Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Manajemen Waktu : sendiri, berdua, dan bersamaBerpikir beda dan berpikir plus »

September 26, 2006

Segelas air dan keimanan

Saat puasa tiba, sikap orang akan berbeda-beda. Sebagian mengurangi aktifitas untuk menghemat tenaga. Sebagian yang lain melakukan berbagai kiat untuk menambah masukan nutrisi ke dalam tubuh. Yang lain lagi bersikap biasa-biasa saja.

Fenomena yang lazim ditemui saat puasa tiba adalah belanja keluarga yang bukannya turun, eh malah naik. Bagaimana bisa? Karena istimewanya puasa ini maka makanan pun dibuat istimewa, akhirnya yang semestinya makin hemat justru makin boros.

Kita tidak bicara tentang siapa yang benar siapa yang salah. Mari kita bicara saja tentang segelas air.

Terkadang, entah karena suatu hal, kita bangun terlambat, sehingga tidak sempat sahur. Saya pernah mengalami hal itu beberapa kali. Pernah suatu kali masih sempat minum segelas air. Kali yang lain tidak makan minum sama sekali. Mungkin Anda juga pernah mengalami?

Yang menarik dari pengalaman itu adalah apa yang dirasakan sepanjang siang hari puasa. Ternyata kuat-kuat saja. Haus? Ya tentu. Kuat? Alhamdulillah, kuat. Dari pengalaman itu muncul kesimpulan bahwa ‘rasa’ puasa itu sangat bergantung niat, bukan apa yang masuk ke dalam perut kita.

Ada sebuah kisah nyata yang populer baik bagi orang Islam maupun Kristen. Kisah itu tentang David vs Goliath (nama dalam kristen) atau Daud vs Jalut (nama dalam Islam). Ini adalah kisah seorang remaja yang berhasil membunuh seorang raja musuh yang berbadan besar dengan menggunakan ketapel. Kisah ini populer sebagai cerita tentang lebih pentingnya kecerdikan daripada fisik untuk meraih keberhasilan. Nah, di sekitar kisah itu ada kisah lain yang tak kalah dahsyat, yaitu tentang para pasukan yang berperang, dimana Daud ikut di dalamnya. Kisah ini dicantumkan di Al Qur’an dalam surat Al Baqarah 246 - 251.

Kisah ini dimulai saat Musa telah meninggal dan Bani Israil menjadi bangsa yang lemah lagi terancam. Kemudian para petinggi kaum Israil itu minta kepada Nabi mereka (saat itu masih jaman turunnya nabi-nabi dengan tanda-tanda kenabian mereka, jumlah nabi itu ada ratusan ribu, demikian menurut para ulama). Kemudian Nabi tersebut menyampaikan bahwa Thalut, seorang dari kalangan biasa, adalah raja yang terpilih. Tentu saja kaum bangsawan sempat protes, namun kemudian mereka tunduk setelah melihat bukti-bukti kebenaran tentang hal itu. Thalut adalah seorang yang berilmu dan berfisik kuat.

Kemudian Thalut membawa tentaranya (tepatnya adalah para laki-laki, termasuk pula Daud yang masih remaja) pergi menyambut tentara Jalut. Thalut, yang mengetahui dari ilmunya, menyampaikan bahwa mereka akan menemui sungai, dan Tuhan akan menguji para laki-laki itu dengan sungai tersebut. Hingga setelah perjalanan jauh yang melelahkan, tibalah mereka di sebuah sungai yang membatasi tentara Thalut dan Jalut. Thalut berkata bahwa mereka yang sungguh-sungguh akan berperang tidak boleh minum air sungai itu, atau kalau pun minum hanya boleh satu cakupan tangan. Maka terpisahlah tentara Thalut itu menjadi dua golongan, mereka yang taat sehingga tidak minum atau hanya minum seteguk dari cakupan tangannya, dan sebagian lain yang menganggap perintah Thalut itu tidak masuk akal dan karenanya cuek saja minum sepuasnya. Bagi yang ingkar, sungguh tak masuk akal tentara yang kelelahan setelah berjalan jauh, kok malah tidak boleh minum padahal sebentar lagi akan berperang dengan musuh yang menakutkan.

Namun di situlah letak keajaibannya. Setelah minum air sungai, golongan yang ingkar dan minum sepuasnya di sungai tadi, tiba-tiba diliputi kecemasan dan ketakutan yang mat sangat, sehingga gentarlah hati mereka dan bergetarlah lutut-lutut mereka. Sementara golongan yang taat dan beriman terhadap apa yang disampaikan Thalut ternyata bersemangat dan memiliki keyakinan kuat dalam menghadapi musuh mereka. Mereka yang telah minum berkata, ” “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Sementara mereka yang taat menjawab, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Thalut dengan pasukannya yang beriman kemudian menyeberangi sungai tersebut untuk menyambut tentara Jalut.

Pertempuran dengan jumlah tentara yang tidak seimbang itu akhirnya dimenangkan oleh pasukan kecil Thalut, dimana Daud berhasil membunuh Jalut.

Dalam kisah itu, mereka yang ingkar dan kemudian meminum air sungai telah mengandalkan logika mereka dalam menjalani tugas yang berat. Hal itu dikarenakan mereka tidak yakin atas kepemimpinan Thalut. Sementara mereka yang setia dengan Thalut meyakini bahwa dengan ilmunya itu Thalut memberitakan hal yang benar, karena itu mereka taat dan meyakini bahwa untuk sukses menunaikan tugas yang sangat berat tersebut bukanlah kekuatan fisik yang bisa mereka andalkan, namun kekuatan keyakinan.

Segelas air dan keimanan. Saya kira hal yang sama terjadi bagi mereka yang berpuasa. Mereka yang terlalu berhitung dengan masukan nutrisi dan lain-lain bisa saja justru menjalani puasa dengan berat, sementara mereka yang bermodal bismillah dan kesahajaan menjadi ringan dalam menjalani puasa. Tentu saja bukan kemudian tidak sahur, sebab telah disunnahkan oleh Rasulullah untuk sahur, karena di dalamnya ada keberkahan. Yang penting disadari adalah bahwa kuat tidaknya menjalani puasa bukanlah karena lengkap tidaknya nutrisi yang dimakan, namun lebih karena keyakinan bahwa ada manfaat tersembunyi yang luar biasa besar dalam ibadah puasa tersebut.

Wallahu a’lam.

Kutipan Surat Al Baqarah 146 - 151

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?” . Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.

Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun berdo’a: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

Mereka mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya pemerintahan dan hikmah dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia atas semesta alam.

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

7 Comments »

    Gravatar Image
  1. Kisah yang luar biasa mas, saya penggemar baru anda

    Comment by syihab — September 27, 2006 @ 4:59 am

  2. Gravatar Image
  3. alhamdulillah,tulisan anda banyak manfaatnya.bagus sekali dan sangat menggugah.amin

    dadang
    http://uangvalas.wordpress.com

    Comment by dadang — September 27, 2006 @ 1:22 pm

  4. Gravatar Image
  5. Tulisan yang bagus Bang terutama yang isinya mengenai : “Yang penting disadari adalah bahwa kuat tidaknya menjalani puasa bukanlah karena lengkap tidaknya nutrisi yang dimakan, namun lebih karena keyakinan bahwa ada manfaat tersembunyi yang luar biasa besar dalam ibadah puasa tersebut”.

    Sekalian minta izin untuk syiar diweb aku Bang, boleh dong? He he he

    Comment by Achmad Falatehan — September 28, 2006 @ 7:10 am

  6. Gravatar Image
  7. Alhamdulillah, sy banyak banyak terinspirasi dari tulisan Anda Mas…, Makasih

    Comment by Masrebo — September 29, 2006 @ 12:06 am

  8. Gravatar Image
  9. memang luar biasa Allah kalo mo ngasih karunia hambanya…

    Comment by QZoners — September 30, 2006 @ 2:18 pm

  10. Gravatar Image
  11. yang gak puasa gak ngerti nikmatnya dunia!

    Comment by rohman — April 7, 2007 @ 4:42 pm

  12. Gravatar Image
  13. Pada suatu tugas liputan di Bandung saya menginap di Novotel. Pas Jumat siangnya saya sholat Jumat di basement. Dalam kutbah jumatnya khotib mengatakan bahwa dalam kondisi kita bangun kesiangan (terlambat bangun-karena hari masih pagi belum siang) kita diperbolehkan makan sahur asalkan matahari belum terbit. Ini, kata khotib, pernah dilakukan nabi dan salah satu sahabatnya. Kata khotib, hadistnya pun shahih. Menurut Pak Khairul gimana?

    ::: yang saya tahu, dibolehkan makan hanya sebelum masuk Shubuh (artinya saat Imsak kita masih boleh makan minum, walaupun harus hati-hati jangan sampai masuk Shubuh). Sedangkan hadits yang saya ingat ttg Rasulullah bangun kesiangan adalah ketika dalam perjalanan bersama para muslimin lalu bangun kesiangan, maka beliau tetap menyuruh sholat shubuh berjamaah (Kalau tidak salah matahari sudah terbit). Jadi, tentang boleh tidaknya makan saat puasa bangun kesiangan, tampaknya tidak boleh. Yang saya tahu, beliau sering bangun ‘kesiangan’, tidak ada makanan hari itu, maka beliau lanjutkan dengan puasa sunnat TANPA SAHUR. Demikian yang saya tahu. Wallahu a’lam.

    Comment by katna — September 17, 2007 @ 7:51 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2006/07/14/kenyamanan-dan-kebahagiaan/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here