Strategi meningkatkan kualitas
Bagaimana meningkatkan kualitas hidup kita?
Kebanyakan orang sangat bersemangat meningkatkan suatu hal (misalnya kesehatan, ibadah, penghasilan, ilmu, dsb) dengan serta merta. Dalam jangka pendek hasilnya mulai terlihat, namun tak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian menjadi loyo dan kembali kepada keadaan semula.
Dalam industri manufaktur telah diteliti bahwa cara terbaik meningkatkan kualitas adalah dengan membuat kondisi menjadi stabil terlebih dahulu. Misalnya ingin mengurangi cacat produk, maka hal pertama yang dilakukan adalah membuat agar jumlah cacat dari waktu ke waktu menjadi stabil terlebih dahulu. Misalnya, cacat produksi terkadang 2 persen, lalu di lain waktu 10 persen, kemudian 3 persen, dst. Ini adalah kondisi tidak stabil. Maka dicari terlebih dahulu kondisi kestabilan, misalnya stabil cacat 10 persen! Walau cacatnya cukup banyak, asalkan sudah stabil di angka tersebut berarti proses produksi sudah stabil. Bila proses produksi sudah stabil (berlangsung tetap, konsisten, bisa dikontrol), barulah dilakukan peningkatan kualitas misalnya cacat dikurangi hingga 8 persen.
Jadi strategi peningkatan kualitas dimulai dari melakukan stabilisasi, yang berarti adalah membuat proses menjadi terkontrol.
Bagaimana cara meningkatkan kualitas hidup kita. Gunakan strategi yang sama : stabilkan dulu, baru tingkatkan.
Misalnya kita ingin meningkatkan kualitas ibadah, shalat misalnya. Biasanya kita rajin di bulan Ramadhan, lalu mendadak loyo sesaat setelah Lebaran. Ini karena belum mencapai kondisi stabil. Bagaimana cara menstabilkan? Beribadahlah secara sederhana, secukupnya, namun konsisten! Itulah yang disebut stabil. Misalnya mula-mula shalat lima waktu dengan teratur, secukupnya. Yang penting teratur dulu. Setelah kondisi tersebut berjalan lama, barulah mulai ditambah, misalnya shalat dhuha, atau shalat sunnat setelah shalat wajib. Lakukan secara sederhana hingga menjadi terbiasa, barulah tambah shalat tahajud, misalnya, dan seterusnya.
Menurut penelitian, kabarnya sesuatu akan menjadi kebiasaan setelah dikerjakan minimal 6 MINGGU (1,5 bulan) lamanya. Jadi, prinsip menstabilkan kondisi adalah melakukan PENGULANGAN hingga paling tidak 6 minggu secara berturut-turut. Awalnya biasanya berat, karena setiap hal pada dasarnya lembam, susah berubah. Namun setelah kita mencapai kondisi stabil, biasanya lebih mudah bertahan, karena kita berada dalam kelembaman baru. Mereka yang sudah biasa shalat 5 waktu, pasti merasa gelisah bila luput shalat. Mereka yang sudah biasa tahajud, pasti merasa tak nyaman ketika luput tahajud.
Demikian pula dengan kesehatan, cara terbaik adalah melakukan olahraga yang disukai (mulai dari yang ringan dan gembira) selama 6 minggu berturut-turut. Setelah menjadi kebiasaan, semuanya akan berjalan ringan.
Bagaimana dengan keuangan? Sama saja. Kalau saat ini keuangan terasa sulit, mungkin karena ada pola belanja yang tidak teratur. Anggaran bulanan berubah-ubah secara mendadak karena keinginan sesaat (impuls buying). Ada tawaran anu, langsung beli. Ada iming-iming diskon, langsung borong, dsb. Maka langkah awal adalah menstabilkan. Misalnya membuat pola belanja yang teratur melalui alokasi anggaran (budgeting) Bagaimana kalau ternyata masih tekor juga? Bila ‘sudah teratur’ tekornya, berarti sudah mulai bisa dikontrol! Artinya secara jelas bisa dievaluasi berapa pengeluaran untuk ini dan itu. Dari evaluasi itu barulah ditingkatkan kualitas pengelolaan keuangan, misalnya dengan mengutamakan pengeluaran pada kebutuhan dasar. Pelan namun pasti selanjutnya kebiasaan jajan dikurangi, kemudian alokasi menabung ditingkatkan, dan seterusnya pengeluaran dikelola menjadi semakin baik.
Intinya : stabilkan dulu, baru tingkatkan. Hal ini berlaku pada semua bidang kehidupan.







Setuju sekali dengan “Dalam jangka pendek hasilnya mulai terlihat, namun tak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian menjadi loyo dan kembali kepada keadaan semula”, karena suatu saat kualitas kita saat ini akan terlihat “loyo” pada yg akan datang, kecuali terus meningkatkan kualitas. Tetapi kadangkala akan ada titik jenuh untuk meningkatkan kualitas untuk hal yg sama.
Idealnya memang membuat stabil dulu, tapi akan menjadi pertanyaan kalau keadaan tidak pernah stabil, kita tidak pernah bisa meningkatkan kualitas. Ini sering terjadi dalam membangun suatu usaha yg membuat orang terpaksa ‘gulung tikar’, karena tidak direncanakan untuk keadaan yg tidak pernah stabil.
Untuk itu kita perlu melirik peningkatan kualitas dalam bidang lain yg secara tidak langsung mendukung hal yg kita lakukan sebelumnya sebelum stabil yg istilah lain adalah investasi. Sehingga peningkatan kualitas tidak akan pernah berakhir. tx
Comment by pat! — May 26, 2008 @ 1:16 am
Anda dapat mengubah hidup Anda dengan mengubah yang Anda kerjakan. Anda dapat meningkatkan kualitas hidup Anda, dengan meningkatkan kualitas dari cara-cara Anda. Dan perbaikan pada cara-cara Anda, bisa dicapai dengan mengambil pelajaran dari yang sedang terjadi dalam waktu Anda sekarang. Dan dengannya, Anda akan segera meninggalkan hal-hal yang tidak berguna bagi upaya Anda untuk mencapai kualitas hidup impian Anda.
Comment by wadiyo — May 26, 2008 @ 3:10 am
dear mas khoirul yang terhormat,
untuk menambah atraktif tampilan websitesnya bisa ditambahi atau disisipkan google AdSense. itung itung bisa menambah penghasilan lo pak..
tinggal disipkan add Google adSense.
Ditunggu ya.
umar sahid
Comment by umar sahid — May 31, 2008 @ 12:06 am
Google AdSense ditujukan bagi para pemilik situs web yang ingin mendapatkan penghasilan lebih dari periklanan pada situs mereka sambil tetap mempertahankan kualitas editorial……..
Comment by umar sahid — May 31, 2008 @ 12:12 am
setuju pak khaerul…semoga ini inspirasi yang saya butuhkan stabilkan dahulu sesuatu yang ada baru kita melangkah ketangga berikutnya.
Comment by Puada — May 31, 2008 @ 9:07 am
betul, ada yang bilang 40 hari. itung-2anya makanan yang masuk perut baru benar2 habis setelah sekian hari.
Jadi isi hatipun terpengaruh mungkin.
Comment by dhany — June 6, 2008 @ 3:01 pm
salam kenal mas, memang benar dan selalu saya rasakan kalau kita itu selalu berada di posisi yang tidak stabil, itu selalu karena mungkin kita juga jarang evaluasi diri kali ya.., jadi apa yang kita lakukan selalu sesuai dengan keinginan bukan sesuai dengan kebutuhan, coba kalau kita melakukan sesuatu pekerjaan contohnya belanja di suaikan dengan kebutuhan mungkin akan lebih teratur pengeluarannya..tapi kalau belanja sesuai dengan keinginan walah…apa aja pasti bisa di beli apa lagi liat barang baru.he..he
Comment by Tatsuo — July 3, 2008 @ 12:20 pm
Assalamualaikum,
Pak Khairul mohon izin nge-link tulisannya yang keren2 di blog saya ya..Trims
Wassalam
Luci
Comment by Luci — May 12, 2009 @ 1:12 am