Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Red Cliff Deep BlueStrike the Oil »

March 15, 2009

Spiritual

Bagaimana rasanya mengurus anak? Repot.

Tapi anehnya, kita merasa puas dan senang sesudahnya. Itulah spiritual : susah tapi senang.

Seperti paradoks hidup sehat. Untuk sehat fisik, kita harus banyak kerja fisik dan bukannya istirahat fisik. Untuk sehat pikiran, kita harus banyak mikir, bukan berhenti mikir. Untuk sehat spiritual, kita harus banyak memberi, bukan banyak menerima.

Ya, tentu saja ada keseimbangan. Jiwa dan tubuh kita akan memberi sinyal balik. Terlalu banyak kerja tidak baik, kita diberi sinyal lelah. Terlalu banyak mikir tidak baik, kita diberi sinyal suntuk. Terlalu banyak memberi pun jelek. Kita diberi sinyal kepantasan oleh nurani. Semuanya menjadi spiritual saat dituruti dengan khidmat. Tidur setelah lelah kerja akan memberikan kepuasan. Jalan-jalan menikmati indahnya alam setelah suntuk berpikir, akan memberi kenikmatan. Juga membelikan kesenangan diri setelah banyak sedekah akan menumbuhkan perasaan tenteram.

Hidup seimbang adalah hidup spiritual. Mungkin di situlah sumber paradoks berkeluarga. Susah yang timbul adalah bagian pupuk dari buah kenikmatan. Pernikahan yang spiritual ditandai dari saling melayani dan berkorban untuk pasangan, dan jauh dari saling mengkonsumsi dan menyesap kenikmatan dari pasangan (itulah mengapa bisa terjadi pasangan super cantik dan tampan justru berantakan, pasangan serba kurang eh justru tenteram).

Menikah yang susah tapi senang, adalah spiritual. Bekerja yang susah tapi senang, adalah spiritual. Nulis blog untuk berbagi ilmu sehingga merasa susah tapi anehnya senang, itu juga spiritual.

Spiritual adalah berkorban. Lalu Tuhan membanjirkan kenikmatan.

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

13 Comments »

    Gravatar Image
  1. Benar Sekali mas..Ajkk
    Kalau Qta Sekedar Menjalani hidup mk Perlahan2 hidup Ini Kosong dan Menjenuhkan. Jadi Musti Membangun Hidup dengan Penuh Nilai dan Makna..

    Comment by Abdul — March 16, 2009 @ 6:49 am

  2. Gravatar Image
  3. Dan ketika kita memperoleh kenikmatan itu dan kita mensyukurinya, maka kenikmatan-Nya akan bertambah.
    Trim’s atas pencerahannya kang!

    Comment by abululu — March 16, 2009 @ 9:22 pm

  4. Gravatar Image
  5. He is The Real Ustadz…..

    Comment by intan — March 17, 2009 @ 4:35 am

  6. Gravatar Image
  7. setuju

    Comment by assasincreed — March 18, 2009 @ 5:16 am

  8. Gravatar Image
  9. pemikiran yg menarik …… dan kalo dipikir2 bener juga :D

    Comment by aditya — March 19, 2009 @ 2:29 am

  10. Gravatar Image
  11. setuju banget pa..
    inspiring..

    Comment by dadi — March 24, 2009 @ 1:23 pm

  12. Gravatar Image
  13. Milikilah sifat-sifat tanah subur sehingga berbuah beratus kali lipat, yaitu suka mendengarkan, mau berubah, terus mengembangkan diri ke arah yang baik sesuai kehendak Allah SWT. Hidup Bang Khairul…!!!

    Comment by Farid — March 24, 2009 @ 2:46 pm

  14. Gravatar Image
  15. Sangat bagus sekali…

    Comment by ridha — April 20, 2009 @ 6:22 pm

  16. Gravatar Image
  17. Benar sekali mas Khaerul….tetapi itu bagi spiritual yang telah tercerahkan….spirit (jiwa) yang telah bijaksana dan telah mengerti arti hidup ini, tujuan hidup ini. Bagi yang belum tercerahkan, mungkin ketika menemui kesulitan atau kelelahan, ataupun ketika berbuat kebaikan tetapi dia kurang sadar mengenai tujuan kebaiakn itu, mungkin saja dia akan mengeluh dan tidak menikmati pekerjaannya. Oleh karena itu memang benar seperti yang dikatakan Robin Sharma, bahwa untuk mencapai diri terbesar kita, untuk mencapai kebaikan apapun, kita harus mengijinkan diri kita untuk menjadi seorang filosof….

    Terima kasih Mas Khaerul atas semua inspirasinya……semoga sepia bisa hidup terus….menjadi ladang amal buat Mas Khaerul…..

    Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

    Comment by hadi ismanto — May 12, 2009 @ 11:27 pm

  18. Gravatar Image
  19. nice artikel. Dengan spiritualitas yg tinggi akan membawa Hidup dengan penuh kebahagiaan dalam hati yg damai penuh rasa kesyukuran.

    Comment by Wiwit Prayitno — May 24, 2009 @ 2:14 pm

  20. Gravatar Image
  21. V^_^ I like that mas….

    Comment by Fadlli — June 20, 2009 @ 2:49 pm

  22. Gravatar Image
  23. Setuju Mas , sesuatu memiliki nilai spritual ketika ada nilai pengorbanan dan menjadi lebih dasyat lagi di dasari keikhlasan karena bisa menembus langit tujuh dan menghujam ke hati yg dalam yang seperti di jalani Bapak agama samawi nabi Ibrahim as

    Comment by tezza — June 24, 2009 @ 1:23 pm

  24. Gravatar Image
  25. urip kuwi mung sadermo ngelakoni(HIDUP ADALAH PILIHAN)
    narimo ing pandum (BERSYUKUR) .ojo dumeh(JANGAN AJI MUMPUNG)

    Comment by shalikan — August 18, 2009 @ 2:30 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2006/08/14/fire-walking-belajar-mengalahkan-ketakutan-diri/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here