Manajemen Waktu : sendiri, berdua, dan bersama
Suatu saat saya berdiskusi dengan teman tentang beratnya tugas yang diemban pasangan (istri kami maksudnya) di rumah, teman saya berkata, “Kita seringkali mengasumsikan bahwa pasangan kita itu baik-baik saja kondisinya. Sampai suatu saat saya mengalami tiba-tiba diprotes istri, “Kok anak terus yang diperhatikan, ibunya kok nggak?” Saya jadi terkejut, saya kira memang semestinya perhatian kami tercurah kepada anak, bukan?” demikian ujar teman saya. Memang begitu pulang dari kantor biasanya dia langsung bermain dengan anak-anak. Ternyata istrinya protes, karena merasa kurang mendapat perhatian.
Benar juga. Kita sering menduga bahwa hal yang kita lakukan sudah yang paling optimal, suami bekerja, istri di rumah dengan bisnis sampingan (kebetulan demikian di keluarga saya dan teman saya tersebut). Everything is fine.
Itu menurut kita. Belum tentu menurut pasangan kita.
Stephen Covey, penulis buku Seven Habits yang punya banyak anak, menganjurkan untuk menjadwalkan setiap orang agar menyempatkan diri bersama dengan anggota keluarga secara bergantian. Kadang kita butuh sendirian, demikian pula istri maupun anak kita kadang butuh sendirian. Kadang kita butuh kumpul bersama, apakah itu jalan-jalan di mall atau makan bersama di luar. Yang sering kita luput adalah waktu untuk berdua. Ya, berdua antara kita dengan pasangan kita, berdua antara kita dengan salah satu anak kita secara bergantian. Yang dianjurkan Covey adalah membuat jadwal rutin untuk berdua bersama dengan anggota keluarga kita secara bergantian. Covey sendiri menjadwalkan bahwa pada akhir pekan maka dia akan berdua dengan salah satu anaknya secara bergantian, demikian pula dengan istri dia yang berdua dengan anak lainnya. Mungkin kita sudah sering memilih berdua dengan pasangan kita, tapi sadarkah bahwa juga penting berdua dengan salah satu anak secara bergantian?
Agus Nggermanto, rekan penulis SEPIA, ternyata sudah menerapkan resep itu. Secara sadar dia berusaha secara bergantian berduaan dengan istri maupun anak-anaknya. Pengalaman itu yang dia sampaikan kepada saya sewaktu saya membuka diskusi mengenai menyempatkan waktu bagi istri agar bebas dari rutinitas sehari-hari.
“Wah, betul juga. Kalau begitu saya akan coba juga di rumah,” demikian kata saya. Sebelumnya saya sudah sering berdua dengan istri, maupun berdua main bersama anak saya. Kebetulan anak saya waktu itu masih tunggal. Sekarang, saya sadar bahwa kita harus menyempatkan diri untuk mencari waktu kegiatan buat sendiri, berdua, maupun bersama semuanya. Jadi sekarang saya secara sadar menemani anak nonton video Barbie, kami berdua saja. Dengan demikian juga membebaskan ibunya untuk memiliki waktu pribadi dia sendiri. Kadang saya ajak anak saya menemani pergi ke warung atau jalan-jalan di pasar ‘kaget’ hari minggu dekat rumah. Ternyata dia senang. Lain waktu gantian saya yang pilih sendiri, membaca buku baru, sementara istri saya pergi dengan si anak, atau bikin kerajinan tangan dari kain flanel. Lain kali si anak main sendiri, sedangkan saya dan istri ngobrol berdua. Selanjutnya sesekali kami semua jalan-jalan bareng ke toko buku atau arena bermain di mall.
Ketika putra kedua lahir, saya makin sadar pentingnya membedakan waktu sendiri, berdua, dan bersama. Kadang-kadang saya pegang si bayi agar ibunya bisa istirahat sejenak. Kadang si bayi dipegang pengasuh (tetangga yang dipanggil) agar si ibu bisa pergi mengurus TK nya. Kadang saya hanya main dengan si anak sulung, berdua naik sepeda bersama. Kadang ibunya jalan-jalan dengan si sulung sementara saya di rumah pegang si bayi. Dan kadang-kadang saya dengan istri nyanyi bareng berdua saja (bertiga dengan si bayi tapi dia tidur). Dan tentu saja, kadang kami memilih sibuk masing-masing, si anak baca cerita Lima Sekawan –nya Enid Blyton, ibunya main game Matching Hearts di komputer, si bayi tidur dengan damai, dan saya sendiri -ngikutin si bayi- tidur-tiduran ayam di kursi tamu.
Kita memang perlu waktu untuk sendirian, berdua, maupun bersama-sama.
Mungkin di kantor perlu begitu juga ya?






wah.. pelajaran yang sangat berharga nih untuk seorang calon bapak seperti aku. Makasih mas
Comment by QZoners — September 18, 2006 @ 10:03 am
hah di kantor seperti itu ?, bisa aja sih, mungkin dalam periode waktu tertentu selalu ada penggantian “partner kerja”
Comment by adit — September 29, 2006 @ 5:32 am
mas…mo nanya nich…bagaimana caranya menghadapi suami yang
egois dan lebih mengutamakan kesenangannya ketimbang keluarga?mohon bantuannya ya mas…terimakasih.
::: memang perlu dengan hati-hati menyampaikan kepada pasangan. Cara terbaik adalah dengan teknik asertif, misalnya, “Kok rasanya pingin jalan-jalan bareng sekeluarga, wisata gitu… enaknya kemana mas?” Atau melalui contoh dari berita, “Tadi baca cerpen ini, kisahnya bagus …. dsb”, atau dibicarakan langsung, “Bang, aku pingin banget ngobrol tentang ini….”. Usahakan dulu yang sehalus mungkin, supaya tidak salah paham sehingga suami mengambil posisi bertahan. Gunakan sesuatu di luar Anda berdua sebagai obyek bahasan. Misalnya, “mumpung anak masih kecil, yuk kita lebih sering jalan-jalan bareng..”. JANGAN sekali-kali menyerang posisi suami (menuduh), misal “Mas sih, sibuk terus…”, dsb. Kalau masih susah juga, ya harus cari kira-kira siapa orang yang berpengaruh bagi suami Anda (teman, suami, atasan, dll). Mungkin bisa titip lewat dia.
?
Comment by nur azizah — October 21, 2006 @ 5:24 pm
setuju banget !! duuuhh saya sungguh bersyukur bisa bertemu ‘anda’/sepia pembangkit motivasi.
Comment by melly — December 13, 2006 @ 1:16 am
saya koq masih bingung yach… tentang EQ,SQ,IQ,PQ,AQ. mohon penjelasaannya.
setelah saya coba, saya dominan doraemon dan nobita. maksudnya bagaimana ya?
kalo mo buat usaha baiknya seperti apa?
makasi…..
Comment by erna — December 13, 2006 @ 8:14 am
termikasih mas sebelumnya, tp bagaimana ya cara berpikir yang tepat dan terarah?
Comment by hendi kaban — April 19, 2007 @ 4:19 pm
manajemen wktu 2
Comment by toni — April 22, 2007 @ 8:53 am
makasih sudah mengingatkan….
kadang kita cenderung terlalu fokus pada satu titik padahal masih banyak titik lain yang membutuhkan perhatian kita…
Comment by afina — May 25, 2007 @ 4:05 am
met siang… mo tanya niy, gmn cara yang terbaik mengatasi pacar yang rada hot.. maksudnya, dia menuntut pembuktian cinta dengan melakukan hubungan seks???
Comment by chika — January 28, 2008 @ 5:14 am
buat Chika. kita perlu HATI-HATI dengan ‘pacar hot’ seperti itu. Dari sikapnya jelas org ini jenis ‘trouble maker’ di kemudian hari karena nilai2 yang longgar (SQ patut dipertanyakan). Mereka yang longgar dalam nilai-nilai moral cenderung longgar pula dalam kesetiaan. Hal yang sama misalnya dengan pacar yang ‘ringan tangan’ (suka memukul). Mereka yang suka menyakiti itu biasanya juga longgar kendali nilainya, dan biasanya calon ‘trouble maker’ di dalam kehidupan keluarga nanti. (celakanya org jenis ini juga lihai dalam ‘rayuan maut’ dan membuai calon korbannya/pacarnya saat itu) Saran saya : jauhi saja pacar jenis ‘ular’ seperti itu. Masih banyak orang baik kok. Hidup berkeluarga akan menyita 2/3 hidup kita. Sayang sekali bila waktu kita habis dan selalu kita pusing berdampingan dengan org seperti itu. (Gak papa Chika ya…, utk urusan moril memang harus tegas, karena itulah sumber kebahagiaan sejati kita.)
Comment by khairulu — January 29, 2008 @ 5:57 am
cocok ni mas
Comment by Anonymous — April 17, 2008 @ 8:34 am
Memang waktu itu penuh misteri yang tidak bisa kita tarik kembali saat telah pergi, mumpung masih da kesempatan mari kita gunakan waktu sebaik mungkin,sebab dunia ini hanya tiga waktu, waktu lampau yang tak mungkin kita harapkan apa2 darinya, waktu sekarang yang dengannya kita peroleh kebahagiaan dan kesuksesan, dan waktu yang akan datang yang tidak kita tahu apakah kita sampai atau ajal mendahului kita
Comment by nur rhahma — June 1, 2008 @ 1:16 am