Rumah pertama, benteng terakhir
George Samuel Clason jelas layak didengar. Dia seorang milyuner, pengusaha pembuatan peta, yang di tahun 1926 menulis buku ‘The Richest Man in Babylon’, sebuah buku keuangan yang disampaikan dengan gaya cerita. Ini buku investasi klasik yang Anda semua layak baca (buku terjemah Indonesia ada di Gramedia). Kisah pemuda Babylon dalam cerita itu memuat ilmu-ilmu keuangan utama agar seseorang mempunyai kehidupan yang baik dan sejahtera. Salah satunya nasehat tentang pentingnya memiliki rumah sendiri.
Rumah pertama. Saya menyebutnya ‘benteng terakhir ketika semua rencana gagal’. Di luar semangat menggebu untuk berinvestasi, rumah pertama adalah sebuah target wajib bagi setiap keluarga. Kesalahan umum yang terjadi atas rumah pertama ini adalah, menargetkan rumah pertama yang begitu indahnya, sehingga akhirnya mengganggu keuangan keluarga. Padahal (dalam pengalaman pribadi), rumah tinggal kita itu ada kemungkinan besar nanti bisa pindah, entah karena mampu beli lagi yang lebih besar, lokasi lebih baik, atau karena pindah untuk kepentingan pekerjaan.
Rumah yang disebutkan Clason dalam bukunya itu tidak digambarkan besar dan keren, tapi sebuah rumah tinggal ‘dimana istri gembira karena bisa menghiasnya’. Sebuah rumah yang memberikan fungsi perlindungan bagi keluarga, memberikan rasa aman, dan menjadikan istri benar-benar menjadi ‘tuan rumah di rumah sendiri’. Tidak ada penggambaran Clason bahwa rumah itu harus besar, apalagi mewah.
Beberapa teman tentu saja memilih strategi untuk memutar uang sebagai modal kerja. “Nanti dari hasil bisnis, uangnya buat beli rumah,” demikian kira-kira strateginya. Tentu saja tidak perlu kita pertentangkan antara uang dipakai untuk modal bisnis atau beli rumah. Keduanya perlu. Namun yang jelas, suatu ketika memang setiap keluarga akan perlu membeli rumah. Efek psikologis dengan punya rumah sendiri akan memberikan ketentraman luar biasa bagi sang suami maupun istri yang penting bagi keharmonisan keluarga.
Perlu ditekankan bahwa RUMAH PERTAMA TIDAK HARUS DITEMPATI SENDIRI. Kesalahan yang umum terjadi adalah pikiran bahwa rumah pertama tersebut kemudian akan mengunci aktivitas kita karena harus kita tempati sendiri. Terkadang lokasi rumah pertama ini sangat tidak favorit. Jauh dari tempat kerja, kendaraan sulit, lingkungan belum berkembang. Kita tidak perlu terjebak pikiran bahwa harus tinggal di rumah yang kita beli itu. Kita bisa membeli sebuah rumah, lalu menyewakannya secara murah kepada orang lain, dan kemudian kita tinggal di kontrakan yang dekat dengan tempat kerja. Solusi seperti ini seringkali jauh lebih ekonomis daripada tinggal di rumah sendiri. ”Lalu buat apa dong beli rumah kalau tidak ditempati?” mungkin terlintas pikiran seperti itu. Fungsi utama rumah pertama tersebut adalah ’benteng terakhir ketika semua rencana mengalami kegagalan’. Dia itu ibarat rencana terburuk/darurat (contingency plan), yang tidak harus kita pakai sekarang. Andai suatu ketika semua rencana gagal, kita punya tempat untuk kembali pulang. Tujuan utama membeli rumah pertama adalah meraih ketentraman psikologis.
RISHA
”Beli buku ini Mas, siapa tahu bermanfaat,” kata istri saya sambil menyodorkan buku berjudul Membangun RISHA tulisan Arief Sabaruddin yang diterbitkan Griya Kreasi. Buku seharga Rp 37.000,- itu bercerita tentang RISHA, Rumah Instan Sederhana Sehat.
Satu minggu sebelum musibah tsunami di Aceh, tepatnya 20 Desember 2004, Departemen Pekerjaan Umum beserta Kementrian Negara Perumahan Rakyat telah meluncurkan produk RISHA. Ini adalah rumah jenis ’knock-down’ yang bisa dirakit hanya dalam 1 hari dan bisa dirakit hanya oleh 3 orang saja. Alhamdulillah, RISHA ini telah banyak menolong pembangunan kembali rumah di Aceh yang hancur akibat tsunami.
Konsep rumah seperti RISHA ini sebenarnya sudah lama populer di luar negeri, namun tentu saja tidak dirancang untuk situasi di Indonesia yang berdaya beli rendah. Konsep RISHA persis seperti mainan LEGO, walaupun terdiri atas beberapa komponen yang seragam namun bisa disusun menjadi berbagai bentuk kreasi. Komponen yang digunakan dalam sistem Risha relatif ringan. Komponen struktural Panel 1 berukuran 1,20 x 30 sentimeter dan memiliki berat kurang dari 50 kilogram. Rumah RISHA ini juga bisa dibangun secara horizontal maupun vertikal. Konsep rumah siap pasang ini sekarang makin populer.
Yang menarik perhatian dari RISHA adalah harganya.
”Cuma 14 juta untuk tipe 21,” kata istri saya.
”Ah, masa?” sahut saya takjub. Di tengah biaya membangun rumah yang mencapai Rp 1 juta /m2, tentunya biaya RISHA ini cukup hemat. (Yang benar ternyata cuma 10,5 juta untuk tipe 21 di Bandung. Artinya hanya sekitar 500 ribu/m2)
Kalkulasi sementara dalam benak saya, dengan membeli lahan 60 m2 senilai 12 juta, maka total biaya sekitar 22,5 juta untuk sebuah rumah pertama. (Kalau tanahnya beli rame-rame di kampung, mungkin bisa lebih murah lagi.)
RISHA juga membuka peluang usaha baru di daerah. Komponen RISHA ringan dan dapat diproduksi oleh masyarakat dalam bentuk industri rumah dan UKM (haloo Pak Agus Syarif Jambi, mungkin ini bisa menjadi proyek UKM pemberdayaan masyarakat baru…). Untuk komponen struktur memakai beton bertulang yang dicetak di atas cetakan baja. “Pembuatan cetak baja relatif mudah dengan menggunakan baja profil kanal 10,” ujar Arief Sabaruddin, peneliti muda dari Puslitbang Permukiman DPU.
Saya ingat Muhammad Yunus dari Grameen Bank, Bangladesh. Tokoh peraih Nobel Perdamaian 2006 ini mengingatkan kita bahwa bantuan 300 dolar saja (dengan pengembalian 10 tahun!) sudah bisa memberikan rumah bagi masyarakat miskin. Dengan memiliki rumah itu pemiliknya menjadi lebih sehat secara mental, lebih produktif, dan terbukti dari yang dialami Grameen, modal pinjaman itu bisa kembali lancar. Yah, terkadang kita lupa bahwa 1000 rupiah di tangan kita yang dipakai untuk pipis di toilet, bisa menjadi menu bergizi sayur dan ikan bagi sebuah keluarga tak punya.
Google : RISHA rumah
Google : Grameen 300 dollar house
Daftar kerjasama PU dengan Produsen RISHA
Produsen RISHA di Bandung : PT Puri Panindo Utama. Jl. Buah Batu 144 Bandung, telp 022-7318600 , 081809080600
Mitra swasta dengan cabang nasional : PT Amarta Karya







Rumahku sorgaku
Comment by semar — April 12, 2007 @ 2:59 am
halo pak….salam untuk keluarga…artikel ini mengingatkan saya pada istri dan anak-anak tercinta di lampung…katanya : “kalo kita punya rumah……”.thx to you my best friend, wish u remember me…
Comment by welly syarif — April 13, 2007 @ 8:10 am
ass.salam jumpa lagi .mas saya agak bingung saya antara menabung untuk berbisnis atau beli rumah.soalnya selama ini saya dan istri menempati rumah nenek yang belum jelas pewarisnya .apa menurut mas khairul saya harus nabung untuk beli rumah apa berbisnis soalnya kalau kedua-duanya rasanya berat.oh ya cucu -cucu nenek tidak ada yang tinggal di kota kami.dan kalo tidak saya tempati rumah tsb kosong
terima kasih dan semoga tidak bosan dengan pertanyaan -pertanyaan saya
Comment by ispriyoto — April 14, 2007 @ 4:40 pm
hmm emnarik juga, kebetulan saya juga masih ngontrak, skrng belum ada rencana untuk membeli rumah, mungkin nanti kalo sudah naik gaji sehingga bisa nabung
Comment by adit — April 18, 2007 @ 8:02 am
Saya nggak tau dosen saya ternyata canggih… tau gini harusnya semester kemaren saya tanya-tanyain dulu biar ga pusing tugas akhir kaya sekarang…
Comment by Maji — September 23, 2007 @ 1:05 pm
Trim’s banyak pak , secara tak sengaja saya masuk ke sepia tp krn penasaran saya ikuti .tak terasa mata ini meneteskan air mata.jatuh bangunya hidup keluargaku karena kurangnya keimanan,dan ketentraman keluarga karena tiap th harus bingung cari uang kontrakan rumah.dulu pernah mengalami masa yg lumayan baik tp belum terpikirkan u/ beli rumah ,sekarang ekonomi agak susah hidup ini terasa membebani sekali.padahal segalapekerjaan saya jalani tp ya itu nilainya belum bisa tinggi. tentunya pekerjaan yang halal bahkan sampai kersa siang dan malam di tempat berbeda .cuman satu yang belum istiqomah dalam berdo’a.mohon dorongan moril agar kami bisa hidup lebih baik.trims mohon di kasih input via e mail kami.
Comment by agus priyanto — October 29, 2007 @ 3:29 am
pak chairul, kebetulan suami saya ingin sekali mbuat rumah RISHA. tahu dari buku arief sabarudin jg. tapi masih penasaran, bener g sih pilihan kita. dibuku tsb ada rumah contoh dibandung, tapi kok g ada alamatnya. bisa bantu??
apa boleh saya lihat interior rumah bapak….
thanks alot
tia
Comment by tia — May 9, 2008 @ 10:34 am
salam bu Tia. rumah saya bukan RISHA. namun ada istri teman saya adalah arsitek yang mendalami desain berbasis RISHA. dia pernah melihat contoh di Arcamanik. dia juga membuat beberapa desain RISHA. coba kontak melalui suaminya (teman saya) pak Ivan di: nexia_boy [a t] yahoo.com (ganti [at] dengan @). demikian bu Tia.
Comment by khairulu — May 9, 2008 @ 11:26 pm
trima kasih infonya pak chairul…masih terus search arsiteknya nih.
Comment by tia — May 16, 2008 @ 5:05 pm
Saya ingin berwirausaha membuat bahan2 rumah risha apakah ada friendcise nya, atau dengan siapa saya bisa bekerja sama dan belajar.
Comment by Andi Baqir — September 17, 2008 @ 1:45 pm
gimana saya bisa beli/mendapatkan komponen rumah risha ?
Comment by titien — October 18, 2008 @ 6:25 am
Good ideas…..
Ada juga Rumah-Knockdown buataan Urang Diri Palembang.
Salam
Comment by Zuhadi — June 10, 2009 @ 5:28 am
kalo saya mau pesan design+jasa bangunan rumah risha untuk kawasan surabaya dimana pak?cepat ya pak
Comment by farida — November 3, 2009 @ 7:38 am