Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Saya kerja lebih keras kok dibayar lebih sedikit? (Bagian 1)Strategi meningkatkan penghasilan »

November 6, 2007

Saya kerja lebih keras kok dibayar lebih sedikit? (Bagian 2)

“Tapi si Boss nggak pernah kerja kok dapetnya paling tinggi?”

Begitu tanya Adi ke Budi tentang kegiatan Mr. Cedi, boss mereka. Setelah paham arti kerja efektif, efisien, dan produktif, kini Adi berguru kepada Budi agar bisa menikmati hidup yang lebih hidup.

“Ya, beda lah. Boss kan kerjanya lobbying. Ketawa-ketiwi maen golf, tapi begitu deal, dapetnya gede. Kalau boss nggak dapet deal, kita juga nggak ada kerjaan,” jelas Budi.

“Kerjaan Boss itu punya nilai ekonomis tinggi. Mungkin 10 kali lipat nilai ekonomis kerjaan kita. Makanya walau kerja sedikit, bayarannya gede.”

Nilai produk

Setiap hasil produksi mempunyai suatu nilai. Nilai tersebut ada 2 macam : nilai ekonomis dan nilai spiritual. Nilai ekonomis (economic value) diukur dari seberapa tinggi orang lain mau membeli produk itu, atau dalam bahasa lain seberapa besar kontribusi profit ke perusahaan. Dengan ukuran nilai ekonomis inilah gaji kita ditentukan. Tentu saja penilaiannya sangat subyektif tergantung perusahaan.

Sedangkan nilai spiritual adalah nilai yang penting bagi spirit/batin kita. Banyak kegiatan yang bernilai spiritual, kita melakukannya tanpa tujuan dibayar uang. Cinta, senang, kasih, damai, dan perasaan sejenisnya merupakan nilai spiritual dari suatu kegiatan produksi. Tentu saja yang ini tidak ada kaitannya dengan besar gaji kita.

“Contoh nyatanya, kamu kan suka ngisi blog kan Di? Kamu senang melakukannya padahal tidak ada yang mau bayar tulisan kamu. Itu namanya produksi dengan nilai spiritual tinggi, namun nilai ekonomisnya nol. Malahan negatif karena kamu bayar buat beli domain. Hehe…,” kata Budi menjelaskan.

“Hehe, jangan gitu dong. Hidup kan musti ada enjoy nya…,” timpal Adi.

“Nah, masih ada satu lagi komponen yang mempengaruhi gaji kita. Tepatnya penghasilan kita. Yaitu yang disebut ‘ketahanan berproduksi’,” kata Budi.

Ketahanan produksi

Ketahanan berproduksi adalah kemampuan mengolah sumber daya input. Semakin tinggi ketahanan produksi berarti semakin mampu mengolah lebih banyak input. Input bisa berupa material, uang, kemampuan, dan terutama waktu, sebagai sumberdaya yang paling terbatas. Bila digabungkan dengan produktifitas maka menghasilkan kapasitas produksi.

Misalkan pekerja A dengan daya produksi (produktifitas) 2 kendi/ kg. Dalam sehari dia bisa mengolah 100 kg/hari (ketahanan produksi). Maka kapasitas produksi dia adalah 200 kendi/hari.

Pekerja B dengan daya produksi 2,4 kendi/kg ternyata hanya bisa mengolah 50 kg bahan/hari. Dia memang mudah capek. Maka kapasitas dia adalah 120 kendi/hari.

Jadi kapasitas produksi pekerja A lebih tinggi daripada pekerja B, walaupun daya produksi A lebih rendah dibanding B.

“Nah, kamu itu punya keunggulan ketahanan produksi dibanding aku, Di. Kamu bisa tahan kerja sampai 10-12 jam, sementara aku biasanya cuma tahan 5 jam kerja,” jelas Budi kepada Adi. “Kalau kamu bisa memanfaatkan keunggulanmu itu, penghasilanmu bisa jadi lebih besar daripadaku. Tentu saja kalau produk kita punya nilai ekonomis sama.” Adi dan Budi tertawa bersama.

Karena sangat produktif, Budi cukup menggunakan 2 jam kerja sehari. Sisa 3 jam lainnya digunakan untuk mengerjakan proyek lain. Jadi Budi bisa memegang 2 proyek sekaligus. Ketika sepi proyek, Budi menggunakan waktunya untuk membantu bisnis istri berjualan baju. Total produksi Budi dalam 5 jam cukup banyak. Adi punya produktifitas separuh dari Budi. Namun Adi bisa bekerja lebih panjang. Adi juga dapat memegang 2 proyek konsultasi sekaligus, walaupun terpaksa pulang lebih malam. Bagi Adi yang rajin, kerja dalam waktu panjang terasa biasa saja.

Jadi rumus lengkap penghasilan adalah :

Penghasilan = ketahanan_berproduksi x efisiensi x efektifitas x nilai ekonomis

Rumus ini penting untuk melihat peluang dimana kita bisa meningkatkan penghasilan.

Kenapa kerja keras sering tak berguna

Rajin bekerja dan kebiasaan kerja keras sebenarnya erat berkaitan dengan ketahanan produksi. Bila daya produksi dan nilai ekonomis produk nya rendah, maka rajin dan kerja keras tidak banyak akan sebanding dengan penghasilan.

Adi mengandalkan ketahanan produksi untuk meningkatkan total produksi. Budi mengandalkan daya produksi (produktifitas) untuk menghasilkan total produksi setara Adi. Keduanya berpenghasilan sama karena nilai ekonomis produk mereka sama. Sementara itu Mr. Cedi, boss mereka, menghasilkan total produksi yang lebih rendah, namun karena nilai ekonomis produk Mr.Cedi berkali lipat lebih tinggi, maka pendapatan Mr. Cedi tetap lebih besar, di atas Adi dan Budi.

Bagaimana dengan Anda? Komponen mana yang berperan terbesar bagi penghasilan Anda? Apakah bisa penghasilan Anda meningkat dengan mengubah salah satu komponen penghasilan tersebut?

Dalam konsep SEPIA, rumus gaji tersebut bisa didekati dengan cara berikut :

  1. Efektif – IQ, makin pintar makin bisa mencari solusi yang tepat sasaran
  2. Efisien – PQ, makin cerdik makin bisa mengelola sumberdaya
  3. Ketahanan Produksi – EQ, rajin dan ulet ada gunanya
  4. Nilai Ekonomis – AQ, kemampuan membayangkan apa yang menjadi keinginan orang lain akan membantu menciptakan output yang bernilai jual
  5. Nilai spiritual – SQ, nilai spiritual membuat Anda hidup lebih bahagia

sepia penghasilan

Yah, begitulah kira-kira… :)

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

8 Comments »

    Gravatar Image
  1. Terus semangat mas, tulisannya bagus 2 banget, jadi makin betah neh lama2 disini, aku copy paste ya boleh kan, untuk bahan bacaan di rumah

    Comment by *** — November 7, 2007 @ 12:04 am

  2. Gravatar Image
  3. hmm output a.k.a pendapatan yg dikeluarkan koq ndak menjadi bagian dari parameter ketahanan produksi

    maksud sy gini, jikalau gaji seseorang kecil, tetapi dia bisa menabung hal itu bisa menambah kapasitas produksinya kan, karena uang tsb bisa dijadikan modal ?

    berbanding terbalik jika seseorang gaji besar tetapi ouptnya besar, malah bisa menurunkan kapasitas produksi

    jd dgn kata lain, konsumsi juga sebetulnya bisa mempengaruhi kapasitas produksi

    eh gitu ndak sih pak ?

    Comment by adit — November 7, 2007 @ 5:57 am

  4. Gravatar Image
  5. seringkali kita memiliki kapasitas produksi besar, tapi tidak kita manfaatkan. Misalnya punya banyak waktu luang dan punya modal tabungan (dan Anda masih punya energi untuk bekerja) tapi karena tidak punya visi jadinya cuma duduk-duduk bengong…

    Itu ibaratnya punya truk kapasitas 20 ton tapi cuma dipakai membawa sayur 1 kuintal… :D

    Comment by khairulu — November 8, 2007 @ 12:33 am

  6. Gravatar Image
  7. Wah, BAGUS BANGET tulisan ini (semuanya, bag 1 dan 2). Komenny saya gabung disini aja ya.

    Baru baca dan kebayang siapa-siapanya. hehehe.. teringat masa-masa indah ketika berusaha mencapai produktifitas SANGAT tinggi (aka. lembur) karena lama memikirkan solusi yang sesuai dengan target (aka. malas).

    Ada 1 lagi yang juga penting, WAKTU (aka. deadline). kalo produktifitas tinggi tapi deliverinya tidak sesuai jadwal ya otomatis tidak sesuai dengen ekspektasi si klien. Saya pernah bilang ke mas adi bahwa kalo waktunya mepet ya sebaiknya standarnya diturunin. maksudnya, kalo awalnya berencana ngerjain 100% untuk tiap itemnya, ya cukup dikerjain 75% saja dulu tapi semua item terpenuhi daripada hanya 1 item yang tercapai 100% tapi lainnya malah belum selesai sama sekali. Seperti Bapak bilang, “lengkap dulu baru cukup”.

    Ilmu2 kaya gitu saya banyak pelajari dari Bapak. Pasti akan berguna disini, apalagi disini, sebaiknya tampak biasa2 aja daripada tampak pinter terus dieksploitasi (ppadahal memang biasa).

    Terima kasih. Sipp!!!

    Comment by AK — November 26, 2007 @ 4:23 pm

  8. Gravatar Image
  9. bosku yo ngono, kerjone nesu nesu, ragelem di salahke. mosok marketing kon methuk anake. opo kui. gajine renek, kerjo ngasi bongko. bosku raiso lobi. jo meneh lobi komputer wae blas ramudeng. bendino di apusi karyawane. tenan kui mas, wani bongko….

    Comment by elly — January 25, 2008 @ 5:05 pm

  10. Gravatar Image
  11. nice artikel…………. !!!

    Di dunia ini gak ada yang mubazir, semua ada hkmahnya !


    Easy money easy job
    http://www.newinvestasi.com
    Penghasilan sangat menjajikan via kerja di internet.
    http://www.go-kerja.com

    Comment by Endi — February 7, 2008 @ 12:21 am

  12. Gravatar Image
  13. wow!

    efektifitas, efisiensi! cool!

    Comment by Tito — April 24, 2008 @ 11:14 am

  14. Gravatar Image
  15. CERDAS

    Comment by ANGGONO — October 15, 2009 @ 4:29 pm

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/06/10/maestro/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here