Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Dogma : kisah sebuah potGolden Moment : saat tepat meningkatkan hubungan emosi dengan anak »

May 21, 2006

Memberi orang lain kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan

Filed under: Kecerdasan Emosi, Kiat

Suatu ketika saya bertanya kepada anak saya, “Dika mau tidur dimana malam ini?” Memang dia biasa tidur di dua tempat, kamarnya sendiri atau bersama ibunya. Anak itu tidak menjawab. Dia sibuk bermain-main tanpa mengacuhkan pertanyaan ayahnya. Saya mengulangi lagi pertanyaan itu. Dan sekali lagi anak itu cuek saja.

Maka saya menegurnya (dan sejujurnya saya kesal dengan sikap cuek anak itu), “Dika, kalau ditanya orang tua menjawab dong, jangan diam saja seperti itu…” Ibunya pun menegur pula, anak itu dimarahi ibunya karena sikapnya yang cuek itu. Memang kami berdua telah sepakat bahwa untuk urusan moral kami harus bersikap tegas. Saya bahkan menimpali dengan teguran yang sangat keras, “Sikap cuek itu sikap anak durhaka….” (duh, teguran ini tentu sangat keras)

Maka anak itu terlihat guncang. Usianya baru delapan tahun, dan kami tahu dia anak yang cukup perasa. Anak itu tampaknya mulai menangis dalam diam. kami pun mendiamkannya pula. Terasa betul keheningan yang sangat tidak mengenakkan. Ibunya lalu pergi ke ruang lain. Suasana sangat tidak nyaman.

Saya kira ini adalah situasi yang amat menekan anak itu. Dia tahu bahwa sikap cueknya itu buruk. Saya pun tahu bahwa anak ini menyesali sikapnya itu. namun situasinya sudah sangat kikuk. Saya merasa, bila saya sendiri berada dalam posisi anak itu, tentu berada dalam situasi serba salah. Maka saya kemudian bertanya lagi kepada anak itu.

“Jadi, Dika mau tidur dimana malam ini?” tanya saya. “Bersama ibu.” jawab dia. Plong sudah! Anak itu mendapat jalan keluar untuk memperbaiki kembali kesalahannya. Saya tidak melihat wajahnya secara langsung, namun dari bahasa tubuhnya jelas anak itu sekarang merasa jauh lebih lega….

Kita sering kali menghadapi situasi semacam ini. Entah kita, atau orang lain, terjebak pada situasi salah, sadar bahwa salah, namun merasa berat untuk mengungkapkan diri bahwa kita sudah berubah dan mau mengubah kesalahan itu. Tidak semua orang dengan mudah mengakui dirinya bersalah (gengsi donk…). Tidak semua orang mudah untuk mengucapkan, “Saya minta maaf ya….” Pada saat itulah bila kita berada dalam posisi ‘di atas angin’, selayaknya kita membuka kesempatan bagi orang lain untuk mengoreksi kesalahannya.

Pada cerita di atas, anak tersebut sudah mengakui bahwa sikapnya salah, namun sulit untuk langsung menyatakan rasa penyesalannya. Apalagi dia masih kecil, masih mudah terhanyut oleh perasaannya. Saat itulah, ketika dia ditanya kembali, maka dia menemukan jalan (sebagai alasan) untuk memperbaiki kesalahannya. Ibarat suasana menekan dalam sebuah ruang tertutup nan pengap, lalu tiba-tiba sebuah lubang ventilasi kecil dibuka, maka dengan segera kepengapan itu bocor keluar digantikan dengan udara segar yang melegakan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita perlu memberikan kesempatan kedua bagi orang lain untuk mengoreksi kesalahannya. Mungkin suami memberi jalan bagi istri untuk meminta maaf. Demikian pula seorang istri membuka jalan bagi suami untuk meminta maaf. Mungkin juga seorang pimpinan memberi jalan bagi bawahan untuk memperbaiki kesalahannya, demikian pula sebaliknya bawahan memberi jalan keluar bagi pimpinan untuk memperbaiki kesalahan. Jujur saja terkadang karena kesal kita lalu menutup jalan keluar bagi orang lain untuk berubah. Rasain luh, demikian suara dalam hati kita.

Cara yang paling sering saya pakai adalah menyatakan penyesalan saya karena munculnya suatu keributan (saya bukan minta maaf, sebab saya yang berada di atas angin), misalnya, “Saya menyesal kita tadi ribut-ribut masalah itu…” Dengan ungkapan ini biasanya pihak lain (misalnya istri saya) mendapat jalan untuk juga menyatakan penyesalannya, bahkan meminta maaf. Dengan demikian kedua pihak menjadi lega. Biasanya kalimat berikutnya adalah, “Lain kali sebaiknya ….”

Sejujurnya kiat ini sangat ampuh untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. :)

Anda pernah mengalami hal yang sama? Bagi cerita donk…

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

3 Comments »

    Gravatar Image
  1. betul mas, kadang hanya karena khilaf beberapa detik masalah yang sebenarnya sepele menjadi besar, setelah saya renungkan biasanya hal ini terjadi ketika kita salah dalam bersikap dan terlalu spontan dalam bertindak, jadi bener juga ya kata Aa Gim, besar kecilnya masalah terkadang bukan dari ukuran masalah itu tapi tak jarang justru dari bagaimana kita menyikapinya..
    Btw.. kisah ini sangat penting tidak hanya untuk bekal berumahtangga tetapi juga untuk kehidupan bermasyarakat..
    hehe orang Inggris bilang gedhe pangapuran ora kasoran..

    Comment by Ko Ji bao — May 26, 2006 @ 1:33 am

  2. Gravatar Image
  3. kesempatan kedua itu adalah hal yg mengasyikan jika kita mendapatkannya dan diberikan … setiap orang memang wajar berbuat kesalahan ..tetapi akan lebih baik jika mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaikinya ..

    Comment by Dwi Utomo Prabowo ( bowie ) — June 11, 2006 @ 10:47 am

  4. Gravatar Image
  5. Aku punya masalah dengan anak ke-2 kami yang berusia 7,5 tahun.
    Type yang sangat sulit untuk bisa mengungkapkan isi hatinya.
    Bila punya keinginan/masalah yang dilakukan hanya diam, kadang kami berdua sering jengkel, karena tidak bisa menangkap apa maunya.
    Yang paling parah, kalau pas mau berangkat sekolah, bila ada sikap anggota keluarga yang kurang pas dimatanya / menyinggung, diapun diam tak bergerak sama sekali, bahkan sering tidak jadi berangkat ke sekolah.
    Kalau sudah begini, kami berdua sebagai orang tua sering meninggi emosinya.
    Mohon saran….

    ::: memang kita perlu sabar untuk membimbing dia agar bisa mengungkapkan perasaannya. Caranya adalah sering ditanya perasaaannya/pendapatnya (dengan gaya konfirmasi), misal : tampaknya adik sedang kesal ya? Kenapa? Apakah karena tidak boleh nonton TV?
    Bisa juga dengan mendorong dia untuk menggambar/menulis lalu diminta menceritakan hasilnya.
    Mudah-mudahan dengan cara itu bisa terlatih mengungkapkan isi hatinya.

    Comment by dhany — June 15, 2006 @ 7:13 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/07/21/melatih-kecerdasan-emosi-anak-mengenali-emosi/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here