Kiat mengadu dalam keluarga
Bila Anda sudah menikah, boleh jadi suatu ketika Anda dengan pasangan Anda sedang saling kesal. tak jarang keributan yang muncul semakin menjadi-jadi karena kedua pihak saling menjelekkan dan mengadu kepada keluarganya masing-masing. Tak jarang kejadian sepele akhirnya berujung pada perceraian.
Saya punya pengalaman mengenai bagaimana kita mengadu kepada keluarga. Prinsipnya sederhana : mengadulah kepada mertua Anda! Misalnya suami mengadu kepada ibu dari istri, demikian pula sebaliknya istri mengadukan suaminya kepada ibu si suami.
Mengapa demikian? Agar pihak tempat mengadu dapat bertindak netral. Misalnya seorang suami kesal dengan sikap istri, maka hal terbaik adalah membicarakan kekesalannya kepada ibu si istri (ibu mertua). Dengan demikian ibu mertua akan bertindak untuk verifikasi dari pengaduan itu. Sejelek-jeleknya si istri, tentu ibunya tidak akan terima begitu saja bila anaknya itu diadukan jelek. Jadi ibu mertua bisa bertindak ‘lebih netral’.
Jika seorang suami mengadukan kejelekan istrinya kepada ibunya sendiri, biasanya yang terjadi si ibu akan menerima pandangan itu dengan berat sebelah, mendukung anaknya (si suami), dan dengan demikian persepsi si ibu ini akan sangat negatif kepada menantunya (si istri). Demikian pula sebaliknya bila si istri mengadu kepada ibunya, maka ibunya itu akan punya pandangan negatif kepada menantunya.
Singkatnya, bila ada pasangan yang sedang bertengkar, resep yang jitu adalah mengadu kepada pihak yang mungkin akan membela pasangan itu, dalam hal ini yang paling tepat adalah mertua, atau mungkin sahabat pasangan Anda. Yang sering terjadi adalah, pasangan yang sedang bertengkar justru mengadu kepada keluarganya masing-masing atau kepada temannya masing-masing. Akibatnya konflik semakin memburuk karena empati keluarga/teman menyebabkan mereka cenderung memihak dan tidak lagi netral.
Untunglah keluarga kami hampir tidak pernah bertengkar. Kalau salah satu sedang kesal kepada yang lain (misal istri saya sedang kesal), saya cukup menyingkir dulu. Beberapa waktu kemudian saling minta maaf. Selesai.
artikel terkait : Memberi orang lain kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan







Tergantung, walau jarang, bisa jadi sang mertua lebih sayang pada menantu daripada ke anaknya sendiri (pengalaman pribadi juga)
Kalau sedang kesal? Mending diem aja. Diomonginnya ntar kalau masing-masing udah ‘adem’ dan siap menerima penjelasan pihak lain. Gak pernah ngadu2 sih
Dan permintaan maaf juga tidak menyelesaikan masalah. Marah ya marah. Dimaafkan ya dimaafkan. Tapi masalah tetap dibahas hingga dicari titik temu solusinya.
Peace, ah…
Comment by Lita — June 11, 2006 @ 9:19 am
Andaikan ada mertua yang terlalu over protected kepada anaknya, tentu efektifitasnya patut diragukan.
Itu semua tergantung kondisi masing-masing.
Disisi lain, banyak komunikasi anak vs mertua kurang lancar, jadinya pesan yang disampaikan tidak optimal.
Comment by dhany — June 15, 2006 @ 7:04 am
ooh begitu yah, boleh deh tak simpen nih artikel buat bekal entar he he
Comment by Aditya — June 27, 2006 @ 3:47 am
Wah kayaknya cocok tuh sama pendapatnya lita (point 1)
karena saya juga mengalami sendiri, boleh di kata apa yg saya bicarakan kepada ibu mertua selalu dikatakan bnar alias selalu membela saya walau yg jadi masalah ananya sendiri. Intinya lebih mempercayai saya (sebagai anak menantu).
Kalo masalah keluarga sih, selesaikan sendiri saja dengan kepala dingin tanpa emosi, karena emosi akan menyelesaikan masalah dengan masalah.
Comment by royan — July 12, 2006 @ 6:56 am
mengadu ke mertua?? Wah, bisa2 nambahin berantem lagi, mas. Biar gimanapun, itu kan anaknya yang lagi kita protes kan? Saya sih ga mungkin mengadu ke mertua..
Comment by Febby — July 13, 2006 @ 7:20 am
Sabaar aza. Sambil ngadu ke Allah Sipemilik manusia, sambil cooling down. Ntar kalo dah adem kita cari solusi bersama… hi..hi…
Comment by Hardy — August 28, 2006 @ 6:23 am
susah euy.biar bagaimanapun mertua spt orang sasing.ada batasan2 dalam pembicaraan. ga semua di ceritakan blak2 an.
Comment by diana — December 6, 2006 @ 1:32 pm