Golden Moment : saat tepat meningkatkan hubungan emosi dengan anak
Karena sibuk merintis karir, banyak orang tua melewatkan masa-masa indah bersama anak-anaknya. Akibatnya walaupun semua keinginan fisik anak dipenuhi ternyata jiwanya tetap kosong. Banyak terjadi sebuah keluarga yang sangat mapan secara ekonomi namun sangat labil secara emosi. Ini dikarenakan dilema dalam memilih prioritas keluarga. Saat anak masih kecil, kebanyakan orang tua sedang sibuk merintis karir, sehingga anak benar-benar kehilangan orang tuanya. Apalagi saat sempat berkumpul, ternyata orang tuanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Badannya di rumah, namun hatinya masih di luar rumah. Kesibukan kerja ternyata sering membuat kita melewatkan masa emas bermain dengan anak-anak.
Anak kita tak selamanya mau bermain dengan kita. Bila sudah menginjak masa puber, pasti kesempatan orang tua untuk bermain dengan anaknya akan menurun drastis. Anak-anak remaja biasanya memilih teman-teman sebaya mereka untuk bermain. Malu rasanya masih main dengan orang tua kita. Karena itu masa emas bersama anak adalah saat mereka masih balita hingga usia SD. Saat itulah kita harus memberikan perhatian untuk meraih kesempatan emas menjalin hubungan dengan anak.
Kapan saat emas itu muncul? Sangat sering. Ketika dia mendapat PR dari sekolah, ketika dia mau nonton film kartun, ketika dia minta diantar berenang, dll. Ketika seorang anak memerlukan orang tuanya, kita perlu hadir. Dan masa itu hanya sementara, saat balita hingga puber. Setelah itu lewat, jauh lebih sulit menjalin hubungan emosi dengan anak.
Salah satu saat penting untuk menemani anak adalah ketika dia mengalami pembelajaran baru yang membuat rasa percaya dirinya tumbuh. Pengalaman saya misalnya adalah saat anak pertama kali bisa … bersepeda!
Setelah kita dewasa, bersepeda adalah hal biasa, namun bagi anak kecil, bersepeda merupakan pengalaman luar biasa. Satu pengalaman yang mengajarkan bahwa dia mampu melakukan sesuatu. Dia mampu belajar, dia mampu tumbuh. Saya mengamati bahwa anak saya sangat takut untuk melakukan hal-hal baru secara fisik. Saya tidak khawatir tentang hal itu. Setelah memahami konsep kecerdasan majemuk (multiple intelligences) saya tahu bahwa kekuatan anak ini adalah di bahasa dan visual. Kecerdasan kinestetik tampaknya (saat ini) bukan keunggulan dia. Namun keluarga kami terus mendorong anak tersebut untuk mencoba hal-hal yang berkaitan dengan ketrampilan kinestetik karena hal ini penting, salah satunya adalah bersepeda.
Mungkin sudah dua tahun sejak dia mulai mengayuh sepeda mini roda empat (ada dua roda pendukung). Tampaknya dia malu karena teman-temannya sudah jauh lebih dulu bisa, sementara dia tetap saja beroda empat. Kemudian kami copot salah satu roda pembantu itu, maka sekarang dia memakai sepeda roda tiga. Ternyata kemudian dia menunjukkan penolakan untuk belajar bersepeda. Alasannya : malas. Malas? Saya menerjemahkannya adalah, dia mungkin takut. Yah, anak kecil selalu takut dengan bayangannya bukan? Entah takut hantu, atau takut jatuh. Padahal itu belum pernah terjadi. Atau mungkin dia malu lalu merasa tidak ‘berbakat’ naik sepeda. Ya, sudahlah, biarkan dulu. Setiap anak punya kecepatan belajar masing-masing. Saya hanya bilang, “Dika, kalau kita bisa naik sepeda maka dunia kita menjadi makin luas. Dika bisa main ke tempat yang lebih jauh….”
Anak itu tetap malas (atau takut) bersepeda. Hal itu berjalan lebih dari setahun. Hingga suatu saat saya lihat dia sudah bosan nonton film, bosan baca buku, dan bosan menggambar. Mungkin inilah saatnya untuk melatih kinestetiknya. Maka suatu hari saya pulang membawa pompa angin yang dibeli dari pasar kaget hari jumat dekat masjid.
“Dika, ini ayah bawa barang baru coba tebak apa?” Tentu saja dia gagal menebak, karena yang dibawa adalah sebuah pompa angin. Lalu mulailah kami menengok kembali sepeda yang sudah lama terlantar. Awal pembicaraan dimulai dengan memompa sepeda. Setelah itu dia mulai mencoba kembali sepeda itu. Selanjutnya sore itu kami bermain bersama, dia menggenjot sepeda roda tiganya, sementara saya di sampingnya berlari terengah-engah menguatkan semangatnya. “Ayuk… ayuk.. ayah di samping njagain Dika….”
Dan seperti anak-anak lainnya, keajaiban kemudian muncul. Dia mulai bisa sedikit-sedikit bersepeda dengan hanya dua roda. Esok harinya kami main lagi, main lagi, dan main lagi. Dan akhirnya dia berani untuk dicopot roda pendukungnya. Tentu saja dengan syarat, pegangi dari belakang biar tidak jatuh. Oke. Maka mulailah kembali ritual lari-lari di samping anak kecil bersepeda. Lalu saya berlari di belakangnya. Capek juga lari dengan membungkuk memegangi sepeda mini. Lalu akhirnya… horee dia bisa bersepeda!
Sesungguhnya saat masih kecil dulu saya belajar sepeda dengan sepeda teman, tanpa dibantu orang tua. Saya sih berani mencoba sendiri dengan jatuh bangun menabrak pagar tanaman dan masuk lobang sampah. Balajar sepeda sebenarnya tidak perlu bantuan orang tua. Anak-anak juga bisa. Tapi tampaknya belajar dengan ayah adalah suatu pengalaman yang mengesankan bagi anak saya. Dan saya setuju, rasanya indah sekali melihat anak kita tumbuh, dan saat itu… kita ada di sampingnya.
Kesimpulan : ‘golden moment’ untuk meningkatkan hubungan dengan anak adalah ketika dia mengalami suatu hal baru yang memberdayakan dirinya. Saat itu raihlah kesempatan emas untuk meningkatkan jalinan emosi dengan anak.
Terinspirasi oleh cerita Pipin di Jerman.







saya tertarik sekali, saya ingin menjadi member, bagaimana caranya ya?
::: Sepia dijual di Gramedia topik Psikologi. Atau pesan lewat SMS seperti tersedia di link kanan atas. tks ya.
Comment by firda — June 8, 2006 @ 2:00 pm
member..??? apa memang ada…???
Comment by dhany — June 9, 2006 @ 1:15 am
walau belum berkeluarga saya merasakan bahwa kebersamaan dengan ayah atau ibu amat penting bagi kita sebagai anak walau pun itu tidak beberapa lama atau hanya sesaat apalagi bercengkrama di malam hari..hal yang sangat menyenangkan bagi kita sebagai anak2.:)
Comment by koiki — June 17, 2006 @ 9:32 am