer tunggal selama ini. Mungkin karena saya sering mempertanyakan gambar aneh yang keluar – apa itu bukan salah programming Ndu? -, dia selalu menjawab : “Never doubt wavetomo…” WaveTomo adalah nama produk kami, singkatan dari Waveform Tomography. Juga turut paling gembira adalah Ivan “mr. shortcut” si piawai solusi cepat, yang sudah dua tahun bertanggungjawab untuk parallel computing. Hasil bertekun dua tahun lebih –tanpa dibayar, tepatnya sekali dua kali mencoba dibayar lalu kami bangkrut sendiri- akhirnya menunjukkan hasil nyata. Selanjutnya “duo Yani” sebagai investor ‘gurem’ sejak awal (hehe, just kidding), dan seluruh anggota tim lainnya pun turut gembira. Alhamdulillah.)
Inspired Work-in-Progress
Saya sekarang yakin bahwa kegigihan (persistensi) akan membuahkan hasil. Dulu sih sudah yakin, tapi sekarang semakin yakin.
Roger Hamilton dalam bukunya ‘Wink and Grow Rich’ memperkenalkan istilah inspired work-in-progress. Yaitu, produk yang inspiratif yang sedang-dan-terus-menerus disempurnakan (karena semua hal pasti belum sempurna). WaveTomo ini juga sebuah inspired work-in-progress, masih jauh dari sempuna. Yang mula-mula sebuah algoritma kelas ‘sepeda roda tiga’ bila terus ditekuni akan menjadi sebuah ‘mercy’. Yang tadinya hanya sebuah gagasan (dan mimpi menghemat devisa negara!), mudah-mudahan akhirnya bisa menjadi produk yang membanggakan. Sesuatu yang terus ditekuni, insya Allah akan makin sempurna.
Salah satu hal yang menginspirasi saya tentang ‘inspired work-in-progress’ ini adalah perjalanan ke Jepang tahun 2001 dulu. Ketika itu saya dan rombongan diajak mengunjungi Matsushita dan Toyota (selain perusahan-perusahaan keren lainnya). Bersentuhan dengan jejak orang-orang besar bisa memberi kita inspirasi. Saya sangat kagum dengan Matsushita dan Toyoda, yang keduanya berawal dari kondisi miskin saat memulai usaha. Matsushita memulai dengan membuat fitting lampu dari adonan hitam, dan Toyoda memulai usaha dengan membuat alat tenun dari kayu. Walaupun modal serba terbatas, namun dengan kecerdasan dan ketekunannya – semangat kaizen – mereka akhirnya menghasilkan produk berkualitas, menjadi perusahaan yang terbaik dengan ratusan ribu karyawan, dan sudah tumbuh terus hampir 100 tahun!
Kita ini adalah bangsa yang sudah bisa membuat pesawat terbang sejak 25 tahun yang lalu (Indonesia disegani karena menjadi bagian dari segelintir bangsa di dunia ini yang memiliki teknologi pesawat terbang). Kita ini PANTAS dan MAMPU untuk bisa mandiri. Allah yang Maha Adil memberikan kesetaraan kemampuan kepada semua bangsa. Yang perlu kita lakukan adalah memulai ‘inspired work-in-progress’, sebanyak-banyaknya, di semua bidang. Agar kita bisa saling membeli produk sendiri. Agar lebih banyak uang kita berputar di dalam negeri sendiri. Agar kita bisa sejahtera bersama. Dan agar kita bisa sama-sama menyatakan : Aku Bangga Indonesia!







Alhamdulillah, turut bangga Pak. Tulisan yang sangat ispiratif, patut dicontoh, bisa buat motivasi untuk diri dan semua. Semoga dari sedan bisa terus meningkat, dan meningkat lagi Pak
Comment by rayyan — March 23, 2009 @ 9:32 am
Salut atas determinasi dan persistensi tim WAVIV hingga mencapai hasil yg demikian membanggakan.
Comment by Oemar Bakrie — March 23, 2009 @ 1:17 pm
Semua perjalanan bapak termasuk ke PN, Dims, dll adalah langkah menuju harta karun ini…(lihat betapa indah Tuhan merencanakan semuanya).
Selamat atas lahirnya teknologi ini! Tulis jurnal pak…
*malu pada diri sendiri
Comment by Alfa — March 24, 2009 @ 3:15 pm
walaupun saya gak ngerti sama sekali dengan disiplin ilmunya tapi salut banget dengan progress dan result yang dtampilkan. Keep it Up!
Comment by prast — March 25, 2009 @ 2:06 am
salute!!!…hidup bangsaku…berkibarlah di penjuru dunia
Comment by saleh — March 27, 2009 @ 9:39 am
salute!!…hidup dan jayalah selalu bangsaku
Comment by saleh — March 27, 2009 @ 9:48 am
Semoga tulisan ini menjadi inspirasi generasi muda Bangsa kita.
Maju terus bangsaku,maju terus Indonesiaku.
Aku cinta Indonesiaku.
Comment by Kusnan — March 28, 2009 @ 11:09 am
banyak2 bersyukur
Comment by Irwan Wijaya — March 29, 2009 @ 4:34 pm
Boleh tanya pak? Sampai kapan/berapa lama kita harus menyelesaikan impian kita? 2 th bukan waktu yg sebentar untuk yg tidak punya visi, tapi waktu yg singkat kalau sudah punya visi yg jelas. Kapan kita harus terus dan kapan kita harus berhenti?
Permasalahan klasik kalau sudah ada di persimpangan jalan antara kepastian dan keraguan….
Tx
Comment by pat! — March 29, 2009 @ 11:32 pm
buat Pat! saya juga lupa jawabannya. Untunglah pernah menulis hal itu (haha, ini namanya kembali belajar dari masa lalu).
mungkin artikel berikut ini dapat membantu :
http://sepia.blogsome.com/2008/02/09/kapan-menyerah/
Comment by khairulu — March 30, 2009 @ 3:46 am
Selamat Pak, saya masih inget awal2 project ini digulirkan…lama g ketemu, saya masih punya utang nih…
Kangen mroyek lagi he..he…selamat pak, kalo pas ke Bandung Insya Allah saya kontak, butuh pencerahan
::: Salam Andi! Kemarin Rosgana kontak saya. Dia muncul di Kick Andy. Kami semua kangen kamu.
- khairul
Comment by Andi.F — April 29, 2009 @ 4:48 am