Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Tukang becak naik haji : kisah Wahid yang cerdas finansialMemberi orang lain kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan »

May 15, 2006

Dogma : kisah sebuah pot

Seorang ayah mempunyai pohon bonsai kesayangan yang ditanam dalam sebuah pot. Si ayah tersebut begitu sayangnya dengan bonsai itu dan rajin merawatnya. Setiap hari dia menyirami tanaman tersebut. Suatu ketika si ayah jatuh sakit, maka dia memanggil anaknya. “Nak, tolong sirami pohon di pot itu,” katanya. Si anak menuruti pesan ayahnya. Dia menyirami tanaman dalam pot itu. Ketika si ayah kembali sehat, maka pohon itu kembali disiram si ayah. Hingga tibalah umur si ayah, maka ketika menjelang ajal dia berpesan kepada anaknya, “Ayah titip kau rawat tanaman itu.” Lalu meninggallah si ayah. Si anak melanjutkan pesan itu dengan baik. Setiap hari dia menyirami tanaman di pot itu.

Waktu berlalu, suatu ketika si anak kemudian menjadi seorang ayah. Dia memiliki seorang anak. Setiap hari si anak melihat ayahnya menyirami pot. Tak lama kemudian meninggal juga si ayah ini meninggalkan seorang anak yang berbakti. Setelah ayahnya meninggal, si anak ini ingat bahwa ayahnya sering menyirami tanaman di pot itu. Maka dia melanjutkan dengan terus menyiram tanaman di pot tersebut.

Lalu si anak tumbuh dan menjadi seorang ayah. Dia memiliki anak. Ketika menjelang ajal si ayah berpesan kepada anaknya, “Nak, kakekmu dulu mewariskan pot itu. Beliau amat menyayanginya. Tolong kamu rawat dengan menyiraminya setiap hari.” Lalu si ayah meninggal dunia, meninggalkan seorang anak yang berbakti. Sayang, suatu ketika si anak pergi keluar kota cukup lama. Ketika kembali pulang, tanaman di pot itu telah mati sehingga daunnya berguguran dan tinggal hanya seonggok tunggul batang kering. Namun si anak ini tetap mengingat pesan ayahnya, maka dia sirami tunggul batang kering itu setiap hari.

Si anak kemudian menjadi seorang ayah. Dia memiliki anak yang berbakti. Dia melanjutkan pesan ayahnya dulu kepada anaknya, “Nak, kakekmu mewasiatkan agar kita menjaga pot ini. Siramlah setiap hari.” Lalu tibalah ajalnya, dan anak yang berbakti itu melanjutkan menyiram pot itu. Setelah lama waktu berjalan, tunggul pohon mati dalam pot itupun lapuk dan akhirnya musnah. Tinggallah pot itu tanpa tanaman.

Si anak kini telah menjadi seorang ayah. Dia memiliki seorang anak yang berbakti. Ketika si ayah ingat pesan bapaknya dulu, maka dia mewasiatkannya kembali kepada anaknya, “Nak, kakekmu pernah berpesan, kita harus merawat pot ini dengan menyiraminya setiap hari.” Ketika ajal si ayah telah tiba, si anak melaksanakan wasiat ayahnya dengan penuh kekhusyukan.

Akhirnya dari generasi ke generasi, keluarga itu terus mewariskan tradisi menyiram pot keramat itu.


Sound familiar? Itulah yang terjadi ketika sebuah masyarakat mewariskan agama, tradisi, dan pendidikan-pendidikan tanpa menjelaskan kembali esensi dari hal yang diwariskan. Yang akhirnya dilakukan adalah menjalani ritual menyiram pot. Mereka tidak tahu bahwa menyiram pot hanya berguna bila di dalamnya ada pohon. Mereka mungkin tidak tahu, tidak ingin tahu, atau bahkan tidak peduli….

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

11 Comments »

    Gravatar Image
  1. makin tidak masuk akal setelah bonsainya mati hehehehe..

    Comment by tukangKoding — May 16, 2006 @ 12:35 am

  2. Gravatar Image
  3. saya setuju dengan anda….
    memang terkadang kita cuma nilai dari apa yang ditangkap oleh indara kita.

    Comment by surya abdul karim — May 17, 2006 @ 9:31 am

  4. Gravatar Image
  5. Waktu bonsainya sudah mati, apakah bijaksana untuk membeli bonsai baru??? Dalam hal ini, kita berinisiatif memperkenalkan nilai baru yang dirasa cukup setara dengan masa lalu,

    Comment by gede — May 19, 2006 @ 3:57 am

  6. Gravatar Image
  7. saya setuju dengan om gede, pada saat bonsai mati, kenafa tidak memberi pohon baru di pot tsb, dalam arti kata kita mengemas ritual itu dengan esensi yang baru dan bisa di terima dengan logika

    Comment by denrief — May 20, 2006 @ 6:44 am

  8. Gravatar Image
  9. Saya jadi mikir….
    udah 6 (enam) generasi pot tsb diwariskan, kalau tiap generasi 25 tahun, berarti umur pot sudah 150 tahun. Yg jadi pertanyaan saya: emang tahun 1850-an udah ada bonsai ???

    Comment by John L Doe — May 26, 2006 @ 2:25 pm

  10. Gravatar Image
  11. bang artikelnya bagus2
    aku boleh addlink ke blod bang Khairul tho…

    ::: silahkan mas, tks juga.

    Comment by mujayanto — June 7, 2006 @ 5:59 am

  12. Gravatar Image
  13. Ada benarnya juga, banyak masyarakat kita lebih mengutamakan ritual daripada esensi ibadahnya.
    Karena untuk mengetahui esensinya membutuhkan waktu untuk belajar, Belajar & BELAJAR.
    Para pemuka agama-pun menikmati kondisi masyarakat yg malas untuk belajar, karena dengan demikian mereka merasa selalu dibutuhkan.
    Wallahu alam, mudah-mudahan pandangan saya keliru.
    Mohon koreksi.

    Comment by dhany — June 9, 2006 @ 1:24 am

  14. Gravatar Image
  15. senadainya semua orang tua berpikir kritis dalam memahami esensi dogma, maka mereka akan membiarkan semua terjadi secara alami pada anak2 mereka… dan dengan pilihan mereka sendiri

    Comment by eva chan — June 10, 2006 @ 2:47 am

  16. Gravatar Image
  17. malu bertanya salah menyiram pot

    dengan bertanya ?, maka setidaknya esensi dapat kita ambil dari suatu permasalahan

    Comment by Aditya — June 27, 2006 @ 5:11 am

  18. Gravatar Image
  19. Rul, cerita itu banyak kita temui dalam kehidupan sehari-2, sehingga sering terjadi salah kaprah. contohnya, kalo anak kejang kasih aja minum sesendok kopi. Nah, apa hubungannya kopi dengan kejang..? Kalo luka bakar kasih odol..nah.lo..apalagi nih korelasi antara odol dengan penyembuhan luka bakar..? Nggak ada…semua terjadi hanya karena ikut-2an tanpa tahu apa alasannya.Itu yang sering saya temui pada pasien…he-he…

    Comment by lelita — January 13, 2007 @ 4:00 pm

  20. Gravatar Image
  21. Cerita yang menarik. dapat dimana sih?

    Comment by nawi — August 30, 2007 @ 7:08 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2006/03/06/playboy-dan-teori-jendela-pecah/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here