Evaluasi bakat diri
Nah minat & bakat mas Khairul sendiri apa ? mungkin bisa dibagi ceritanya ..bgm menemukannya dan tentu saja bgm membangun peluang darinya thx. Comment by MIZONErs — December 9, 2006 @ 3:58 pm (komentar dari tulisan Antara minat dan bakat)
Ini sekedar berbagi cerita. Mudah-mudahan bisa bermanfaat.
Saya punya banyak teman yang memiliki banyak bakat (multi-talenta). Saya dikelilingi teman-teman seperti itu, dan -jangan-jangan- saya sendiri termasuk yang seperti itu. Jangan bangga dulu teman, justru multi-talenta bisa berakibat buruk yaitu bisa ngerjain apa saja dan akibatnya tidak jelas dirinya menjadi apa! Kebanyakan orang yang serba bisa akhirnya justru tidak fokus dan gagal membuat karya yang lengkap.
Salah satu kelemahan yang saya sendiri amati dalam diri saya adalah : senang berkreasi, tapi mudah bosan. Rasanya harus terus membuat sesuatu yang baru. Akibatnya, banyak karya yang kata orang sudah bagus, malah tidak lagi dilanjutkan. Selalu mencari yang baru, dan meninggalkan barang bernilai yang sudah ditemukan.
Seperti rekan-rekan juga, saya masih terus mencari. Seperti rekan-rekan juga, ada banyak hal yang kebetulan kita bisa. Saya dulu pernah menjadi yang terbaik di propinsi dalam lomba menggambar. Juara menulis cerpen. Juara menulis karya ilmiah. Juara cerdas cermat. Juara pidato. Lumayan dalam matematika. Juga lumayan dalam membuat prakarya dan menari (walah!). Dan apa jadinya sekarang? Gado-gado yang tidak jelas!
Kemudian pada suatu ketika, saya mengevaluasi diri. Apa sebenarnya yang paling saya minati? Apa sebenarnya bakat saya yang paling dihargai orang lain (dalam hal ini ‘value’ - atau nilai dari kontribusi kita - yang ‘paling dibayar mahal’ oleh komunitas)?
Apa yang saya minati? Jawabnya adalah hal-hal sekitar pemberdayaan. Menjadi guru ternyata adalah panggilan jiwa. Saya pernah magang di perusahaan Human Resource, airline, dan di perminyakan, tapi tampaknya dunia pendidikan lebih menarik hati. Dengan pemberdayaan ini kita bisa mengentaskan kemiskinan, baik miskin pengetahuan, miskin mental, miskin spiritual, hingga miskin fisikal. (Tentang kemiskinan fisikal ini saya menganut konsep Bucksminter Fuller, bahwa solusinya adalah penyediaan energi murah.)
Apa bakat saya yang paling bernilai bagi komunitas? Jawabnya ternyata bukan keahlian menggambar kartun saya, bukan keahlian menulis, juga bukan keahlian matematika. Setelah mendapat feedback bertahun-tahun dari para kolega, ternyata bakat saya yang dianggap berharga oleh rekan-rekan saya adalah : kemampuan membuat hal rumit menjadi sederhana! Dalam membuat training (biasanya tentang teknologi tinggi untuk aplikasi bisnis) bagaimana kita bisa sampaikan materi dari beberapa buku menjadi beberapa kata kunci sederhana (misalnya saat training terakhir di PT Telkom tentang analisa kompetitor, materi disampaikan dengan sebuah software yang fungsi aslinya sebenarnya bukan untuk analisa kompetitor. Namun dengan software itu ternyata pemahaman peserta menjadi jauh lebih cepat - metode Accelerated Learning). Atau misalnya saat training e-bisnis tentang Customer Relationship Management (CRM) kami memutar penggalan film Chocolate yang dibintangi Jhonny Depp (rekan-rekan saya sesama trainer pun awalnya ikut bingung, ngapain mutar film ini? Apa hubungannya aplikasi e-bisnis CRM dengan cokelat?). Kata seorang teman saya, kemampuan inilah yang membuat saya menjadi unik di dalam kelompok. Something different. Si picak di kalangan si buta. Kemampuan ini yang juga menjadi penting saat mengerjakan proyek-proyek konsultasi di berbagai perusahaan, yaitu kemampuan menyederhanakan masalah dan membuat solusi sederhana yang praktis. (saya mengajar di perguruan tinggi, dan sebagai pekerjaan sampingan selain mengajar adalah menyelenggarakan training dan menjadi konsultan. Hal umum dalam profesi dosen.)
Lalu apa kaitannya dengan segala macam bakat dan prestasi masa lalu? Kalau diteliti lebih jauh, ternyata kemampuan yang sekarang dihargai itu masih terkait dengan bakat-bakat dasar yang dimiliki. Misalnya, ketika memilih film untuk dijadikan materi multimedia, maka talenta menggambar ternyata berperan dalam memilih fragmen film yang layak disunting. Kemampuan bercerita menjadi penting untuk menjaga benang merah materi training agar tetap utuh dan saling bersambung. Kemampuan menghubungkan hal-hal yang tadinya tak berkaitan, merupakan hasil tak disangka dari kesukaan untuk mempelajari bidang yang luas (saya juga pernah belajar membuat tape/peuyeum misalnya, yang tak kalah menariknya dibanding pemrograman ASP dan PHP), dapat memunculkan pendekatan training baru yang bahkan tak disangka oleh peserta. Tiba-tiba, hal-hal yang pernah dipelajari secara acak itu membuat gambaran baru yang bisa saling terkait. It’s very interesting!
Misalnya, apa sih ide dasar SEPIA? Ini juga hal lucu, yang mungkin menarik untuk dibagikan kisahnya. Itu gara-gara konsep kecerdasan finansial yang dipopulerkan Kiyosaki dalam Rich Dad Poor Dad. Jadilah konsep IQ, EQ, SQ, FQ. Kemudian saya ingat juga kecerdasan adversity yang sedang populer, namun sering dianggap sama saja dengan kecerdasan emosi (tapi perasaan saya ada sesuatu yang unik dari AQ nya Stoltz itu), yang kemudian menjadi IQ, EQ, SQ, FQ, AQ. Tapi kok rasanya nggak pas ya? Lalu ingat saat kuliah di magister manajemen industri dulu, ada kuliah berjudul Power and Politics. Nah, bukankah masalah uang itu adalah salah satu saja dari masalah power? Kenapa tidak kita beri saja judul : kecerdasan Power. Lebih luas dan lebih esensiil dibandingkan sekedar kecerdasan finansial. Kemudian setelah meneliti lebih lanjut tentang Adversity Quotient nya Stoltz, saya kira aspek keinginan dan cita-cita yang kuat adalah kisah inti dari buku AQ itu (kisah tentang Quitters, Campers, Climbers). Saya kira ini bisa disebut kecerdasan ambisi. Ambisi? Kok kesannya negatif ya? Kenyataannya kalau kita lihat orang-orang yang sukses memang adalah mereka yang punya ambisi untuk terus maju dan meraih prestasi puncak. Dan ambisi ini adalah karunia Tuhan kepada manusia, yang tidak diberikan kepada malaikat. Namun kata ambisi itu bernilai ‘peyoratif’, kesannya jelek. Lalu setelah tanya pak Agus Nggermanto, muncullah ide beliau kata ‘aspirasi’ sebagai ganti yang tepat untuk’ambisi’. Jadi, semuanya adalah IQ, EQ, SQ, PQ, AQ. Nah, susun-susun ulang, terciptalah SEPIA!
Sejauh ini, berdasarkan masukan yang saya terima, konsep SEPIA ini lebih lengkap dan lebih praktis dalam menjelaskan fenomena yang terjadi di kehidupan nyata. Misalnya fenomena, kenapa banyak orang yang dulu sekolahnya bodoh, kok bisa sukses? Kenapa yang baik hati justru gagal, tapi yang jahat (SQ rendah) justru sukses? Dalam hal ini konsep IQ, EQ, SQ, akan gagal menjelaskan. Sedangkan konsep SEPIA bisa menjelaskan. Jawabannya : karena untuk sukses itu PQ adalah kecerdasan yang paling dominan berperan. Kenapa pelajar SMU banyak yang bingung dalam melanjutkan kuliah? Karena rata-rata kecerdasan aspirasi (AQ) mereka tidak dikembangkan, sehingga gamang dengan pilihan hidupnya sendiri. Memang PQ dan AQ pelajar SMU relatif lemah berdasarkan sebuah survey di Bandung, karena sistem pendidikan kita belum menganggapnya sebagai hal yang penting!
Di sekitar SEPIA ini juga masih banyak peluang-peluang.
Seperti juga MIZONers dan rekan-rekan semua yang lain, saya juga masih terus mencari apa minat saya sesungguhnya, dan apa bakat utama saya yang sesungguhnya. Saya kira setiap orang punya kondisi unik masing-masing, dan saya yakin setiap orang bisa menemukan jalan terbaik bagi dirinya kalau sungguh-sungguh terus mencarinya. Ini pun sebuah perjalanan pencarian yang menantang dan menggembirakan yang bisa terus kita lakukan sepanjang hidup. Bukankah kita perlu membuat ’something big’ dalam hidup ini? Yuk, kita nikmati perjalanan pencarian ini!







betul pak khairul,kita memang akan selalu mencari bakat kita yang sebenarnya,karena dengan telah menemukannya maka kita bisa menjalankan misi kita sebaik-baiknya.life is the great long contemplation.sebenarnya perjalanan pencarian bakat ini sangat menantang jika kita menikmatinya.
Comment by aksa — December 11, 2006 @ 1:50 pm
Hmmm.. kalo ane sih insya Allah berbakat di bidang web design, makanya blognya gonta-ganti design terus
Comment by QZoners — December 15, 2006 @ 7:28 pm
menurut saya menulis blog dengan gaya yg enak dan berbobot merupakan bakat Pak Khairul yang tidak boleh diabaikan oleh Pak Khairul.Tulisan2 Anda banyak memberi inspirasi saya.Terima kasih.Teruslah meng-update blog Bapak.Salam
Comment by edy — December 21, 2006 @ 2:17 pm
Bakat…..???ada sebagian orang yang tidak percaya bakat. karena dia hanya percaya dengan “berusaha dan berusaha”. ini gimana pak?
Comment by HAK — May 11, 2007 @ 2:46 am
apakah definisi kecerdasan adversity?
Comment by rima — May 15, 2007 @ 2:15 pm
kesannya terlambat bagi kita yang usianya di atas 30 tahun baru tahu bakat kita. Gimana Mas khairul?
::: saya selalu mengingat Kolonel Sanders yang memulai KFC pada usia 66 tahun. lanjut terus sampai berhasil….
Comment by Rifda — May 28, 2007 @ 5:01 am
mas khairul,kecerdasan PQ dan AQ artinya apa y mas???
bisa tld di jelaskan????
Comment by dyah — June 25, 2007 @ 4:15 am
pak hairul,setelah saya baca artikel2 anda,saya tertarik untuk membaca artikel2 anda yang lain mengenai. ada hal yang ingin saya tanyakan, apakah semua manusia memiliki semua bakat?maksudnya, apakah semua manusia memiliki bakat misalnya bakat menyanyi,or bakat melukis?ataukah hanya orang tertentu saja?apa perbedaan antara bakat dan potensial?terima kasih b4
Comment by yuli — February 27, 2008 @ 5:34 am
Betul sekali Yuli, semua orang memiliki bakat. Terkadang bakat itu tidak mendapat kesempatan yang sesuai. Misalnya orang yang suka memberi kritik pedas. Pasti dijauhi teman2nya. Andai dia mendapat kesempatan sbg evaluator prototipe produk di suatu perusahaan riset, mngkin dia bs memberi analisis tajam hal2 yg msh lemah. Contoh lain misalnya org yg curiga melulu. Mngkin cocok jadi detektif, misalnya.
Saya yakin Allah memberi setiap diri kita keunikan. Tentu saja belum tentu bakat yg populer (menyanyi, matematika, dll). Tugas kita untuk mengungkapnya dan mensyukurinya (dengan menggunakannya utk hal bermanfaat).
Comment by khairulu — February 27, 2008 @ 2:43 pm
INGIN TAHU BAKAT DAN MINAT ANDA.
>>> http://uta888.wordpress.com
Comment by uta888 — August 20, 2008 @ 10:54 pm
Salam
Senang sekali membaca artikel ini dan ingin lebih tahu lagi mengenai hal tersebut. Saya sendiri sedang mencari bakat sendiri,bingung jadinya. Sekedar informasi, saya juga senang dengan yang berbau musik, hingga saya sudah menuliskan beberapa lagu, walapun hanya untuk komsumsi sendiri.
Kemudian, saya juga senang ingin mengetahui hal-hal baru, kebetulan ada beberapa persoalan matematika yang telah saya pecahkan, dan saya tidak berani mengatakan apakah itu suatu penemuan. Dan hebatnya lagi dalam pikiran saya, kadang saya ingin mengetahui sesuatu, eh, ketika kita ingin menelusuri apa yang ingin kita ketahui tersebut, rupanya sudah lebih dahulu diselesaikan orang lain, namun demikian kita tetap puas dalam hal, punya kesamaan ide.
Trus saya juga senang menulis, tapi saya tidak punya kecakapan untuk berbicara. Mungkin bapak bisa berbagi dengan saya, agar bisa berkomunikasi dengan baik. Kadang ketika saya berbicara dengan seseorang, orang tersebut sulit untuk mengerti apa yang saya ucapkan. Saya hanya bisa berbicara sepatah, dua kata terus selebihnya blank. Padahal dalam hati, saya bisa berbicara dengan begitu baiknya, tapi mengapa ketika kita hendak bicara dan ingin mengatakan apa yang kita pikirkan itu, tidak berjalan.
Trus saya juga senang olah raga, sepakbola, gulat, namun yang lebih saya minati adalah lari. Saya merasa bakat saya ada di sini, namun sayang saya tidak pernah saya asah, karena masalah tidak PD juga.
Oya, saya juga sangat peka terhadap perasan orang lain. Kalau saya bekerja bersama-sama dengan orang lain, saya selalu berusaha untuk bekerja maksimal agqar mereka tidak kecewa.
Namun, masalah besar yang segera ingin saya tuntaskan adalah untuk menjadi cakap berbicara. Tentunya secemerlang apapun ide dalam pikiran kita, kalau tidak bisa disampaikan dengan baik dan tidak meyakinkan, akan kurang mendapat perhatian dari orang lain, memang sangat sedih,apaliga kala kita bebicara terus dipotong, wah kita tidak tahu lagi. Memang mereka sendiri kelihatan kebingungan. (1)Mohon di jelaskan ya pak, adakah cara/teknik untuk melatih kita pandai berbicara, tentunya pandai mengatakan kebenaran donk, bukan buat boongin orang, haha. Bagaimana agar apa yang sedang kita ucapkan sinkron dengan apa yang kita pikirkan (2)Sekarang usia saya hampir 30 tahun, sementara, tiba-tiba muncul dalam piran saya untuk kuliah di fakultas hukum, kira-kira cocok ngak buat saya jurusan ini, di sanakan harus pandai bicara bersilat lidah. Jadi tambah bingung lagi nih.Saya tidak tahu apakah ini solusi buat masalah saya. Soalnya sudah lama saya pendam masalah ini dalam hati, bagaimana mengatasinya. Trimakasih sebelumnya atas informasinya, Salam
Comment by Bantu Hotsan — March 17, 2009 @ 12:21 pm