Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Kenyamanan dan kebahagiaanMenjadi boros agar efisien »

July 23, 2006

Dilema istri menyikapi nafkah haram dan kiat mengatasinya

Bagaimana perasaan Anda ketika tahu Anda diberi hidangan lezat, lalu Anda tahu bahwa itu hasil curian namun tak berdaya menolaknya? Itulah kira-kira dilema para istri (dan juga anak) ketika ragu dengan kehalalan nafkah dari suami.

Sebuah doa yang diajarkan Rasulullah bagi kaum muslim adalah doa sebelum makan. Bunyinya :

Allahumma baariklanaa fii maa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaabannaar

Ya Allah berikanlah barokah (kebaikan) di dalam apa yang di rizki kan kepada kami, dan hindarkanlah kami dari azab (siksa) neraka.

Bertahun-tahun lalu saya menyadari bahwa doa ini unik. Mengapa hanya mau makan saja minta dilindungi dari siksa neraka? Ternyata setelah direnungkan, doa ini mengandung makna yang sangat dalam. Suatu pengakuan kelemahan kita bahwa boleh jadi makanan yang akan kita makan ini sebagian adalah barang haram.

Memang barang haram tidak semata dari jenisnya, tapi bisa terjadi karena cara mendapatkannya. Daging kambing misalnya, adalah daging yang halal. namun bila menyembelihnya dengan cara dipenggal, maka daging itu haram. Atau bila kambingnya curian, maka juga haram. Status haram muncul bukan karena barangnya, namun dari cara mendapatkannya.

Dan itulah yang sering terjadi di dalam rumah tangga. Sang suami pulang membawa nafkah haram. Wujudnya sama saja, berbentuk uang, namun cara mendapatkannya membuat yang halal tercampur dengan yang haram. Yang pejabat dan politisi, nafkahnya tercapur banyak ‘uang terimakasih’. Yang tentara atau polisi, nafkahnya tercampur ‘uang pengamanan’. Yang profesional, nafkahnya mengandung ‘uang bagi-bagi proyek’ yang diada-adakan. Yang pegawai kecil, nafkahnya tercampur ‘gaji buta’ karena sering korupsi waktu dan bolos kerja. Ada banyak hal yang menjadikan barang halal menjadi haram.

Maka suatu hari saya membuka diskusi dengan istri, “Dik, bagaimana ya istri menyikapi nafkah dari suami yang diragukan kehalalannya?”

“Kenapa sih tanya tentang itu?”

Lalu saya bercerita betapa banyak orang yang saya temui sebenarnya resah dengan masalah ini. Jelas ini bukan masalah mudah, namun jelas juga perlu serius dipikirkan.

Lalu istri saya bercerita tentang sebuah keluarga tentara. Sang ayah adalah seorang perwira penting di bagian Psikologi ketentaraan yang memegang peran kunci dalam berbagai seleksi, baik kenaikan pangkat maupun seleksi masuk akademi militer. Jelas dengan kedudukan itu banyak sekali tamu berdatangan yang meminta tolong untuk ‘dibantu’. Untunglah, anak sulung keluarga tersebut dengan gigih selalu menyatakan keberatan mengenai hal itu. Sang ibu kemudian menyampaikan kepada sang ayah dengan mengatasnamakan anak-anak, “Kata anak-anak sebaiknya jangan diterima….” Bertahun-tahun kemudian, ketika sang ayah sudah pensiun dan sedang sakit berat, sang ayah menulis surat yang menyatakan terimakasihnya kepada si anak sulung, karena telah mengingatkannya untuk menghindari suap. Kabarnya sang ayah bermimpi hampir jatuh ke dalam neraka, lalu ditolong oleh si anak sulung tersebut. Kisah ini menyentuh hati saya.

Bagaimana seorang istri menyikapi kegiatan suaminya? Apakah langsung saja menyatakan keberatan atas nafkah yang diberikan? Yah, mungkin berkata langsung terus terang tentang hal tersebut adalah benar, namun belum tentu bijak mengingat lemahnya posisi istri dalam hal nafkah keluarga. Yang saya tahu, biasanya laki-laki gampang tersinggung kalau dipertanyakan kredibilitasnya dalam mencari nafkah. Cara yang lebih bijak adalah menyampaikan pandangan nilai istri atas pentingnya kehalalan nafkah dengan jalan yang halus, misalnya :

  1. istri tidak antusias dengan kemewahan yang dibeli suami. Tak jarang ketika sang suami pulang membawa sesuatu yang ‘wah’, istri ikut meng’amin’I hal tersebut. Wajah gembira dan air muka kekaguman istri adalah cara ampuh yang membuat suami membenarkan apa yang dia lakukan. Ibarat menyiramkan bensin ke dalam kobaran api. Sebaliknya, tanggapan biasa-biasa saja bisa menjadi pesan bahwa istri tidak antusias dengan apa yang suami lakukan. Ini menjadi siraman air ke dalam api.
  2. istri menunjukkan kecenderungan/kecintaan untuk bersedekah secara diam-diam (tanpa publikasi). Biasanya sangat berat di hati bagi seseorang untuk menyumbang, apalagi dengan harta yang kurang halal. Perilaku menyumbang/bersedekah ini akan memberi manfaat sebagai jalan membersihkan harta, dan pengingat untuk terus berjuang mengusahakan harta yang bersih. Dengan menyumbang secara diam-diam akan terhindar dari jebakan pamer. Banyak pejabat publik yang karena kedudukannya dia menjadi ‘terpaksa’ menyumbang. Akibatnya pejabat tersebut menekan pihak ’sana-sini’ hanya agar bisa ‘berhasil’ menyumbang. Tentu saja hal ini bisa dihindari bila sumbangan dilakukan dengan diam-diam.
  3. istri mendoakan suami agar teguh mencari nafkah halal, sulit mendapatkan yang haram, dan mudah mendapatkan yang halal. Hanya Tuhanlah yang kuasa membolak-balik hati manusia, karena itu doa istri pasti sangat mempengaruhi suami. Kalaupun jawaban doa itu seperti tak kunjung datang, yakinlah bahwa kegelisahan hati istri itupun adalah bentuk jawaban atas doa, seperti yang disampaikan oleh Jalaluddin Rumi.

Demikianlah 3 kiat yang semoga bisa membantu. Atau jangan-jangan para istri ini memang memilih pasrah karena diam-diam setuju dengan perilaku suami? Habis enak sih…

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

4 Comments »

    Gravatar Image
  1. Entah benar atau tidak katanya para pelaku korupsi melakukannya karena dorongan dan tuntutan keluarganya.
    Istri & anak banyak menuntut serta membanding-bandingkan dengan teman sejawat, tetangga maupun family.
    Jadi harus seluruhnya terlibat dan memahami untuk tidak mendorong terjadi korupsi, sogok, uang pelicin dan sebagainya. Baik itu Suami, Istri, anak-anak atau bahkan orang tua/mertua sekalipun.
    Dengan demikian mari kita jadikan Negara Indonesia menjadi negara Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur, amien.

    Comment by dhany — July 24, 2006 @ 7:40 am

  2. Gravatar Image
  3. @1

    ya betul, untuk itulah di al qur’an disebutkan bahwa wanita(istri) dan anak2 adalah termasuk ujian bagi seorang suami

    Comment by aditya — August 2, 2006 @ 10:31 pm

  4. Gravatar Image
  5. ngeri ya, doa makan langsung dikaitkan sama neraka. ternyata ini jawaban atas ‘mengapa istri saya biasa aja sama kemewahan’. saya jadi santai dalam bekerja, ngga tertekan.

    Comment by Dany W — August 12, 2006 @ 1:19 pm

  6. Gravatar Image
  7. askum…apa boleh artikel “dilema istri meniykapi nafkah haram dan kiat menyikapinya” di masukkan dalam buletin kampus mingguan??? artikel ini sangat baik, sehingga amatlah baik lagi jika bisa disebar luaskan di kalangan banyak…mhon balasan….matur nuwun

    Comment by irayhs — April 20, 2009 @ 4:07 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/05/24/selamat-datang/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here