Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Lupa lagi : bagaimana mengingat angka dengan mudah dan ampuhPaul Ekman : seni membaca wajah »

April 24, 2006

Bahagia subyektif dan obyektif

Filed under: Konsep, Cara Bahagia

Asumsi umum : setiap manusia dewasa telah mengetahui apa itu bahagia. Itu asumsi umum. Kenyataan : banyak manusia dewasa yang tidak bahagia, karena tidak tahu apa itu bahagia.

Mari kita kembali membahas apakah bahagia itu? Jawabannya ada dua macam : bahagia subyektif dan bahagia obyektif.

Bahagia subyektif

Tanyakanlah kepada setiap orang apakah mereka bahagia. Jawabannya akan beragam. Ada yang menyamakan bahagia dengan kesenangan. Ada pula yang menyamakan bahagia dengan pengorbanan. Ada yang meraih kebahagiaan dengan memuaskan keinginan (hal ini sangat sesuai dengan teori dorongan seksual Sigmun Freud, atau filsafat hedonisme Epicurus), ada yang sebaliknya justru bahagia teraih dengan penundukan keinginan (biasanya sesuai dengan aliran agama-agama Timur). Terlepas dari semua teori tersebut, setiap orang bisa (dan berhak) menilai tingkat kebahagiannya masing-masing.

Bahagia subyektif ditandai dengan perasaan puas yang panjang, penuh kendali terhadap dirinya, dan memiliki arti.

Dengan demikian secara subyektif seseorang yang merasa depresi jarang yang mengatakan dirinya bahagia. Kegagalan tidak menimbulkan perasaan puas, kendali atas diri, maupun arti. Namun bisa terjadi seseorang yang memakai narkotika akan merasa bahagia. Coba saja tanya kepada pemakai narkoba, apakah mereka bahagia. Besar kemungkinan mereka jawab : bahagia. Ini dikarenakan bahagia merupakan sesuatu yang subyektif.

Bahagia obyektif

Bahagia yang obyektif berarti mendasarkan kebahagiaan kepada suatu ukuran di luar dirinya. Biasanya adalah filsafat, agama, dan sains.

Ukuran filsafat, misalnya bila kita menggunakan ukuran Aristoteles, maka orang bahagia adalah yang mempunyai good birth, good health, good look, good luck, good reputation, good friends, good money, and goodness.Silahkan terjemahkan sendiri maksudnya apa. Sedangkan menurut John Stuart Mill (Utilitarianisme) : Yang dimaksud kebahagiaan adalah kesenangan dan hilangnya derita; yang dimaksud dengan ketakbahagiaan adalah derita dan hilangnya kesenangan.(utilitarianisme egoistik : kebahagiaan pribadi, utilitarianisme altruistik : kebahagiaan semua orang)

Ukuran agama tentu lain lagi. Kita kutip dari beberapa agama.

Budha

Kebenaran Mulia yang Ketiga. Sang Budha bersabda : Dan inilah wahai para pendeta, kebenaran mulia tentang penghancuran penderitaan. Sesungguhnya inilah penghancuran, yang di sini tidak tersisa lagi nafsu dan dahaga yang sesungguhnya. Di sini dikesampingkan, dihilangkan, dibebaskan dari kecapaian untuk memuaskan dahaga.

Pada Budhisme kebebasan dicapai melalui iman, latihan-latihan ruhaniah, dan meditasi.

Yahudi

Taurat : Patuhilah Mitzvot ku (hukum Tuhan) dan lakukanlah semuanya. Dengan begitu kamu mengabdikan dirimu kepada Tuhanmu… Jalan-jalannya adalah jalan kebahagiaan dan semua jalannya adalah kedamaian.

Mematuhi hukum Tuhan adalah satu-satunya jalan kebahagiaan.

Kristen

Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita. (Amsal 14:21) Berbahagialah setiap yang takut akan Tuhan yang hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu. (Mazmur 128: 1-2)

Kristen menekankan pentingnya berbuat baik dan bahaya berbuat buruk.

Islam

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan riba yang berlipat-lipat dan bertawakkallah kamu kepada Allah, supaya kamu berbahagia. (3:200) Wahai orang-orang beriman, rukuklah dan sujudlah, beribadahlah kepada Tuhanmu serta berbuatlah kebaikan supaya kamu berbahagia. (22:73) Apabila selesai shalat, menyebarlah di muka bumi. Cari anugerah Allah dan ingatlah Allah yang banyak supaya kamu berbahagia. (62:10)

Islam menunjukkan hal-hal yang membuat bahagia.

Kutipan tentang bahagia dan hal-hal yang membuat bahagia menunjukkan bahwa apa yang dipandang membahagiakan oleh agama boleh jadi sangat berbeda dengan apa yang dipandang membahagiakan secara subyektif oleh seseorang.

Terakhir ada pula ukuran bahagia yang didekati dengan sains, biasanya berupa kumpulan ciri-ciri orang yang dipandang bahagia. Ciri-ciri itu misalnya dari pengukuran emosi seperti kondisi gelombang otak, tekanan darah, munculnya hormon tertentu, dsb.

Diskusi

Ribut-ribut UU APP (UU Anti Pornografi dan Pornoaksi) dan Playboy Indonesia merupakan cermin pergulatan manusia dalam usaha meraih kebahagiaan hidupnya masing-masing.

Setelah kita tahu tentang bedanya bahagia subyektif dan obyektif, kira-kira apa jawaban pendiri majalah Playboy bila ia ditanya apakah dirinya bahagia? Hampir 100 persen yakin dia akan menjawab : saya bahagia.

Itu karena dia menggunakan acuan bahagia subyektif. Atau paling tidak menggunakan acuan obyektif dari filsuf, psikolog, dan sains yang disesuaikan dengan pilihannya.

Kalau kita memakai acuan obyektif agama berdasar wahyu (agama samawi), maka pendiri Playboy 100 persen bisa dikategorikan sebagai orang yang tidak bahagia, karena tidak ada agama yang mengajarkan meraih kebahagiaan melalui pornografi.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah tahu tapi kamu tidak tahu. (Quran 2:216)

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

8 Comments »

    Gravatar Image
  1. anda belum menyimpulkan kebahagiaan mana yg lebih hakiki dan benar, ada kebimbangan sikap dalam tulisan anda. anda hanya menguraikan masalah dan membiarkan orang lain mengambil sikap dan pilihan atas apa yang anda uraikan. saya bukan seorang agamawan, budayawan atau lainnya. tetapi sikap saya dengan penuh keyakinan kebahagian objektiflah yg harus kita kejar. karena dengan meraih kebahagiaan objektif maka seluruh kebahagiaan subjektif akan terpenuhi dengan sendirinya. dalam Agama yg saya yakini diFirmankan kurang lebih seperti ini bunyinya “Carilah dahulu kerajaan Tuhan maka seluruh kebahagiaan akan diberikan kepadamu”. hal ini sangat logis karena dengan memenuhi segala kebutuhan rohani, manusia akan merasa damai, tentram, rendah hati, bijaksana dan didalam kondisi yg demikian manusia akan dapat berfikir sangat jernih sehingga dapat memilih dan memutuskan apa saja yg harus ia cari dan penuhi untuk kebutuhan hidupnya dan mampu mengendalikan dirinya utk hal2x yg belum bisa ia capai. intinya manusia akan merasa cukup dengan rezeki yg ia dapat serta bersyukur akan hal itu dan menyadari apa yg Ia dapat hanya dari Tuhan semata. adakah kebahagiaan yg dapat mengimbangi kebahagiaan seperti itu…..??? “cukupkanlah dirimu dengan apa yg kamu dapat hari ini…”
    adakah batasan yg pasti manusia bisa bahagia dengan uang dsbnya menurut kebahagiaan subjektif…? kl ada berapa jumlahnya hingga manusia bisa merasa puas dan bahagia, kl dia merasa bahagia dengan obat2xan brp banyak jumlah obat sehingga ia bisa merasakan kepuasan dan kebahagiaan yg sesungguhnya…….??kl manusia bisa bahagia dengan kebutuhan seksual, berapa kali ia harus berhubungan badan sehingga ia bisa sungguh2x merasa puas dan bahagia….??
    kebahagiaan objektifkah atau kebahagiaan subjektifkah yg bisa menawarkan kebahagiaan yg hakiki..??

    Comment by putut wintono — May 13, 2006 @ 2:46 am

  2. Gravatar Image
  3. to #1 saya setuju dengan Anda. kita seharusnya memakai kebahagiaan obyektif yang disampaikan agama.

    lihat juga :
    http://sepia.blogsome.com/2005/08/30/logika-suara-hati-wahyu/

    Comment by khairulu — May 20, 2006 @ 10:47 am

  4. Gravatar Image
  5. Bahagia???/
    itu yg merasakan hanya individu tersebut, bahagia terasa kala terjadi apa yg diinginkannya walaupun dia ingin menjadi sedihhhh sekalipun kalau terjadi ya di juga akan bahagia. Kalo bahagia obyektif dan subyektif atau bahagia lahir batin, atau bahagia dunia akhirat, menurut saya sama saja, karena kita toh harus terima kenyataan (narimo) dan kita harus menjalaninya kan??????…

    Comment by royan — July 12, 2006 @ 6:39 am

  6. Gravatar Image
  7. saya bahagia kalau melihat orang lain bahagia.
    lha yang seperti ini pake teorinya siapa yach..

    ::: itu termasuk ‘obyektif’ yang dianjurkan agama… :)

    Comment by dhany — July 12, 2006 @ 8:42 am

  8. Gravatar Image
  9. bahagia itu menurut saya adalah memulai pembelajaran yang baru, karena pembelajaran yang baru adalah ilmu yang baru, sehingga kita mendapatkan satu kelebihan lagi dari kemudahan hidup yang merupakan bekal dari kemudahan dalam menjalani kehidupan yang berakibat kepada ketenangan jiwa (salah satunya) “inilah yang disebut bahagia”

    Comment by Ashari — October 13, 2006 @ 1:52 pm

  10. Gravatar Image
  11. “Analisa” terlalu disederhanakan. problem-problem sosial dan antropologis, tidak bisa selalu direduksi dan kelar dengan kacamata agama saja… menyederhanakan selalu mengandaikan kebenaran menjadi begitu gampang didapat. padahal….

    Comment by Ia — February 19, 2007 @ 12:38 pm

  12. Gravatar Image
  13. kebahagiaan terjadi jika kita dapat mambahagiakan orang yang kita cintai, orang tua, adik, suami….kebahagiaan terjadi jika kita bebas berkarya sesuai dengan bakat dan ilmu yang kita suka, dan kebahagiaan datang ketika kita sadari bahwa kita masih ada diantara orang-orang yang kita cintai….

    Comment by Siska Lydiana — October 13, 2007 @ 2:21 pm

  14. Gravatar Image
  15. Kebahagiaan menurut saya dari menyimpulkan beberapa aritikel,diskusi ilmiah bahkan dari saya membaca Al quran bahagia yang hakiki jika kita memeiliki sifat bersyukur atas segala karunia yang diberikan Allah SWT, sebab meskipun dia kaya, dia populer, dia berkuasa maka hidupnya tidak akan bahagia tanpa adanya rasa syukur. Selain itu orang yang lebih dekat dengan Allah SWT adalah orang yang sangat bahagia karena segala doanya dapat segera dikabulkan oleh Allah SWT dan tidak ada tempat meminta da memohon yang paling baik selain meminta kepada - NYA

    Comment by muslim — May 19, 2008 @ 1:50 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/08/07/faktor-keberuntungan/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here