Saya kerja lebih keras kok dibayar lebih sedikit? (Bagian 1)
“Tidak ada yang lebih sia-sia selain melakukan pekerjaan dengan efisien padahal pekerjaan itu sebetulnya tidak perlu dilakukan sama sekali.” Peter F. Drucker 1963
Topik kerja keras memang topik yang menarik.
Adi adalah pekerja keras. Berangkat lebih pagi, pulang larut malam. Sebaliknya Budi pekerja santai, seringkali terlihat cuma duduk-duduk ketawa-ketiwi dengan kolega. Adi bekerja lebih keras daripada Budi. Tapi kenapa Adi pendapatannya justru lebih rendah daripada Budi?
Penghasilan kita memang tidak ada kaitannya dengan kerja keras. Tak perlu heran bila kerja keras kita tak dihargai. Karena memang bukan kerja keras kita yang berharga, tapi produktifitas kita.
Apa itu efektifitas?
Biarpun tampak santai, kerja Budi selalu tepat sasaran. Hasil kerjanya berkualitas bagus, sesuai yang dituntut perusahaan. Ini yang disebut kerja efektif.
Efektifitas diukur dari jumlah hasil keluaran yang sesuai harapan/layak (sebut saja ‘qualified output’ atau output layak) dari seluruh hasil keluaran (output).
Efektifitas = Output_layak / Output

Misalkan 2 pekerja pembuat kendi tanah liat (gerabah) masing-masing ditugaskan membuat 10 kendi dengan kualitas sesuai syarat yang ditentukan (disebut Target atau Ideal Output).
Pekerja A membuat 10 kendi, sayang cacat 2 buah. Jadi hanya 8 kendi yang layak (qualified output). Maka efektifitas kerja dia adalah 8/10 alias 80%.
Pekerja B hanya berhasil membuat 6 buah yang layak dari 10 yang ia buat. Efektifitas kerja B adalah 60%.
Efektifitas hanya mengkaji output. Ketika membicarakan efektifitas kita tidak mempedulikan berapa banyak sumber daya yang dibutuhkan. Tidak peduli berapa banyak input berupa waktu kerja, energi, maupun bahan yang dibutuhkan, ukuran efektifitas hanyalah jumlah output layak dari sejumlah output yang dihasilkan. Makin banyak output layak berarti makin efektif.
Efektifitas kerja seseorang dipengaruhi dua hal, pertama adalah kemampuan dia memahami target tujuan akhir (ideal output), kedua adalah kecakapan dalam membuat solusi yang sesuai target tersebut (qualified output). Seseorang yang efektif dalam kerja ditandai dengan kemampuan mendefinisikan target akhir, serta kecakapan dalam mewujudkan solusi yang layak bagi target akhir tersebut.
Apakah Anda termasuk orang yang efektif? Ukur saja pencapaian hasil kerja Anda dibandingkan target yang dituntut perusahaan. Makin banyak target yang tercapai (dengan kualitas yang sesuai) berarti makin efektif kerja Anda.
Kesia-siaan yang sering terjadi adalah seorang yang sangat efisien bekerja, tapi hasilnya salah arah alias tidak efektif. Itulah yang dicela Peter Drucker, bekerja sangat efisien untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dilakukan!
Apa itu efisiensi?
Sering kita menganggap orang yang rajin bekerja adalah orang yang produktif. Setelah mengetahui arti efektifitas tentu mudah untuk memahami bahwa rajin bukanlah produktif. Rajin adalah sikap kerja, namun bukan ciri produktif. Rajin maupun malas bisa sama-sama produktif, bisa juga sama-sama tidak produktif.
Komponen kedua dari produktifitas bukanlah sikap kerja, tapi efisiensi. Efisiensi adalah hubungan antara jumlah keluaran (output) dari sejumlah input (masukan). Makin efisien berarti untuk sejumlah input akan dihasilkan lebih banyak output. Rumus efisiensi adalah output per input.
Efisiensi = Output / Input

Misalkan 2 pekerja pembuat kendi tanah liat. Masing-masing diberi bahan 2 kg tanah liat.
Pekerja A berhasil membuat 5 kendi. Pekerja B berhasil membuat 8 kendi. Pekerja A mempunyai efisiensi 5 kendi/2 kg. Sedangkan B mempunyai efisiensi 8 kendi/2 kg. Maka pekerja B disebut lebih efisien.
Dalam efisiensi kita tidak membicarakan kualitas output. Apakah kendi yang dihasilkan bagus atau cacat bukanlah ukuran efisiensi.
Apa itu Produktifitas?
Produktifitas muncul dari kombinasi efektifitas dan efisiensi. Produktifitas (atau kita sebut daya produksi) adalah efisiensi dikalikan efektifitas. Secara matematis menjadi :
Produktifitas = efisiensi x efektifitas = output/input x outputlayak/output = outputlayak/input

Jadi produktifitas menghubungkan pencapaian sasaran dengan masukan yang dibutuhkan. Makin produktif berarti pencapaian sasaran yang makin banyak untuk sejumlah input yang tetap.
Misalkan pekerja tanah liat A dan B dibandingkan. Siapakah yang lebih produktif?
Pekerja A : (5 kendi/2 kg bahan) x 80% = 2 kendi / kg bahan
Pekerja B : (8 kendi/2 kg bahan) x 60% = 2,4 kendi / kg bahan
Ternyata pekerja B lebih produktif!
Bila Anda seorang manajer, akankah Anda memilih pekerja B? Benarkah pilihan Anda itu?
Ilustrasi dua konsultan
Adi bekerja lebih keras dibadingkan Budi. Namun kalau diperhatikan lebih seksama ternyata memang Budi lebih produktif. Dalam 2 jam duduk di komputer, Adi mampu membuat laporan 10 halaman, sedangkan Budi mampu membuat 20 halaman. Budi lebih efisien.
Kemudian dari laporan yang dibuat Adi (dia menghabiskan waktu 8 jam untuk membuat 40 halaman) ternyata hanya sebagian kecil saja solusi yang sesuai harapan klien. Terpaksa setiap kali Adi merevisi kembali laporan tersebut. Sedangkan Budi bekerja 2 jam sehari untuk membuat laporan 20 halaman. Hampir 90% solusi dari Budi sangat sesuai harapan klien. Bahasa komunikasi Budi lugas dan tepat sasaran. Dengan demikian Budi hanya melakukan perbaikan minor. Budi lebih efektif.
Pantaslah Budi masih punya cukup waktu untuk duduk-duduk ketawa-ketiwi dengan teman-temannya, sementara Adi masih bekerja keras di meja kerjanya. Budi memang lebih produktif daripada Adi.







aduh tulisannya bagus banget , menambah cakrawala berfikir neh
Comment by *** — November 7, 2007 @ 12:02 am
menginspirasi saya …
thax pa…
Comment by ratno — November 29, 2007 @ 4:25 am
Mas, aku lg buat skripsi mengenai pengaruh koordinasi terhadap efektifitas kerja.
Aku minta dikirim ke ridho_bramulya@yahoo.com tentang indikator efektifitas kerja dong buat bahan skripsiku.
Terima kasih
Comment by Ridho Ikhsan — December 14, 2007 @ 9:33 pm
wah keren banget nih artikel…
jadi sadar kalo kerja keras ga efektif percuma aja
jadi nothing
Comment by Banu — March 18, 2008 @ 3:34 am
WAH…artikel yang asyik. Topik yang sederhana, tapi mengena. Isinya menyadarkan dan mengingatkan untuk intropeksi diri. Terkadang kita merasa sudah rajin dan bekerja keras…eh..ternyata ngga produktif. Mgkn itu yang terjadi dengan sebagian masyarakat kita…sudah merasa berusaha dan bekerja keras, tapi ngga menyadari kalau kita belum produktif..hanya sibuk tak menentu
Comment by pary — April 8, 2008 @ 7:53 am
mas aku khe lagi butuh data nech tentang efektifitas kerja,,,,,,,,,
pliz bantuin
Comment by khe-khe — April 28, 2008 @ 6:54 am
wah artikel yang bagus, kebetulan TA ku berhubungan dengan efektifitas dan efisiensi begitu. makasih ya mas…. nuhun2
Comment by Eldi — June 7, 2008 @ 3:57 am
bgus
Comment by tatang — September 25, 2008 @ 5:47 am
mas aku lg butuh data neh tentang standar efektifitas bantuin donk mas….. nuwun
Comment by nunk — December 1, 2008 @ 3:21 am
Mas,, aq harus segera menyelesaikan cum laude aq mengenai pengaruh e-Gov terhadap efektifitas kerja.. Mas saya minta tolong kirimin teori2 tentang efektifitas kerja dan indikator2 efektifitas kerja yah…
kirim aja ke email aq… JE_PRETEND@YAHOO.COM
Thanks alot..
Comment by fairida — December 21, 2008 @ 4:37 am
buat Fairida, tentang kerja efektif banyak diulas oleh Peter Drucker. Bisa searching di internet atau beli buku-bukunya, misalnya yang saya baca buku Classic Drucker (terjemahan).
Comment by khairulu — December 24, 2008 @ 12:55 am
thanks mas khairul, atas rekomendasinya mengenai buku Peter F. Drucker nya,, saya sudah membaca bukunya yang Classic Drucker, dan itu sangat membantu saya untuk bisa memahami lebih dalam mengenai apa saja indikator kerja yang efektif, sehingga saya bisa mendapatkan referensi untuk cumlaude saya mengenai efektifitas kerja… o iya,, membaca pemikiran beliau dalam bukunya,, saat ini saya menjadi salah satu fans nya..! hehehe… thanks mas khairulu,, Doakan cumlaude saya sukses yah….
Comment by fairida — February 3, 2009 @ 12:31 pm
salam mas khairul…… topik kerja keras menbuat tulisan ini sangat menarik untuk dim kembanbangkan dalam peningkatan efektifitas kinerja dan skarang ini saya lagi menyusun tesis ” pengaruh motivasi dan pengawasan terhadap peningkatan efektifitas kerja pegawai” saya minta bantuan pendapatnya untuk memncari permasalahan hubungan antara peningkatan efektifitas dengan motivasi dan pengawasan yang sering terjadi … terima kasih sebelummmya… talut salim
Comment by thalut salim — September 1, 2009 @ 4:32 am
ass…mas khairul aku lg nyusun skripsi jdulnya yg variabel Y nya msih bngung antara motivasi kerja dengan efektifitas kerja!!mu tnya perbedaan keduanya tuh apa yah??
tlong krim ke email yah myemye49@yahoo.co.id
Comment by umy — October 5, 2009 @ 1:09 pm
hehehe,,,maaf mas lupa ngucapin mksh!!
sebelumnya mksih bget yah mas..sukses selalu.
Comment by umy — October 5, 2009 @ 1:12 pm
one words,briliant!!!
Comment by baska — October 8, 2009 @ 2:03 pm