Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Doa dan Usaha si CicakTumbuh »

July 10, 2007

Pareto dan kisah Dunia yang tak adil

“Dunia itu tidak adil. Kita sendiri yang harus menciptakan keadilan… buat diri kita sendiri, ha ha ha…”,

Rekan saya, Pak Asep al mukarrom, memang teman sejati saya untuk bersama-sama menertawakan dunia.

“Betul itu Pak! Ungkapan Bapak itu filosofis sekali…”, ujar saya mengamini kesimpulan dia.

Tuhan Maha Adil.

Dan dunia ini diciptakan penuh ketidakadilan.

Tuhan Maha Adil bukan berarti lalu menciptakan dunia yang adil. Dunia ini memang diciptakan penuh ketidakadilan. Ada anak yang terlahir miskin. Itu realita. Walaupun dia jenius, tetap saja tidak bisa masuk sekolah unggulan yang menarik iuran mahal. Ada yang bekerja keras dengan hasil sedikit, dan ada yang bekerja santai dengan hasil yang banyak.

Kata Pareto, dari lima roti yang tersedia, empat roti akan dimakan hanya oleh satu orang, sementara satu roti sisanya akan diperebutkan oleh empat orang. Selalu akan ada yang hidupnya jauh lebih nyaman daripada lainnya. Kata siapa dunia itu adil?

Dunia memang tidak adil, kawan.

Kalau kita meyakini Allah itu Maha Adil, kemudian Allah menciptakan lingkungan yang adil buat kita, maka… kesimpulan itu salah! Allah maha berhak untuk menciptakan dunia yang penuh ketidakadilan. Allah akan menilai kita dengan adil, yaitu bagaimana ikhtiar kita bereaksi terhadap ketidakadilan itu. Allah adil dalam menilai amal kita, dan Allah memang sengaja menciptakan dunia yang tidak adil.

Jadi, dunia ini tidak adil.

Sebuah buku tulisan Richard Koch berjudul The 80/20 Principle mengupas banyak tentang dunia yang tidak adil itu. Telah ditemukan bahwa pekerja dengan jabatan yang lebih tinggi justru bekerja jauh lebih mudah dan santai dengan imbalan yang jauh lebih besar. Di strata lebih bawah pekerjaan bisa lebih sulit, anehnya dengan imbalan lebih sedikit.

Tentu saja buku itu (juga tulisan ini) tidak bermaksud membuat provokasi untuk unjuk rasa menggugat ketidakadilan. Buku itu mengingatkan – persis seperti yang disimpulkan al mukarrom Pak Asep – bahwa dunia yang sejati itu memang tidak adil.

Jadi kita harus menyadari dan menerima bahwa banyak hal itu tidak adil. Negara misalnya, sering tidak adil. Lingkungan pun demikian, sering tidak adil. Bahkan sistem di kantor Anda pun sangat mungkin tidak adil. Karena memang awalnya tidak adil, lalu ketika orang-orangnya berusaha membuat keadilan maka akan terjadi silang pendapat tentang seperti apa bentuk yang adil itu. Akhirnya adil yang sempurna itu memang tidak ada. Apa yang dipandang adil seseorang, bisa dipandang zalim oleh orang yang lain. Apa yang pimpinan pandang adil, bisa dipersepsi tidak adil oleh bawahannya.

Mari kita terima saja bahwa dunia ini tidak adil. Jangan terlena oleh buaian penghibur yang mengatakan dunia ini adil. Kita terima saja kenyataan bahwa orang baik sering kalah, orang jahat sering menang. Kita terima saja bahwa kerja keras tidak berkorelasi positif dengan penghasilan. Juga kita terima saja bahwa orang yang baik pun belum tentu mendapat pasangan yang sama baiknya.

Dan Pak Asep al mukarrom benar. Kita sendirilah yang harus menciptakan keadilan … buat kita sendiri.

Tuhan Yang Maha Adil sungguh telah membekali diri kita dengan ‘potensi keadilan’ untuk mengarungi dunia yang tidak adil.

Mula-mula berusahalah untuk adil buat diri kita sendiri. Kalau bekerja, ya boleh-boleh saja kerja keras, tapi bila senja telah tiba, ingatlah untuk segera pulang karena keluarga menunggu di rumah. Itu adil buat kita, juga adil buat keluarga kita. Bila tugas kantor menumpuk, ambil jeda untuk istirahat dan olahraga ringan, karena itulah yang adil buat tubuh kita. Bila sistem kerja di kantor belum bisa mencapai bentuk yang ideal (dimana keadilan terjadi dengan merata), maka kitalah yang harus cerdik memutar otak agar masih bisa berlaku adil minimal buat diri kita sendiri. Yang harus kita andalkan bukan sekedar kecerdasan emosi (tekun bekerja keras) dan kecerdasan spiritual (bersabar dan bersyukur), tapi juga kecerdasan power (menjadi cerdik dengan worksmart).

Mula-mulanya kita ciptakan keadilan buat diri kita sendiri. Setelah itu kita ciptakan keadilan buat keluarga kita. Lalu kantor kita. Lalu orang-orang yang lebih jauh dari kita. Lalu seluruh umat manusia dan alam semesta.

Tuhan Yang Maha Adil sengaja telah menciptakan dunia ini penuh dengan ketidakadilan.

“Dunia itu tidak adil. Kita sendiri yang harus menciptakan keadilan… buat diri kita sendiri, ha ha ha…”,

Pak Asep al-mukarrom dan saya tertawa bersama-sama. Getir dan panjang.

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

16 Comments »

    Gravatar Image
  1. Hizbut Tahrir Indonesia mengundang kaum muslim pada acara:
    Konferensi Khilafah Internasional
    Ahad, 12 Agustus 2007 M
    28 Rajab 1428 H
    Pukul 08:00 - 12:30 WIB
    Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta
    Susunan Acara :
    Pembukaan (Hari Mukti dan Adi Maretnas)
    Pembacaan Kitab Suci Al Quran
    Sambutan Jubir HTI (Ismail Yusanto)
    Parade Bedug + Pembacaan Puisi (Taufik Ismail)
    Testimoni Tokoh Nasional
    Konser Shalawat/Nasyid (Snada)
    Orasi Pembicara (Hizbut Tahrir)
    Teatrikal Lapangan Raya-Liwa
    Refleksi (Jamil Azzaini)
    Doa Penutup (Arifin Ilham dan Ary Ginanjar)
    Insya Allah menghadirkan pembicara dari: Eropa, Australia, Palestina, Sudan, Jepang dan Indonesia serta tokoh-tokoh nasional dari NU, Muhammadiyah, MUI, Darut Tauhid, Menpora, dan Ormas-ormas Islam.
    Pembicara:
    Dr. Imran Waheed (Hizbut Tahrir Eropa)
    “Tanda-tanda Kehancuran Peradaban Barat”
    Syeikh Ismail Al Wahwah (Hizbut Tahrir Australia)
    “Dunia Membutuhkan Khilafah”
    Syeikh Issam Ameera (Hizbut Tahrir Palestina)
    “Tanda-tanda Tegaknya Khilafah”
    Syeikh Usman Abu Khalil (Hizbut Tahrir Sudan)
    “Tantangan Setelah Tegaknya Khilafah”
    Prof. Dr. Hassan Ko Nakata (Cendekiawan Muslim Jepang)
    “Peran Perjuangan HT Membangun Peradaban Islam ke Depan”
    Hafidz Abdurrahman, MA (Ketua Umum DPP HTI)
    “Perjuangan Hizbut Tahrir Indonesia Menuju Khilafah”

    Orasi Tokoh:
    KH. Abdullah Gymnastiar
    Prof. Dr. H. M. Amin Rais
    KH. Ma’ruf Amin
    DR. H. Adyaksa Dault, SH, M.Si.
    KH. Drs. Hasyim Muzadi
    Prof. Dr. Din Syamsuddin
    KH. Habib Riziq Shihab
    KH. Zainuddin MZ
    Tiket:
    1. VVIP : Rp. 100.000
    2. VIP : Rp. 75.000
    3. Reguler : Rp. 20.000
    Mari kita mengajak keluarga, kerabat, tetangga, masyarakat dan para tokoh masyarakat dalam acara besar yang insya Allah akan dihadiri oleh 100.000 massa. Dengan dukungan Anda semua mari bersama-sama kita perjuangkan tegaknya Syariah dan Khilafah segera !
    Kantor Hizbut Tahrir Indonesia:
    Gedung Anakida Lt.7 Suite 202,
    Jl. Prof. Soepomo No.27 Tebet Jakarta Selatan
    Telp: 021-8500440, 71220254, 8305848
    Fax : 021-8500440, 8312111
    Email : info@hizbut-tahrir.or.id
    Contact Person : Fanani (0815-8366436 / 021-70031924)

    Comment by Abdullah — July 10, 2007 @ 10:01 am

  2. Gravatar Image
  3. Masalahnya bukan pada adil dan tidak adil, tapi Allah menciptakan sistem di jagat raya ini menurut kehendakNYA. Perbedaan yang ada juga merupakan proses yang harus terjadi dalam sistem itu. Agar manusia bisa berproses dengan baik dalam sistem maka Allah memberi “buku panduan” dan “Pemandu”. Sudahkah kita memahami “buku panduan” dan arahan dari “Pemandu” ?

    Comment by Abu Sulthan — July 12, 2007 @ 2:55 am

  4. Gravatar Image
  5. Bismillah,
    Dengan ketidak adilan sering membuat potensi seseorang akan secara terpaksa keluar dan melejit. Mungkin, maaf, seperti seorang pembicara tentang cara kaya ala thionghoa, apa yang membuat orang chinese di indonesia pada kaya, salah satunya akibat dari tindakan tekanan atau mungkin ketidak adilan dari orang pribumi yang menyebabkan mereka tertekan untuk bisa lebih maju sehingga bisa menguasai orang pribumi secara ekonomi.

    Comment by imank — July 13, 2007 @ 12:41 am

  6. Gravatar Image
  7. Adil dan tidak adil adalah persepsi dari manusia itu sendiri, banyak orang lahir dari keluarga kaya, tapi dia merasa hidup tidak adil karena orang tua sibuk sehingga di merasa di abaikan… adil dan tidak adil adalah persepsi…

    Comment by rudy — July 15, 2007 @ 3:19 pm

  8. Gravatar Image
  9. Tanpa bermaksud religius, saya langsung teringat sebuah kisah tentang seorang murid yang bertanya kepada Gurunya saat mereka berjalan bersama di sebuah daerah, dan mereka mendapati banyak sekali orang cacat di sana.

    Bertanyalah sang murid, “Guru, dosa siapakah yang mereka dapati hingga mereka harus dilahirkan papa dan cacat sedemikian rupa? Mestilah ini hasil dari dosa nenek moyang mereka yang ditimpakan kepada mereka. Mengapa Tuhan begitu kejam?”

    Siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?

    Lalu jawab sang Guru: “Bukan dosa dia, bukan pula dosa orang tuanya. Tapi agar Karya-Nya harus dinyatakan dalam dia.”

    Lalu masihkah kita bicara keadilan?

    Comment by Andy Ferbson — July 16, 2007 @ 8:54 am

  10. Gravatar Image
  11. adil atau tidak, Kita diberi kesempatan hidup adalah anugrah yang amat mahal.
    Bekerja sekuat yang kita mampu
    Berdoa sebisa yang kita mau
    Bersyukur atas semua yang diperoleh
    Tuhan tidak tidur.
    Insya Allah bagi yang bersyukur nikmatnya akan ditambah
    Bagi yang inkar….???
    Tanggung sendiri akibatnya

    Comment by dhany — July 19, 2007 @ 7:25 am

  12. Gravatar Image
  13. Setuju. Tuhan Maha Adil. Saya percaya bahwa setiap sifat Tuhan pasti termanifestasikan dalam diri kita. Makhluk, termasuk manusia tidak akan mampu memanifestasikannya sifat Tuhan dengan sempurna. Namun manusia, dengan rahmatnya, mampu meningkatkan derajat manifestasi tiap-tiap sifat Tuhan dalam dirinya: Mengetahui, Mendengar, Berilmu, Adil

    Comment by Budi Sulis — July 19, 2007 @ 4:01 pm

  14. Gravatar Image
  15. Gustimu Prasangkamu…..
    (Tuhan sebagaimana prasangka kita…)

    Comment by Ji Bao — July 20, 2007 @ 8:53 am

  16. Gravatar Image
  17. keadilan. mungkin hanya Allah lah yang maha adil. apa yg kita rasakan belum tentu adil bagi kita tapi itu adil dimata ALLAH, karena kita akan menerima ganjarannya kelak :>

    Comment by endri — July 27, 2007 @ 2:27 am

  18. Gravatar Image
  19. Memang benar ternyata bgt. bagaimana kita menyikapi dunia saja adanya. Susah ada hikmahnya, seneng ada saatnya. Mohon ijin mas choirul untuk mengadop pemikirannya dalam dunia kerja saya di rumah sakit. Mohon dibalas, Tq sblm dan ssdhnya

    Comment by 2 mei — July 31, 2007 @ 3:11 pm

  20. Gravatar Image
  21. Masalah keadilan hanyalah masalah persepsi. Anggapan atau persepsi seseorang terhadapat sesuatu. cerita diatas menceritakan dengan jelas bahwa tak ada keadilan yang ada hanyalah anggapan seseorang terhadap bahwa sesuatu itu adil atau tidak. Tuhan saja berkata ” Aku adalah seperti apa yang hambaku persepsikan tentang Aku”.
    Adil atau tidaknya sesuatu adalah bergantung terhadap apa yang anda persepsikan.
    Semalam saya menonton sinetron “Cinta Fitri” begitu judulnya. Si fitri yang diperlakukan tidak adil ‘dalam persepsi seseorang’ berkata “kita ambil hikmahnya saja, bagiku inilah tantangan dan ini alah hal baik, karena dengan begitu aku bisa melakukan ini dan itu dengan tugas yang diberikan pimpinannya, yang sebetulnya adalah jebakan untuk mengecilkannya ‘dalam persepsi Farrel, pacarnya’ tapi bagi fitri ini adalah hal positif. apa mau dikata bahwa keadilan adalah hanya masalah persepsi.

    Comment by Abdul Majid — August 3, 2007 @ 4:23 am

  22. Gravatar Image
  23. Kebijaksaanlah yang harus ada, bukan keadilan. karena, keadilan terkadang tidak tepat, tapi kebijaksaan berada diatas derajat keadilan. Keadilan identik dengan kesaklekan atau membaca sesuatu dengan hitam dan putih, laih hal dengan kebijaksaan segala sesuatunya diperhitungkan dan ditimbang dengan matang.
    Jika Anda pikir kalau saja tuhan itu Adil tidak bijak, maka alangkah celakanya umat manusia yang setiap hari berbuat dosa, yang jika dibandingkan dosa itu kelihatannya tidaklah sebanding dengan kebaikan yang dilakukan…
    akankah kita menuntut keadilan tuhan???
    bukan kebijaksaannya, kasih dan sayangnya…..

    Comment by Abdul Majid — August 3, 2007 @ 6:06 am

  24. Gravatar Image
  25. Adil itu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Begitu definisi para ahli fiqh.

    Ada aturan2 yang telah disepakati. Ketika aturan2 itu terlaksana, maka keadilan telah ditegakkan. Pada hal yang sudah ada standar kepatutannya, kalau kita laksanakan hal yang sepatutnya, maka itu adil. kalau kita berbuat tidak sepatutnya, maka itu tidak adil.

    [i]”Apa yang dipandang adil seseorang, bisa dipandang zalim oleh orang yang lain. Apa yang pimpinan pandang adil, bisa dipersepsi tidak adil oleh bawahannya.”[/i] Begitu menurut mas Khairul.

    Iya sih Mas, kalau diserahkan ke manusia, maka yang namanya standar keadilan akan jadi sangat bias. Tapi kita-kita yang kenal Tuhan ini, harusnya standar keadilan itu diserahkan pada Yang Maha Adil yang telah menentukan hukum2nya dengan adil agar keadilan dapat ditegakkan di muka bumi (halah…).

    Tapi, seburuk-buruknya manusia (karena memiliki nafsu yang cenderung mengajak berbuat buruk), kita kan punya hati nurani, akal yang sehat dan jernih. Maka dari itu, ada kalanya Tuhan menguji manusia, dengan tidak menetapkan hukum pada suatu hal (misalnya lalu lintas. Kita tidak temukan pada kitab suci agama manapun aturan tentang lalu lintas. Juga aturan2 muamalat lainnya). Bukan berarti Tuhan terlupa, tapi itu ujian untuk melihat sejauh mana akal sehat manusia bekerja untuk membuat aturan2 yang adil, yang diterima oleh semua, yang memenuhi azas win-win solution.

    Bener mas, kita sendiri yang membuat dunia ini adil. Dan standar keadilan itu bisa kok diukur oleh nurani. :)

    Comment by Zico Alviandri — August 15, 2007 @ 9:33 am

  26. Gravatar Image
  27. adil itu yg penting tahu dirilah.bisa nempatin diri dan orang.prinsipnya memanusiakan manusia.tapi bener juga semua ini tercipta dg ketidakadilan.kita harus bikin biar jadi adil.menurutku semua ada tanggal mainnya,biarpun kita berusaha selalu adil jika belum waktunya kita dipercaya untuk bisa adil,ya mungkin sama aja

    Comment by hartono — August 16, 2007 @ 3:58 pm

  28. Gravatar Image
  29. :)

    Comment by nawi — August 30, 2007 @ 7:14 am

  30. Gravatar Image
  31. menghadapi ketidakadilan adalah dg sabar & shalat, ngelus dada, berkata dalam hati ‘rahasia Illahi’…hehehe …

    Comment by alin — March 4, 2008 @ 9:48 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/10/19/perlukah-mengajarkan-konsep-bebas-finansial-kepada-karyawan/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here