Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Keuangan Kodok mati direbusKanban diri : Push vs pull system »

January 13, 2008

Enabler

Sepertinya kalau Larry Page dan Sergey Brin kuliah di ITB tidak akan muncul search engine bernama Google. Ide jenius mereka akan sia-sia ketika lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Untunglah mereka sekolah di Stanford, salah satu universitas yang terbaik jaringan internetnya. Mereka tinggal di Silicon Valley dimana para orang kreatif, pengusaha, dan pemodal berkumpul. Dengan demikian ide jenius mereka berhasil tumbuh menjadi bisnis raksasa, ibarat menanam biji bermutu tinggi di tanah subur yang kaya nutrisi. Kalau ide Google muncul di ITB, mungkin ibarat biji beringin ditanam dalam pot, bisa tumbuh tapi kerdil.

Kita harus menyadari bahwa fasilitas memang dibutuhkan untuk berkreasi. Modal wajib ada kalau Anda berbisnis. Walaupun modal tidak harus berbentuk uang tunai dari kantong sendiri, tapi jelas modal memang diperlukan. Saat ini sulit menjadi produktif menulis kalau tidak ada laptop, atau mesin tik. Memang Anda bisa menuliskan di selembar kertas, namun akhirnya Anda harus membayar kembali biaya pengetikan ulang untuk tulisan yang sama. Kita memerlukan ‘enabler’, yaitu dukungan untuk membuat sesuatu agar terjadi. Enabler tidak hanya sekedar fasilitas. Misalnya untuk menulis blog Anda tidak hanya memerlukan laptop (fasilitas), tapi juga keleluasaan waktu, ide, kemampuan mengetik, dan suasana hati (mood).

Ini pengalaman sederhana yang berkaitan dengan menulis di internet (blogging). Kira-kira dua tahun lalu, ketika ada koneksi internet unlimited 200 ribu dengan Indosat Matrix, saya sangat rajin menulis blog. Ketika biaya internet diubah menjadi mahal (5 rupiah/kb, tidak lagi unlimited) maka saya berhenti menggunakannya. Otomatis posting blog menurun drastis (di rumah hanya ada telpon flexi yang sama saja mahalnya). Ketika kemudian saya berganti laptop, kondisinya semakin memburuk (hehe). Laptop ThinkPad yang lama mempunyai batere hingga 3 jam, sedangkan Fujitsu Tablet yang baru baterenya hanya setengah jam (punya baru tapi bukan barang baru, hehe), sehingga tiap kali mau menulis harus melalui kerepotan pasang kabel dan mencari colokan listrik. Karena belum sempat ganti batere (dan tertunda terus) maka menulis semakin jarang seiring semakin malasnya membuka laptop. Sampai saat ini saya masih mencari kombinasi paling optimal dari enabler untuk menulis blog. Dan… belum ketemu yang pas. Eksperimen terakhir adalah mobile blogging yang ternyata masih sangat terbatas.

Menyiapkan enabler

Kalau susah blogging lalu tidak menulis, maka resikonya saya kira masih kecil buat kita (kecuali blog Anda adalah sumber pemasukan utama pekerjaan Anda). Tapi kalau jadwal Anda kacau, keuangan Anda kacau, cinta Anda kacau, atau ibadah Anda kacau karena salah urus maka akibatnya pasti cukup besar. Saya mengamati bahwa kondisi lingkungan di sekitar kita punya pengaruh sebagai enabler yang cukup besar. Misalnya, karena kebanyakan rumah kita masih kecil, maka biasanya tidak ada musholla (bagi yang muslim) sehingga kegiatan sholat dilakukan di tepi-tepi kamar tidur, atau di ruang keluarga. Akibatnya jarang kegiatan sholat dan mengaji menjadi kegiatan sentral karena selesai sholat biasanya segera dibereskan. Memang bukan tempat khusus sholat.

Di pekerjaan akan sama saja. Kita sering mengalami kekacauan jadwal karena kita tidak mencatat maupun merencanakan kegiatan secara cermat. Akibatnya kita bekerja berdasarkan tekanan urgensitas deadline. Kita terjebak deadline karena kita lupa dengan jadwal kita (saking ruwetnya pikiran ini), dan celakanya sering lalai sehingga lebih memilih nonton sinetron dan Tukul di TV daripada menyelesaikan tanggungjawab yang masih segunung banyaknya. Kita banyak melakukan ‘pelarian’ daripada menghadapi kenyataan tumpukan tanggung jawab. Hal yang sama terjadi juga terhadap keuangan maupun cinta. Karena kita tidak mampu memantau, maka kita tidak mampu mengontrol.

Kita memang memerlukan enabler. Pertanyaannya, bagaimana kita memilih enabler paling penting bagi aktifitas kita? Mari kita mulai dari memilih beberapa bidang yang paling penting bagi kehidupan kita (kita bukan hanya makhluk ekonomi yang hidupnya habis buat cari makan).

Kita mulai dari ibadah kita. Bagi muslim, setelah perangkat sholat tersedia (yang biasanya sering menjadi mahar pernikahan) maka target yang harus bisa direalisasikan adalah menyediakan musholla kecil di rumah. Oke, kita sama-sama tahu bahwa rumah kita sempit. Nanti, kalau ada sedikit uang buat membangun, maka rencanakan musholla sebagai bagian penting pengembangan rumah. Kemudian beli Qur’an yang relatif kecil dan ada terjemahnya, misalnya terbitan Syamiil. Banyak yang sibuk baca Qur’an tapi tidak mengerti artinya, karena memang tidak ada terjemahnya. Qur’an kecil dengan terjemahan adalah enabler kecil yang berdampak besar. Apapun keyakinan agama Anda, pojok khusus ibadah akan sangat membantu.

Kehidupan keluarga. Kalau anak Anda masih kecil, maka buku-buku bergambar dan mainan adalah enabler yang jauh lebih penting daripada TV. Televisi walaupun menarik bukanlah media yang tepat untuk menjalin interaksi. TV adalah media kegiatan individual. Setiap yang nonton hanya berinteraksi dengan dirinya sendiri. Kecuali Anda sama sukanya nonton Dora the explorer bersama anak Anda, atau anak Anda senang nonton Tukul Arwana dan ketawa bareng bersama Anda. Kebanyakan isi televisi tidak bisa digunakan untuk interaksi keluarga. Sebalinya dengan buku bergambar. Untuk anak kecil, membahas gambar di buku adalah hal yang menarik (kegiatan membahas gambar itu yang penting, buku hanya sebagai enabler). Saya sendiri menggunakan medium komputer seperti Encarta maupun game Matching Hearts untuk berinteraksi dengan anak. Kuncinya, pilihlah medium yang memungkinkan interaksi. Bagaimana kalau anaknya sudah besar? Nah itu dia, saya juga belum tahu karena anak saya masih kecil. :) Tapi perlengkapan seperti sepeda, tenda, Play Station (untuk Anda main game bareng) atau lainnya, mungkin bisa membantu. Kalau dengan ibunya anak-anak, saya menggunakan buku bacaan sebagai medium interaksi. Misalnya terakhir kali saya belikan novel Laskar Pelangi nya Andrea Hirata buat bacaan. Asyik juga buat bahan obrolan.

Kehidupan pekerjaan. Bergantung kepada jenis pekerjaan Anda enabler nya bisa beragam. Saya sih melihat, satu enabler kecil yang sangat powerful adalah alat untuk mencatat jadwal! Ketika masih kuliah dulu saya menyadari bahwa tugas-tugas saya sangat sering terbengkalai dan menumpuk. Saya gunakan kiat rencana mingguan dari buku Seven Habits nya Covey. Saya fotokopi lembar rencana mingguannya, lalu masukkan dompet. Efektif. Sekarang saya menggunakan ponsel untuk mencatat agenda, dan sangat efektif. Lebih jauh lagi kita bisa merencanakan kegiatan kita secara mingguan, mengingatkan kita pada tugas yang perlu segera diselesaikan, dan membuat kita fokus pada apa yang bisa kita kerjakan setahap demi setahap.

Keuangan. Untuk keuangan juga sama, saya menggunakan ponsel untuk melacak kemana perginya itu uang. Untuk mampu me-manage Anda harus lebih dulu mampu memonitor. Mengelola keuangan hampir mirip dengan mengelola tugas-tugas. Mula-mula harus tahu mana yang penting, mana yang bukan (sama dengan memilah-milah tugas). Lalu membuat perencanaan. Lalu mempunyai alat untuk mengukur dan memonitor pelaksanaan. Akhirnya evaluasi untuk penyempurnaan siklus berikutnya. Dalam hal ini, perlengkapan untuk memonitor adalah enabler yang penting.

Di setiap aktifitas kita pasti ada enabler kecil namun penting yang akan memberikan efek besar bagi efektifitas kegiatan kita.

Ngomong-ngomong, sebagai upaya untuk kembali rajin menulis, dalam waktu dekat ini saya merencanakan hal yang sederhana : ganti batere laptop! Kalau Anda sendiri, apakah juga punya pengalaman kesulitan mengerjakan sesuatu karena kurangnya ‘enabler’? Lalu punya rencana apa untuk mengatasinya?

Oh ya, apa terjemah yang tepat untuk ‘enabler’ dalam bahasa Indonesia?

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

5 Comments »

    Gravatar Image
  1. menarik sekali tulisannya, memang kadang-kadang pikiran ruwet karena banyak yg harus dikerjakan sialnya lagi semuanya dirasa urgent. salam kenal pak saya fans berat tulisan anda

    Comment by Filla — January 14, 2008 @ 5:41 am

  2. Gravatar Image
  3. menarik sekali tulisannya, memang kadang-kadang pikiran ruwet karena banyak yg harus dikerjakan sialnya lagi semuanya dirasa urgent. salam kenal pak saya fans berat tulisan anda

    Comment by Filla — January 14, 2008 @ 5:43 am

  4. Gravatar Image
  5. Wah, untuk mengerjakan sesuatu rupanya kita butuh ‘pemaksa’

    Jadi terjemahan enabler itu… em… mungkin ‘pembisa’
    dilempar sandal

    Comment by Mardies — January 15, 2008 @ 9:39 pm

  6. Gravatar Image
  7. mas khairul aku dan istri WNI keturunan dan alhamdulilah sudah memeluk islam tapi aku punya kendala untuk memahami Quran secara praktis, boleh minta info tentang Quran kecil terbitan syamiil, no telp penerbit atau alamat syukur jika bisa order lewat internet maklum kami tinggal di Cikampek agak jarang keluar kota, thanks

    Comment by ajie bao — January 29, 2008 @ 2:48 am

  8. Gravatar Image
  9. Mas Ajie Bao, met ketemu lagi. kata istriku, Qur’an Syaamil bisa didapatkan di toko buku (termasuk Gramedia). Cara mudah lainnya, tanya teman/tetangga yg aktifis PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Setahu saya memang Syaamil itu ada kaitan dengan PKS. Katanya begitu…

    Comment by khairulu — January 29, 2008 @ 6:03 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2006/11/22/bagaimana-mengenali-bakat-diri/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here