Nganggur, kerja, ibadah, sama capeknya
Orang itu masih duduk di tempat yang sama, duduk di taman rumput pinggir jalan, memakai topi, dan tidak melakukan apapun kecuali sekedar duduk-duduk saja. Begitulah yang kulihat ketika berangkat kerja di pagi hari, demikian pula yang kulihat ketika pulang di sore hari. Orang itu masih duduk di tempat sama, dan tidak melakukan apa-apa.
Kemudian terpikir dalam benak ini, apakah saya lebih capek hari itu dibandingkan dia? Rasanya tidak juga. Sepertinya dia juga mengalami kelelahan, mungkin kelelahan mental. Tampaknya duduk bengong seharian akan sama capeknya dengan bekerja seharian.
Pekerjaan saya sekarang ini memberikan keleluasaan dalam mengatur waktu kerja. Tidak leluasa amat, tapi boleh datang agak lambat atau pulang agak cepat. Terkadang saya sengaja tidak pergi ke kantor dan memilih bekerja di rumah, apakah itu menulis, mengoreksi ujian, membaca, dan kadang pula istirahat karena sebelumnya pergi ke luar kota. Yang saya rasakan, tidur melulu sepanjang hari, lalu berusaha tidak melakukan apapun, hanya nonton TV misalnya, betul-betul keiatan yang membosankan dan melelahkan pikiran. Rasanya diri ini tak berharga, tak menghasilkan apa-apa, dan hanya membuang waktu seharian (sementara umur kita makin pendek). Useless. Perasaan tak berharga itu sungguh melelahkan.
Jadi saya tahu bahwa nganggur itu tidak enak, membosankan, melelahkan. Sama capeknya dengan orang bekerja. Karena itu bila Anda sekarang memiliki pekerjaan, bercapek-capek pergi dari rumah ke kantor, berimpitan di KRL (Kereta Rel Listrik) maupun bis umum, terpaksa lari menghindari hujan maupun berkeringat di terik matahari, dan masih ditambah menghadapi bos yang kurang menyenangkan, maka BERGEMBIRALAH bahwa Anda punya pekerjaan dan tidak nganggur. Nganggur itu tidak enak.
Saya terkadang bilang ke mahasiswa saya, “Tahu tidak bahwa kuliah itu berat, namun tidak kuliah itu lebih berat!” Ya, nganggur, apalagi dengan ketidakpastian dan kecilnya peluang masa depan, merupakan kegiatan yang berat, lebih berat daripada mengerjakan tugas kuliah dan ujian.
Nganggur dan bekerja itu sama capeknya.
Bekerja dan ibadah
Bekerja dan ibdah pun sama capeknya. Siapa bilang ibadah itu lebih capek?
Rekan saya dari New York suatu ketika pergi ke Indonesia untuk membentuk tim programmer buat bisnisnya di Amerika. Dia percaya tenaga Indonesia itu handal dan berkualitas, sementara biaya memang relatif jauh lebih hemat dibandingkan di Amerika. Pekerjaan bisa dikirim lewat internet, karena kebetulan data yang dibutuhkan berbentuk digital. Ketika proses mewawancara para pelamar, dia memberikan pengantar yang menekankan perbedaan bekerja saja dengan bekerja sebagai ibadah. Dia adalah muallaf yang taat. Kira-kiranya begini terjemah bebasnya (dia ngomong dalam bahasa Inggris, dan kami manggut-manggut pura-pura ngerti), “Sekedar bekerja, dengan bekerja sebagai ibadah itu sama capeknya. Seorang programmer sibuk bekerja keras hingga malam, sampai hampir pecah kepalanya. Dan programnya mungkin juga tidak jalan. Programmer lain juga bekerja keras hingga malam, sampai hampir pecah kepalanya, namun dia berniat kerja sebagai ibadah. Hasilnya program mungkin juga tidak jalan, tapi dia mendapatkan pahala dari kerja kerasnya tersebut. Sama-sama kerja keras, sama-sama capek, tapi hasilnya berbeda.” Begitulah kira-kira yang dia sampaikan waktu itu, saya agak lupa persisnya, tapi kira-kira begitulah isinya.
Kerja dan ibadah itu sama capeknya. Tapi hasilnya beda, yang satu hanya duniawi (itupun sering luput), yang satunya plus ukhrowi mendapat hasil akhirat juga. Nah, bila Anda bekerja dengan tujuan plus ibadah, maka BERBAHAGIALAH. Anda sama capeknya dengan teman Anda sekedar bekerja, namun Anda mendapat pahala yang tidak akan didapatkan bila hanya sekedar bekerja.
Di manakah perbedaannya?
Lalu apa yang membedakan nganggur, kerja, dan ibadah, kalau akibatnya sama-sama capek?
Bedanya nganggur dengan kerja itu hanyalah MENAMBAHKAN TUJUAN PRODUKTIF dari apa yang kita lakukan. Bengong di pinggir jalan bila kemudian diberi tujuan untuk mengamati perilaku konsumen bisa bernilai kerja. Sama-sama duduk di pinggir jalan, namun karena ditambahkan tujuan produktif maka kegiatan itu menjadi bernilai.
Lalu apa bedanya bekerja dengan ibadah? Beribadah itu bukan hanya masalah shalat. Semua yang kita lakukan di dunia asalkan selaras dengan perintah Tuhan, maka kegiatan itu bisa bernilai ibadah. Yang perlu kita lakukan hanyalah MENAMBAHKAN NIAT IKHLAS dalam kerja kita itu. Apa itu ikhlas? Ikhlas itu artinya mengharapkan balasan sesuai kehendak Tuhan. Jadi kalau kita sudah usaha keras, bersungguh-sungguh, dengan niat baik, dan ridha/rela dengan apa pun hasilnya, itu sudah ikhlas. Kalau kita masih mengharapkan hasil sesuai mau kita sendiri, dan marah-marah kalau hasilnya tidak sesuai, berarti itu belum ikhlas. Tugas manusia itu menyempurnakan usaha, hasilnya sesuai dengan aturan Tuhan, kadang seperti yang kita perkirakan, sering pula beda jauh dari yang kita harapkan. Kalau kita rela dengan hasilnya maka kita ikhlas. Jadi, berusaha kerja sungguh-sungguh menyempurnakan usaha adalah bentuk ikhlas, karena motif kita bukan cuma uang gaji atau dari marah si Bos, tapi karena memberi kontribusi positif itu adalah sesuatu yang selaras dengan perintah Tuhan. Kita ikhlas dalam menempuh usaha untuk menjalani kehidupan. Kalau kita dihadapkan pada dilema mengambil barang haram atau meninggalkannya (dengan resiko kita kelaparan), lalu kita memilih meninggalkannya karena perintah Tuhan, ini juga bentuk ikhlas (karena yakin rizki itu dariNya). Kita ikhlas dengan kesempatan dan jalan rizki yang diberikan. Kalau hasil usaha kita tidak sesuai, maka kita rela dan niat akan berusaha lebih baik dan lebih cerdas untuk selanjutnya. Kita ikhlas dengan hasil kerja keras kita.
Jadi bedanya nganggur dengan kerja sangatlah tipis, yaitu sebuah tujuan produktif. Banyak orang tampak nganggur, namun dia sebenarnya sedang merancang sesuatu dalam pikirannya. Ini bekerja namanya. Sebaliknya banyak orang tampak sangat sibuk, namun sebenarnya hanya pelarian dan kamuflase saja. Ini pura-pura kerja namanya. Alva Edison, pendiri General Electric, bilang,
Being busy does not always mean real work. The object of all work is production or accomplishment and to either of these ends there must be forethought, system, planning, intelligence, and honest purpose, as well as perspiration. Seeming to do is not doing. (Edison)
Seeming to do is not doing. Tampak giat bukanlah kerja. Hanya ketika ada tujuan produktif dari kegiatan tersebut barulah disebut bekerja. Makanya kita sering jengkel dengan orang yang rajin masuk kantor hanya untuk duduk-duduk dan ngerumpi hingga sore. Sibuk tapi tidak bekerja.
Setipis itu pula bedanya bekerja dengan beribadah. Ketika kita menambahkan niat yang benar dalam kita bekerja, maka nilai pekerjaan itu menjadi berlipat ganda, dunia dan akhirat. Kalau begitu kita harus niat terus sepanjang waktu dong? Tidak juga, selama hari itu dimulai dengan Bismillah, dan kemudian yang kita lakukan sepanjang hari itu selaras dengan perintah Allah (tidak maksiat, tidak berbuat jahat, tidak menyakiti orang lain, tidak mengambil yang haram, dsb), maka keseluruhan kegiatan hari itu (termasuk mandi pagi, lari-lari mengejar bis, dll) menjadi ibadah bagi orang tersebut. Niat itu dimulai saat awal, lalu dijaga saja sepanjang hari, maka kerja menjadi ibadah.
Nganggur, kerja, ibadah, sama capeknya beda hasilnya. Nganggur tidak mendapatkan apapun, kerja mendapat hasil dunia, ibadah mendapat dunia akhirat.

PS: Ngeblog pun sama saja. Kalau ngeblog tanpa tujuan maka nilainya sama dengan pengangguran, kalau diberi tujuan yang produktif (berbagi ilmu misalnya, atau jualan) maka bernilai kerja, dan ketika ditambahkan niat tulus (membagi ilmu untuk menebar manfaat bukan sekedar mencari ketenaran diri, jujur tidak manipulatif, dll) maka dia menjadi ibadah. Baca blog pun sama saja. Kalau hanya iseng maka itu namanya pelarian pengangguran, kalau ditambahkan tujuan produktif (menambah ilmu, menambah kenalan, belajar) maka dia berfungsi seperti bekerja (perusahaan layak membayar internet untuk karyawan seperti ini), dan kalau ditambahkan niat tulus untuk ibadah (menjauhkan diri dari maksiat, pilih-pilih blog yang bermanfaat, dll) maka membaca blog pun adalah ibadah. Menguntungkan bukan? Small thing can make a big difference!







Bener mas, kalo niatnya bener maka apapun yang dikerjakan bakal jadi ibadah, termasuk ngasih komentar..hehehe…
Mas, gabung di forumku dong –> muslimblogger.co.nr
Comment by QZoners — February 7, 2007 @ 10:35 am
this the best forum! how to join ?
Comment by Eko — February 15, 2007 @ 6:29 am
Wah hebuat banget artikelnya…bisa bikin semangat nih…thanks ya…tapi aku mo nanya…jika sering baca yg kayak gini…bisa2 aku terlalu semangat…dan kalo sudah begini…pasti aku akan suka ngomong ke orang lain tentang yang semangat-semangat…!!! dan kebiasaan seperti ini sering kali tidak bisa saya kendalikan…!!! apakah seperti ini wajar2 saja…??? Terima kasih…
Comment by wArDaN — February 28, 2007 @ 1:21 pm
it’s great!!!
Comment by mayTHa — March 1, 2007 @ 3:54 am
temanku kerja di Instansi yg ngurusi ijin, nggak jalan kalau nggak ada tip-nya. Tapi uang hasilnya untuk menghidupi keluarga, ibadah atau setengah ibadah, atau malah ndak sama sekali
Comment by dhany — March 6, 2007 @ 7:45 am
benar2 artikel yang bermanfaat, bagus bgt. thanks ya pak Khairul, semoga anda mendapat pahala yang setimpal.
salam
Comment by nawi — April 23, 2007 @ 7:03 am
artikelnya menarik bermanfaat, karena itu saya juga ingin memberikan info yg semoga bermanfaat.
cara mempunyai uang diantanranya memang dengan investasi, asuransi, saham, bikin mall,tetapi bagaimana jika anda tidak punya modal jutaan rupiah..
karena itulah sekarang telah muncul situs www.rahasia.net.tc
yang memberikan tips dan rahasia yang bisa dikerjakan siapapun bahkan anak pelajar smu.
anda pun bisa menjadi kaya jika mereka saja bisa.
selengkapnya lihat saja di
http://rahasia.net.tc
BUKTIKANLAH
Comment by diana — April 28, 2007 @ 4:02 am
artikelnya bagus sekali mas. makasih sebanyak2nya. jadi pengingat dan pendorong untuk saya.
Comment by marpuah — May 10, 2007 @ 8:39 am
ini artikel yang pas banget buat dibaca..bener tuch bikin perasaan plong, enak dan cara bnerpikir qt pun makin luas..
Comment by omaq — May 12, 2007 @ 3:20 am
wah…aku jadi smangat nih buat melakukan sgala hal….semua aktivitas (pasti yang positiv donk..)tinggal di niatin untuk ibadah, apapun hasilnya kita ga akan rugi…salut bgt sama yg bikin artikel ( mas kurnia),,sukses selalu!!! (memotivasi juga ibadah khan? he..he..he)
Comment by fajarina hermawanti — July 8, 2007 @ 4:21 pm
Gue lebih parah sewaktu jadi pengangguran, gue ngoprek pc di rumah, eh malah saudara, orang-orang, tetangga-tetangga ngejek gue dasar TETANGGA ANJING BABI
Comment by Uu — August 21, 2007 @ 4:54 am
Cuma yang paling gak enak kalau nganggur……….. dan gak ada kerja yang bisa di lakukan !
Easy money easy job
http://www.newinvestasi.com
Penghasilan sangat menjajikan via kerja di internet.
http://www.go-kerja.com
Comment by Endi — February 5, 2008 @ 4:10 pm
artikel tg bagus. saya minta izin untuk ambil sebahagian komen untuk tujuan pengajaran pada student saya
Comment by khairus — October 20, 2008 @ 12:17 am
kalau saya selalu berpegang pada kata-kata. bekerjalah seolah-olah kamu hidup selamanya dan beribadahlah seolah-olah kamu mati besok..artikelnya bagus!!
Comment by nelly — November 6, 2008 @ 1:59 am
Setuju banget Pak Khaerul, nganggur dan bekerja sama capeknya. Bekerja dan ibadah juga sama cepeknya. Oleh karena itu gunakanlah waktu untuk ibadah sehingga kita memperoleh dunia dan akhirat. Keikhlasan adalah pintu gerbang kebahagiaan yang sebenarnya. Salam
Comment by subaga wirya — January 12, 2009 @ 9:18 am
kalau nganggur/kerja/ibadah.
tap gak tau siapa tuhan itu sebenarnya,
ya,semuanya gak ada gunanya.
ok………..
Comment by mukh yidin — April 17, 2009 @ 7:48 am
semangat dan semangat itu yg terucap tp terkadang perbuatan susah merealisasikan apalagi saat bt….
Comment by herlina — July 21, 2009 @ 4:09 am
wah pas banget untuk perubahan paradigma yang konservatif boleh pinjam beberapa kalimat untuk pembelajaran siswa saya ya ok thanks
Comment by tinok — July 28, 2009 @ 5:05 am
salam/…
Bner skali apa yang sudah anda tulis mas..
Kebiasaan itu bisa kita ubah jadi suatu yang bernilai ibadah. Jika dimulai dengan niat yang ikhlas dan diawali dengan menyebut namaNya Yang Kuas.
Salam kenal aja.. Oya,, jangan lupa mampir keblogku…
Thankzz..
Comment by Endri — July 28, 2009 @ 12:03 pm
artikel yang sangat menarik sekali, saya menjadi sadar betapa selama ini kurang bersukur dengan apa yang saya dapatkan yaitu pekerjaan, tetapi ada yang masih menjadi pertanyaan kadang saya datang kekantor dan memang benar-benar tidak ada kerjaan apa yang mesti saya lakukan ?….
Comment by bambang — July 29, 2009 @ 10:55 am
sunguh saya sangat bersukur dengan apa yang saya kerjakan saat ini dan berusaha untuk iklas dari apa yang saya peroleh…tapi kadang masih kecewa bila tak sesuai harapan meski butuh waktu beberapa saat untuk berserah diri
Comment by madah arifiani — July 29, 2009 @ 11:08 am