Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Bagaimana caranya investasi bila tak punya uang?Ilmu sederhana untuk menyelamatkan nyawa »

March 30, 2008

Memilih tanah karir

filmFilm The Pursuit of Happyness diangkat dari kisah nyata Chris Gardner. Sebagai anak dari keluarga miskin yang tak sempat mengenal ayahnya, hidup Gardner tidaklah mudah. Yang menjadi ciri kesamaan Gardner dengan kebanyakan orang sukses adalah kegigihannya.

Salah satu episode menarik dari kehidupan Gardner adalah awal tahun 80-an saat ia mengalami masa paling sulit dalam hidupnya, yaitu ketika bangkrut dan diusir dari apartemen. Istrinya, pergi meninggalkannya untuk bekerja di tempat yang jauh. Gardner ngotot meminta anak lelakinya untuk ikut dengannya. Dia punya trauma masa kecil, yaitu tidak mengenal siapa ayahnya, trauma yang tak ingin dialami oleh anak lelakinya. Gardner yang bangkrut terpaksa hidup di penampungan bersama anaknya. Dia merasakan betapa pedihnya kehidupan para tunawisma. Kelak kemudian hari, setelah Gardner menjadi milyuner, salah satu kegiatan filantropis yang dilakukannya adalah memberikan tempat berlindung bagi para tunawisma.

Titik balik kehidupan dimulai ketika ia berjumpa seseorang yang naik mobil mewah Ferrari. Gardner yang saat itu bekerja keras dan gigih untuk memasarkan mesin scanner tulang yang sulit laku, ingin sekali tahu mengapa orang tersebut hidup nyaman. Orang tersebut menjawab bahwa dia bekerja sebagai pialang saham di perusahaan investasi. Gardner yang pedih dengan nasibnya, ingin mencoba peluang baru bekerja di dunia investasi, walaupun dia tidak punya pengalaman apapun di bidang keuangan.

Melalui usaha keras, Gardner diterima sebagai salah satu dari 20 kandidat yang diberi kesempatan magang di sebuah perusahaan investasi Dean Witter Reynolds. Hanya yang paling top yang akan diterima. Setelah enam bulan melalui masa pelatihan dan ujian yang cukup sulit, Gardner berhasil tampil gemilang dan diterima bekerja di perusahaan tersebut.

GardnerKisah Gardner yang lebih lengkap dapat Anda temukan dengan mudah. Satu kesimpulan yang menarik setelah melihat film itu adalah pentingnya memilih usaha yang memang punya prospek cukup baik untuk menghasilkan uang. Ini bukan masalah kerja keras, juga bukan masalah kerja cerdas. Semula Gardner bekerja keras sebagai sales alat scanner tulang yang mahal sekali dan belum populer. Penjualan alat tersebut lambat. Ketika dia kemudian beralih menjual produk investasi yang ditawarkan kepada orang-orang kaya, ternyata hasilnya jauh berbeda. Menjualnya sama-sama susah, namun hasilnya bagai bumi dengan langit. Gardner berhasil menggaet puluhan klien untuk berinvestasi dengan perusahaan tempatnya bekerja. Penghargaan bagi prestasi ini cukup tinggi.

Sekitar 6 tahun kemudian yaitu tahun 1987 ia mendirikan firma investasi sendiri, yang diberi nama Gardner Rich. Firma ini sukses besar. Pada tahun 2006 dia menjual sebagian kecil saham firmanya dengan nilai jutaan dolar.

Kisah di film mungkin sedikit berbeda dengan kisah nyata. Namun secara garis besar, kepedihan masa sulit Gardner memang merupakan pengalaman yang ia tulis dalam autobiografi yang terbit 2006.

Kisah Gardner membuat saya merenung, terutama mengingat kehidupan orang-orang yang saya kenal. Benarkah mereka belum kaya karena kurang kerja keras? Benarkah belum berhasil karena kurang pintar? Salah satu jawabannya adalah karena mereka bekerja di bidang yang memang sedikit uangnya. Bukan karena perusahaannya tidak menghargai hasil kerja, namun memang tidak punya cukup uang untuk menghargai hasil kerja keras itu. Gardner yang berpindah dari menjual mesin scanner tulang menjadi pialang investasi, ibarat berpindah dari tanah tandus ke tanah yang subur. Kerja kerasnya sama, hasilnya berbeda.

Hmmm… kira-kira tanah saya subur nggak ya?

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

13 Comments »

    Gravatar Image
  1. Kalau riba atau bunga bank sebaiknya dihindari umat Islam, Bagaimana dengan hukum investasi di Pasar modal ? Adakah rekan2 yg bisa memberikan link2 informasi seputar saham ditinjau dari hukum Islam ? Saya dengar salah satu Bank Syariah pun juga memakai instrumen pasar modal untuk layanan reksadana mereka. Afwan.

    Comment by Rara — March 31, 2008 @ 4:12 am

  2. Gravatar Image
  3. Pilih-pilih dulu arah yang tepat sebelum kerja keras.
    Pastikan dulu tanahnya subur baru tanami dengan tanaman yang tepat.
    Semoga tanah Pak Khairul senantiasa subur!

    Comment by angger — March 31, 2008 @ 2:04 pm

  4. Gravatar Image
  5. Amiiin…
    Saya juga, Pak Angger juga. Amiiin…

    Kayanya Pak Khairul sudah tahu tanah mana yang masih subur :D

    O iya, knapa ditulis ‘happYness’, bukan ‘happiness’?

    Comment by Alfa — March 31, 2008 @ 4:48 pm

  6. Gravatar Image
  7. Wah, ini salah satu film faviritku. Film ini mengajarkan kearifan (dalam menghadapi masalah dan mengelolanya). Film ini pun mengajarkan berpikir positif (jadi kaya), dan pikiran positifnya yang menggerakkan Gardner untuk mencari ladang subur dan mengolahnya. Dan karenanya; lingkungan sekitarnya pun mendukungnya (termasuk dukungan dari yang naik ferrari, lupa namanya). Dan karena ia arif dalam mengelola ladangnya, maka jadilah ia memperluas lahan garapannya.

    Kenapa pake Y?; 1. kemauan produsernya, 2. kemauan penulisnya, 3. kemauan filmnya (ending yang happY), dan (silahkan ditambahkan…).

    Comment by adikhresna — April 5, 2008 @ 3:53 pm

  8. Gravatar Image
  9. huruf “Y” dalam ‘happyness’ itu diambil dari tulisan di tempak penitipan anak yang dikelola seorang Cina. Gardner sudah berkali-kali usul agar tulisan itu dikoreksi, tapi si pemilik (Cina imigran?) cuek saja. Jadilah Gardner jengkel, tapi jadi ingat terus. Katanya begitu… :)

    Comment by khairulu — April 6, 2008 @ 12:37 am

  10. Gravatar Image
  11. Terus terang saya juga baru nonton film ini 2 minggu lalu. Film ini (kisah Chris Gardner) benar2 menginspirasi saya untuk ga mudah menyerah, menjadi sosok yang memiliki determinasi tinggi, ulet, gigih dan jujur. Mengajarkan juga pada orang tua, betapa anak adalah segalanya. Bahwa dalam sesulit apapun, anak bukanlah HAMBATAN, melainkan salah satu ALASAN dan MOTIVASI untuk kita org tua agar nggak mudah menyerah.

    Comment by si r4mz — April 9, 2008 @ 7:48 am

  12. Gravatar Image
  13. Jadi sekeras apapun kita bekerja,apabila memang hanya menghasilkan duit sedikit kta takan pnah kaya?
    klo bgitu sulit banget supaya kta menjadi kaya,,,

    Comment by yunita — April 9, 2008 @ 9:31 am

  14. Gravatar Image
  15. Pak Khairul Ummah, kalo menurut saya itu lebih ke faktor ‘X’ yang berpengaruh (tentunya setelah gigih berusaha). Berapa banyak orang yang pada awalnya kayak Gardner yang pada akhirnya kondisinya tetap tidak berubah. Kalo saya melihat fenomena orang yg bener2 sukses itu kebanyakan karena awalnya punya niat mulia dan merupakan orang yang sangat menghargai hidup&gak egois, jadi dia mendapat energi dari orang2 di sekitarnya utk tetap berjuang. Banyak orang berpikir bahwa mikirin diri sendiri aja susah apalagi mikirin orang lain, nah disinilah bedanya…. semakin banyak yg dipikirin semakin terpacu untuk tidak menyerah karena merasa tanggungjawabnya besar…. he he cuma hipotesa sy aja

    Comment by Rahmi — April 17, 2008 @ 1:00 pm

  16. Gravatar Image
  17. dahsyat..bisa bli filmnya dimana kang,khoirul??

    Comment by jimmy — April 22, 2008 @ 3:17 pm

  18. Gravatar Image
  19. ceritanya bagus banget, bermanfaat.

    Comment by nawi — April 29, 2008 @ 8:13 am

  20. Gravatar Image
  21. saya setuju kalo kita kerja di tanah kering seberapa keras nya kita kerja ya dapatnya segitu gitu aja. tempat ya subur pasti menghasilkan yg subur juga. film nya bagus dan menyentuh sampai menitikkan air mata . perjuangan dlm rangka meningkatkan taraf hidup.

    Comment by Wardoyo — July 29, 2008 @ 7:05 am

  22. Gravatar Image
  23. Saya menarik kesimpulan bahwa: Untuk menjadi sukses itu tidak gampang, harus melalui proses dan perjuangan yang keras.. Yang penting “Kita jangan Pernah Putus Asa” dengan niat, berdo’a dan percaya… Insya Allah, kita sama-sama sukses dmasa mendatang..Amien..

    Comment by noviria saputra — August 9, 2008 @ 3:42 pm

  24. Gravatar Image
  25. keseimbangan barometer baik kelebihan atau kekurangan individual dan sistem yg akan dibentuk dengan kebijakan yg tepat “kondisianal” akan mengisi kepekaan untuk menciptakan mempertahankan dan mengembangkan sistem yg sesahat-sehatnya. perjuangan slalu hadirkan harapan untuk lebih baik. tiada hari untuk slalu mencoba dan mencoba . “merah putih indonesia :)

    Comment by zholdee — April 15, 2009 @ 4:25 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/09/09/salah-mengartikan-zuhud-adalah-miskin/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here