Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Cara Kaya 6 : Bercita-cita Menjadi InvestorMempertahankan (bahkan meningkatkan) motivasi diri »

March 30, 2006

Curangnya Bank : : nasib konsumen penerima kredit

Filed under: Kecerdasan Power

Kalau Anda pernah meminjam uang ke bank, atau membeli dengan kredit maka Anda pasti mengalami hal ini. Membayar bunga untuk uang yang tak pernah dipinjam.

Batas beda antara ‘cerdik’ dengan ‘licik’ itu amat tipis. PQ kalau dijalankan orang yang mempunyai nilai-nilai sesuai dengan diri kita maka kita menyebutnya ‘cerdik’. Kalau dilakukan orang lain yang nilainya bertentangan dengan kita, maka kita sebut ‘licik’. Demikian pula dengan ‘kecerdikan’ bank dalam transaksi pinjaman ke konsumen. Bedanya adalah SQ, yaitu nilai-nilai yang dianut seseorang.

Pengalaman pertama adalah ketika pinjam uang untuk kredit rumah. Setelah disetujui maka kita akan dikenakan biaya yang disebut ‘provisi’. Nilainya lumayan besar, sekitar 5 persen. Ini adalah biaya jasa dalam menjembatani transaksi kredit itu (saya kurang paham, jasa siapa yang dibayar di sini?). Setelah itu peminjam akan dikenakan blokir tabungan sebesar nilai angsuran. Terkadang angsuran bulan pertama langsung ditagih (saya agak lupa tentang hal ini).

Saya berikan ilustrasi. Bila Anda pinjam sebesar 50 juta. Maka Anda akan dikenakan biaya provisi sebesar katakanlah 2,5 juta. Lalu akan diblokir senilai misalnya cicilan 1 juta. Maka uang yang betul-betul Anda dapat manfaatkan sebenarnya hanyalah 47,5 juta, namun Anda dikenakan bunga selama pinjam dengan basis pinjaman 50 juta! Ini namanya licik.

Pengalaman yang lain. Suatu ketika saya beli monitor komputer dengan kredit. Biaya kredit dari Adira kira-kira 3 juta. Setelah bunga dihitung selama setahun (18 persen berdasar pokok hutang 3 juta) maka saya diwajibkan bayar cicilan pertama SAAT ITU JUGA sebesar 1 kali cicilan. Artinya, sebenarnya saya hanya meminjam kurang dari dari 3 juta!

Mari kita hitung berapa besar bunga sesungguhnya yang kita bayar. Anggap kita pinjam dengan nilai 100 ribu. Untuk bunga 20% maka setelah setahun harus mengembalikan 120 ribu. Dibagi 12 bulan maka cicilan adalah 10 ribu per bulan. Lalu kita bayar ‘saat itu juga’ sebesar 10 ribu (dengan uang kita). Maka sesungguhnya kita hanya diberi pinjaman 90 ribu. Selama 11 bulan berikutnya kita membayar total 110 ribu. Jadi bunga yang kita tanggung adalah (110-90)/90 = 22,22% .Kecil? Besar bung, karena kita telah menambah nilai suku bunga sebesar 10% yaitu dari 20 persen menjadi 22 persen. Bayangkan kalau pinjamannya adalah 100 juta. Lebih penting lagi adalah : kita disuruh membayar beban bunga untuk suatu pokok pinjaman yang TIDAK PERNAH KITA PINJAM.

Itulah mengapa saya kesal, geram, benci, sedih ketika menandatangani persetujuan itu. Di sisi lain merasa tidak berdaya, lemah, tak punya daya tawar, karena memerlukan uang pinjaman tersebut. Jadilah walaupun tahu dan sadar saya dibohongi, saya –dengan berat hati- menerima transaksi tersebut. Bank itu cerdik sih (menurut sisi dia), tapi juga licik (menurut sisi konsumen).

Karena itu sekarang saya mulai memperhatikan pinjaman ‘syariah’ yang menggunakan dasar-dasar nilai lebih sesuai dengan nilai-nilai saya. Saya tidak memasalahkan uangnya, saya memasalahkan kesesuaian antara nilai-nilai saya dengan nilai-nilai pemberi pinjaman.

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

5 Comments »

    Gravatar Image
  1. Sama pak…pilihannya tak berdaya he..he…
    tapi pengalaman saya ke bank Syariah..hampir sama saja
    cuman beda nama, malah prosedurnya sulit dan pinjaman harus besar

    Comment by andif — April 3, 2006 @ 4:32 am

  2. Gravatar Image
  3. Hehe.. ya itu pak, namanya juga kredit apapun namanya prinsipnya khan sama saja… tapi terkadang(kepepet) memang harus kredit.. karena itu saya pikir kita harus memperkuat ukhuwah dan silaturahmi serta memperbaiki mental kita ( loh apa hubungannya ?) ya ada donk, kita gak harus kredit, kita pinjam aja sama teman/saudara yang gak pasang bunga dan syaratnya khan gampang hanya mental yang baik untuk bisa dipercaya( mengembalikan tepat waktu)…semoga ukhuwah bisa menjadi titik tolak untuk maju membangun ekonomi umat, wasalam, trims ya pak atas artikelnya…

    Comment by Budi — April 3, 2006 @ 7:05 am

  4. Gravatar Image
  5. Pak, katanya kakak ipar saya yang kerja di Bank Danamon, kalau di bank nya dia, angsuran/cicilan pertama dibayar setelah berjalan 1 bulan, bukan pada saat kontrak pinjam. Pada saat kontrak kredit yang dibayar hanya biaya administrasi sekitar 350 rb; fee berdasarkan plafon pinjaman, sekitar 1%; dan fee notaris. Mudah-mudahan membantu…

    Comment by Yayan — April 8, 2006 @ 3:06 pm

  6. Gravatar Image
  7. pinjam uang di bank adalah untuk bisnis. modal 50 juta, untungnya min 5% perbulan. bunga yg dibayar hanya kira 2,5 % perbulan. jika utk proyek, labanya min 10%. dlm satu kali proyek kira2 2 bulan.
    jadi separuh dari untung yang di bayar ke bank. artinya keuntungan di bagi 2. jika anda tidak mau, itu namanya pelit. jika tidak mampu untuk membayar bunga jangan ngutang.
    jika untuk beli rumah, mobil ( konsumtif ) dg kredit, itu resiko anda.
    anda hanya pandai caci maki. sudah untung dikasih kredit dan dapat rumah. di bilang pula kreditor licik. kredit di cairkan setelah peminjam menyetujui dan menanda tangani.
    Saran saya, anda perlu mengembangkan wawasan.
    trims

    Comment by slamet — January 30, 2007 @ 1:43 pm

  8. Gravatar Image
  9. begitulah kira-kiranya

    Comment by anggono — October 20, 2009 @ 4:51 pm

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/05/29/mesin-itb-mei-2005/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here