Dalil vs Dalih
Kitab suci bisa digunakan sebagai dalil, bisa juga digunakan sebagai dalih.
Apa bedanya?
Kalau dijadikan dalil, artinya aturan-aturan di dalamnya kita gunakan sebagai rujukan, sebagai pegangan. Ringan kita laksanakan, berat pun kita laksanakan.
Sebaliknya kalau dijadikan dalih, maka aturan di dalamnya hanya kita jadikan rujukan saat sesuai dengan kemauan kita. Artinya, yang ringan kita jalankan, yang susah kita abaikan.
Itulah beda dalil dengan dalih. Beda satu huruf yang berarti perbedaan bumi langit.
Alasan-alasan yang kita gunakan sehari-hari ternyata juga ada yang dalil, ada yang hanya dalih. Kapan kita mengetahui suatu alasan itu dalil, dan kapan dalih?
Anda akan tahu bahwa sesuatu itu dalil (prinsip hidup) ketika Anda menjalaninya secara konsisten. Seringkali dalil akan berbenturan dengan keinginan nafsu kita. Misalnya, teman-teman kita pada bagi-bagi uang sisa proyek tanpa aturan pembagian yang jelas. Kalau Anda punya dalil bahwa itu haram, dan Anda mengimaninya, mungkin Anda menolak untuk ikut mendapatkan pembagian. Tentu saja ada dilema yang serius akan Anda hadapi. Yang paling sulit adalah menghadapi sikap tak suka dari kalangan kolega sendiri. Nah, kalau bisa bertahan terhadap situasi sulit itu, berarti prinsip tersebut adalah dalil bagi yang bersangkutan. Sebaliknya, jika kemudian dia mencari-cari aturan lain yang bisa membenarkan perilaku yang hati nurani kita menganggap salah, maka jelaslah aturan itu kita gunakan sebagai dalih.
Jadi, ketika suatu aturan kita gunakan sebagai referensi, maka ia digunakan sebagai dalil. Sedangkan ketika suatu aturan digunakan sebagai alibi pembenaran, maka dia menjadi dalih. Materi aturan itu sama saja, motivasi penggunaannya yang berbeda.
Cirinya sederhana: dalil mendahului sikap, sedangkan dalih mengikuti sikap.
Mari kita ambil contoh populer, menikah lagi. Kalau ayat kitab suci dijadikan dalil, maka bisa terjadi seseorang mengimani pentingnya menikah lagi (mungkin untuk menyelamatkan kehormatan janda, menyantuni yatim, memberikan pengajaran jalan mulia di tengah kemaksiatan perzinahan, dsb) mendahului pernikahan itu sendiri. Jadi, dia menikah atas dasar agama untuk menyelesaikan persoalan pelik di masyarakat. Mungkin dia pribadi merasa berat dengan tanggung jawab pernikahan baru (dan memang tanggung jawab berkeluarga itu cukup berat), hal tersebut tidak nyaman dilakukan (bukankah lebih enak berzina diam-diam? misalnya), tapi lalu dia lakukan dengan niat karena Allah. Nah, ini artinya rujukan tersebut digunakan sebagai dalil. Tapi sebaliknya, bila karena dorongan nafsu kemudian seseorang menikah lagi, dan menunjukkan ciri-ciri kurangnya tanggung jawab dalam membina keluarga (baik keluarga yang lama maupun yang baru), maka rujukan yang dipakai sebenarnya dijadikan dalih belaka.
Hal yang sama juga terjadi pada alasan-alasan kita sehari-hari. Misalnya, alasan datang terlambat, pekerjaan tak selesai tepat waktu, membatasi pengeluaran, boros pengeluaran, dll. Ada sebagian alasan tersebut yang bersifat dalil/berdasarkan prinsip (misalnya boros untuk keperluan yang penting), atau sekedar dalih/berdasarkan pembenaran (misalnya boros karena keinginan sesaat).
Masak sih kita tak boleh berdalih? Ya, boleh-boleh saja. Yang penting kita itu jujur dengan diri sendiri, kapan kita itu berdalil atau berdalih. Kalau sedang cari-cari alasan, ya kita akui saja kalau kita sedang berdalih, bukan sedang berdalil. Sedangkan kalau kita berdalil, maka kita harus sampaikan dengan jujur dan tegas, walaupun pahit akibatnya.
Ngomong-ngomong apakah hasil kerja Anda sering hanya secukupnya saja? Itu dalil atau dalih ya?







Pertanyaan terakhir saya ndak MUDENG mas… bisa di perjelas?
Comment by Jauhari — June 16, 2008 @ 12:32 am
ada beberapa orang yang mencari pembenaran terhadap apa yang dilakukan,
dan itulah beberapa manusia.
Comment by wadiyo — June 16, 2008 @ 1:58 am
terima kasih
Comment by ian — June 16, 2008 @ 6:23 pm
Kalau berada dalam lingkungan buruk/kotor, lama-kelamaan seseorang bisa makin tumpul membedakan yang mana dalih dan dalil. Semua yang dilakukannya selalu mempunyai sisi baik dari sudut pandang dia yang tentu saja buruk dari sudut pandang orang lain atau aturan. Sayangnya saya kenal orang-orang seperti itu. Eh, tidak ’sayangnya’ ding, dengan mengenal mereka saya jadi tahu: jangan mengambil jalan itu…
Comment by alfa — June 16, 2008 @ 7:43 pm
@wadiyo
saya rasa quote dibawah ini sudah cukup mewakili semua tulisan di atas, betul kan pak Khairul ?
Cirinya sederhana: “dalil mendahului sikap, sedangkan dalih mengikuti sikap”
@pak khairul
sekali lagi Tulisannya sangat inspiratif, kalo dipikir2 sy banyak berdalih ketimbang berdali yak, hiks
ah seandainya semua politisi banyak yg berdalil ketimbang berdalih, mungkin sikapnya di mata masayrakat bisa positif, karena entahlah menurut saya, apabila ada orang yg berdalih , secara firasat terkadang orang yg mendengarnya juga sudah tahu terlebih dahulu
Comment by adit — June 18, 2008 @ 7:36 am
betul sekali mas Adit!
@mas Jauhari, pertanyaan terakhir itu ada kaitannya dg kerja taktis yg langsung menyelesaikan masalah, dengan yang cuma bekerja utk menghabiskan waktu menunggu gajian bulan berikutnya. sama-sama ’simple’ tp yg satu krn ngerti, yg lain karena malezzz…
Comment by khairulu — June 20, 2008 @ 12:50 pm
ho oh Mas, sy merasa tipe santai. kerjaku nyantai, prestasiku datar,sll buat dalih saat tidak berprsetasi. sebaiknya gemana ya….
Comment by sumarjo — June 28, 2008 @ 5:34 am
oke terima kasih
Comment by Ramoz — December 12, 2008 @ 9:34 am
Jika dalil mendahului sikap, sedangkan dalih mengikuti sikap., apakah yang dilakukan oleh pengebom Bali itu Dalil atau dalih? sebab mereka sebelum melakukan pengeboman, mereka tidak berniat dengan Hawa Nafsu, justru mereka dengan niat menjalankan Perintah Alla, dan yang kedua, mereka memahami Teks al-Qur’an sebelum bersikap. Terima Kasih
Comment by Ramoz — December 12, 2008 @ 9:38 am
Mas Khairul, atau aa’ Khairul, atau Bang Khairul !Bagus dan berbobot tulisan anda, saya mungkin salah satu orang yang kadang menggunakan dalih untuk menjadi dalil eh …salah ya. Maksud saya, dalam pergaulan sering saya dengar dalil-dalil digunakan untuk kepentingan sesaat, contoh para caleg.Bukan begitu?
Comment by M. Nur Said — January 22, 2009 @ 12:02 am
Anda akan tahu bahwa sesuatu itu dalil (prinsip hidup) ketika Anda menjalaninya secara konsisten. Seringkali dalil akan berbenturan dengan keinginan nafsu kita. Misalnya, teman-teman kita pada bagi-bagi uang sisa proyek tanpa aturan pembagian yang jelas. Kalau Anda punya dalil bahwa itu haram, dan Anda mengimaninya, mungkin Anda menolak untuk ikut mendapatkan pembagian. Tentu saja ada dilema yang serius akan Anda hadapi. Yang paling sulit adalah menghadapi sikap tak suka dari kalangan kolega sendiri. Nah, kalau bisa bertahan terhadap situasi sulit itu, berarti prinsip tersebut adalah dalil bagi yang bersangkutan. Sebaliknya, jika kemudian dia mencari-cari aturan lain yang bisa membenarkan perilaku yang hati nurani kita menganggap salah, maka jelaslah aturan itu kita gunakan sebagai dalih.
Sy sering mengalami kondisi tsb, sbg leader team sy selalu memegang dana project,sbg catatan kondisi sy jauh lebih muda di banding rekan2 kerja saya, dan sy tergolong junior di kantor saya..ketika project selesai sy selalu open tentang sisa dana project dan rekan2 saya menuntut agar dana tersebut dibagi2kan..sejujurnya sy ingin dana tsb di kembalikan ke kantor tetapi karena desakan, perasaan tidak enak dgn para senior, dan menghindari permusuhan dgn mereka???akhirnya dana tersebut saya bagi2kan tetapi saya tidak mengambil 1 rupiah pun..karena saya tau itu haram..yang menganjal pikiran saya adalah sy membiarkan hal tersebut berulang2 kali terjadi,dan sy tau itu salah. Lebih parah lagi sebagai leader sy harus membuat laporan keuangan dan sy selalu merekayasa laporan tsb..
Yang sy ingin tanyakan harus bagaimana baikny agar ketika pada project lain hal tersebut tidak terjadi tanpa menimbulkan permasalahn baru seperti terjadinya permusuhan antara sy dan rekan2 kerja saya..mohon bantuannya?terima kasih
salam
Comment by cokkie — October 6, 2009 @ 3:46 am