Seni berkeluh kesah
Pernah merasa jengkel dengan keluh-kesah seorang teman? Ya, beberapa orang teman punya kecenderungan sering berkeluh kesah tentang berbagai hal. Rasanya hidup ini jauh dari indah.
Kalau Anda penggemar film kartun SpongeBob SquarePants, tentu Anda mengenal betul karakter Squidward yang selalu merasa muram. Ketika nonton kartun tersebut boleh jadi kita menertawakan perilaku Squidward. Nah, jangan-jangan kita pun secara tak sadar berperilaku seperti dia. Kapan itu? Ya, kalau kita punya hobi berkeluh-kesah.
Berkeluh-kesah itu penting bagi kesehatan mental seseorang. Itu ibarat lubang angin dari sebuah kamar yang sumpek tertutup rapat karena jendelanya macet tidak bisa dibuka. Dengan lubang angin itu tentu ada sedikit kelegaan, walau tentu saja bukan merupakan solusi final.
Namun tahukah Anda bahwa tidak seorang pun di dunia ini yang menyukai keluh-kesah Anda, kecuali diri Anda sendiri? Mendengarkan keluh-kesah adalah sebuah perjuangan berat bagi kebanyakan orang. Itu dikarenakan melalui keluh-kesah sebenarnya seseorang menularkan energi negatif kepada orang lain. Mendengarkan keluh-kesah, dan juga asyik menimpalinya, sebenarnya membuat ‘mood’ seseorang ikut menjadi negatif. Kalau berkeluh-kesah itu ibarat –maaf- buang angin yang bisa melegakan perut mules, maka mendengarkan keluh-kesah ibarat mendapat hadiah ‘buang angin’ tersebut. Kalau sedikit sih, nggak apa-apa. Kalau banyak? Kitanya yang jadi sakit perut.
Menyadari bahwa sebenarnya tidak ada orang lain yang menyukai keluh-kesah, saya belajar untuk mengurangi berkeluh-kesah. Alasannya sederhana, biasanya orang yang kita keluh-kesahi itu sebenarnya tidak banyak bisa membantu. Paling-paling dia ikut mengiyakan.
Lalu bagaimana kiat berkeluh kesah yang benar? Ada prinsip sederhana yang selalu saya ingat :
Kita ‘berkeluh-kesah’ hanya kepada Tuhan.
Kita cukup ‘bercerita’ kepada manusia lain, sebagai bagian mencari wujud pertolongan Tuhan.
Contoh berkeluh kesah : “Tuhan, mengapa aku belum juga mendapat jodoh, mengapa hidupku masih susah padahal aku bekerja keras, mengapa temanku mengkhianati aku, mengapa aku sakit, mengapa aku tidak juga naik karirnya, mengapa hutangku banyak dan tidak juga lunas, mengapa rumahku kebanjiran, mengapa wajahku tidak cantik, mengapa aku bukan anak orang kaya, …dsb.” Semua uneg-uneg dalam hati ini sah-sah saja, bahkan benar, untuk ditumpahkan langsung kepada Tuhan (dan salah kalau dikeluhkan kepada manusia). Tumpahkan semua emosi saat berkeluh-kesah. Adukanlah semua masalah kehidupan yang menyesakkan dada. Menangislah. Mudah-mudahan dengan mengadu itu hati menjadi lebih lega.
Contoh bercerita : “Aku punya masalah nih, hutangku kepada si Anu tidak juga lunas. Sebaiknya apa tindakan yang perlu kuambil?” Dalam hal ini kita tidak berkeluh-kesah, tapi hanya bercerita sebagai bagian pengantar mencari solusi. Ketika kita sudah mengadu kepada Tuhan, ketika sudah kita tumpahkan segala kekecewaan, kebencian, kemarahan, dan kesedihan kepada Tuhan, maka kita bisa bercerita kepada manusia lain dengan emosi yang lebih terkendali.
Persoalan kehidupan ini banyak yang sulit. Siapakah yang tak akan bosan mendengarkan keluhan kita? Ya tentu saja Tuhan. Siapakah yang sesungguhnya punya solusi atas masalah kita yang rumit dan menyesakkan itu? Ya tentu saja Allah, Tuhan kita.
Lalu bagaimana Allah akan menolong? Jalan yang paling sering adalah melalui kesempatan yang terbuka dan pertolongan manusia lain. Jadi, ketika kita ‘berkeluh-kesah’ kepada orang lain, carilah orang yang kira-kira memang bisa membantu. Hindari berkeluh-kesah ke semua orang karena biasanya lebih banyak ruginya dibandingkan untungnya. Berkeluh-kesah kepada sembarang orang seringkali berakhir dengan kehinaan diri sendiri karena aib yeng terbuka kepada banyak orang.
Bila kita menyadari bahwa ‘berkeluh-kesah’ ke orang lain hanya ditujukan untuk mencari solusi, maka tentu kita akan pilih-pilih kepada siapa kita akan menceritakan persoalan kita. Tentu saja hanya kepada orang-orang yang kita yakini akan menjaga nama baik kita, dan berpotensi memberikan bantuan yang kita butuhkan (sebagai wujud pertolongan yang kita pinta dari Tuhan). Itupun kita sampaikan dalam bentuk ‘bercerita’ bukan berkeluh-kesah.
Jika kita membatasi diri cukup ‘bercerita’ saja kepada manusia, dan senantiasa mengadu hanya kepada Tuhan, maka insya Allah akan terpelihara kemuliaan diri ini dari kehinaan dalam pandangan manusia.







Apa guna keluh-kesah…?
Apa guna keluh kesah…?
Pramuka tak pernah bersusah.
Apa guna keluh kesah…?
Comment by Danu — March 9, 2007 @ 6:36 am
mas, minta emailnya ya
langsung di direct ke emailku aj
trims
Comment by A. Purnomo — March 9, 2007 @ 10:58 pm
Allah tidak akan menurunkan cobaan diluar kemampuan hambanya, berarti SELALU ADA JALAN KELUAR selama kita tetap tawakal dan terus berusaha.
Comment by Diva — March 9, 2007 @ 11:34 pm
buat apa keluh kesah, keluh kesah tiada gunanya , lebih baik ikhlas dan sabar … Allah Maha Tahu mana yg baik buat mahlukNYA … ( insya allah saya bisa menjalaninya )
Comment by bowie — March 14, 2007 @ 12:28 pm
iya tuh
saya jd nget
istrinya Aa Gyn tu kalo curhat ma Ar Rochman
enakan gitu
kian deket, dikasih pahala, syukur2 diberi jalan keluar
kurang apalagi hayo
emang bener
sebel dnger orang suka mgerutu
tapi bagiku itu adalah cobaan..hehhhehe
belajar lebih banyak mendengar daripada bicara
itu mngapa kita dikasih 2 telinga dan 1 mulut
stuju?
Comment by A.Purnomo — March 19, 2007 @ 6:04 pm
buat apa susah..
buat apa keluh kesah…
susah itu tak ada gunanya
Comment by MIZoners — March 25, 2007 @ 2:56 am
aku gak ngerti ma yang kamu bilang, soal menceritakan ke orang lain sebagai salah satu wujud pencarian dari pertolongan tuhan. dan aku juga gak ngerti kenapa kita harus berkeluh kesa. kenapa kita gak mencoba mensyukuri semua yang uda tuhan kasi ke kita meski itu penderitaan sekalipun. bukannya berkeluh kesa tambah membebani fikiran kita. kita menjadiin diri kita untuk pantes berkeluh kesa. padahal hal itu akan membuat diri kita semakin terpuruk. tidak ada hal yang diciptakan tuhan didunia ini yang tidak bermanfaat. emang adakalanya orang merasa rapuh akan apa yang dia hadapi, tapi bukan harus jadiin diri mereka terpuruk bersama masalanya kan? kalau kita menganggap bercerita ke orang lain adalah suatu perwujudan pertolongan tuhan. berarti tanpa tidak sadar kita mengajari diri kita buat tergantung ke orang lain. trus apa gunanya kita punya teori banyak soal hidup, kalau dalam hidup kita sendiri aja kita bergantung ke orang lain. kasi balasan ke e-mail yaaa… skalian shering cari ilmu kan enak.
Comment by ria — March 30, 2007 @ 12:01 pm
Saya googling mania baru ketemu situs ini ketika cari ldii di google. Bisa berbagi cerita riwayat&hubungan dengan ldii soalnya situs mas banyak artikel jadi darimana sy mulai -maklum umur 40 an agak gaptek. Trus gmana bisa gabung biar “untung menguntungkan” Smoga Alloh paring barokah
Comment by Ajat Rukajat — April 2, 2007 @ 9:19 am
Dari pada berkeluh kesah kepada orang lain mending keluarin aja tuh unek-unek dalam bentuk tulisan.
Comment by Zaini — April 7, 2007 @ 6:23 pm
Mengenai Tuhan……….
Tuhan adalah zat yang jangan disebut-diingat untuk masa sekarang dan akan datang…Tuhan itu ada…titik….tidak ada koma…Kalau Maha Kuasa Dajjal boleh kau sebut-sebut…untuk menenangkan hatimu….
Comment by nanno — April 12, 2007 @ 10:37 am
“Tahukah Anda bahwa tidak seorang pun di dunia ini yang menyukai keluh-kesah Anda, kecuali diri Anda sendiri? Mendengarkan keluh-kesah adalah sebuah perjuangan berat bagi kebanyakan orang.”
Saya mungkin termasuk dalam tipe ini! mas.., mungkin ada solusi bg sy agar keluh kesah orang di sekitar sy tidak membebani sy (tertular energi negatifnya)karena sy sangat sering mendengarkan keluh kesah meskipun keluh kesah itu tidak ditujukan kepada sy. thanks
Comment by lif — April 17, 2007 @ 4:06 am
keluhkesah mungkin karena streesss awalnya,,
tak masalah sekarang banyak tips dan rahasia yg bisa anda dapatkan di
www.rahasia.net.tc
Comment by diana — April 28, 2007 @ 3:51 am
Keluh kesah merupakan kata yang sering kita dengar ketika kita mengalami kegagalan kehilangan dan ketakutan. Apakah keluh kesah ini dapat menyelesaikan permasalahan, ya tentu tidak bukan!jadi buat apa kita berkeluh kesah apa lagi menceritakan kepada orang lain. Meminta tolong sih boleh-boleh saja tetapi kalau keluh kesah di sikapi dengan sikap yang pasif apa artinya tentu semau itu tidak akan menolong kita walaupun sedikit. Jadi kepada siapa kita seharusnya kita meminta tolong. Ya tentu saja kepada Allah swt.
Coba perhatikan orang-orang yang lebih menderita dari pada kita, itu akan membuat hati kita akan terbuka. karena yang di uji bukan Cuma kita tetapi banyak orang yang kurang beruntung dari kita, jadi kalau ada suatu masalah menimpa kita seharusnya kita banyak bersabar karena bersabar adalah cara membuat hati kita menjadi lebih tenang dan lapang. Minta tolonglah kepada tuhan YME. Mungkin di balik permasalah yang kita hadapi ada sesuatu kebaikan yang akan datang belakangan
Comment by zulkifli — May 5, 2007 @ 10:49 am
makasih byk, mas..
saya bisa byk belajar di sini
Comment by eNPe — July 10, 2007 @ 4:03 am
Taruh kertas dan pulpen di deket kita, kalau suntuk coretin di atasnya semaunya, sesudah itu simpan atau dibuang terserah, keluhan kita dijamin bisa lebih terkontrol. Kata blog jg sih tp udah tak coba ada benernya
Comment by 2 mei — July 31, 2007 @ 3:28 pm
saya juga punya temen yang hampir tiap hari berkeluh kesah ke saya, kalo sekali2 sih saya bisa bersimpati, dan mau mendengarkan dengan baik, tapi kalo keseringan jadi pengen KABUUURR………:D
Comment by nawi — August 30, 2007 @ 7:12 am
Berkeluh kesah dan kikir adalah suatu sifat yang memang ada pada manusia, begitulah kata Allah……
dan buat mbak Ria, keluh kesah adalah bukti kelemahan kita namun demikian bukan berarti kita harus selalau berkeluh kesah, Allah mengerti akan hal itu dan Ia juga menyarankan untuk berdoa, nah doa itulah bukti bahwa kita lemah dihadapan-Nya disitulah kita mulai berkomunikasi dan menyampaikan keluh kesah kita tentunya dengan TIDAK menghujat/marah/membenci pada Allah seperti yang telah dicontohkan dalam contoh keluh kesah kepada tuhan diartikel atas tadi, namun dengan merendah dan penuh harap.
baru pada bentuk nyata keinginan kita untuk bisa terlepas dari permasalahan hidup adalah dengan hablum minannas (hubungan dengan manusia) seperti tadi dengan sharing untuk bisa diajak menemukan solusi dari permasalahan kita yang notabene sulit untuk dipecahkan sendiri -mahluk sosial- hal seperti ini bukan disebut sebagai menggantungkan hidup pada orang lain, karena menggantungkan hidup pada orang lain adalah ketika kita enggan berusaha dan hanya mau meminta sesuatu dari orang lain (tinggal terima enaknya), begitu kira-kira
wallahu a’lam
Comment by islah — May 2, 2008 @ 1:59 am
Aq ne punya tmen yang suka banget berkeluh kesah…. Aq sbenernya udah bosen bangt denger nya, tp mau gmana? sbenernya aq kasian bagt ma dia… Aq ngarasa udh banyak bantu dia, tp tetep ja dia berkeluh kesahnya sama Aq… Aq bingung banget mas ngadepinnya, smentara dia itu temen q… maaf ya mas, aq udh berkeluh kesah jg neh…
Comment by noviria saputra — August 14, 2008 @ 5:18 pm