Bank Kaum Miskin (1)
“Siapa nama ibu?” saya bertanya.
“Sufiya Begum.”
“Umur ibu?”
“Duapuluh satu.”
Saya tidak menggunakan pena dan buku catatan karena akan membuatnya takut. Nantinya, saya hanya mengizinkan mahasiswa saya membuat catatan pada kunjungan-kunjungan berikutnya.
“Apakah bambu ini milik ibu?” tanya saya.
“Ya.”
“Bagaimana ibu mendapatkannya?”
“Saya membelinya.”
“Berapa harga bambunya?”
“Lima taka.” Saat itu , jumlah ini setara AS$22 sen.
“Apakah ibu punya uang lima taka?”
“Tidak, saya pinjam bambunya dari paikar.”
“Perantara? Bagaimana caranya?”
“Saya harus menjual kembali bangku bambu saya pada mereka untuk membayar pinjaman saya.”
“Ibu jual seharga berapa satu bangkunya?”
“Lima taka lima puluh poysha.”
“Jadi untungnya lima puluh poysha?”
Dia mengangguk. Keuntungan itu hanya 2 sen.
“Bisakah ibu pinjam uang dari rentenir dan membeli sendiri bahan bakunya?”
“Ya, tapi rentenir akan meminta banyak. Orang yang berurusan dengan mereka hanya akan bertambah miskin.”
“Berapa bunga yang diminta rentenir?”
“Tergantung. Kadang-kadang mereka minta sepuluh persen per minggu. Tetapi, seorang tetangga saya membayar sepuluh persen per hari.”
“Dan hanya segitu yang ibu peroleh dari membuat bangku bambu yang indah ini, lima puluh poysha?”
“Ya.”
Sufiya tidak ingin membuang waktu lagi hanya untuk berbincang-bincang. Saya lihat ia bersiap kerja lagi. Tangan coklatnya yang mungil menjalin bilah-bilah bambu setiap hari, selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Inilah kehidupannya. Dia duduk di atas tanah liat yang keras dengan bertelanjang kaki. Jari-jarinya kurus, dan kuku-kukunya hitam kena kotoran.
Bagaimana anak-anaknya bisa memutus lingkaran kemiskinan yang dialaminya? Bagaimana mereka bisa bersekolah ketika upah yang diperoleh Sufiya hanya cukup untuk makannya sendiri, jangankan menaungi keluarganya dan menyediakan mereka pakaian yang layak? Tampaknya sangat sulit dibayangkan bahwa suatu saat bayinya akan bisa keluar dari kesengsaraan ini.
Sufiya Begum mendapat 2 sen sehari. Kenyataan ini mengejutkan saya. Di ruang kuliah saya berteori mengenai jumlah miliaran dolar, tapi di sini, di hadapan mata saya, masalah hidup mati ditentukan oleh sejumlah recehan.
Saya mencoba memandang masalah Sufiya dari sudut pandangnya sendiri. Dia menderita karena ongkos bambu seharga 5 taka. Dia tidak punya uang untuk membeli bahan baku. Akibatnya, dia bisa bertahan hanya dalam lingkaran setan: meminjam dari pedagang dan menjual kembali ke mereka. Hidupnya bagaikan budak belian. Pedagang memastikan bahwa dia membayar Sufiya harga yang sekedar cukup untuk menutup ongkos bahan baku dan membuatnya hidup. Dia tidak bisa membebaskan hidupnya dari hubungan eksploitatif dengan si pedagang. Untuk bertahan hidup, dia perlu tetap bekerja melalui pedagang itu.
Esok harinya saya telpon Maimuna Begum, mahasiswi yang mengumpulkan data untuk saya, dan memintanya membantu saya membuat daftar warga Jobra seperti Sufiya yang bergantung pada para pedagang. Dalam satu minggu daftarnya siap. Ada 42 orang tercantum di situ, dengan keseluruhan pinjaman sebesar 856 taka (kurang dari AS$27).
“Ya Tuhan, ya Tuhan. Seluruh derita semua keluarga itu hanya karena tidak ada uang dua puluh tujuh dolar!” seru saya.
Maimuna berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kami berdua muak oleh semua kenyataan ini.
Akal sehat saya tidak akan membiarkan masalah ini berlangsung terus. Saya ingin membantu 42 orang pekerja keras ini, yang sehat dan tidak cacat. Orang-orang seperti Sufiya miskin bukan karena bodoh dan malas. Mereka bekerja sepanjang hari, menggarap pekerjaan fisik yang rumit. Mereka miskin karena lembaga-lembaga finansial di negeri ini tidak membantu mereka memperluas basis ekonominya. Tidak ada struktur finansial formal yang tersedia untuk melayani kebutuhan kredit kaum miskin. Pasar kredit ini, oleh karena keterbatasan lembaga–lembaga formal, telah diambil alih oleh rentenir lokal. Seandainya saya bisa meminjamkan begitu saja AS$27 pada penduduk Jobra, mereka akan bisa menjual produk-produknya kepada siapapun. Mereka kemudian akan memperoleh keuntungan setinggi mungkin atas pekerjaannya dan tidak akan dibelenggu oleh praktik-praktik riba para pedagang dan rentenir.
Semuanya begitu mudah. Saya serahkan AS$27 pada Maimunah dan berkata,”Ini, pinjamkan uang ini pada 42 orang di daftar kita. Mereka bisa membayar utang-utangnya pada para pedagang dan menjual produk-produknya dengan harga yang baik.”
“Kapan mereka harus membayarmu kembali?” dia bertanya.
“Kapan saja mereka bisa,” ujar saya. “Kapan saja waktu yang paling pas buat mereka menjual produk-produknya. Mereka tidak perlu membayar bunga. Saya tidak sedang berbisnis uang.”
Maimuna pergi sambil kebingungan dengan perubahan yang terjadi.
[ Tahun 1976 Profesor Muhammad Yunus, dekan Fakultas Ekonomi Chittagong University Bangladesh, mengunjungi kaum paling miskin di desa Jobra dekat kampusnya. Pertemuannya dengan perajin bangku bambu yang sangat miskin menjadi awal perjalanan panjang berdirinya Grameen Bank. Pada tahun 2006 Grameen Bank memberi kredit ke hampir 7 juta orang miskin di 73.000 desa Bangladesh, 97 persen di antaranya perempuan. Kredit perumahannya telah membangun 640.000 rumah. Kumulatif kredit mencapai AS$6 miliar. Tingkat pengembalian 99 persen. Deposito dan dana milik sendiri mencapai 143 persen dari seluruh pinjaman berjalan. Dan menurut survei internal Grameen, sebanyak 58 persen peminjam telah terangkat dari garis kemiskinan. Kini Grameen juga mengurus kredit ke 85.000 pengemis, 5.000 diantaranya sudah tidak lagi mengemis. Juga 30.000 beasiswa anak miskin, yang menjadikan anak-anak orang miskin itu bisa keluar dari jerat kemiskinan. Banyak dari anak-anak itu yang akhirnya menjadi dokter, insinyur, dosen, dan profesi lainnya. Yang paling menarik, sebanyak 94% saham Grameen Bank dimiliki oleh peminjamnya sendiri.)







Bgm kalo kita mulai menghimpun dana infak dan sodaqoh untuk kegiatan pendanaan syariah seperti Grameen Bank?
Comment by Aank — June 18, 2007 @ 7:21 am
Tergantung niat, jadi apakah kita berniat membantu dan memberdayakan masyarakat, dengan niat itulah masyarakat akan menjadi tuan atas usahanya sendiri
Comment by Mbah_Maridjan — June 18, 2007 @ 9:17 am
sufiya indonesia banyak kita temukan di sini.
perlu menejemen yg baik dalam pengelolaan bantuan.
mungkin bisa jadi teori air gelas tumpah. bantuan meluber tapi gak jelas hasil
mungkin bisa juga dengan bantuan malah harga jual jatuh.
btw mas yunus layak ditiru
Comment by siswanto-gipsi — June 26, 2007 @ 8:43 am
hebat, mungkin kita memenag menderita tapi ternyata masih ada yang lebih menderita, jadi kita harus bisa menambah ras syukur dan bantu mereka.
Comment by eni — July 24, 2007 @ 5:17 am
kemiskinan dengan mental serta kepercayaan diri terhadap budaya lokal seperti di bangladesh patut kita tiru , akan tetapi kemiskinan di indonesia adalah masalah ketidak percayaan diri masyarakatnya terhadap dirinya , sehingga berapaupaun uang yang di perdayakan untuk masyarakat miskin akan habis karena orang miskin sendiri memliki mental seperti para pejabat ,” Tidak akan ku kembalikan uang ini toh pemimpin kita juga korup , ngapain di kembalikan toh ini juga uang-uang kita sendiri” begitu kadang jawaban mereka
Indonesia ini kaya kok, maka untuk memperdayakan mereka perlu tahu sosial culture untuk memutus mata rantai mental korupsi
Comment by peng — July 27, 2007 @ 10:12 pm
Great…benar2 hebat…yukkk bareng2 ngumpulin dana buat mbantu org2 di sekeliling qta…ga perlu besar, yg penting dimulai dulu…
Comment by anggra — July 31, 2007 @ 7:20 am
Maaf komentarnya agak telat. Saya setuju sama Aank dan anggra, mudah2an sudah ada yang mulai, biar sedikit saya juga mau ikutan mbantu saudara-saudara yang butuh, yg penting jelas lembaganya insya Allah
Comment by jismon djakaria — February 12, 2008 @ 10:06 am