Bahagia subyektif dan obyektif
Asumsi umum : setiap manusia dewasa telah mengetahui apa itu bahagia. Itu asumsi umum. Kenyataan : banyak manusia dewasa yang tidak bahagia, karena tidak tahu apa itu bahagia.
Mari kita kembali membahas apakah bahagia itu? Jawabannya ada dua macam : bahagia subyektif dan bahagia obyektif.
Bahagia subyektif
Tanyakanlah kepada setiap orang apakah mereka bahagia. Jawabannya akan beragam. Ada yang menyamakan bahagia dengan kesenangan. Ada pula yang menyamakan bahagia dengan pengorbanan. Ada yang meraih kebahagiaan dengan memuaskan keinginan (hal ini sangat sesuai dengan teori dorongan seksual Sigmun Freud, atau filsafat hedonisme Epicurus), ada yang sebaliknya justru bahagia teraih dengan penundukan keinginan (biasanya sesuai dengan aliran agama-agama Timur). Terlepas dari semua teori tersebut, setiap orang bisa (dan berhak) menilai tingkat kebahagiannya masing-masing.
Bahagia subyektif ditandai dengan perasaan puas yang panjang, penuh kendali terhadap dirinya, dan memiliki arti.
Dengan demikian secara subyektif seseorang yang merasa depresi jarang yang mengatakan dirinya bahagia. Kegagalan tidak menimbulkan perasaan puas, kendali atas diri, maupun arti. Namun bisa terjadi seseorang yang memakai narkotika akan merasa bahagia. Coba saja tanya kepada pemakai narkoba, apakah mereka bahagia. Besar kemungkinan mereka jawab : bahagia. Ini dikarenakan bahagia merupakan sesuatu yang subyektif. (more…)


Film 



