Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Erlangga, dan Kejeniusan Anak IndonesiaMengapa kita mencintai Muhammad rasulullah? »

March 6, 2006

Playboy dan Teori Jendela Pecah

Filed under: Kecerdasan Power, Kiat

Empat orang pemuda ditembak dalam kereta api bawah tanah. Si penembak yang menyerahkan diri seminggu kemudian dielu-elukan masyarakat sebagai pahlawan mereka. Goetz, si penembak itu, dijuluki tabloid-tabloid sebagai “Pengawal Kereta Bawah Tanah” dan “Malaikat Maut Bagi Penjahat”. Memang para pemuda yang ditembak itu adalah kelompok berandal pemeras yang sering melakukan kejahatan di kereta api bawah tanah. Tetap saja si penembak tadi dihukum karena melakukan main hakim sendiri. Rakyat marah, tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Hukum adalah hukum. Si penembak harus meringkuk dalam penjara. Beberapa tahun kemudian terbukti para pemuda yang ditembak tersebut adalah para pelaku kejahatan mulai dari pencurian, perampokan, hingga penganiayaan. Salah seorang diantaranya yang bernama Ramseur, dua tahun setelah penembakan tersebut dijatuhi vonis 25 tahun penjara karena pemerkosaan, perampokan, sodomi, pelecehan seksual, penganiayaan, kejahatan bersenjata api, dan pemilikan barang curian. Sulit menerima bahwa yang dulu dianggap korban kekerasan ini ternyata juga pelaku kekerasan. Demikianlah potret buram fasilitas subway di New York tahun 1984. Masyarakat takut menggunakan kereta bawah tanah yang suram penuh coretan grafiti, kotor, dan banyak banditnya. Masyarakat dan pemerintah sama frustasinya dengan kondisi buruk itu. Selama tahun 80-an kriminalitas di New York City mencapai rata-rata lebih dari 2000 pembunuhan dan 600.000 tindak kekerasan serius dalam setahun.

Namun secara mendadak situasi tersebut berubah drastis di awal tahun 90-an. Di tahun 1996 kejahatan menurun drastis menjadi sepertiga. Kekerasan di kereta bawah tanah bahkan turun sebanyak 75 persen. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Jendela Pecah

Untuk kasus kereta bawah tanah penurunan ini dimulai dari penerapan teori Jendela Pecah (Broken Windows) yang digagas oleh kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling. Wilson dan Kelling berpendapat bahwa kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika sebuah jendela rumah pecah dan dibiarkan saja, siapapun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah di situ tidak ada yang peduli atau bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Dalam waktu singkat akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu. Di sebuah kota, awal yang remeh seperti coret-coret, ketidakteraturan, dan pemalakan, kata kriminolog itu, semua setara dengan jendela pecah, yaitu ajakan untuk berbuat kejahatan lebih serius.

Pemalak dan penodong, entah amatiran atau profesional, percaya bahwa peluang mereka untuk tertangkap atau diadukan ketika beroperasi di jalanan berkurang bila mereka memberikan ancaman yang cukup kepada calon korban. Jika masyarakat di suatu tempat tidak mampu mengatasi pemalak yang beroperasi di jalanan, pencuri dan perampok pun akan berkesimpulan bahwa orang di situ tidak akan langsung menghubungi polisi atau mengadukan mereka andaikata kejahatan itu mereka laksanakan.

Ini sebuah teori epidemi untuk kejahatan. Menurut teori ini kejahatan bersifat menular – persis seperti trend mode pakaian – sehingga dengan awal yang remeh seperti memecah sebuah kaca jendela, perbuatan yang sama segera menyebar ke seluruh wilayah.

Pada pertengahan 80-an, kriminolog George Kelling disewa oleh New York Transit Authority sebagai konsultan, maka ia meminta jawatan itu untuk menerapkan teori Broken Windows di jaringan kereta bawah tanah. Direktur baru yang ditunjuk mengurus hal itu, David Gunn, menerapkan teori tersebut dengan fokus melawan grafiti di kereta bawah tanah. Banyak pejabat di direktorat kereta bawah tanah yang menganjurkan agar dia lebih memusatkan perhatian kepada kejahatan yang lebih serius daripada mengurus masalah corat-coret. Gunn tetap bertahan, ”Coret-coret ini merupakan simbol keambrukan sistem ini,” katanya.

Maka Gunn melancarkan aksi melawan corat-coret. Dia tahu bahwa remaja yang melakukan grafiti memerlukan 3 hari untuk memoles dinding gerbong dengan cat putih, menunggu kering, dan menggambarnya di hari ketiga. ”Begitu mereka selesai menggambar, malamnya kami cat lagi gerbong tersebut sehingga keesokan harinya tak ada yang sempat melihat karya mereka,” demikian kata Gunn. Ketika sebuah gerbong dicorat-coret, maka corat-coret itu dihilangkan selama masa istirahat, atau gerbong itu tidak dioperasikan dulu. Gagasan di balik kebijakan itu adalah menyampaikan pesan yang gamblang kepada para vandal, bahwa mereka tidak disukai.

Program pembersihan grafiti oleh Gunn sudah berlangsung sejak 1984 hingga 1990 saat Transit Authority mengangkat William Bratton sebagai komandan polisi kereta bawah tanah yang baru. Seperti halnya Gunn, Bratton juga penganut teori Broken Windows. Alih-alih fokus pada kejahatan serius, dia justru fokus untuk membasmi kebiasaan remeh yaitu naik kereta tanpa karcis. Menurutnya, naik kereta tanpa karcis juga merupakan simbol ketidakteraturan yang menjadi pangkal pelanggaran-pelanggaran yang lebih serius. Hasilnya luar biasa. Penjagaan pada gerbang tiket menghasilkan penangkapan-penangkapan yang tak diduga sebelumnya. Setiap penangkapan ibarat membuka kotak hadiah yang penuh kejutan. Mainan apa yang didapat hari ini? Senjata api? Pisau? Karcis palsu? Uang palsu? Bahkan kadang-kadang ada tersangka pembunuhan. Tak lama kemudian orang-orang jahat mulai berpikir lebih panjang, setidaknya meninggalkan senjatanya dan membayar karcis ketika naik kereta.

Tahun 1994 Bratton diangkat menjadi Kepala Kepolisisan New York City oleh walikota yang baru Rudolph Giuliani. Bratton tetap melakukan strategi yang sama, memberantas perbuatan-perbuatan kecil yang mengganggu ketentraman, termasuk bahkan menangkap para tukang lap kaca mobil di perempatan jalan yang kemudian meminta uang jasa ke pengendara. ”Kami mulai menegakkan hukum dalam kasus-kasus ringan seperti mabuk-mabukan di tempat umum, buang air kecil sembarangan, termasuk membuang botol di jalanan,” demikian kata Bratton. Ketika kriminalitas mulai menurun di kota itu, secepat penurunan di kereta bawah tanah, Bratton dan Giuliani menunjuk ke sebab yang sama. Kejahatan-kejahatan kecil, pelanggaran-pelanggaran remeh, yang lazimnya dianggap tidak signifikan, kata mereka, merupakan titik lenting (tipping point) menuju kejahatan-kejahatan besar. Demikianlah seperti dikutip dari buku Tipping Point tulisan Malcolm Gladwell.

Playboy sebagai simbol

Seperti yang dikatakan Gunn dan Bratton, corat-coret dan pelanggaran tiket walaupun tampak kecil dan remeh sebenarnya adalah ’simbol’ keambrukan sistem. Bagaimana dengan kasus yang sedang marak tentang ijin majalah Playboy Indonesia?

Yang menjadi masalah utama dengan Playboy bukan sekedar ’keberanian’ gambarnya. Kata pihak Playboy, ada majalah yang lebih vulgar dari mereka toh juga diijinkan? Ya, boleh jadi ada majalah lain yang lebih vulgar daripada Playboy, namun yang menjadi esensi keberatan masyarakat luas sebenarnya dipicu oleh posisi Playboy sebagai simbol. Playboy adalah ’simbol dunia’ majalah erotisme (dan memang itulah yang diinginkan pendirinya). Brand name Playboy identik dengan erotisme, apapun isi di dalamnya apakah mungkin teknologi, tips kesehatan, atau apapun yang saya tidak tahu. Begitu disebut Playboy, maka yang tergambar dalam benak masyarakat luas adalah kontes aurat dan erotisme.

Playboy adalah simbol budaya erotisme. Mengijinkan Playboy versi Indonesia – walaupun misalnya hanya untuk kalangan terbatas – sama halnya mengesahkan simbol budaya erotisme itu untuk menjadi budaya sah bangsa Indonesia. Dengan kata lain, bila Playboy diijinkan maka secara sah kita mengakui bahwa nilai luhur bangsa ini bukan lagi agama, karena tak ada agama yang mengesahkan erotisme sebagai suatu nilai luhur. Ada sementara pihak yang berlindung dengan dalih nilai seni. Dalam hal ini kita perlu tegas bahwa nilai seni erotisme bukanlah nilai luhur agama. Selama nilai seni tidak bertentangan dengan agama maka nilai tersebut sah-sah saja sebagai nilai luhur bangsa. Namun ’nilai seni erotisme’ jelas bertentangan dengan nilai luhur agama. Selain itu, menyamakan nilai seni erotisme dengan seni yang lain sama saja dengan merendahkan masyarakat seni.

Mengapa kita menjunjung nilai luhur agama sebagai nilai bangsa? Karena inilah dasar hukum utama negara kita yang dituangkan lewat Pancasila sila pertama. Semua hukum di Indonesia harus tunduk kepada nilai hukum dasar negara ini.

Apa akibatnya bila Playboy Indonesia diijinkan? Kembali ke teori Broken Windows, hal remeh ini akan menjadi awal uji kasus untuk memberi toleransi kepada bisnis dan budaya erotisme yang lebih dahsyat karena Playboy adalah simbol utama erotisme. Boleh jadi nantinya akan terjadi tuntutan hak oleh sebagian kalangan (dengan dalih hak asasi) untuk membuka klub striptease dan semacamnya yang jelas-jelas semakin merusak moral bangsa kita ini. Ijin Playboy Indonesia bisa menjadi tipping point keruntuhan moral bangsa.

Tapi, bukannya Playboy ini direncanakan hanya beredar di kalangan terbatas? Kita harus kembali ingat teori Broken Windows bahwa menurut teori ini kejahatan bersifat menular – persis seperti trend mode pakaian – sehingga dengan awal yang remeh seperti memecah sebuah kaca jendela, perbuatan yang sama segera menyebar ke seluruh wilayah. Playboy ibarat kaca pecah. Sangat mungkin dengan diijinkannya Playboy akan merembet ke seluruh lapisan masyarakat sebagai pembenaran kolektif bahwa nilai erotisme sudah diterima sebagai nilai luhur budaya bangsa ini. Yang terbatas awalnya hanya pembacanya, padahal di balik itu ada percetakan, model, agency, penulis, distribusi, dan berkali lipat orang lainnya yang terlibat. Bagaimana halnya dengan majalah Palyboy bekas? Bagaimana dengan para pengantarnya? Bagaimana dengan para pedagangnya? Yang dianggap terbatas itu hanyalah puncak gunung es dari komunitas yang jauh lebih besar. Kelompok khusus penikmat erotisme ini sebenarnya tak perlu dikasihani. Selama ini mereka sudah mencarinya dengan berbagai cara, sama sekali tak perlu dikasihani dengan majalah erotis versi resmi Indonesia.

Belum Mampu Tak Berarti Setuju

Seringkali ketidakmampuan sistem dimanfaatkan sebagian pihak sebagai dalih hukum. Misalnya, karena tidak mampu menanggulangi prostitusi, maka dilegalkan saja menjadi lokalisasi. Demikian pula ketidakmampuan sistem saat ini untuk menanggulangi majalah kuning dan tayangan erotis di televisi digunakan sebagian pihak menjadi dalih kelayakan Playboy dan majalah semacamnya.

Harus terus kita ingat bahwa tidak mampu bukan berarti setuju! Selama ribuan tahun telah terjadi prostitusi, tapi bukan berarti kita berhak melegalkan prostitusi. Selama ribuan tahun terjadi kejahatan, bukan berarti lalu kita legalkan kejahatan. Dan kini kita belum mampu menanggulangi gelombang budaya erotisme, bukan berarti lalu kita melegalkannya. Hukum harus tegas dan punya acuan dasar yang jelas. Di negeri ini kita bisa merujuk dasar negara dan undang-undang dasar sebagai acuan nilai, jika pun kita ragu dengan universalitas nilai luhur agama. Bagi orang dengan kecerdasan spiritual (SQ) tinggi, ditinjau dari dasar-dasar hukum itu sudah jelas bahwa erotisme tak layak menjadi nilai luhur bangsa ini. Nilainya sama halnya dengan penyalahgunaan narkotika yang selamanya tak akan diakui agama sebagai nilai luhur.

Dengan tulisan ini kiranya wakil rakyat di DPR dan juga pemerintah menjadi semakin yakin untuk lebih tegas menolak ijin Playboy tersebut. Ini bukan masalah remeh karena bisa memicu bencana moral yang besar. Bangsa ini sudah kehilangan banyak hal untuk dibanggakan, semoga tidak dibuat semakin kehilangan jati diri.

PS : Anda setuju ataupun tidak, mungkin artikel berikut bermanfaat buat Anda : tentang hidup 0,15 detik, tentang kehebatan logika, tentang kesadaran kita, dan tentang apa itu bahagia?

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

50 Comments »

    Gravatar Image
  1. salaam shilaturrahim terlebih dahulu,
    assalamu’alaikum wr.wb
    subhanallah, artikel yang bagus.
    jazakumullah khairan kattsiran
    wassalam

    kosasih

    Comment by kosasih — March 8, 2006 @ 4:16 am

  2. Gravatar Image
  3. Assalamu’alaikum,

    SubhanaLlah, bagus

    terima kasih ya,
    elo telah menulis artikel ini
    smoga bisa jadi amal kebaikan buat elo.
    :D

    Kapan kapan gw review dah
    Artikel ini

    Wassalam,
    Agus Suhartono

    ::: tks, mas Agus.

    Comment by Agus Suhartono — March 11, 2006 @ 9:54 am

  4. Gravatar Image
  5. saya sangat apresiatif thdp artikel anda engenai izin majalah playboy,saya tidak habis pikir,tidak adakah hal yang lebih bermafaat dari itu semua,klo seandainya setiap individu menyibukkan diri dengan act yang positif saja, saya kira itu lebih baik,contoh:seorang pelajar mampu belajr dengan baik ,begitu juga seorang pejabat,maka tidak perlu lagi sejumlah mahasiswa menghabiskan waktunya dijalanan(demo)ya rabb,wass………

    Comment by muzayyin luthfie — March 16, 2006 @ 12:03 am

  6. Gravatar Image
  7. mas khairul assalamualaikum. jos tenan mas saka ndisik.

    ::: salam sobatku mas ‘gepeng’ (saking lucune kowe ki…). aku masih ingat di SMP duduk bareng dirimu. Maunya guru biar kamu bisa tertib. Eh, akhirnya aku malah ikut ribut terus ketawa-ketiwi denganmu.. haha. pelawak kok dilawan…

    Comment by slamet tri yuniarso — March 16, 2006 @ 4:07 pm

  8. Gravatar Image
  9. Assalamualaikum!
    Setuju sekali dengan penolakan terbitnya majalah haram dari amerika itu. Ngomong-ngomong, majalah-majalah serupa yang made in Indonesia masih banyak ditemui lho. Saya pernah mengamati di suatu kios koran dipajang majalah-majalah dan tabloid xxxx dengan gambar-gambar xxxxx. Yang aneh, penjualnya adalah ibu-ibu separuh baya dan berjilbab (!). Kontras sekali.
    Kalau hal-hal seperti ini dianggap wajar saja, dengan menggunakan teori broken glass, saya tak bisa membayangkan seperti apa Indonesia 10 tahun mendatang. Mari tingkatkan moral kita.
    Ngomong-ngomong, saya adalah pembaca baru buku SEPIA. Ayah saya memberikannya untuk dijadikan inspirasi. Meski baru baca setengahnya, saya sudah yakin materi yang dimuatnya bermutu.
    Maturnuwun!
    Wassalam…

    ::: trims mas Tiyok. ilmunya akan cepat dipahami dan makin mendalam kalau di tularkan ke orang lain. :)

    Comment by Wira Prasetya — March 23, 2006 @ 4:44 pm

  10. Gravatar Image
  11. As.w.w.
    Mas Khairul,
    Apapun alasannya kita patut menolak.Justifikasi yang mereka (AS) lontarkan hanyalah kamuflase untuk memalingkan perhatian kita terutama umat beragama dinegara kita yang pada akhirnya menghancurkan negara kita.
    salam.

    WWW

    Comment by achmad susilo — March 29, 2006 @ 3:09 am

  12. Gravatar Image
  13. Angkat topi tinggi …
    Bole saya publish ke tempat lain?

    :: boleh mas, matur nuwun biar kita tambah pahala bareng…. :)

    Comment by wijono — March 31, 2006 @ 5:15 am

  14. Gravatar Image
  15. Mas,
    saluuut, atas tulisannya.
    Kalo dihubungin dgn RUU APP, rada gak nyambung ya….
    Gimana kalo kita usulkan ke DPR agar pendidikan digenjot
    sehingga orang tidak menjadi picik melihat realitas kehidupan ini.

    salam, jpi

    Comment by justine p — April 3, 2006 @ 6:42 am

  16. Gravatar Image
  17. “Playboy adalah simbol budaya erotisme. Mengijinkan Playboy versi Indonesia – walaupun misalnya hanya untuk kalangan terbatas – sama halnya mengesahkan simbol budaya erotisme itu untuk menjadi budaya sah bangsa Indonesia.”

    Katakan itu pada ahli budaya Jawa atau sosiolog atau orang Bali, ahli keris, dan orang-orang Papua (mungkin daftarnya bisa nambah).

    Saya setuju secara garis besar dengan tulisan anda tetapi menyatakan suatu hal sebagai atau bukan bagian dari “budaya bangsa”? Maaf, anda terlalu gegabah.

    Mengapa saya tekankan masalah “budaya atau bukan budaya”? Karena ini ada hubungannya dengan kebijakan merancang sebuah peraturan seperti RUU APP.

    Sekali lagi,
    saya bukan penolak RUU APP, saya termasuk yang setuju dengan perlunya keberadaan RUU APP walau ada beberapa pasal yang tidak saya setujui.

    Yang jadi perhatian adalah, siapkah para pendukung RUU APP untuk “mengubah budaya”? Bahkan Islam yang katanya mayoritas di Indonesia, tidak pernah menjadi budaya nasional kecuali di beberapa suku. Beberapa masuk Islam hanya karena paksaan memilih di antara 5 agama (walau sekarang Konghucu sudah diakui). Istilah “Islam KTP” sebenarnya adalah hasil pemaksaan seperti ini, baik saat masa Orde Baru maupun karena dilahirkan di suku atau lingkungan yang mayoritas Islam. Jadi janganlah heran kalau di saat secara statistik Islam ada mayoritas, suara menolak RUU APP (versi lama) tetap banyak.

    ::: setiap orang pasti mempunyai nilai-nilai yang dianut. itulah yang kemudian diklaim sebagai ‘budaya’. saya merujuk budaya bangsa Indonesia seperti yang diajarkan sewaktu SD dulu yaitu : ramah, sopan, santun, giat bekerja, gotong-royong. tentu saja ada pihak yang menambahkan nilai baru : egaliter, kosmopolit, dll. budaya erotisme di satu suku bisa dianggap biasa, di suku lain adalah tabu.

    saya sendiri menganggap bahwa pihak yang menggunakan budaya orang papua yang belum berbaju lengkap sebagai tameng terhadap UU APP sebenarnya hanya berdalih saja, sebab sebagian besar orang setuju bahwa itu bukan pornografi (masak sih tidak bisa membedakan yang porno dengan yang bukan?). Orang tidak pakai baju karena tidak punya baju, atau tidak tahu harus pakai baju (dalam suatu situasi budaya) tentu tidak dipandang porno. Anak balita kecil lari-lari tanpa baju, jelas bukan porno. Orang Bali pakai kemben, jelas tidak porno. Orang Papua pakai koteka, jelas tidak porno (dan saya akan persuasi dia -bukan memaksa- untuk pakai baju, bukan karena alasan porno, tapi anjuran agama). Kalau orang sengaja pamer aurat untuk tujuan merangsang birahi (erotisme), nah itu jelas porno.
    Jadi saya menggunakan istilah budaya bangsa adalah pandangan umum nilai-nilai moral yang dianut sebagian besar masyarakat bangsa ini. Dan budaya bangsa ini bisa berubah (kalau disepakati beramai-ramai) misalnya dengan menganggap wajar beredarnya Playboy.

    Comment by kunderemp — April 10, 2006 @ 4:11 pm

  18. Gravatar Image
  19. thanks for your knowledge………………….brotha………………………
    your article can open our mind obout that and we hope that article can change and add our vision

    Comment by najmah — April 15, 2006 @ 3:47 am

  20. Gravatar Image
  21. Menarik sekali teori Broken Windows. Saya tertarik dengan contoh pada grafiti di kereta bawah tanah. Aksi grafiti yang dianggap sepele disikapi dengan pengecatan ulang. Itu karena kehadirannya tidak diharapkan di stasiun bawah tanah tersebut. Tapi apakah mereka bisa menghapus grafiti ditempat lain? Mungkin tidak. Bisa jadi memang ada tempat khusus buat grafiti, sehingga banyak yang suka.

    Saya tidak menolak Playboy beredar di Indonesia. Kehadirannya harus disikapi dengan benar biar tidak merugikan. Itulah pentingnya pendidikan rohani apa lagi untuk generasi muda. Saya yakin setiap agama memberikan pelajaran tentang ‘pengendalian diri’ kepada umatnya.
    Inilah tanggung jawab para tokoh agama untuk mendidik generasi muda dan masyarakat untuk tidak terpengaruh oleh budaya dianggapnya negatif. Budaya bersifat relatif. Tidak semua sama menilainya.
    Playboy adalah suatu perubahan bagi kita. Perubahan negatif atau positif? Itu tergantung dari persepsi kita, sesuai dengan ‘budaya’ yang dianut masing-masing.

    Lalu, kehadiran Playboy tidak perlu harus dianggap selalu menjadi faktor ambruknya moral bangsa. Sebagian kelompok dari bangsa kita beranggapan demikian. Mungkin karena mereka belum melihat sisi lain. Mungkin mereka belum menanamkan arti pentingnya pengendalian diri. Pendidikan juga berperan penting untuk mencegah kejahatan.
    Apabila setiap anak diberi pendidikan untuk tidak berbuat kejahatan, maka setiap anak tidak perlu diberi pesan supaya hati-hati.

    Pertanyaannya, apakah tokoh agama kita belum mampu mendidik moral umatnya, sehingga Playboy harus ditolak?

    ::: saya menguji hipotesis saudara. Bila kata-kata ‘Playboy’ diganti dengan ‘narkotika’ atau ‘aids’ apakah jawabannya juga masih masalah : pengendalian diri, tanggung jawab sendiri, dan kemampuan tokoh agama? Bukankah itu tanggungjawab bersama? Bukankah kita protes juga merupakan bentuk tanggung jawab umat/masyarakat?

    Comment by w3l3h2x — April 22, 2006 @ 7:18 pm

  22. Gravatar Image
  23. saya minta ijin buat posting ketempat lain ya..
    bagus sekali.
    kadang saya pernah berfikir kenapa playboy yang jadi sasaran utama pelarangan sedangkan majalah lain yang lebih fulgar ga dilarang. Saya setuju sekali dengan teori ini.

    Comment by wibisono — April 28, 2006 @ 4:18 am

  24. Gravatar Image
  25. salut mas…tetapi gak ngerti mau mereka penentang UU APP ini, apakah mereka tidak memasalhkan perkembangan moral anak-anak mereka besok, teorinya jelas, sebab2nya juga jelas, bagi saya yang gak bisa kasih pendidikan cukup bagi generasi saya, pembatasan itu (UU APP) sebagai “tameng” anak2 saya dari pengaruh APP.!!!!!!!!
    ( tolong mas kirim saya RUU APP tersebut)

    Comment by pria — April 28, 2006 @ 7:05 am

  26. Gravatar Image
  27. Tulisan anda sangat berbobot.Saya sangat menganjurkan kalau bisa lebih dibanyak dipublikasikan lagi lewat media-media lain. Kita heran di negeri yang konon mayoritas muslim bahkan negeri dengan umat muslim terbanyak di dunia masih saja ada yang tidak setuju dengan RUU APP. Lalu dimana letak dan fungsi agama sebagai sebuah kebenaran dari sang pencipta yang mengatur manusia agar tetap berjalan di atas rel-rel yang beradab yang menjadikan manusia sebagai makhluk bermartabat bukan menuruti kemauan dan akal pikiran manusia yang cenderung menuruti hawa nafsunya. Apapun alasannya RUU APP sangat diperlukan untuk kemaslahatan dan untuk membentengi ekandensi moral meskipun kita juga setuju bahwa dengan adanya RUU ini belum menjamin seratus persen meningkatnya moral bangsa. Bagi para seniman yang menjadikan alasan seni saya kira sangatlah narrow minded dan miskin kreatifitas. Apakah tidak ada seni lain yang masih bisa digali selain mengekspos aurat kaum hawa? Pertanyaan ini saya tujukan bagi para pihak yang mengaku dirinya seniman, ahli seni, praktisi seni atau apalah yang semacamnya.
    Alasan merugikan parawisata, lalu pertanyaannya adalah apakah yang ditonjolkan dalam pariwisata adalah erotisme bukan panorama alam atau yang lain-lain? Ataukah mungkin mereka berpikir dengan adanya UU ini akan menangkap para wisatawan asing yang sedang berjemur dengan memakai bikini di pantai, sungguh lucu. Yang jelasnya orang yang berpendapat demikian menurut saya adalah orang yang kerdil pemikirannya. Alasan gender, sebenarnya justru menurut saya dengan RUU ini akan melindungi perempuan dari berbagai tindak kekerasan, di negeri ini sudah banyak kita menyaksikan seorang kakek renta memperkosa cucunya, ayah memperkosa anak kandungnya hanya gara-gara si kakek atau sang ayah habis menonton film biru atau sehabis pulang nonton aksi ngebor. Sudah banyak bahkan mungkin tak terhitung lagi. RUU ini saya yakin tidak akan menghalangi perempuan untuk berimprovisasi, lalu apakah mereka tidak mengkhawatirkan masa depan anak cucunya dikemudian hari. Dan saya kira melihat gender tidak hanya dari satu aspek dari aspek yang utuh, para ahli gender yang menyatakan bahwea RUU APP ini adalah diskriminasi bagi perempuan perlu mengkaji secara lebih luas. Lalu apakah perempuan hanya bisa mengandalkan lekuk-lekuk ragawi bukan kecerdasan otaknya. Sesungguhnya orang yang menolak RUU APP adalah sekuler, memisahkan agama dari kehidupan, sebenarnya inilah keberhasilan pengaruh budaya barat dimana
    agama tidak punya pengaruh dalam menata kehidupan. Agama tidak sekedar rajin ke mesjid, ke gereja atau ke pura tetapi agama adalah menyangkut seluruh aspek kehidupan ini.

    Comment by Wawan Cahyadi — April 29, 2006 @ 9:06 am

  28. Gravatar Image
  29. terima kasih utk pencerdasannya scr ilmiah.smg bangsa ini dijauhkan dr skenario kehancuran melalui “pembodohan moral yg tersistematisir”.karena saya yakin, bangsa indonesia tidak cukup bodoh untuk terbawa skenario tsb, misalnya dg menolak RUU APP.

    go ahead fur the creation!..

    Comment by mahmudah — May 8, 2006 @ 7:49 am

  30. Gravatar Image
  31. Kalau dilihat secara naluri, manusia cenderung berpetualang, cenderung mengekspos suatu yang menarik, ekspresif dengan ragam cara berpikir. kalau imajinasi begitu terpenuhi oleh wadah-wadah yang dapat mempertanggungjawabkan ya namanya itu adalah suatu pilihan.
    Mengikat atau tidaknya suatu wadah akan terkontrol oleh kesadaran manusia itu sendiri, Sisi inilah yang perlu dibenahi, bagaimana menciptakan suatu kesadaran bagi keseluruhan sehingga dapat memilah yang terbaik untuk kemajuan bangsa.

    Comment by kaning — May 10, 2006 @ 9:29 am

  32. Gravatar Image
  33. Broken Window Theory-nya Malcom Gladwell memang menarik dan ide yang bagus untuk menggunakan teori itu untuk melihat implikasi penerbitan Playboy di Indonesia.

    Keluar dari soal Playboy, ada teori lain yg lebih menjelaskan turunnya secara drastis tingkat kejahatan di Amerika [dan lebih meyakinkan, walau banyak dikecam orang] di put forward oleh ekonomis Steven D. Levitt di bukunya yang ga kalah ngetop Freakonomics [http://www.freakonomics.com/ ].

    Menurut Levitt, turunnya tingkat kejahatan, hingga ke angka 40 tahun yang lalu, disebabkan karena keputusan Roe vs Wade di tahun 70an, oleh Supreme Court Amerika yang melegalisasi aborsi.

    Bagaimana bisa? Logikanya seperti ini:

    Dengan ketersediaan fasilitas aborsi yang legal dan terjangkau, ibu-ibu remaja, single, dengan low income dan low educated dapat mengaborsi anaknya.

    Anak-anak yg ga jadi inilah, yang kalo jadi, dari single-teenage-low-income-low-educated-mostly-black ini, bakal jadi para kriminal di tahun 90an.

    Jadi bukan gun control, bukan government policy, bukan polisi lebih banyak, bukan booming economy sebab utama dari turunnya secara drastis tingkat kejahatan di amerika, tapi justru karena emang para calon penjahatnya di aborsi sebelum lahir.

    Banyak yg ngamuk, bilang ga bermoral dan rasis? Memang, tapi datanya menunjukkan seperti itu.

    ::: sy jd ingat film ‘Minority Report’ nih bung Enda… preemptive strike eh salah preemptive judgement. :)

    Comment by enda — May 19, 2006 @ 4:59 am

  34. Gravatar Image
  35. Broken Window Theory-nya Malcom Gladwell memang menarik dan ide yang bagus untuk menggunakan teori itu untuk melihat implikasi penerbitan Playboy di Indonesia.

    Cuma, teori broken window sendiri sudah dibantah dengan penjelasan yang lebih nyata dan dukungan data oleh ekonomis Steven D. Levitt di bukunya yang ga kalah ngetop Freakonomics [http://www.freakonomics.com/].

    Kembali ke soal playboy dan teori broken window, kalo mengikut teori tersebut, justru bukan hanya playboy, tapi indikasi ke arah “ditelantarkannya” penegekan normal susila, termasuk tabloid2x kecil dan majalah2x lain, itu yg harusnya dibina

    Comment by enda — May 19, 2006 @ 6:38 am

  36. Gravatar Image
  37. Good article…

    Mas mau minta ijin, apakah artikel anda bisa saya masukan (copy-paste dan tetap memberikan link sumbernya ke web ini) di web ‘Dukung RUU APP’ http://ruuappri.blogsome.com ?

    ::: Silahkan. ini copyleft. semoga menjadi amal jariyah kita bersama. amin. khairulu

    Comment by fidi — May 19, 2006 @ 2:25 pm

  38. Gravatar Image
  39. Jangan salahkan turis pakai bikini
    > Mereka mencari matahari
    > Di pantai kebanggaan negeri ini
    > Untuk itu tolong pahami
    > Tak mungkin berjemur pakai dasi
    >
    > Bang Rhoma yang saya hormati…
    > Mulailah introspeksi diri
    > Kelak kau temukan kebenaran sejati
    > Jangan banyak teori
    > Apalagi merasa suci
    > Engkau sendiri berpoligami
    >
    > Kami anak pantai
    > Terbiasa dengan pemandangan begini
    > Biar pun rambut warna-warni
    > Kami masih punya nurani
    > Tak pernah ada syahwat menari
    >
    > Bang Rhoma yang saya hormati…
    > Silahkan engkau datang kemari
    > Nikmati alam anugerah ilahi
    > Kami sambut dengan suka hati
    > Surfing pun kami ajari
    > Meluncur di atas ombak tinggi
    > Akan tetapi…
    > Jangan engkau pelototi
    > Kalau ada bodi seksi
    > Apalagi sampai birahi
    >
    > Bang Rhoma yang saya hormati…
    > Mereka jangan dicaci maki
    > Apalagi dituduh pornografi
    > Semua itu keindahan tubuh yang alami Dari negeri Sakura sampai Chili
    > Semua ada disini Biarkan semua bangsa berbaur dalam damai Mereka
    > tidak cari sensasi Tapi menghilangkan kepenatan sehari-hari
    >
    > Jangan fanatik budaya Arab Saudi
    > Ingat budaya Indonesia asli
    > Sensual tapi penuh arti
    > Jika kau paksa terapkan di Bali
    > Semua itu akan jadi basi
    >
    > Bang Rhoma yang saya hormati…
    > Jika engkau sudah datang kemari
    > Satu hal yang saya peringati
    > Meski ada turis cantik sekali
    > Jangan kau jadikan istri
    >
    > Salam damai dari kami!!!
    >
    >

    Comment by calve — May 19, 2006 @ 10:56 pm

  40. Gravatar Image
  41. acung jempol untuk teori ‘broken window’-nya. Tapi kalau dihubungkan dengan majalah Playboy dan daya lenting..saya rasa gak nyambung tuh…!! Bukannya penerbitan majalah dan tabloit yang lebih ‘hot’ dari playboy indo justru yang membuat mereka berani terbit. Coba kalau majalah/tabloit hot tsb lebih dulu dilarang, mana berani majalah playboy ind terbit..Lalu kelihatannya wacana ini berkembang ke masalah Setuju/tidak setuju RUU APP. sebenarnya seperti yang saya lihar dari wawancara dengan yang tidak setuju RUU APP, sebenarnya mereka tidak anti dengan dilarangnya pornografi di Indonesia, tapi mereka melihat, ada beberapa ayat dari RUU APP ini sangat krusial dan memancing polemik, apalagi dilihat dari keaneka ragaman budaya, suku dan kepercayaan di Indonesia. Yang lebih membuat takut dengan tingkat budaya politik dan kekuasaan yang belom jelas di indo seperti sekarang ini, bukan jadi masalah nantinya?? contoh nyata banyak… salah satunya ya ‘inul’… baru ikut demo nentang saja sudah diusir sekelompok ormas yang mengatas namakan pemilik tanah “JAKARTA” apalagi kalau RUU APP jadi di UU-an dengan ada revisi yang jelas.. saya gak bisa bayangkan tuh…!!! Saya kasih kata2 bijak dari tanah melayu yang cocok untuk hal ini.. “Tidak bisa berpencak, janganlah bilang bumi berguncang”

    Comment by rudi — May 20, 2006 @ 4:43 am

  42. Gravatar Image
  43. Menurut saya logika artikel ini kacau blau. Simple saja: playboy dilarang nggak di New York? Mengapa si penganut teori “jendela pecah” tidak melarang predaran playboy di kota mereka? Di sisi lain, kalau konsisten dg teori ini, si penulis seharusnya menganjurkan agar playboy di tanah air gak usah dilarag, yang penting stasiun kereta bersih dari corat-coret dan orang2 bayar karcis saat naik kereta. Itu saja diterapkan dulu oleh pemerintah. Gak usah melarang penerbitan playboy.

    Sayang, karena logika si penulis ngawur bin berantakan, maka teori “jendela pecah” kok ditarik-tarik ke soal pornografi dan playboy. Aneh bin ajaib.

    Comment by erwin — May 20, 2006 @ 5:00 am

  44. Gravatar Image
  45. Iya, kaga nyambung. Playboy itu sudah jadi “dinding kaca” yang gede. Yang masih jendela tuh, majalah ecek-2 vulgar itu. Aneh kan, baru playboy ketika masuk saja sudah kebakaran jenggot, padahal sebelumnya sudah lama ada. Lebih parah lagi. Munafik atau coba cari sensasi karena ini berhubungan dengan nama besar, “Playboy”

    btw, kritik juga dengan sistem anti spamnya. karena aku submit komentarnya lama (mikir juga lah sama yang mau ditulis), egh katanya kaga valid, harus ulang nulis lagi. Atau memang yang komentar harus nulis cepat-2 komentarnya, tanpa pikir-2 lagi saja kali yah, biar komentarnya sukse tertampil….

    ::: sori nih masalah anti spam. saya sendiri suka repot. namun ini inheren dari blogsome… :)

    Comment by jaya` — May 20, 2006 @ 4:09 pm

  46. Gravatar Image
  47. argumen paling cerdas dari wacana penolakan playboy. argumen ini juga lebih masuk akal daripada argumen pendukung playboy, yang lagi-lagi mengutip kebebasan berpendapat dan sejenisnya.

    hehehe.

    Comment by dodi — May 21, 2006 @ 3:48 pm

  48. Gravatar Image
    1. tulisan ini menarik dan memang mencerahkan. meskipun rujukan tentang teori breaking windows ini kudu dieksplorasi lebih lanjut.

    baca baca sekilas buku pengantar kriminologi punya teman PTIK teori ini nampaknya belum menjadi wacana mereka. ada wacana teori

    yang lebih mapan yg mereka jadikan pegangan. ada yang bisa memberikan link dan referensi lebih lanjut ttg breaking windows ini ???

    saya belum sempat googling ttg wacana ini. tapi kalau wacana ttg tipping point saya sudah baca bukunya. nah, masalahnya teori

    breaking window ini diajukan namanya, namun penjelasannya dari awal sampai akhir justru penjelasan tentang teori tipping point. jadi

    menurut saya agak misleading.

    1. dalam konteks indonesia sekalipun, icon majalah erotisme juga banyak, misal popular, komik citi hunter atau jaman dulu ediarrow

    (sorry gimana nulisnya, gak ngerti hueheheh). jadi kalau hanya sekedar memebersihkan icon playboy tanpa membuang icon erotisme

    yang lain, saya kira tidak akan menjawab persoalan di masyarakat.

    1. icon kekerasan (bukan erotisme) sekarang juga beralih ke icon baru. lambang bintang yg dipakai imam samudra di kaos ketika di

    tangkap, poster usamah bin ladin, dan FPI. di satu sisi saya sedih, di satu sisi saya miris melihat ironi ini. gimana lagi, inilah dunia.

    kalau menurut teori breaking windows apakah semua icon di atas akan turut dihilangkan ???

    pada saat yang sama, penghilangan icon, juga berarti menut backdoor pelampiasan emosi. contoh : film horror. beberapa pihak

    mengatakan justru adrenalin orang orang sono, disalurkan ke film horror dan tribalisme sport macam sepak bola.

    bukan lagi perang suku, dan agama.

    salam,
    Ari Condro

    http://en.wikipedia.org/wiki/BrokenWindowsTheory

    tidak jelas apakah penurunan kejahatan di NY adalah karena pelaksanaan teori broken windows ini ataukah karena ada inisiatif lain
    1. reformasi polisi
    2. pemberian pekerjaan ke 500 ribu orang
    3. pemberian perumahan kepada orang kulit hitam

    kalau menurut Steven D Levitt, bukan penerapan broken windows theory yang menyebabkan penurunan angka kejahatan di NY tapi
    1. peningkatan hukuman penjara pada penjahat pria
    2. hukum pemilikan senjata yang lebih ketat
    3. penurunan jumlah anak yang tidak diinginkan dengan dilegalkannya aborsi

    Comment by Ari Condro — May 22, 2006 @ 1:57 am

  49. Gravatar Image
  50. wacana yang luar biasa dan pas…silahkan merujuk ke multiplyku ada artikel berjudul gangguan jiwa dan pornografi..sampai saat ini belum pernah dibahas sudut pandang ilmu kesehatan jiwa tentang pornografi, saya angkat lewat artikel itu dan ternyata memang orang yang menyukai pornografi cenderung mengidap gangguan jiwa..kita perlu bantu mereka dengan agama mereka sendiri, psikologi, terapi medis dsb..kasihan mereka..

    Comment by Ivan albar — May 22, 2006 @ 12:30 pm

  51. Gravatar Image
  52. wacana yang luar biasa dan pas…silahkan merujuk ke multiplyku ada artikel berjudul gangguan jiwa dan pornografi..sampai saat ini belum pernah dibahas sudut pandang ilmu kesehatan jiwa tentang pornografi terutama di tv2 swasta mungkin takut bersebrangan dengan agenda tv swasta untuk menjadikan budaya pornografi sebagai aset finansial kali, saya angkat lewat artikel itu dan ternyata memang orang yang menyukai pornografi cenderung mengidap gangguan jiwa..kita perlu bantu mereka dengan agama mereka sendiri, psikologi, terapi medis dsb..kasihan mereka..sudah saatnya kita kampanye gerakan bebas pornografi merupakan bebas gangguan jiwa
    salam aproses

    www.ivanalbar.multiply.com

    Comment by Ivan albar — May 22, 2006 @ 12:34 pm

  53. Gravatar Image
  54. Keadilan, atau apapun sebutannya, selama masih KARYA MANUSIA tidak ada yang ABADI, pasti ada celah celah yang di PAKE orang lain untuk men COUNTER ATTACK teori itu.

    By the way, benar atau tidak. Yang jelas tulisan yang CERDAS dan sungguh menggugah bagi saya pribadi. matur suwun mas.

    Comment by Jauhari — May 23, 2006 @ 3:47 am

  55. Gravatar Image
  56. Soal moralitas dan majalah Playboy didasarkan pada asumsi yang salah.

    Legalisasi dan regulasi pornografi justru menurunkan angka kejahatan seksual sebagaimana yang pernah diteliti di Jerman, Perancis, dan Amerika pada masa pasca Perang Dunia II (ketika liberalisasi seks dimulai di negara-negara tersebut). Jepang sebagai negara konsumen pornografi terbesar di dunia — ternyata punya angka tingkat perkosaan yang sangat-sangat rendah. Negara-negara Skandinavia punya kualitas hidup dan kualitas sosial yang sangat baik - sekalipun negara-negara tersebut terbilang liberal soal seks dan pornografi (bagi orang dewasa).

    Soal moralitas bangsa? Saya tidak yakin posisi moral orang Indonesia lebih tinggi daripada Jerman, Perancis, Amerika, Jepang, ataupun negara-negara Skandinavia. Indeks kualitas hidup manusia tidak menggambarkan demikian, apalagi kalau berdasarkan indeks korupsi dunia.

    Merosotnya moralitas di Indonesia bukan karena seks — tetapi karena pelembagaan institusi kekerasan.

    Kekerasan (violence) sebagai sarana penyelesaian perbedaan — itulah masalah utama kita.

    Kenapa kekerasan dipilih? Karena intelektualitas ngadat. Orang berotot dianggap lebih berpengaruh ketimbang orang berotak.

    Comment by Poltak Hotradero — May 24, 2006 @ 1:57 am

  57. Gravatar Image
  58. Dalam setiap peristiwa, kita selalu berbicara hal-hal besar, padahal hal-hal kecil (bukan remeh-temeh) perlu dapat perhatian karena akan menjadi awal dari segala tertib prilaku, pikir dan rasa (mungkin?)

    Mari membuang sampah pada tempatnya, bertegur sapa dengan orang asing, tidak merusak sarana umum dan menjaga diri bukan orang lain.

    Comment by Ahmad Sahidah — May 24, 2006 @ 5:38 am

  59. Gravatar Image
  60. wah bagus teorinya, cukup masuk akal.
    kl di konfucius(CMIIW), ada prinsip pembangunan moral di lingkungan keluarga akan mencerminkan moral negara secara umum. Tetapi pada penerapan masalah PB, ada keterbalikan logika. Sama seperti beberapa orang di sini bahwa saya berfikir sesungguhnya yg menjadi pembuka jalan bagi PB adalah sudah maraknya media2 lokal yg vulgar dan bertambah berani saja. Juga jgn lupa tentang dunia malam di kota2 Indonesia yang sudah amat cukup merusak moral. So dengan kata lain PB cumalah setitik nila di dalam sebelanga… nila.:)
    Kl dibilang teori broken window ga berhubungan dengan kasus ini, yah ga sepenuhnya bener jg.
    Tetapi teorinya harus diluruskan logikanya. Bukan PB yg akan mengkatalisator kebobrokan lebih besar, tapi PB justru jadi akibat/hasil kebobrokan yg sudah ada.
    Mungkin akan lebih bijak mencari dan merumuskan si broken windows secara lebih teliti lagi. Setelah itu baru dirumuskan kembali langkah2 meng-fix broken windows ini.

    Semoga bukan karena semut di seberang lautan, kita jadi lupa sama gajah di depan pelupuk mata.

    Comment by guile — May 24, 2006 @ 8:25 am

  61. Gravatar Image
  62. tulisan ini menarik karena memberi rasa “aman” dengan teori jendela pecah. ditambah lagi penjelasannya yang menawan hati, tentang kejahatan di tempat umum yang sangat mungkin terjadi pada semua orang. dengan begitu, tulisan ini mudah mendapat simpati dari banyak orang.

    tapi tulisan ini jadi gak menarik karena terlalu menyederhanakan persoalan. grafiti yang serta merta dianggap sebagai tindak ketidakteraturan, padahal kita juga tau ada yang namanya seni mural. majalah playboy indonesia juga serta merta dianggap sebagai representasi erotisme dunia, tanpa mereken isi majalah. juga prostitusi yang dianggap sebagai suatu hal berbahaya, menghiraukan adanya ketimpangan hubungan gender yang terjadi di sana.

    teori ini sama seperti teori jarum suntik di komunikasi massa. terlalu menyederhanakan: jika A pasti B, tanpa mereken konteks atau perbedaan individu.

    Comment by citra — May 24, 2006 @ 12:17 pm

  63. Gravatar Image
  64. Banyak yang menuding Amerika sebagai pusatnya kebobrokan moral, dst. Padahal kalau yang pernah keliling negara Amerika, pasti mereka bisa menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa sebenarnya sebagian besar masyarakat Amerika bermoral, beragama, dan “share the same moral values of those in other parts of the world”. Dengan kata lain, mereka yang menuding-nuding Amerika “bejat” sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang Amerika alias “asbun” (asal bunyi).

    Artikel anda di atas panjang sekali. Namun setelah saya membacanya sampai tuntas, isinya tidak “coherent” dan artikel tsb. telah gagal untuk menyambungkan “teori jendela pecah” dengan kontroversi peredaran majalah Playboy di Indonesia. Dengan kata lain, tulisan anda di atas cumalah “teori”.

    Majalah Playboy telah beredar di ratusan negara selama berpuluh-puluh tahun. Apakah kemudian negara-negara tersebut menjadi rusak moralnya? Anda dan saya tahu jawabannya: TIDAK! Malahan dari negara-negara tersebut, bermunculan karya-karya ilmiah kelas dunia, pemenang hadiah Nobel, menelurkan iptek yang berguna bagi masyarakat dunia (Internet, dll.), dlsb. Sumbangan-sumbangan tersebut malah jauh lebih banyak jumlahnya daripada negara-negara yang berteriak-teriak sebagain negara yang beragama.

    Rusak atau tidaknya moral seseorang berpulang pada pendidikan yang diberikan semenjak dia lahir. Bila seorang anak dibekali dengan pendidikan dan akhlak yang baik, niscaya anak tersebut akan menjadi manusia yang berkualitas yang dapat menolak godaan dunia dengan kemaunnya sendiri.

    Comment by Sugiarto — May 27, 2006 @ 10:32 pm

  65. Gravatar Image
  66. Ya, pak euy. Teorinya bagus euy…

    Comment by gunta — May 30, 2006 @ 4:30 am

  67. Gravatar Image
  68. Salut. Semoga anggota dewan membaca ini :)

    Comment by Zico Alviandri — May 30, 2006 @ 8:58 pm

  69. Gravatar Image
  70. Setuju sama pak Ahmad Sahidah diatas, juga setuju dengan teori jendela pecah walau pemahaman saya sedikit berbeda yaitu, “lihat diri sendiri dulu, masih suka nyatut? bajak itu normal? kalau udah enggak, baru kita boleh & pantas untuk menjaga jangan sampai ada kaca yang pecah”.

    Atau kita cuma sedang membicarakan moral yang spesifik pada “porno”?

    Comment by azza — May 31, 2006 @ 5:06 pm

  71. Gravatar Image
  72. Beginilah orang Indonesia, baru baca 1-2 buku laganya udah selangit…

    Silahkan aja melakukan pembenaran2 yang gak mutu atas pendapat anda tentang hal “pornografi” atow “pornoaksi” yang sampe sekarang gw gak tau apa itu definisi dari pornoaksi (iya lah.. konsep ciptaan orang2 bodoh)

    Silahkan aja anda2 semua menarik selimut yang lebih tinggi sampe ke kepala dan merasa nyaman di balik balutan “iman” anda… gak ada yang rugi kok.

    Tapi.. sekali anda-anda LANCANG mengobok-obok hak pribadi kami dan menggunakan segala macam teori yang intinya hanyalah JUSTIFIKASI sempit yang keluar dari pemikiran anda yang sempit, jangan pernah berharap KAMI akan diam saja.

    NEVER LET THE SYSTEM OPRESS YOU

    Comment by Yogi — May 31, 2006 @ 7:01 pm

  73. Gravatar Image
  74. Sebaiknya sebelum menelan mentah2 teori jendela pecah ini, kita baca juga kritikan terhadapnya:

    http://en.wikipedia.org/wiki/Broken_windows

    Comment by Anonymouse — June 1, 2006 @ 5:41 am

  75. Gravatar Image
  76. hmm Teorinya boleh juga, walaupun menurut saya penurunan crime rate di pengaruhi juga oleh faktor ekonomi, pendidikan, etc. Tetapi di lain pihak semua tindakan memiliki tipping point baik itu tindakan jahat atau baik. But the article is quite informative.

    Mengenai majalah Playboy….Majalah adalah majalah, sebuah media penyebaran informasi dan informasi dalam majalah tersebutlah yang memberikan influence kepada pembacanya. Jadi walaupun itu simbol erotisme, yang penting isinya tidak menyalahi norma norma yang berlaku baik itu secara Agama dan budaya.

    Dan mengenai moral sebuah bangsa, negara negara yang melegalisasikan pornografi belum tentu memiliki moral yang rendah. Apakah negara yang melegalkan pornografi tersebut termasuk kedalam daftar negara dengan korupsi yang tinggi?? apakah sering terjadi kerusuhan dan penjarahan di negara tersebut?

    Saya sendiri kurang setuju kalau pornografi di legalkan dan terkonsumsi pada anak anak yang belum dewasa tetapi intinya, kita tidak bisa menjudge sesuatu tanpa menilai isinya. Dan yang lebih penting lagi, pertebalah iman kita apapun agama yang kita anut. Walaupun kalau nanti majalah vulgar dan prostitusi sudah bersih, tetapi kalau iman tidak kuat pasti tetep akan terjadi pemerkosaan dan tindakan tidak bermoral lainnya. so menjaga moral itu tidak dimulai dari faktor external melainkan dari diri kita dulu.

    Comment by anonymous — June 2, 2006 @ 2:34 am

  77. Gravatar Image
  78. Ass, wr wb
    Wah saya suka sekali dengan Teori Broken Windowsnya ,sebenarnya teori ini sudah ada dalam benak saya sebelumnya , ciee.. tapi setelah membaca ini jadi tercurahkan kata hati saya.

    Saya setuju dengan playboy harus dilarang.
    Analoginya seperti ini, memang playboy kalau dari kevulgaran ada yang mengalahkan. Misalkan ada penjahat yang bernama playboy kita ingin bandingkan dengan penjahat COSMO/FHM, misalnya playboy punya 2 pisau dan tidak terlalu tajam, sedangkan COSMO/FHM punya 3 pisau dan tajam pula, jelas playboy kalah, tapi yang jadi masalah , playboy punya senjata rahasia yang tidak dimiliki oleh COSMO/FHM dan senjata ini sangat-sangat berbahaya . senjata nya itu adalah nama /simbol/image

    kalau ada yang merasa ga senang dengan pernyataan terakhir, coba jawab pertanyaan berikut:
    1. Mana yang lebih tenar/terkenal di dunia? PLAYBOY atau FHM/COSMO??
    2. Setiap ditanya majalah porno , majalah apa yang terbayang di pikiran anda pertama kali ?? ya kalau mungkin anda tidak terbayang playboy, tetapi kalau dipooling saya 100% yakin PLAYBOY jawabannya
    3. Majalah FHM/COSMO terbit lebih dulu, tapi gaungnnya tidak sehebat PLAYBOY , ini benar atau tidak?? jadi saya bisa simpulkan bahwa SIMBOL PLAYBOY sebagai icon/image pornografi sangat jauh mengalahakan FHM/COSMO, ini benar tidak ??

    pertanyaan di atas sebenarnya saya bisa analogikan lagi dengan seperti ini , cewek pergi ke diskotik bukan berarti semuanya cewek tidak benar, memang mungkin ada yang benar, tapi kita hidup dalam dunia yang penuh dengan probabilitas, sama seperti anda main taruhan, anda memasang pada yang kemungkinannya terbesar, dan jelas cewek yang sering ke diskotik ada kebanyakn cwe yg g benar.

    Dengan adanya majalah PLAYBoy , jika saya setan , maka saya akan berbicara seperti ini .

    ” hahahaha… horeeeeee… majalah PLAYBOY sudah bisa terbit di indonesia berarti kemaksiatan sudah ditolerir oleh indonesia ” setan seperti kegirangan dengan sangat. mungkin kalau majalah FHM/COSMO yang terbit setan tidak seperti itu karena , simbol nya tidak seperti playboy

    Gini loh, dunia ini kan dijanjikan pasti kiamat ,nah ulama umara bertugas menjaga agar selang menuju kiamat itu dilamakan waktunya, salah satunya ya mencegah majalah Playboy ini.

    Terlepas dari Playboy, artikel ini sangat bgs, wajib dibaca negarawan kita.

    Was. wr wb
    Peace
    Peace

    Comment by Cien — June 7, 2006 @ 1:41 pm

  79. Gravatar Image
  80. ttg teori broken window ini, kenapa dianggap polisi new york NYPD di era 90 an , saya temukan dalam buku blue ocean strategy nya w.chan kim dan rene mauborgne (baik edisi indonesia maupun inggris). silakan baca dibagian bab 7.

    ternayta ada beda persepsi antara masyrakat dan polisi. yg dianggap sebagai kejahatan oleh masyrakat adalah gangguan kecil yang terus menerus seperti pemabuk, pelacur, graffiti dan pengemis. sementara di saat yang sama polisi justru menunjukkan angka statistik terjadinya kejahatan di tempat tersebut hanya 3 persen. bahkan di tempat lain yang juga dianggap sumber kejahatan seperti police district 4 boston di tahun 70an, polisi dapat menunjukkan waktu tanggapan 911 semakin cepat dan pemangkapan thd kejahatan meningkat.

    gap persepsi ini ditunjukkan lewat dialog aparat dengan warga, dan diajaknya para perwira polisi untuk naik kereta sub way itu tiap siang dan malam. dengan kondisi seperti ini mau tidak mau para perwira polisi melakukan perbaikan dengan menghilangkan image negatif kejahatan yg dicover oleh gangguan gangguan ini.

    di saat yg lain, tentu saja perubahan mendasar dilakukan di kepolisian. kondisi saat itu memang tidak main main, ada 4 rintangan.

    rintangan kognitif
    organisasi polisi sudah terkenal dgn status quo nya

    rintangan sdm
    sumber daya terbatas karena naggaran dipangkas (efisiensi gitu lah ..)

    rintangan politik
    tentangan dari kepentingan kepentingan yg kuat

    rintangan motivasional
    staf yang tidak punya motivasi

    ===

    PR yg dikerjakan ke dalam, tentu tidak terlihat oleh masy. sementara PR keluar, yg bisa dirasakan masy, langsung diberikan. jadi dua duanya emang kudu dijalankan. sehingga persepsi masyarakat pun makin positif pada citra polisi. tapi peruabahan yg mendasar, ya tentunya bukan dengan menghilangkan grafiti dan menghilangkan pelacuran.

    demikian untuk menjadi periksa.

    Comment by Ari Condro — June 25, 2006 @ 10:26 am

  81. Gravatar Image
  82. it’s very comforting to acknowledge that there are some youths have such strong yet ethical stance against the publication of playboy Indonesia. but, i also read some devastating opinions from our friends agreeing the publication of playboy. you can check it on http://vanillasmile.multiply.com/links/item/16 . very devastating..

    ::: iya, sangat memprihatinkan…

    Comment by rizal — August 3, 2006 @ 2:51 am

  83. Gravatar Image
  84. bagus-bagus. artikelnya bagus..

    aku lebih percaya kalo penurunan ini merupakan gabungan dari broken window dan perbaikan ekonomi dan legalisasi aborsi

    Comment by hebiryu — October 21, 2006 @ 1:29 pm

  85. Gravatar Image
  86. BAGAIMANA KALAU LAMPU PENERANGAN JALAN WARGA PERUMAHAN YANG DENGAN ANGKUHNYA TIDAK DINYALAKAN.INI SAMA SAMA DENGAN JENDELA PECAH LHO MAS . SEBAB APA… MENGANTUNGKAN KEAMANAN PADA TETANGGANYA. TETAPI ARTIKELNYA BAGUS KOK MAS. SALAM SAYA…

    Comment by edi ismuntoyo — October 22, 2006 @ 8:00 am

  87. Gravatar Image
  88. artikel yang bgus buat di liat semua orang, n sangat inspiratuf

    Comment by iam — December 23, 2007 @ 3:43 pm

  89. Gravatar Image
  90. kenapa PJKA ngga mencoba teori ini ya.. buat bikin jera para pelaku pelemparan batu saat kereta lewat.. padahal sudah banyak korban..

    Comment by Adjid — December 31, 2007 @ 8:14 am

  91. Gravatar Image
  92. Mas Khairul mo tanya nech, boleh nggak saya copy bahan-bahan yang ada dari blog Mas Khairul (dan saya sebutkan juga nama blognya Mas Khairul, maksudnye membangun Indonesia dengan budaya….
    Makasih atas tanggapannya

    Comment by Mas_Poedjo — January 2, 2008 @ 5:48 am

  93. Gravatar Image
  94. boleh mas Poedjo. copyleft. :)

    Comment by khairulu — January 3, 2008 @ 5:52 am

  95. Gravatar Image
  96. Kalau saya lebih percaya teori Petrus mas. Penjahat dihabisi saja oleh penembak misterius, pasti aman deh negara

    Comment by adhi — January 20, 2008 @ 4:34 pm

  97. Gravatar Image
  98. wah…. saya sangat salut sekali/gembira artikel ini, terus dikembangkan …..pelbagi ilmu pengetahuan…..

    Comment by Syuhada Ishak Abilio Gomes — April 6, 2009 @ 1:46 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2006/02/03/jaringan-pemikir-di-dalam-perusahaan/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here