Cerdas emosi bukan berarti mati emosi
Suatu ketika teman saya mendapat musibah besar. Berita musibah itu muncul di media massa baik erita utama koran maupun acara infotainment televisi. Saya yang mengamati perkembangan pemberitaan tentang musibah itu merasa sangat kesal, dan menumpahkan kekesalah saya melalui blog. Tanggapan atas tulisan saya tersebut sangat beragam, sebagian mendukung, sebagian menyesalkan. “Kenapa sih mas Khairul kok emosi banget dengan hal itu?” demikian kira-kira ungkapan dari pihak yang menyesalkan.
Ketika kita mengungkapkan kekesalan kita secara terbuka - dan keras - maka tampak sekali bahwa kita ini dikuasai oleh emosi dan tidak mampu mengendalikannya. Orang yang marah-marah sering disebut sebagai orang yang kurang cerdas emosi. Benarkah demikian?
Beberapa waktu yang lalu Aa Gym mengalami ujian yang cukup berat. Keputusannya untuk menikah lagi menjadikan beliau sebagai topik infotainment yang terus dikaji dan diperbincangkan. Banyak kyai berpoligami dan masyarakat tidak heboh. Namun ketika Aa Gym yang berpoligami, banyak sekali orang yang heboh. Tentu saja termasuk diantaranya adalah kalangan istri-istri teman di kantor, juga istri saya sendiri.
“Menikah lagi sih itu urusan Aa Gym, tapi kenapa harus nunggu 3 bulan untuk disampaikan?” komentar istri saya.
“Iya, ya..,” jawab saya.
Kami berdua sebenarnya sangat sepakat bahwa poligami itu boleh. Tentu saja menyadari itu boleh bukan berarti lalu ikut melakukan. Yang kami perbincangkan adalah diskusi di kalangan ibu-ibu kelompok pengajian istri saya yang ternyata terus membahas hal itu. Tak urung diskusi itupun berlanjut ke dalam perbincangan kami.
Sebagai seorang laki-laki tentu saja saya tidak memasalahkan (bahkan tidak peduli) keputusan Aaa Gym. Namun sebagai suami tentu saja saya harus peduli karena istri saya dan teman-temannya sangat peduli. Sebagai suami saya harus peduli dengan pikiran dan perasaan istri saya.
Seringkali cerdas emosi ditafsirkan banyak orang sebagai sikap yang selalu terkendali, bijaksana, kepala dingin, anti nangis, dsb. Kalau ada orang marah, maka dicap tidak cerdas emosi. Kalau ada laki-laki nangis, maka tidak cerdas emosi. Kalau semua wanita sedang resah karena idolanya menikah lagi, maka berarti tidak cerdas emosi.
Ini yang perlu ditekankan : cerdas emosi tidak berarti mati emosi.
Orang yang cerdas emosi bukanlah mereka yang selalu tampil cool, logis, terkendali. Justru orang yang cerdas emosi tahu bahwa menangis, marah, menyesalkan, dan lain-lain sikap ‘emosional’ itu adalah hal yang perlu bagi manusia normal. Yang penting apakah seseorang itu menyadari, dan kemudian mengelola dengan tepat sesuai situasi yang dihadapi. Jadi, bila seorang suami sedang kesal dengan bos di kantornya, maka tugas istri adalah membenarkan dulu dan ikut kesal untuk berempati terhadap posisi suaminya tersebut. Jangan sampai terjadi karena saking logis dan ‘cool’nya sang istri itu, dia justru menanggapi curhat suaminya tersebut dengan berkata, “Mas yang salah sih, habis Mas begini begitu, bosnya Mas itu yang benar….” Sikap seperti ini justru menunjukkan rendahnya empati, dan berarti justru rendah kecerdasan emosionalnya. Jadi sebagai suami (atau pacar) yang cerdas emosi, harus ditunjukkan rasa prihatin yang sama dengan yang dialami oleh sang istri/pasangan. Seorang istri yang empatik akan mengatakan, “Iih.. betul mas, memang kelakuan si-bos itu betul-betul menjengkelkan.”
Jadi kalau teman Anda terkena musibah, nomor satu sikap yang harus Anda tampilkan adalah membelanya! Kalau adik Anda dituduh nyolong (mencuri), Anda harus membelanya. Kalau teman dekat Anda mengeluh diperlakukan kasar oleh si-bos, maka Anda harus membelanya. Kalau ibu kita ribut dengan tetangganya, maka kita harus membelanya. Kita harus bela, sampai fakta-fakta berikutnya menjadi semakin lengkap. Nggak asyik dong kalau kita punya teman ‘ilmiah’ dan ‘logis’ banget. Tiap kali kita curhat, malah kita yang disalahkan dan diceramahi. Sama juga, akan sangat menjengkelkan punya pasangan (suami/istri) yang saking pintarnya sehingga selalu logis, ilmiah, dan langsung menunjukkan pendapat benar-salahnya tanpa ikut merasakan kepedihan pasangan yang sedang curhat. Yang model begini inilah yang disebut mati emosi. Kalau mati emosi nya sudah parah sekali, maka tidak ada bedanya dengan seorang psikopat dan pembunuh berdarah dingin. Ngeri banget kan?
Pak kyai tidak salah dengan keputusan menikahnya lagi itu. Ibu-ibu juga berhak sedih dan menyayangkan keputusan itu. Sebagai suami saya menyadari betapa lemahnya posisi seorang istri dalam kendali keuangan (dan artinya dalam kemandirian). Bukan karena mereka tidak bisa cari uang - banyak yang lebih berpotensi dibandingkan suaminya - , tapi karena budaya (dan juga kodrat) menuntut peran yang berbeda dengan peran suami. Kebanyakan istri tidak memiliki kemampuan keuangan seperti suami. Wanita juga cenderung lebih setia, karena secara alamiah cenderung kepada kestabilan. Wanita juga akan menanggung beban lebih besar bila berpisah, karena biasanya anak-anak akan ikut ibunya. Karena itu posisi istri relatif lemah dibanding suami. Sangat wajar bahwa secara bawah sadar muncul ketakutan dalam benak istri untuk suatu ketika bisa diabaikan, ditekan, maupun dipaksa. Jadi saya sendiri mengajak para suami untuk menyadari hal ini. Bukan karena istri kita itu tidak taat atau kurang sholihah. Tapi beban psikologis mereka sebagai wanita memang lebih besar untuk isu masalah seperti poligami ini. Saya juga turut prihatin dengan masalah itu. Saya turut merasakan kegundahan istri saya dan para ibu-ibu lainnya. (Paling tidak para suami jangan tertawa terbahak-bahak dan mengecilkan masalah seperti ini di depan istrinya.)
Apa pentingnya kita mengedepankan sikap empatik itu? Justru agar kita kemudian bisa memberikan pengaruh positif kepada orang lain. Setelah gejolak emosi mereda, maka kita bisa mulai mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan fakta yang lain. Oh, mungkin ada kekhawatiran pak kyai menjadi tidak fokus dalam merawat anak yatim. Oh mungkin untuk mendidik masyarakat. Oh mungkin si-bos sedang capek dan bingung karena kabarnya keuangan perusahaan sedang ruwet. Oh mungkin si-bos salah ngomong ke orang, padahal yang dimaksud sebenarnya bukan kamu. Oh mungkin begini, oh mungkin begitu, dsb. Jelas semua duga-duga itu pun banyak yang salah, namun bisa menjadi alternatif yang menurunkan ketegangan emosi. Saat itu kitapun bisa mengajak orang tersebut untuk berempati terhadap pihak yang sedang dibicarakan. Dengan demikian akhirnya didapatkan pemahaman yang lebih lengkap dan bijak.
(… ah, hidup ini memang tidak eksak….)
Artikel terkait :







menduga ..mungkin dan mungkin… bila masih dalam koridor empathi bisa dibenarkan, tapi bila sudah dibumbui provokasi maka sudah tidak sehat lagi. Tindak cerdas bila kita membingkai peristiwa tidak berdasarkan persepsi kita sendiri. Sebagai ilustrasi, salah satu media TV membandingkan poligomi Aa Gym dengan pemeluk non muslim (Hindu dan Kristen) . Jelas ini bukan wujud empathi terhadap wanita dan masyarakat (kaum ibu khususnya) harus cerdas memilahnya secara emosi . Mas Khairul, yang penting SEPIA tetap cerdas emosi-nya dan senantiasa mencerdaskan emosi masyarakat.
Comment by @syarif — December 17, 2006 @ 12:14 am
Memang susah ngatur yang namanya esmosi alias semosi bin ngamuk-ngamuk ini. Tapi kalo saya sedang emosi biasanya melakukan aksi diam. Soalnya kalo ngomong takutnya tak terkontrol. Tapi istri biasanya langsung tahu kalo saya sedang emosi. Mungkin keluar taringnya kali yah??
Comment by QZoners — December 20, 2006 @ 7:19 am
looking good
Comment by Rizal wijaya — February 13, 2007 @ 4:51 am
best of the best
Comment by Rizal wijaya — February 13, 2007 @ 5:07 am
Nice artcle
Comment by Hmm.... Akan membhgiakan bl suami pny pandngn sepert artkel diatas — December 31, 2007 @ 9:21 am
bagus baguss dan baguuuuuus
Comment by aa — May 17, 2009 @ 7:52 am