Spiritual
Bagaimana rasanya mengurus anak? Repot.
Tapi anehnya, kita merasa puas dan senang sesudahnya. Itulah spiritual : susah tapi senang.
Seperti paradoks hidup sehat. Untuk sehat fisik, kita harus banyak kerja fisik dan bukannya istirahat fisik. Untuk sehat pikiran, kita harus banyak mikir, bukan berhenti mikir. Untuk sehat spiritual, kita harus banyak memberi, bukan banyak menerima.
Ya, tentu saja ada keseimbangan. Jiwa dan tubuh kita akan memberi sinyal balik. Terlalu banyak kerja tidak baik, kita diberi sinyal lelah. Terlalu banyak mikir tidak baik, kita diberi sinyal suntuk. Terlalu banyak memberi pun jelek. Kita diberi sinyal kepantasan oleh nurani. Semuanya menjadi spiritual saat dituruti dengan khidmat. Tidur setelah lelah kerja akan memberikan kepuasan. Jalan-jalan menikmati indahnya alam setelah suntuk berpikir, akan memberi kenikmatan. Juga membelikan kesenangan diri setelah banyak sedekah akan menumbuhkan perasaan tenteram.
Hidup seimbang adalah hidup spiritual. Mungkin di situlah sumber paradoks berkeluarga. Susah yang timbul adalah bagian pupuk dari buah kenikmatan. Pernikahan yang spiritual ditandai dari saling melayani dan berkorban untuk pasangan, dan jauh dari saling mengkonsumsi dan menyesap kenikmatan dari pasangan (itulah mengapa bisa terjadi pasangan super cantik dan tampan justru berantakan, pasangan serba kurang eh justru tenteram).
Menikah yang susah tapi senang, adalah spiritual. Bekerja yang susah tapi senang, adalah spiritual. Nulis blog untuk berbagi ilmu sehingga merasa susah tapi anehnya senang, itu juga spiritual.
Spiritual adalah berkorban. Lalu Tuhan membanjirkan kenikmatan.







Benar Sekali mas..Ajkk
Kalau Qta Sekedar Menjalani hidup mk Perlahan2 hidup Ini Kosong dan Menjenuhkan. Jadi Musti Membangun Hidup dengan Penuh Nilai dan Makna..
Comment by Abdul — March 16, 2009 @ 6:49 am
Dan ketika kita memperoleh kenikmatan itu dan kita mensyukurinya, maka kenikmatan-Nya akan bertambah.
Trim’s atas pencerahannya kang!
Comment by abululu — March 16, 2009 @ 9:22 pm
He is The Real Ustadz…..
Comment by intan — March 17, 2009 @ 4:35 am
setuju
Comment by assasincreed — March 18, 2009 @ 5:16 am
pemikiran yg menarik …… dan kalo dipikir2 bener juga
Comment by aditya — March 19, 2009 @ 2:29 am
setuju banget pa..
inspiring..
Comment by dadi — March 24, 2009 @ 1:23 pm
Milikilah sifat-sifat tanah subur sehingga berbuah beratus kali lipat, yaitu suka mendengarkan, mau berubah, terus mengembangkan diri ke arah yang baik sesuai kehendak Allah SWT. Hidup Bang Khairul…!!!
Comment by Farid — March 24, 2009 @ 2:46 pm
Sangat bagus sekali…
Comment by ridha — April 20, 2009 @ 6:22 pm
Benar sekali mas Khaerul….tetapi itu bagi spiritual yang telah tercerahkan….spirit (jiwa) yang telah bijaksana dan telah mengerti arti hidup ini, tujuan hidup ini. Bagi yang belum tercerahkan, mungkin ketika menemui kesulitan atau kelelahan, ataupun ketika berbuat kebaikan tetapi dia kurang sadar mengenai tujuan kebaiakn itu, mungkin saja dia akan mengeluh dan tidak menikmati pekerjaannya. Oleh karena itu memang benar seperti yang dikatakan Robin Sharma, bahwa untuk mencapai diri terbesar kita, untuk mencapai kebaikan apapun, kita harus mengijinkan diri kita untuk menjadi seorang filosof….
Terima kasih Mas Khaerul atas semua inspirasinya……semoga sepia bisa hidup terus….menjadi ladang amal buat Mas Khaerul…..
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Comment by hadi ismanto — May 12, 2009 @ 11:27 pm
nice artikel. Dengan spiritualitas yg tinggi akan membawa Hidup dengan penuh kebahagiaan dalam hati yg damai penuh rasa kesyukuran.
Comment by Wiwit Prayitno — May 24, 2009 @ 2:14 pm
V^_^ I like that mas….
Comment by Fadlli — June 20, 2009 @ 2:49 pm
Setuju Mas , sesuatu memiliki nilai spritual ketika ada nilai pengorbanan dan menjadi lebih dasyat lagi di dasari keikhlasan karena bisa menembus langit tujuh dan menghujam ke hati yg dalam yang seperti di jalani Bapak agama samawi nabi Ibrahim as
Comment by tezza — June 24, 2009 @ 1:23 pm
urip kuwi mung sadermo ngelakoni(HIDUP ADALAH PILIHAN)
narimo ing pandum (BERSYUKUR) .ojo dumeh(JANGAN AJI MUMPUNG)
Comment by shalikan — August 18, 2009 @ 2:30 am