Tiga kata sakti untuk meneguhkan aspirasi
Anda pernah dengar bahwa apa yang kita inginkan dapat kita tarik melalui pikiran? Yang pernah baca tentang kekuatan kehendak, hukum ketertarikan, mestakung (semesta mendukung), goal setting, juga kekuatan do’a yang tulus, pasti sudah tahu hal ini.
Masalahnya, mengapa yang sudah kita inginkan itu tak kunjung datang?
Kabarnya kita sering menggagalkan cita-cita kita sendiri melalui pengingkaran atas apa yang kita inginkan itu. ‘Inner voice’nya meragukan, bahkan mentertawakan cita-cita itu.
Misalnya ucapkan, “Saya kaya. Saya hidup berkelimpahan.” Mungkin ada suara kecil yang mengatakan, “Bohong. Kamu dusta. Kamu miskin.” Suara ini jelas menjegal kekayaan untuk datang kepada kita. Suara negatif itu muncul karena kita merasa tak selaras dengan apa yang kita ucapkan.
Mari gunakan 3 kata sakti untuk meneguhkan aspirasi. Kata itu adalah: ’saya sudah memutuskan’, ‘meskipun awalnya’, dan ’sedang dalam proses’.
Mari kita lihat contoh ekspresi keinginan berikut ini.
“Saya kaya. Saya berkelimpahan.”
Coba ucapkan kalimat tersebut. Apakah perasaan Anda nyaman? Mungkin tidak nyaman, karena Anda memang belum kaya.
Coba yang lain lagi.
“Saya ingin menjadi kaya, tetapi saya ini karyawan rendahan. Mana mungkin saya menjadi kaya?”
Coba ucapkan kalimat tersebut. Terasa bukan rasa pesimisnya? Tapi kali ini perasaan Anda membenarkan. Sayang sekali, walaupun serasa benar, kalimat macam inilah yang menarik segala kesusahan Anda.
Mari kita koreksi kalimat tersebut menjadi POSITIF dan BENAR.
“Saya SUDAH MEMUTUSKAN untuk menjadi kaya. Saat ini SAYA SEDANG DALAM PROSES menjadi kaya.”
Coba ucapkan kalimat itu. Kali ini perasaan Anda sangat nyaman, karena Anda bicara kebenaran. Bukankah Anda boleh memutuskan menjadi kaya? (ya!) Bukankah Anda boleh saja dalam proses menjadi kaya? (Ya, boleh sekali!)
Lalu mungkin masih ada suara negatif dari jiwa kerdil kita. “Tapi kan saya cuma karyawan rendahan?”
Patahkan dengan kalimat berikut.
“Saya SUDAH MEMUTUSKAN untuk menjadi kaya. Saya yakin bisa menjadi kaya, MESKIPUN AWALNYA saya karyawan rendahan. Saat ini ribuan orang seperti saya SUDAH MEMUTUSKAN hal yang sama. Saat ini puluhan ribu orang seperti saya juga SEDANG DALAM PROSES menjadi kaya. Saat ini, bahkan, jutaan orang seperti saya SUDAH menjadi kaya. KALAU MEREKA BISA, PASTI SAYA JUGA BISA!”
Tanyakan pada diri Anda, adakah di dunia ini seseorang yang sebelumnya adalah karyawan rendahan, namun kemudian berhasil menjadi milyuner? Anda tentu yakin, pasti ada! Berarti, apapun kondisi awal kita, pasti sudah ada orang dengan kondisi awal yang sama sudah berhasil menjadi milyuner. Pasti.
Saya sendiri seorang guru. Saya sangat yakin bisa menjadi milyuner. Contohnya bukan sekedar ada, bahkan jutaan guru di dunia ini telah mencapai kelimpahan milyuner, melalui berbagai cara.
Pikiran kita adalah pencipta kehidupan kita. Mulailah hari ini juga untuk memutuskan dan meneguhkan aspirasi yang akan Anda raih dalam hidup ini.
Beberapa buku yang sedang populer mengenai hal ini misalnya Mestakung (semesta mendukung) nya Yohannes Surya, The Secret, dan Law of Attraction.
Saya mengingatkan diri saya sendiri, bahwa bukan semesta yang mendukung, tapi Allah swt memberikan karunianya melalui keteraturan alam semesta. Salah satu keteraturan itu adalah bahwa gelombang pikiran kita akan menarik yang kita pikirkan itu ke arah kita. Dan keteraturan ini bersifat ilmiah serta pasti. Inilah hukum alam yang telah diciptakan Allah swt. Saya tekankan hal ini karena bahasan tentang Tuhan tidak dijelaskan dengan tegas dalam buku-buku hukum ketertarikan. Pembaca perlu jeli melihat bahwa Sang Maha Pencipta berada di balik semua keajaiban tersebut.







Wow.. artikel yang sangat bagus.. saya adalah pengunjung setia blog anda.. tapi artikel ini sangat simpel dan bagus. The LAW of ATTRACTION….
Comment by Juni — April 27, 2008 @ 5:12 am
Mantap…
Saya kaya
Saya sukses
Saya bahagia
Saya sedang menjalaninya…
Tuhan mengkaruniainya
Comment by angger — April 28, 2008 @ 12:33 am
Wow, DAHSYAT! Inspirasi memang selalu datang dari arah tak terduga. Makasih telah menyulut nyala SEMANGAT dan bara MOTIVASIKU. Tetap SEMANGAT!
Comment by khrisna pabichara — April 28, 2008 @ 2:40 pm
Betul, Allah sesuai dengan prasangka hambanya, jika saya ingin hasil yang baik maka saya harus berpikir positif dan juga ikhtiar.
Comment by Dahlia Mulyani — May 1, 2008 @ 2:24 pm
Apa yang diceritakan disini adalah sangat menarik dan benar & bisa dibuktikan. Saya menemukan website ini sungguh terpesona. Belajarlah banyak dari informasi yang ada didapat disini. Dijamin anda akan berhasil. Sebelum menemukan web ini, saya sudah byk belajar dari hal2 serupa seperti yg diinformasikan disini. Alhamdulliah dulu hidup saya susah, kini dlm tempo 1 th saya sudah punya kantor sendiri, menggaji karyawan, mobil pribadi. Yang terpenting, “Yakinkanlah dirimu dan bersiaplah untuk kaya” Dan banyak2 lah bersyukur.
Comment by harto — May 2, 2008 @ 10:28 am
lumayan… yang mo download ebook nya ada di tempat saya
Comment by irwandiaz husen — May 4, 2008 @ 2:05 pm
http://running2riches.blogspot.com bagus loh….
Comment by irwandiaz husen — May 4, 2008 @ 2:12 pm
“Falyaqul khairan au liyashmut - Katakanlah yang positif saja, atau lebih baik diam,” Sabda Rasulullah SAW.
Kata-kata adalah mantra. Kita pun berjalan di atas kalimat-kalimat yang kita percaya. Keep positive!~
Artikel yang sangat bagus mas Khairul. Salam sukses dan bahagia ya
Comment by nilna iqbal — May 4, 2008 @ 5:47 pm
Setuju Mas Mantep Banget
Comment by Jauhari — May 6, 2008 @ 9:58 am
Salam, terima kasih, menjadi inspirasi saya, mohon ijin utk saya masukkan ke blog saya
Comment by deeste — May 7, 2008 @ 3:10 am
trims for ur inspiration, blh dicopy paste g? n blh dikutip g?
Comment by M3L@ — May 7, 2008 @ 4:15 am
Terimakasih teman-teman semua. Tulisan di sini bersifat “copyleft”, boleh dicopy sesukanya.
Comment by khairulu — May 7, 2008 @ 2:03 pm
Luar biasa. bisa disebut juga ‘reframing’, mengubah kalimat yang berkonotasi pesimis menjadi optimis.
Saya sudah mengalami sendiri kekuatan pikiran ini. Selain men-set pikiran, juga selalu berusaha, setiap hari, setidaknya memikirkan itu. Pasti ada jalan, ingat, keberuntungan bisa diubah.
Terima kasih mengingatkan kembali.
Comment by Alfa — May 9, 2008 @ 11:16 am
saya merasa tidak bisa lepas dari blog anda..
hehe
terima kasih telah menginggatkan.
Comment by vyrent — May 13, 2008 @ 6:47 am
Artikel pencerahan buat siapa saja yang ingin berubah menjadi lebih baik, fastabiqul khairaat….Sungguh kekuatan kita berada pada pikiran kita
Comment by antonio abuya — May 15, 2008 @ 9:09 am
luar biasa, artikel ini kembali mengingatkan saya
tentang kekuatan pikiran yang menjadi kekuatan terbesar manusia. Sangat inspiratif, terima kasih untuk tulisan ini
Comment by rive — June 3, 2008 @ 9:09 am
Bagus sekali, aku ikuti. Dan sukses!
Comment by susanto — June 27, 2008 @ 1:20 am
bersyukur bs menemukan blog ini…
mas khairul ikut copy paste di blog saya,saya jg guru, biar siswa2 saya ikutan baca artikel mas khairul yang ok punya…
supaya bangsa ini bs maju bersama, tdk hanya informasi yang negatif saja yg diterima masyarakat.
terimakasih, salam kenal….
Comment by masfajar — July 7, 2008 @ 8:22 am
kami setuju quis sepia ini di kembangkan lebih baik lagi
Comment by ismail — July 24, 2008 @ 2:02 pm
is The Best dh……………….
Comment by Dima — August 25, 2008 @ 7:16 am
Fitri adalah salah satu teman seangkatan Abe di sekolah sejak TK A dulu sampai sekarang kelas 2 SD. Sedangkan Fikri adalah satu-satunya kakak Fitri dan sekarang duduk di kelas 6 SD. Dan tulisanku ini, adalah cerita tentang sepasang kakak beradik yang –insyaAllah- akan menjadi anak-anak yang dekat dan sangat disayangi Rasulullah.
Ketika dulu sekolah baru saja mulai untuk Abe di TK A (pertengahan 2005), waktu-waktu itulah kami (para walimurid angkatan itu) mulai mengenal Mbak Laila, ibunya Fitri. Seorang wanita cantik yang menyenangkan. Dan baru beberapa bulan juga ketika kita semua dikejutkan dengan berita tentang meninggalnya sang suami. Tak hanya terkejut, kami semua juga tak kuasa menahan airmata setiap kali melihat sosok Fitri yang waktu itu masih berumur 4 tahun.
Dan yang kami lihat dari Mbak Laila waktu itu hanyalah ketegaran, ketabahan dan keikhlasan seorang istri yang ditinggal suami dengan 2 anak yang masih kecil.
Beberapa saat kemudian, setelah lama nggak muncul di sekolah, Mbak Laila muncul dengan beberapa tester kue kering. “Aku bikin-bikin kue mbak, siilakan cicipi, dan kalo berminat telpon saja aku ya” katanya. Dia sempat bercerita kepada seorang teman, betapa dia sangat memerlukan kesibukan itu. Harta peninggalan almarhum suaminya yang lebih dari cukup untuk biaya hidup dan sekolah anak-anak, tidak membuatnya lantas berleha-leha. Konon dia memang termasuk wanita yang tidak betah duduk diam.
Diam-diam, kami para walimurid sering rasan-rasan betapa Mbak Laila memang wanita yang tegar. Dan ketegarannya itu, kembali dia buktikan kepada kami semua.
Sekitar 2 tahun lalu, kami mendengar bahwa dia menikah lagi. Tentu semua turut berucap syukur untuknya. Apalagi menurut cerita-cerita, suami yang sekarang sangat baik dan sangat menyayangi anak-anak. Beberapa kali kami juga melihat si bapak ini menjemput Fitri dan Fikri di sekolah. Life seems back to ‘normal’ for Mbak Laila, Fikri dan Fitri.
Tetapi, rupanya memang hidup ‘normal’ hanyalah untuk orang-orang yang ‘normal’. Hidup normal bukanlah untuk manusia-manusia pilihan Allah yang luar biasa. Manusia-manusia seperti Mbak Laila, juga Fitri dan Fikri.
Luar biasanya, Mbak Laila ternyata sempat juga ‘mencurangi’ kami semua. Ketika suatu hari seorang teman datang membawa berita bahwa Mbak Laila sakit dan harus menjalani kemoterapi, kami cuma bisa istighfar dan melongo. Istighfar karena ternyata sudah beberapa bulan dia dinyatakan terkena kanker getah bening, dan tak ada satupun dari kami mengetahuinya. Melongo karena bahkan hanya beberapa hari sebelumnya, seorang teman masih melihat Mbak Laila menjemput anak-anak sekolah, dan sama sekali tidak kelihatan seperti orang yang sakit parah. Dia masih ceria dan menyenangkan seperti biasanya.
Astaghfirullah…
Akhirnya, bergantian kami menjenguknya. Siapa yang sempat, datang membezuk bergantian dalam selang waktu tertentu. Aku pribadi, setelah sekali membezuknya, selama setahun terakhir ini tidak pernah lagi membezuk. Alasan klasik yang membuatku malu sendiri, yaitu kesibukan. Beberapa kali dengan beberapa teman aku juga sempat janjian untuk menjenguknya, tapi nggak tahu kenapa, belum terlaksana juga.
Sampai Kamis malam kemarin, datanglah sms pilu itu..
“Innalilahi wa inna ilaihi rojiuun. Setelah 1,5 tahun berjuang melawan kanker, Mbak Laila akhirnya menghadap Allah, Rabu malam dan langsung dimakamkan jam 23.00 WIB”
Mbak Laila, bahkan kaupun tak mengijinkan kami untuk meratapimu di hari pemakamanmu… Hari Kamis malam kami semua baru mendengar kabar duka itu, padahal Rabu malam jenazah Mbak Laila sudah dimakamkan.
Ya Allah…kami sadar hanya atas ijin dan kuasaMu sajalah yang bisa membuat ini semua terjadi. Tapi tak urung, sangat pilu hati kami membaca sms itu. Sebagai seorang ibu, yang langsung terlintas di pikiranku tentulah Fitri dan Fikri. Ampunilah kami karena kali ini kami hanya bisa menyaksikan skenarioMu dengan hati yang hancur dan pilu.
Jumat pagi 24 Oktober 2008 kemarin, akhirnya ramai-ramai kami bertakziah kerumah duka. Dan kepiluan kami pun bertambah dengan cara yang tak bisa kami bendung lagi. Apalagi ketika dari lantai 2 muncul seorang anak 7 tahun yang cantik dan masih tersenyum ceria, yang kemudian bersalaman dengan kami semua satu per satu… Diantara tangis air mata pilu kami dan neneknya, kami hanya bisa menyebut nama Allah tanpa henti. Bertambah menusuk pagi itu ketika kemudian satu persatu cerita meluncur dari ibunda Mbak Laila dan suaminya…
“Laila tidak pernah mengeluh, sudah lama dia merasa siap apapun yang terjadi dengan dirinya. Dia sudah pasrah sama Allah. Dia hanya akan sedih ketika mengingat anak-anak… Kami selalu bilang, jangan lah kamu sedih dan khawatir, banyak yang akan menjaga anak-anak. Dan terutama, Allah akan menjaga mereka. “
Sebelum meninggal, mbak Laila sempat koma selama 3 hari. Dan setiap kali Fitri dan Fikri datang, setiap kali itu juga bulir airmata selalu menetes dari matanya yang tertutup. Si nenek juga cerita bahwa yang paling mengagumkan adalah Fikri. Bocah laki-laki 11 tahun itulah yang selalu mengelus tangan ibunya selama koma, membisikkan kata sayang dan ikhlas kalaupun Allah akan memanggil sang bunda. Kata nenek, nafas terakhir Mbak Laila terhembus beriringan dengan setetes airmata dari mata yang tertutup koma, tepat ketika Fikri menyelesaikan bacaan Yasinnya untuk sang bunda…
Nenek bilang, pantaslah alm ayah Fikri wanti-wanti berwasiat bahwa anak-anak harus terus bersekolah di AL Hikmah (sekolah Islam). Almarhum tak lagi menginginkan apa-apa selain Fiktri dan Fikri menjadi anak-anak sholih/sholihah yang akan terus mendoakan orangtuanya. Untuk itulah dia percaya bahwa salah satu caranya adalah terus menyekolahkan anak-anak di sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Dan apa yang dilakukan Fikri di saat-saat terakhir Mbak Laila, rasanya sungguh menjadi jawaban atas doa dan keinginan almarhum ayahbundanya…
Dalam tangis pilu, kami hanya bisa turut berdoa,
Untuk almarhum Mbak Laila, teman yang telah menunjukkan pada kami pelajaran terdalam..
Tentang ketegaran dalam menjalani hidup, bagaimanapun skenarionya..
Juga keikhlasan dalam menerima skenario hidup kita masing-masing…
Semoga semua amal ikhlas dan ibadahmu diterima oleh Allah
Dan diampukan semua kesalah dan dosa…
Juga untuk Fikri dan Fitri,
Kami percaya pemilik semua skenario hanyalah Allah semata…
Kami juga percaya bahwa Allah juga yang Maha Penjaga…
Semoga kalian berdua menjadi anak sholih/ah yang selalu berdoa untuk ayahbunda…
Banyaklah berdoalah Nak, karena sungguh kami percaya, doa-doa anak sholih dan anak-anak yatim, akan selalu dijawab oleh Allah SWT…
Aminn
T_T
wali murid fikri SDI kelas 1e ALHIKMAH SURABAYA
www.alhikmahsby.com
http://klikpliz.com/mp
Comment by nurdin — November 21, 2008 @ 2:59 am
salah satu upaya yang kita lakukan dengan semngat optimisme dan keyakinan bahwa pertolongan-Nya sangat dekat, apabila kita mau berusaha/Ikhtiar sunguh-sunguh, kesuksesan akan datang dengan sendirinya.
Comment by joe — February 16, 2009 @ 6:20 am
Sukses untuk Kita Semua, amin .
Comment by rachmat tegal — April 17, 2009 @ 8:59 am
nice article..
mohon ijin buat di muat di blog saya ya mas..:)
maksih..
Comment by CeCe — May 5, 2009 @ 4:15 am