Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Hidup mengalir dengan multi skenarioHero »

January 8, 2007

Memimpikan perusahaan 10 ribu karyawan

“Bapak itu berdosa loh…,” celetuk Pandu, sobat dekat saya dalam kegiatan berinvestasi.

“Loh, memangnya kenapa, Ndu?” tanya saya keheranan.

“Iya. Bapak itu sudah memperkenalkan SEPIA. Mungkin di ujung dunia sana ada orang yang tercerahkan, yang terbuka pemikirannya karena SEPIA itu. Kalau kemudian tidak dilanjutkan, wah bisa kecewa mereka…,” ujarnya dengan muka serius.

“Yah, maksud saya itu sekedar memulai. Siapa tahu kemudian ada yang bisa melanjutkan…,” sahut saya membela diri… dengan ragu-ragu.

Dan itulah yang terjadi. SEPIA yang sudah dirumuskan 5 tahun lalu (sejak hebohnya SQ oleh Danah Zohar), hingga kini masih berjalan tertatih-tatih. Hidup enggan, mati tak mau. Bukunya masih beredar sangat terbatas, susah dicari. Di toko buku Gramedia Bandung pun, judulnya salah ketik menjadi “5 kecrdasan utama” (bahkan tulisan ‘kecerdasan’ pun salah ketik menjadi ‘kecrdasan’ kurang huruf ‘e’), akibatnya banyak kenalan yang bilang, “Bukunya nggak ada tuh Pak di Gramedia…,” dan ketika saya coba sendiri tanya ke bagian informasi, “Ada buku SEPIA?”, dijawab petugas,” Ada nih pak, … novel ya..”

Novel? Dan begitulah perjalanan buku SEPIA. Berjalan dengan tertatih-tatih. Setelah cetakan pertama habis di pasaran, buku itu tidak dicetak ulang hingga lebih setahun lamanya, sehingga walau sempat menjadi salah satu buku best seller di Gramedia tahun 2003, waktu itu judulnya masih SEPIA Kecerdasan Milyuner, tetap saja banyak yang tidak tahu. Celakanya, uang hasil penjualan buku tersebut sebagian besar gagal tagih karena menggunakan distribusi pertemanan yang masih amatir. Yah, SEPIA masihlah kegiatan sambil lalu. Toh, tidak ada yang menuntut….

Awal tahun 2005 dulu, Ananta, sahabat di Garuda Maintenance Facilities (GMF) yang sekarang sudah pindah kerja ke Kuwait, juga berkomentar persis seperti Pandu, “Kamu itu bertanggung jawab ngelanjutin ini loh…,” kira-kira begitulah komentar dia, “Jangan memulai sesuatu, lalu ditinggal….” Maka kemudian hiduplah situs SepiaSun.com ini sebagai ganti buku yang tak kunjung dicetak lagi waktu itu.

= = =

Suatu ketika dalam perjalanan menengok properti milik kami (saya dan Pandu) di sebuah wilayah kawasan industri Bandung, saya melewati pabrik coklat Ceres. Kebetulan sedang jam dimana ratusan karyawannya baru keluar dari pabrik. Subhanallah, hebat sekali, pikir saya. Tiba-tiba muncul dalam hati ini sebuah keinginan, bahwa kelak, suatu hari, saya bisa mendirikan pabrik dengan 10 ribu karyawan. Matsushita saja bisa mendirikan Matsushita Electric yang hebat dengan produk Panasonic. Padahal beliau tidak sekolah formal. Matsushita Electric yang besar itu dimulai hanya dari keinginannya membuat fitting lampu. “Semestinya saya juga bisa,” batin saya.

Masak sih?

= = =

Jambi, Sabtu, 6 Januari 2007.

“Masyarakat bawah, pengusaha UKM, itu sebenarnya secara spiritual sudah bagus. Spiritual dalam arti yang luas ya, seperti kejujuran mereka, ketabahan, dan sebagainya. Justru yang saya lihat kurang adalah apa yang disampaikan model SEPIA itu, yaitu kecerdasan Power dan kecerdasan Aspirasi. Mereka itu tidak punya jaringan dan tidak punya visi…,” kata Pak Agus Syarief. Artinya, kalau hanya sisi spiritual (SQ) yang dibangun, juga emosional (EQ) dan intelektual (IQ), belum akan menjawab permasalahan. Karena pada dasarnya teman-teman UKM (Usaha kecil dan Menengah) itu sudah memiliki ketrampilan, semangat, dan kejujuran. Yang paling kurang dari mereka adalah strategi dan aspirasi (visi) mereka.

Kami sedang duduk bersama makan siang, setelah sebelumnya selesai menyelenggarakan seminar SEPIA untuk para mahasiswa dan guru (yang hadir hampir 200 orang, yang jelas aulanya penuh). Malam sebelumnya kami selenggarakan seminar Financial Happiness untuk undangan terbatas (yang hadir sekitar 20 orang). Ini sudah prestasi, mengingat undangannya hanya model ‘gerilya’. Pak Agus itu tipe orang yang ‘walk the talk’, melakukan apa yang dia ucapkan. Walau hanya kenal melalui internet, beliau bilang melihat suatu hal unik pada SEPIA ini yang bisa diterapkan untuk pemberdayaan masyarakat. Memang sembari menjadi dosen ekonomi di Universitas Jambi, aktifitas beliau yang riil adalah membina para pengusaha UKM di wilayah Jambi.

“Itulah kenapa SEPIA ini menurut saya cocok sekali untuk disosialisasikan,” ujar Pak Agus lebih lanjut, “karena ada kecerdasan Power dan Aspirasi itu.” (Oo… begitu, batin saya.)

“Dan saya mengingatkan lagi kepada Pak Khairul, tahun 2010 itu sudah dekat loh, kan visi Pak Khairul di tahun itu SEPIA ini bisa menjadi model yang tersebar di seluruh Indonesia…,” ujarnya lagi. (Wah, Pak Agus ini lebih serius daripada saya ternyata, batin saya lagi.)

Lalu beliau bercerita bahwa mengundang saya ke Jambi bukan tanpa cobaan. Berat, katanya. Ada saja yang skeptis bahkan berprasangka yang kurang baik dengan kegiatan kami ini.

“Bahkan sempat dikatakan buku ini‘aliran sesat’. Kalau memang SQ, mana ayat-ayatnya? Saya jawab, memang ayatnya tidak ditulis, tapi keseluruhan buku itu sudah menggambarkan hal itu. Lihat saja bagian terakhir halaman penutup. Ada ayatnya di situ,” cerita beliau. “Yah, kita melakukan apa pun pasti ada saja yang mengkritik,” ujarnya. Kami tertawa bersama. (seringkali memang orang terjebak mengidentikkan SQ dengan agama, bukannya perilaku orang yang beragama)

Saya sudah sering membawakan SEPIA di luar Jawa. Namun kegiatan kali ini menjadi istimewa karena perkenalan kami betul-betul hanya melalui internet! (Biasanya kegiatan luar kota lainnya dimulai dari kenal lewat buku atau kegiatan lain.) Walaupun ini adalah kejadian ke dua setelah sebelumnya rekan-rekan dari PT Inti Optotama Jakarta juga mengundang hanya dengan kenal lewat internet, namun waktu itu SEPIA dibawakan khusus bagian SQ (kecerdasan spiritual) saja.

Lalu pikiran saya melayang mengingat kembali cita-cita sebuah perusahaan dengan 10 ribu karyawan. Bukankah perusahaan itu tidak perlu berwujud pabrik besar dengan 10 ribu karyawan? Bukankah bisa saja berwujud 1000 kantor kecil di 1000 kota dengan 10 karyawan, atau bisa juga 2000 kantor kecil dengan 5 karyawan? Tujuan usaha itu juga bukan untuk mencetak laba yang besar, cukup bisa ‘sustain’ saja sudah hebat (itu artinya ada 10 ribu keluarga bisa mendapat nafkah). Potensinya banyak, misalnya Bimbingan Belajar metode SEPIA, Career Day untuk SMA metode SEPIA (biasanya untuk menghadapi SPMB), penerimaan mahasiswa baru dan wisuda di universitas (untuk pembekalan kiat kuliah dan kiat bekerja), konsultasi keuangan keluarga metode SEPIA (mengatasi masalah kesejahteraan finansial), jualan poster-poster 5 kecerdasan SEPIA, pemberdayaan UKM metode SEPIA (terutama asesmen titik lemah perusahaan), buku kumpulan pengalaman inspiratif ‘Chicken Soup for Soul’ gaya SEPIA (sarana berbagi pengalaman), peningkatan mutu SDM perusahaan metode SEPIA (terutama meningkatkan PQ dan AQ, dua hal yang sering luput), program persiapan pensiun metode SEPIA (biar pesangon tidak menguap karena salah investasi), dll. Kekuatan metode SEPIA sesungguhnya ada pada pendekatan sinergi komprehensif dari 5 kecerdasan, dan tidak mengunggulkan sebagian kecerdasan atas kecerdasan yang lain (sekarang kan trend-nya sedang mengunggulkan SQ tuh! Padahal dalam realita hidup, menjadi baik dan shaleh saja sangat jauh dari cukup untuk meraih sukses.). Semua visi itu bisa terwujud melalui kerjasama dengan ribuan lembaga seperti Lembaga Manajemen Terapan (LMT) ‘Success’ yang dipimpin Pak Agus di Jambi. Kerjasama dengan LMT Success ini bisa menjadi model awal.

“Dan dari 10 karyawan itu mimpi saya ada 1 orang cacat yang dilibatkan. Kalau dia cacat kaki, bukankah masih bisa mengerjakan tugas di komputer seperti mendesain brosur misalnya? Kalau dia tuna rungu, bisa mengerjakan sesuatu yang memerlukan ketekunan. Mereka yang cacat itu terbatas sekali kesempatan kerjanya,” demikian saya ungkapkan kepada Pak Agus, setengah meminta persetujuan beliau.

Sebuah mimpi, katanya harus ditulis. Ketika mimpi itu ditulis, ia bisa menginspirasi diri sendiri, bahkan juga orang lain. Dan ketika sebuah mimpi telah menginspirasi, ia berpotensi mewujud, seringkali hampir dengan sendirinya.

“If you can dream it, you can do it. Always remember that this whole thing was started with a dream and a mouse.”

Disney, yang menjelaskan bahwa seluruh perusahaan Walt Disney yang besar itu dimulai dari sebuah mimpi dan gambar tikus Mickey Mouse.

seminar
Suasana seminar

mahasiswa
Mahasiswa Ekonomi Universitas Jambi

(Tulisan tersebut adalah catatan perjalanan ke Jambi. Ditulis sekedar untuk kenangan. Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Agus Syarief yang memberikan dorongan agar SEPIA ini terus dikembangkan. Saya tahu, Bapak defisit dalam kegiatan ini karena berani mengundang ‘bukan orang terkenal’. Hehe. Dan Bapak tempuh resiko itu. Terimakasih Pak Agus! Semoga menjadi amal jariyah buat Bapak. Amin. Saya tahu juga bahwa bapak ‘tidak suka publisitas’, sehingga mungkin tulisan ini kurang nyaman buat Bapak. Yah, anggap saja ini sekedar catatan perjalanan yang tidak banyak orang akan membacanya. Thank’s juga buat Pandu dan Ananta yang mengingatkan ‘dosa’nya memulai sesuatu tanpa menuntaskan. Semoga menjadi amal jariyah pula bagi kalian. Amin.)

NB : Peserta seminar kemarin sangat antusias. Wah, kalau komentar dari peserta bisa ditampilkan, pasti juga bagus. Bagaimana nih Pak Agus?

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

5 Comments »

    Gravatar Image
  1. tujuh tahun lalu saya justru pernah memimpikan bahwa dengan pekerjaan yang saya jalanin banyak orang yang dapat merasakan manfaat dari hasil yang saya kerjakan. sekarang, mimpi saya terwujud walau memperkerjakan dibawah 50 orang.

    jika jutaan orang indonesia dapat anda inspirasikan untuk menjadi lebih baik, tentu itu termasuk mimpi. tak ada yang sempurna, bahkan mimpi sekalipun, tetapi menuju arah kesempurnaan tentu bukan pekerjaan yang sia-sia.

    ::: salut Pak Anton. Semoga makin banyak yang bisa mewujudkan mimpi bersama bapak! trims atas support nya. khairulu

    Comment by anton — January 8, 2007 @ 7:31 pm

  2. Gravatar Image
  3. Virus matahari SEPIA menyebar begitu cepatnya, baik bagi peserta seminar maupun saya pribadi. Dahsyat memang, satu artikel untuk jurnal selesai dan buku Manajemen Portofolio dan Investasi yang agak terbengkalai dimulai lagi menulisnya dan tidak terasa 3 bab lanjutan rampung, tinggal 2 bab lagi. Sampai lupa buka internet…

    Alhamdulillah, saat ini yang saya rasakan adalah tulisan mengalir bagai air, karena saya “bukan menambah konsep tapi membuat aksi” (Sumber: Khairul SEPIA). Saya kembalikan arahnya pada SEPIA tentunya…

    10ribu karyawan, impian yang realistis bagi SEPIA. Kecerdasan aspirasi menyebar bagai virus dengan bilangan kuadratik, belum ditambah dengan 4 kecerdasan lainnya. Alasan utamanya, karena SEPIA punya kekuatan, yaitu sebuah model. Model yang dapat menghilangkan dahaga dari pengembaraan yang panjang (pembinaan terhadap UKM).

    Jujur, selama ini saya mencari bentuk untuk mengentaskan Usaha Kecil Mikro ke pentas dunia akhirat, tapi terbentur. Dan sekarang matahari itu memberi cahaya sinergisme. Sehingga impian 10ribu karyawan menjadi sedikit..

    Ndak percaya?? Ini kalkulasinya, bila membina 359 UKM dan akan bertambah lagi. Bila omset mereka meningkat, dan masing-masing butuh tambahan 3 karyawan, hitungannya menjadi 359 x 3 = 1.077 dan bila diantara karyawan tsb buka usaha sendiri, maka 10ribu karyawan menjadi hitungan berwujud…Aamiin.

    Lalu dimana hubungannya dengan 10ribu karyawan pak Khairul (SEPIA)…, seandainya..ini seandainya lho,..(termasuk kecerdasan aspirasi ndak ya?) pengusaha UKM memberi royalti berupa saham kepada SEPIA, karena tercerahkan dengan model SEPIA. Berarti usaha mereka juga usaha SEPIA, dan karyawan mereka ya karyawan SEPIA…..

    Tapi saya percaya, pak Khairul lebih memilih aliran amal yang tiada henti, yakni amalan pasif dari memberikan ilmu yang bermanfaat.

    ::: kita mulai dengan Bismillah Pak Agus! semoga terealisasi. Amin. khairulu

    Comment by @Syarif — January 14, 2007 @ 5:15 pm

  4. Gravatar Image
  5. Betul,
    Pak Khairul memang bertanggung jawab kepada SEPIA.
    Saya hanya membantu lho…
    Dan tetap siap membantu.
    Hidup SEPIA!!!

    Comment by angger — February 26, 2008 @ 5:24 am

  6. Gravatar Image
  7. Ass wr wb, Saya baru mulai mengunjungi website anda sejak beberapa hari yang lalu. Saya salut dan kagum dengan tulisan tulisan dan pemikiran anda.
    Kenapa hingga sekarang SEPIASun masih belum “take off”, saya kira salah satu kelemahannya ada pada “packaging” dari konsep dasar SEPIA dan “pemberian nama SEPIA” sendiri.
    SEPIA bukan “brand” yg marketable utk komoditas seperti ini. Selain itu, daya jual dari istilah SQ,EQ, dll sudah mulai menurun.
    Saya usulkan agar konsep SEPIA direformulasi dan diberi “brand” baru. Kalau berkenan dgn lontaran pemikiran saya, saya dengan senang hati bersedia menjelaskan lebih lanjut lewat email/YM. Saya sekarang lagi kerja di WHO di Thimphu, Bhutan.
    salam, Gunawan (8-Sep-2008)

    Comment by Dr Gunawan Setiadi — September 8, 2008 @ 9:54 am

  8. Gravatar Image
  9. makasih ya pak :p

    Comment by purnomo — November 18, 2008 @ 1:42 pm

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/08/14/menjadi-landak/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here