Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Mind Mapping : cara mudah memakai otakMengatasi Rasa Takut »

March 26, 2007

The Long Tail : ketika yang tersisih dapat ditemukan

Filed under: Kecerdasan Power, Kiat

longtailAnda penulis blog? Tentu sudah tahu bahwa blog Anda mungkin hanya Anda sendiri yang mengunjungi. Sekitar 100 ribu blog muncul setiap harinya, dan hanya sedikit yang menjadi blog favorit. Apakah dengan statistik seperti itu Anda menjadi patah semangat? Saya sih, tidak. Karena menulis di blog bukan sekedar agar dibaca orang lain, tapi juga latihan terus-menerus untuk menuangkan gagasan secara sistematis, menyebarkan manfaat ilmu, dan juga sebagai catatan pribadi yang suatu ketika mungkin perlu diakses kembali dengan mudah (dan itu sering terjadi pada saya, misalnya saat kembali melacak situs-situs tentang hak paten yang pernah saya tulis di blog).

Kabar baiknya, suatu ketika nanti blog Anda mungkin akan ditemukan. Terimakasih kepada demokratisasi internet dan kepiawaian ‘Om Google’ yang membantu banyak orang menemukan apa yang diinginkannya.

Tahukah Anda bahwa di Amerika saja setiap tahun dibuat sekitar 13.000 judul film baru? Namun hanya 100 film saja yang mencetak box office dengan pendapatan lumayan di atas 10 ribu dolar (100 juta rupiah, sebuah angka menyedihkan bagi pendapatan film bioskop), lalu pendapatan menukik tajam mendekati nol untuk peringkat sekitar 500 ( kabarnya di tahun 2005 lalu, film yang di peringkat paling bontot ini hanya berpendapatan 423 dolar, alias 4 juta rupiah saja!). Bagaimana nasib 12.500 film lainnya tahun itu? Tidak jelas. Mungkin ditonton rame-rame dengan tetangga saja penciptanya sudah senang. Dan itu baru di Amerika saja.

Mengapa kebanyakan film gagal edar? Sama sekali bukan karena mutunya (terkadang mutunya sangat bagus, sayang lolos dari pengamatan distributor, atau dinilai tidak sesuai selera pasar. Anda tahu kan film ”Opera Jawa” karya Garin Nugroho yang sukses meraih berbagai penghargaan internasional? Apakah lebih menguntungkan dibandingkan film hantu-hantuan macam Hantu Jeruk Purut, dll?). Sama seperti halnya puluhan ribu lagu yang gagal edar setiap tahunnya, itu dikarenakan film tersebut tidak berhasil masuk mayor label. Film yang gagal edar itu tidak masuk hitungan karena bioskop tidak mampu menampungnya. Dari 13.000 film itu jelas bioskop hanya memilih film yang dana iklannya besar (dan biasanya ini dari studio-studio besar). Ngapain ngurus yang kecil-kecil?

Nasib penulis buku sama saja. Kalau tidak diterbitkan penerbit besar seperti Gramedia atau Mizan, maka mungkin buku Anda menjadi buku yang tersingkirkan di pojok toko. Tentu saja buku SEPIA juga mengalami hal itu. Pertama terbit tahun 2003, buku yang berjudul Kecerdasan Milyuner itu (judulnya sengaja heboh, dan sebenarnya masih sesuai dengan isinya) berhasil masuk best seller (kalau tidak salah itu berarti terjual 100 buku dalam sebulan, target yang sebenarnya tidak banyak. Berarti yang tidak best seller terjual lebih menyedihkan dari itu ya?). Resensinya juga sempat muncul di koran Republika. Lalu bukunya hilang dari pasar (belum dicetak lagi). Kemudian ketika dicetak lagi hampir dua tahun kemudian, buku tersebut tidak bisa ditaruh sebagai buku baru. Walhasil hanya ditaruh di rak buku Psikologi saja. Ya, pangsa pasarnya langsung menciut ke segmen penyuka psikologi populer yang jauh lebih sedikit. Kenapa tidak bisa masuk daftar buku baru? Karena meja taruh buku baru Gramedia sangat terbatas! Pengalaman yang sama dialami Pak Agus Nggermanto, bukunya yang berjudul Quantum Quotient sudah terjual sekitar 17 ribu buku. Namun sekarang sulit didapatkan. Kenapa? Penerbitnya belum mencetak lagi. Mungkin prioritasnya sudah pindah ke topik-topik buku lain, sehingga buku Quantum Quotient itu belum bisa dicetak kembali. Buku bagus belum tentu laku. Buku yang tidak best seller belum tentu buruk (terkadang lebih bagus daripada yang best seller). Semata-mata itu karena ada kondisi yang membatasi. Dana penerbit, kepiawaian distributor, meja taruh buku baru, dan tentu saja belanja iklan untuk mengiklankan buku tersebut (buku ESQ dari Pak Ary Ginanjar, Financial Revolution nya Tung Desem, dan juga Change!-nya Rhenald Kasali adalah contoh buku dengan modal iklan yang besar di koran nasional).

Ekonomi Long Tail

Namun ekonomi sedang berubah. Saat ini sekitar 25 persen buku yang terjual di Amazon.com adalah buku-buku yang dulu tersisihkan, yang tidak tersedia di toko buku offline. Itu karena Amazon.com punya koleksi hingga hampir 4 juta buku, jauh lebih banyak dibandingkan stok toko buku yang hanya 100 ribu judul. Netflix yang menyewakan DVD, berhasil menjual produk yang tidak laku di toko Blockbuster. Netflix punya stok 55 ribu judul, dibandingkan hanya 3000 judul yang laku di Blockbuster. Banyak film-film kuno yang tak ada di toko, ternyata masih bisa terjual (hal yang sama dengan buku-buku judul lama yang terjual di Amazon). Mengapa bisa demikian? Karena 2 hal : barang tersebut ditawarkan, dan barang tersebut bisa ditemukan dengan search engine! Mengapa buku Quantum Quotient tidak ada yang beli saat ini? Karena memang tidak ditawarkan (alias belum juga dicetak penerbit karena banyak sebab). Andaipun sekarang masih tersedia, bagaimana Anda menemukannya di belantara puluhan ribu judul di toko buku? Tapi, adakah pasar buat buku ini? Ada! Nyatanya buku itu banyak mencerahkan orang, karena beberapa kali saya menemukan orang yang tahu dan terkesan dengan buku tersebut. (Sebagai catatan tambahan, buku itu dulu ditolak sebuah penerbit besar, lalu diterbitkan penerbit baru, dan ternyata menjadi best seller)

The Long Tail adalah buku yang menceritakan munculnya era baru penjualan. Mereka yang dulu tersisih (karena tidak dipilih penerbit besar), sekarang bisa ditemukan lewat jalur distribusi baru : internet. Cobalah cari buku apapun di Amazon.com (asalkan berbahasa Inggris), maka akan Anda temukan banyak judul yang tidak tersedia di toko. Stok Amazon.com sekitar 40 kali lipat toko biasa. Ada yang beli? Kenyataannya ada. Banyak orang dengan selera khusus ingin mendapatkan judul tertentu yang mungkin sedang tidak menjadi selera pasar (dan akibatnya tidak ada penerbit yang mencetaknya). Orang tersebut bisa menemukannya di internet.

Buku The Long Tail tulisan Chris Anderson bukan menulis bagaimana caranya agar yang tersisih bisa ditemukan, tapi bicara tentang fenomena produk-produk yang tidak terkenal yang ternyata ada pembelinya. Anda tahu YouTube.com yang terkenal karena menjadi tempat bertemu pembuat video amatir dengan penggemar yang beragam? Atau juga fenomena blog ini, yang hadir dengan berbagai macam tulisan dan punya pembacanya masing-masing? Trend ini akan semakin menguat di masa mendatang. Nantinya, buku best seller akan disaingi oleh komentar-komentar online, tautan hyperlink, dan hasil search engine Google maupun Technorati.

Bagaimana dengan Anda? Kalau Anda adalah penulis buku (yang tentu saja yakin buku Anda bagus), kini saatnya mempublikasikan di internet. Pengalaman kami sendiri, ada seorang pembaca dari Pontianak yang pernah mendapat buku dari seorang teman, lalu buku itu ’lenyap’ setelah dipinjamkan ke teman lainnya (alias lupa dikembalikan). Syukurlah, katanya, dia menemukan lagi cara membeli buku SEPIA ini melalui internet. Ternyata lebih mudah mencarinya lagi di internet, karena cari buku cetaknya di Gramedia Jakarta saja belum tentu Anda mendapatkannya di antara ribuan judul buku. (Melalui internet ini pula kami mendapatkan banyak rekan baru dari seluruh pelosok Indonesia, juga dunia. )

Bagaimana kalau Anda pencipta lagu? Publish di internet. Bagaimana kalau pembuat mainan kayu? Publish juga di internet.

Tahukah Anda bahwa pengakses internet di Indonesia saat ini sekarang sekitar 20 juta orang? Kondisi ini sama dengan Amerika tahun 1994 saat pertama kali Amazon.com dan Yahoo.com mulai berdiri. Kita tahu, beberapa tahun kemudian peluang bisnis di internet meningkat tajam berkali-kali lipat.

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

8 Comments »

    Gravatar Image
  1. Benar mas. Saya mendapatkan buku SEPIA juga dari internet. Namun disayangkan di Indonesia tidak ada toko buku on line (model amazon), padahal Gramedia dan Gunung Agung tidak ada disetiap tempat, untuk kami di daerah toko buku online sangat diperlukan.

    Comment by semar162 — March 28, 2007 @ 1:46 am

  2. Gravatar Image
  3. mungkin inilah yg dinamakan nieche(ceruk) pasar.saya juga setuju bhw jika ingin menulis,LAKUKAN SAJA!gak peduli ada yg membaca atau tidak.yang penting tulisan kita bisa memotivasi diri sendiri karena sesuai denga kepribadian kita.mungkin saja ada orng lain yag mirip dengan kepribadian kita dan terinspirasi karenanya,alhamdulillah.mungkin saja ada penerbit yang tertarik.mungkin saja tulisan kita bisa membatalkan orang yang berniat bunuh diri,atau cerai.terlalu banyak mungkin,ya?yap.bukankah didunia ini penuh dengan segala kemungkinan?

    Comment by ahmad — April 2, 2007 @ 3:15 pm

  4. Gravatar Image
  5. sepakat dengan bang Ahmad… saya juga lagi belajar nih… saya juga pengen seperti bung Khaerul dengan situs sepia yang banyak penggemarnya. salah satunya saya he he he… doain saya ya… : )

    Comment by dwee_imut — April 3, 2007 @ 1:19 am

  6. Gravatar Image
  7. tapi nggak harus jualan buku aja khan..???

    Comment by dhany — April 5, 2007 @ 8:17 am

  8. Gravatar Image
  9. saya stuju bnget dgn pendapat mas.kdg2 bku yg ga best seller ternyta lbh baik isiny drpd yg best seller.cayooo buat org2 pencinta buku

    Comment by dyah — June 25, 2007 @ 3:54 am

  10. Gravatar Image
  11. Alhamdulila saya ucapkan, saya senang banget dengan sepiua ini buat saya tambah banyak tahu…..

    Comment by nurul bariyah — August 23, 2007 @ 1:46 am

  12. Gravatar Image
  13. hallo, mas tulisannya bagus banget, aq suka…!!! tp mas harus punya sebuah tempat penerapan yang tepat juga kan mas? jd aq punya tawaran buat mas, aq yakin ini cocok sekali dengan mas, bisnis + uang + pendidikan, hub 085 215 444 474

    Comment by SUARDI — December 31, 2007 @ 7:48 am

  14. Gravatar Image
  15. keren bgt!!
    tp muw sedikit tanya dong, klo contoh kasusnya seperti Musik indie yang belum merger(masuk mayor label)tu gmn? Sedangkan musik indie yang sekalipun sukses, belum tentu bisa didenger oleh seluruh orang awam(yang terbatas pada jenis musik umum saja. Itulah terkadang yg membuat para musisi indie memaksa untuk merger, akan tetapi tidak semuanya diterima. bisa anda gambarkan, seandainya suksespun sebuah group band/musisi indie, apakah mungkin bisa disejajarkan dengan musik2 yg sudah merger.
    makasih banyak ya mas!!

    Comment by herlyn — May 6, 2008 @ 3:39 pm

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/08/07/faktor-keberuntungan/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here