Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Ramalan, Fengshui, takdir, dan Efek ForerPemimpin dan manajemen harapan »

April 30, 2007

Syair Penjual Kacang

Emha Ainun Nadjib adalah tokoh sastra kesukaan saya dan istri saya. Mungkin memang sedang jaman populernya beliau di waktu kami kuliah dulu, tulisan Emha bagi kami yang mahasiswa sangat-sangat inspiratif. Beberapa waktu lalu istri saya menemukan bukunya kembali, tulisan Emha, berjudul Seribu Masjid Satu Jumlahnya (Mizan, 1990). Jadilah kami bernostalgia bersama.

Salah satu tulisan di buku itu, yang mewarnai sikap hidup saya hingga kini, berjudul Syair Penjual Kacang. Bentuknya bukan syair, tapi sebuah prosa (cerita).


Syair Penjual Kacang

Al-Habib, seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan kemuliaan hatinya, malam itu mengimami shalat Isya’ suatu jamaah yang terdiri dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat.

Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam, Al-Habib langsung membalikkan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam.

”Salah satu dari kalian keluarlah sejenak dari ruangan ini,” katanya, ”Di halaman depan sedang berdiri seorang penjual kacang godok. Keluarkan sebagian dari uang kalian, belilah barang beberapa bungkus.”

Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan beberapa saat kemudian.

”Makanlah kalian semua,” lanjut Al-Habib, ”Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Allah dengan kemuliaan, yang dijual oleh kemuliaan, dan dibeli oleh kemuliaan.”

Para jamaah tak begitu memahami kata-kata Al-Habib, sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.

”Setiap penerimaan dan pengeluaran uang,” kata Al-Habib, ”hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan. Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.”

”Tetapi ya Habib,” seseorang bertanya, ”apa hubungannya antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan?”

Al-Habib menjawab, ”Penjual kacang itu bekerja sampai nanti larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi. Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung. Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Allah membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun. Itu taqwa namanya. Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Allah, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan dalam hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang.”

Suasana menjadi hening. Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam. Dan Al-Habib meneruskan, ”Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, menunggu dua atau tiga rupiah hasil kerja semalaman. Mereka ikhlas dalam keadaan itu. Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya. Kalau ia punya situasi mental pencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan.”

”Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?” Al-Habib bertanya, ”Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibandingkan kalian, atau di mata Allah ia lebih tinggi maqam-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa di hati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil?”

Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, ” Mahamulia Allah yang menciptakan kacang, sangat mulia si penjual itu dalam pekerjaannya, serta mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan…” – salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al-Habib erat-erat.

1987

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

11 Comments »

    Gravatar Image
  1. Saya juga penggemar Cak Nun mas. Cerita diatas memang menarik dan mestinya menggugah kita…

    Salam dari Bekasi

    Comment by Masim "Vavai" Sugianto — May 1, 2007 @ 1:11 am

  2. Gravatar Image
  3. waduhh,… mas khoirul. saya jadi kesindir nih.
    thank’s yaa artikelnya mengingatkan saya untuk hati2 dalam mencari rezki.

    Comment by Diva — May 1, 2007 @ 1:17 am

  4. Gravatar Image
  5. Subhanalloh semoga banyak petinggi di negeri ini membaca situs ini, agar hati semakin lembut dan istiqomah dijalan Alloh SWT dalam memimpin negeri ini Amin

    Comment by Ridwan — May 3, 2007 @ 4:05 am

  6. Gravatar Image
  7. Semoga cak nun selalu dalam lindungan cahaya kehangantan tangaNYA. memanga gaya khas cak nun adalah penulisanya yang unik sesuatu yang di anggap remeh temeh oleh orang lain bisa di angkat kepada maqam yang tinggi. pernah suatu kali saya tanyakan kok bisa cak berpikir seperti itu dia pun menjawab semua meluncur dari hati tanpa ada rekayasa sedikitpun . kadang ia tak sadara bahawa ia mengatakan mutiara-mutiara hikmahnya.

    Comment by mustofa — May 5, 2007 @ 11:44 am

  8. Gravatar Image
  9. Itulah ilmu dan hikmah yang datang dari Allah. Tidak bisa dibeli di masjid dan sekolah.Subhahanallah.

    Comment by semar — May 9, 2007 @ 3:54 am

  10. Gravatar Image
  11. Saya juga pernah baca buku Cak Nun yang ‘Slilit Sang Kiai’.
    Inspiratif!

    Comment by KramOtak — June 20, 2007 @ 7:24 am

  12. Gravatar Image
  13. Saya pernah baca buku Cak Nun yang ‘Slilit Sang Kiai’.
    Inspiratif!

    Comment by KramOtak — June 20, 2007 @ 7:25 am

  14. Gravatar Image
  15. kemuliaan manusia terletak pada hatinya

    Comment by dhany — June 29, 2007 @ 1:53 am

  16. Gravatar Image
  17. artikelnya bagus, hiks jd serasa diingatkan, makasih yah pak

    Comment by adit — July 17, 2007 @ 10:40 am

  18. Gravatar Image
  19. bagus. coba cari tulisan-tulisan lain, bahwa tulisan cn kalo sudah dipublikasikan adalah milik umum. kalo tidak komersial, tanpa minta ijin beliau tidak apa2. tengok juga di webnya cn www.padhangmbulan.com

    Comment by inyong — September 22, 2007 @ 8:15 am

  20. Gravatar Image
  21. thanks tlah mengingatkanku.tlisan ini membangkitkan ruh ikhlas dan semakin yakin bahwa Allah itu adil

    Comment by nona — November 28, 2007 @ 2:37 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/09/09/salah-mengartikan-zuhud-adalah-miskin/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here