Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Bukan hidup seimbang, tapi hidup sinergis!Dilema istri menyikapi nafkah haram dan kiat mengatasinya »

July 14, 2006

Kenyamanan dan kebahagiaan

Mobil masuk bengkel dan saya malas menunggui, maka saya pulang saja naik angkutan kota. Dalam kendaraan, duduk di depan saya seorang ibu sedang menggendong bayi yang tidur. Di sampingnya duduk perempuan kecil, anaknya. Penampilan mereka sangat sederhana. Saya mengamati mereka, dan tersenyum dalam hati. Terasa di hati saya pancaran cinta diantara mereka bertiga.

Sering saya merasakan nuansa yang indah saat duduk di antara masyarakat ‘biasa’. Jum’atan di mesjid kampung, naik angkutan kota, atau makan di warung murah meriah pinggir jalan. Ada suasana yang berbeda dengan Jum’atan di gedung pencakar langit sisi jalan Sudirman, naik pesawat, dan makan buffet ‘all-you-can-eat’ di hotel Mulia. Mungkin rasa itu muncul dari kenangan masa kecil, mungkin juga karena memang nuansa ‘getaran rasa syukur’ lebih terasa ketika bersama masyarakat wong cilik itu.

Tidak salah kok jadi orang kaya (dan bergaul dengan yang kaya-kaya). Juga tidak salah menjadi orang kecil (dan bergaul dengan sesama orang kecil). Tuhan Maha Adil, setiap orang memiliki rasa bahagianya masing-masing.

Lihatlah fenomena liburan sekolah. Tiap kali liburan sekolah datang saya tercenung melihat betapa anak-anak kota seperti kesulitan mencari kegiatan pengisi liburan. Tempat wisata penuh jadi tujuan. Acara-acara permainan yang diselenggarakan sekolah-sekolah banyak diserbu anak-anak. Ah, jaman sekarang, cari gembira saja perlu keluar uang. Mungkin karena keluarga saya dulu nggak perlu ‘heboh’ seperti itu untuk mengisi liburan. Anak sekarang, terutama yang orangtuanya punya dana, sepertinya perlu bantuan untuk mencari ‘kesibukan’. Ah, mungkin saya bias melihat sebagian dari lingkungan saya. Mungkin di kampung-kampung masih banyak anak-anak yang berhasil mencari kegembiraannya sendiri tanpa perlu melibatkan orang tuanya untuk pusing mencarikan kegiatan. Anak-anak dari keluarga tak punya sudah sadar bahwa orang tuanya tak punya uang, maka mereka menjadi kreatif menciptakan kegiatan sendiri. Di sinilah saya kira wujud ke-Maha Adil-an Tuhan. Sesuatu yang harus dikejar orang ‘berada’ dengan biaya, ternyata bisa diraih yang tak punya dengan cara sangat sederhana. Hasil : sama-sama gembira.

Merujuk pada sejarah para Nabi, sebenarnya kaya dan miskin bukanlah masalah. Ada nabi yang kaya, ada pula yang miskin. Namun mereka mempunyai kunci sukses yang sama : kesabaran dan rasa syukur. Sulaiman, orang terkaya sepanjang masa pun mengetahui bahwa semua kekuasaan dan kekayaannya hanyalah bentuk ujian bagi dia, apakah dia akan bersyukur atau kufur (ingkar). Seringkali kenyamanan justru menjerumuskan kita menjauh dari kebahagiaan.

Saya mengamati bahwa ternyata manusia menjadi makin kuat hubungan emosinya justru setelah menghadapi ketidaknyamanan bersama. Sewaktu masih aktif di Pramuka masa sekolah dulu, saya melihat bahwa anak Pramuka, anak pecinta alam, atau kelompok apapun menjadi sangat kuat ikatan emosinya setelah melalui rumus ini : makan, tidur, dan jalan bareng. Sebenarnya ikatan hati itu muncul karena mereka pernah mengalami ‘nasib susah’ bersama-sama. Kita kenal ungkapan “Sahabat sejati adalah dia yang ada di samping kita saat susah”. Lihat mereka yang pernah ikut mapram (ospek), ikut latihan militer, ikut perjalanan pengembaraan, dll, mereka yang menghadapi tantangan bersama biasanya menjadi lebih karib persahabatannya.

Hal yang mirip saya kira terjadi pada keluarga yang mengalami ‘banyaknya tantangan hidup’, kemudian menghadapinya dengan sabar secara bersama-sama. Keluarga seperti ini biasanya memiliki cinta yang sangat kuat di antara mereka, baik sang ayah, ibu, kakak, maupun adik. Sebaliknya keluarga yang hanya bersama dalam kegembiraan (biasanya hanya saat liburan), namun membiarkan tiap anggota keluarga mengurus masalahnya sendiri-sendiri, biasanya mengalami kekeringan cinta. Mungkin itulah kenapa pasangan yang sering bergembira bersama-sama ikatan emosi cintanya masih kalah dengan pasangan yang menghadapi derita bersama-sama. Pasangan yang sudah menjalani penderitaan dengan kebersamaan menjadi semakin yakin bahwa mereka adalah dua orang yang menjalani cinta sejati. Di situlah saya kira cinta Tuhan dicurahkan bagi mereka masyarakat bawah. Tantangan-tantangan hidup yang mereka hadapi dengan sabar dan syukur dibalas dengan ketentraman batin dalam keluarga.

Kembali kepada ibu dan dua anaknya di angkutan kota itu, saya kira kebersamaan orang seperti mereka itu,- yang menjalani perjalanan naik-turun angkot, dengan uang pas-pas-an yang harus dihitung sungguh-sungguh, bawa bekal sendiri untuk menghindari jajan - adalah jalan yang akan mengokohkan ikatan batin antara mereka. Hidup mereka boleh jadi tidak terlalu nyaman, namun sesungguhnya mereka diberi jalan untuk mendapatkan kebahagiaan. Saya yakin.

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

6 Comments »

    Gravatar Image
  1. Setuju, mas. Yang penting bagaimana merasakan kebahagiaan itu juga dan menyadari bahwa kita tak sendiri.

    Comment by Hedi — July 14, 2006 @ 7:44 am

  2. Gravatar Image
  3. Beruntunglah kami,
    Kita kecil termasuk keluarga yang bottom end
    Ketika berkeluarga hidup di kota kecil atau bahkan bisa disebut pedesaan.
    Mudah-mudahan semua buah hati kami kuat rasa persaudaraannya, besar empatinya, dan menjadi insan yang selalu bersyukur.. Amien

    Comment by dhany — July 17, 2006 @ 3:23 am

  4. Gravatar Image
  5. Saking seringnya dibanjiri info baik dari dongeng, radio, dan sinetron tv, baik yg tersurat maupun tersirat, baik yg mau diakui atau tidak, saya jadi berpikir…sptnya di bwh sadar byk org, kaya itu adalah sesuatu yg patut dijadikan musuh bersama, dan sering kita menyetujui ajakan halus yg membisikkan kepada kita, “sudahlah jgn ngotot bgt jadi org kaya…toh org kaya blm tentu bahagia” di sini kata2 “blm tentu” koq saya pikir2 lebih cenderung ke kata “tidak” ya ? Jadi seolah2 org kaya itu ga ada yg bahagia hatinya…coba adakah dongeng yg menceritakan org kaya lagi bahagia hatinya? kalo ada mau dong url-nya :)

    Comment by Tri — July 18, 2006 @ 4:01 pm

  6. Gravatar Image
  7. kaya dan bahagia contoh utamanya adalah Nabi Sulaiman a.s. (Solomon). Ibrahim juga kaya, demikian pula banyak Nabi lainnya. Kaya miskin sebenarnya sama-sama bagus, asalkan bisa menjadi ladang amal bagi kita. :)

    Comment by khairulu — July 19, 2006 @ 9:02 am

  8. Gravatar Image
  9. ass wr wb, apa kabar mas, maaf kemarin saya nggak bisa ikut sampai selesai, keburu tumbang … :) . Terima kasih atas pencerahannya … seperti kata Arvan Pradiansyah ya, hidup jangan tertidur …

    Comment by zuki — July 23, 2006 @ 10:29 am

  10. Gravatar Image
  11. prestasi di mulai dari keluarga , mudah2an makin banyak keluarga yg lulus SD (Sadar Diri)untuk bersama menuju ke baikan dan kebahagiaan. Biarlah kita jalani hidup ini apa ada nya.

    Comment by bowie — July 24, 2006 @ 7:28 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/11/06/linus-torvalds-memberi-sedikit-untuk-mengambil-banyak/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here