Ilmu akumulatif
Merasa sudah banyak belajar tapi tidak makin pintar? Merasa sudah banyak baca buku, training, dengar berita, konsultasi, dsb, tapi tak juga ada kemajuan dalam hidup?
Berarti ilmu Anda tidak akumulatif. Terlalu banyak variasi sehingga tidak pernah mencapai penguasaan sempurna (mastery), juga tidak bisa mencapai pemahaman esensiil (wisdom). Jenis pembelajaran seperti ini tentu salah.
Kalau hobi kita menonton gosip selebriti, atau baca berita kriminal, padahal pekerjaannya akuntan, maka semua ilmu gosip tersebut sia-sia. Tidak akumulatif, bahkan tidak penting bagi Anda. Hanya kalau Anda mau menulis riset kehidupan selebritis, barulah mungkin berguna (walaupun menurut saya jangan sia-siakan hidup Anda untuk ngurus aib orang).
Sebuah buku berjudul Toyota Talent, tulisan Jeffrey Likers, menuturkan bagaimana rahasia Toyota membina karyawannya. Kunci kesempurnaan adalah merancang kegiatan harian sebagian besar (anggap 80%) adalah rutinitas. Hanya sedikit hal yang baru. Misalnya bertugas memasang ban, maka harus terus dilakukan hingga ahli (mastery). Setelah ahli maka dia ditugaskan ‘menyempurnakan’ cara memasang ban. Dengan cara seperti ini maka pengetahuannya menjadi akumulatif.
Pengetahuan akumulatif ibarat menanam pohon yang akan tumbuh besar. Nanti akan ada buahnya. Sedangkan yang tidak akumulatif ibarat menanam rumput yang tak akan berbuah.
Sudahkah setiap hari secara sadar Anda mencari pengetahuan yang akumulatif?







Ya, saya juga menyadari hal yang sedang terjadi kepada saya salah satunya adalah itu. Hanya saja, saya punya masalah lain, saya nggak tahan dengan rutinitas. Ada solusi lain?
Comment by Donny Reza — December 21, 2007 @ 6:31 pm
betul,
gara2 punya sifat pembosan, akhirnya jadi nggak fokus, bosen belajar autocad, terus belajar ngarang cerpen, terus belajar yg lain
Comment by ayahara — December 22, 2007 @ 4:12 am
belajar terus menerus di satu bidang memang butuh ketekunan…. dan menghadapi kebosanan adalah salah satu tantangannya
mungkin tuk jd master, yg paling diperlukan bukan ilmu itu sendiri, tetapi kesabaran
ahh…. tidak mudah memang jd manusia penyabar
*hiks, nyambung gak sih ?
Comment by adit — December 26, 2007 @ 11:57 am
yup…..aq jg ngerasain…trnyata manusia kadang merasa apa2 yg diusahain seolah tak da harganya…antara usaha dan hasil yg diperoleh gak sinkron….mkanya perlu qt coba renungi siapa diri kita…mo jd ap qt…ap cita2 qt wktu kcl….yeahhh moga brhsl
Comment by hanzha — January 21, 2008 @ 4:59 am
Menjadi master itu relatif; tergantung subyek apa yang dipelajari; coba bandingkan belajar programming java dengan belajar memikat hati cewek dimana saja…:)
Atau belajar photoshop dibanding dapetin tilpon cewe di friendster, mana lebih gampang?
Comment by Reqiya — January 21, 2008 @ 3:31 pm
memang betul, namun hidup ini kan banyak warna, kalau kita tidak banyak-banyak mencari informasi lain selain dari tujuan kita maka bukan tidak mungkin kita jadi orng yang monoton. saya pikir dengan melihat banyak ragam kehidupan manusia juga merupakan wawasan tersendiri karena bukan tidak mungkin kita juga di hadapkan pada persoalan yang sama seperti yang orang lain lakukan. belara dari kesalahan itu baik tapi bukan berati kita harus menjalani kesalahan terlebih dulu….kalau org lain sudah mewakili kenapa kita harus menghadapinya. belajar fokus memang baik namun Tuhan mencipatakan semua yang ada di dunia ini sangan menarik dan merupakan media belajar yang menyenangkan. semua tiaka akan sia-sia selama kita bisa memanaj nya. tapi semua juga tergantung manusianya. nanun satuhal yang sangat didi sayang kan kalau kita hidup itu hanya menjalanai warna yang terbatas bias dan coraknyanya
Comment by daenk — February 2, 2008 @ 2:18 am
sudah dipraktikkan, tapi file nya ilang semua … hehehe … risiko pekerjaan … tapi, gpp, malah jadi database berjalan
kasian yang entry level, gak bisa cbsa … hehehe
Comment by alin — March 4, 2008 @ 9:33 am
Betul, Yang qita perlukan adalah sikap konsisten n gak gampang menyerah atas satu ilmu yang sedang qita pelajari. saya sendiri juga kerap masih merasa “ngambang” n “bingung” walaupun sudah sering membaca buku… mungkin itu karena qita kurang menggali diri, kurang bisa memfilter pengaruh2 luar yang sebenarnya tidak bermanfaat. yah… kedepannya, terus memperbaiki diri, diawalai dengan memperbaiki hati… terus belajar
Comment by ririn — May 7, 2008 @ 4:44 am
kalau menurut saya, istilah yang lebih tepat mungkin sinergi. karena akumulatif bermakna jumlah, sedangkan sinergi lebih bermakna keterkaitan. sinergi juga berarti kesatuan yang saling menguatkan, sehingga kadang-kadang dianalogikan untuk sinergi dengan 1+1 sama dengan lebih dari 2. wallahualam. anyway, artikel yang menarik. makasih.
salam.
Comment by dd.jusuf — August 24, 2008 @ 8:02 pm
kayaknya aku kesindir nih dengan adanya artikel ini
karena hobi saya nonton gosip
Comment by free logos vector — December 7, 2009 @ 7:29 am