Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Takdir seperti kalkulatorErlangga, dan Kejeniusan Anak Indonesia »

February 19, 2006

Berbagai Tingkat Kesadaran Manusia

(petikan tulisan buku yang sedang saya tulis, Meneladani kecerdasan Muhammad rasulullah. Ide utama tentang berbagai level kesadaran diambil dari Agus Mustofa.)

Muhammad Rasulullah lahir dalam keadaan yatim sehingga sejak awal telah kehilangan figur ayah. Muhammad kecil kemudian juga kehilangan ibunya di usia enam tahun, sehingga lengkaplah beliau menjadi yatim piatu. Hal ini menjadikan beliau mulai belajar menjadi mandiri.

Muhammad kecil kecil mulai bekerja sebagai penggembala kambing. Ini adalah masa dimana beliau mulai merenungi kebesaran alam semesta. Sementara teman-teman sebayanya bermain di kota, Muhammad bekerja sendirian di luar kota. Ahli sejarah (tarikh) Islam mengatakan bahwa pekerjaan ini merupakan ‘rahmat terselubung’ (bless in disguise) yang memberikan dasar bagi Muhammad kecil untuk mengembangkan kecerdasan spiritualnya.

Sejarah para nabi menunjukkan ketakjuban atas alam semesta yang bercampur dengan kegelisahan dan kegamangan hidup akan menuntun seseorang untuk menyadari adanya kekuatan maha dahsyat yang menciptakan dan mengatur alam ini. Kita tengok kisah bapak para nabi, Ibrahim a.s., bagaimana Ibrahim kecil mulai menanyakan ‘siapakah’ kekuatan paling dahsyat di alam ini. Dia memulainya dengan menganggap bintang, kemudian matahari, kemudian sampai pada kesimpulan adanya Allah tuhan semesta alam yang Maha Besar, Maha Dahsyat, sekaligus Maha Mengatur alam semesta ini.

Hal yang sama terjadi pada Muhammad kecil. Kegelisahannya sebagai seorang yatim piatu menuntunnya untuk berpikir dan merasakan makna kehidupan yang ia alami. Inilah awal dari berpindahnya kesadaran Muhammad kecil dari sekedar kesadaran inderawi kepada kesadaran yang lebih tinggi.

Sebelumnya perlu kita ketahui dulu bahwa perkembangan kesadaran seseorang meningkat dari hanya memahami yang kelihatan (fisik) hingga memahami yang tak kelihatan (non fisik) (Agus Mustofa, Menyelami Samudara Jiwa dan Ruh, 2005). Kesadaran yang paling rendah adalah kesadaran inderawi. Selanjutnya yang lebih tinggi adalah kesadaran rasional, lalu kesadaran spiritual, dan paling tinggi adalah kesadaran tauhid.

Kesadaran inderawi. Kesadaran inderawi adalah kesadaran yang sifatnya dipicu oleh panca indera. Melalui kesadaran ini maka kita bisa melihat matahari terbit dari sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Kesimpulan yang diambil dari kesadaran inderawi ini terbatas pada kemampuan indera kita.

Kesadaran rasional. Ternyata setelah indera kita tak mampu lagi menjelaskan, manusia bisa naik ke tingkat kesadaran berikutnya yaitu kesadaran rasional. Kesadaran rasional ini menggunakan pikiran untuk menjangkau sesuatu yang tak terjangkau indera. Misalnya, secara inderawi kita hanya mampu melihat bahwa matahari terbit dari timur dan terbenam di barat. Dengan menggunakan akal, dibantu dengan alat-alat yang lebih canggih, manusia kemudian dapat membuat kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bumi berotasi ke arah timur, dan bahkan bumi mengelilingi matahari. Manusia dengan bantuan teleskop melihat adanya kejanggalan-kejanggalan alam yang tidak bisa dijelaskan bila matahari mengelilingi bumi. Karena itu dengan kemampuan berpikir rasional manusia dapat mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya bumi berotasi ke timur (dan akibatnya seakan-akan matahari mengelilingi bumi). Dengan melihat kedudukan bintang-bintang sepanjang tahun, para astronom akhirnya berkesimpulan bahwa bumi lah yang mengelilingi matahari. Dengan kemampuan pikiran rasional pula manusia yakin bahwa bumi tidak datar, tapi bulat. Setelah ditemukannya teleskop yang mampu melihat benda langit (planet lain), manusia semakin yakin bahwa bumi itu bulat, bukan datar seperti perkiraan sebelumnya. Kita dapat melihat bahwa dengan kemampuan rasional manusia dapat mengambil kesimpulan jauh di luar apa yang dapat sicapai dengan indera. Ibaratnya kesadaran inderawi menggunakan mata fisik, kesadaran rasional menggunakan mata pikiran. Pada kesadaran rasional inilah muncul pengetahuan ilmiah.

Kesadaran spiritual. Ketika manusia bahkan dengan pikiran rasionalnya tak mampu lagi membuat penjelasan, maka dia akan naik ke tingkat kesadaran spiritual. Kini para ahli telah mengembangkan teori big bang untuk menjelaskan terjadinya alam semesta. Teleskop luar angkasa Hubble telah memeberikan bukti betapa dahsyat dan luasnya alam semesta. Namun kesadaran rasio manusia tak akan mampu menjelaskan ada apa di luar tepi-tepi batas semesta, ada apa sedetik sebelum big bang terjadi, dan apa tujuannya terjadi alam yang luas dengan bumi yang setitik debu di dalamnya ini. Semua kelelahan kesadaran rasional itu membawa manusia ke tingkat kesadaran spiritual, yaitu menyadari adanya sesuatu yang maha dahsyat di balik semua yang tak terjangkau rasio itu. Inilah kesadaran yang mengakui keberadaan Tuhan. Di sinilah muncul pengetahuan nurani atau suara hati.

Kesadaran Tauhid. Namun kesadaran spiritual belum tentu menghasilkan kesimpulan yang benar. Pada jaman purba, manusia menyembah berhala, kekuatan alam seperti gunung dan matahari, atau kekuatan roh seperti jin. Semakin moderen mulailah muncul kepercayaan atas dewa-dewa, yaitu bahwa pada setiap benda/makhluk ada tuhannya masing-masing. Ada tuhan pohon, angin, monyet, tikus, dan sebagainya. Memang untuk level kesadaran spiritual ini manusia membutuhkan petunjuk wahyu, suatu yang di luar akal manusia, bahkan di luar nurani. Kecerdasan spiritual yang berdasarkan hati nurani masih bisa menyesatkan, misalnya pada kebudayaan Aztek manusia dikorbankan kepada dewa matahari melalui keyakinan yang didasarkan suara hati. Pada tingkatan tertentu, suara hati tak lagi mampu. Misalnya, mengapa kita tega menyembelih kambing? Bukankah suara hati kita miris dan menganggapnya kekejaman? Alasan kuat kita yakin bahwa menyembelih kambing itu sesuatu yang benar (walaupun suara hati memprotesnya) adalah karena tuntunan agama wahyu. Wahyu mengatakan bahwa menyembelih kambing atas nama Allah adalah sah, sedangkan memenggalnya (bukan menyembelih) atau mengatasnamakan berhala adalah sesuatu yang haram. Pengetahuan pada level kesadaran Tauhid ini bukan sekedar pengetahuan yang didasarkan pada kesadaran spiritual, namun lebih tinggi lagi karena menjawab persoalan yang terus tak terjawab oleh kesadaran spiritual. Misalnya, apakah tuhan itu banyak? Berapa banyak? Apa sih yang diinginkan tuhan? Mengapa sih manusia diciptakan? Kemana sih kita setelah mati? Semuanya itu dijawab melalui wahyu yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul.

Penelitian moderen menunjukkan bahwa konsep ketuhanan jamak (dewa-dewa) atau tuhan yang lebih dari satu mudah sekali dipatahkan dengan bukti-bukti pengetahuan moderen. Pengetahuan kuno menganggap bahwa manusia, binatang, gunung, dan pohon memiliki materi yang berbeda, karena itu punya tuhan masing-masing. Pengetahuan moderen menunjukkan bahwa semua hal itu sebenarnya adalah sama, mempunyai unsur dasar elektron, proton, dan netron. Bahkan elektron, proton, dan netron itupun diduga punya penyusun sama. Saat ini materi penyusun inti atom terkecil yang telah disepakati para ahli adalah suatu pilinan energi yang disebut quark. Jadi apa yang ada di alam semesta ini pada esensi terkecilnya mempunyai kesamaan dan keteraturan yang luar biasa! Alam makrokosmos dimana terdapat matahari, bumi, bulan, dan lainnya mempunyai perilaku persis sama dengan alam mikrokosmos yang terdiri dari elektron, proton, dan netron. Bumi berotasi sambil mengelilingi matahari. Matahari dan semua planet di tata surya kita, secara bersamaan juga bergerak melingkar mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima sakti ini juga bergerak melingkari\ mengelilingi pusat alam semesta. Pada alam mirokosmos pun demikian. Pada bagian tubuh kita yang terkecil yaitu dalam bentuk atom karbon, elektron bergerak mengelilingi inti. Lihatlah betapa ada kesamaan luar biasa dari hukum-hukum alam ini baik dalam alam makro maupun mikro. Lihat pula betapa esensi manusia ternyata sama saja dengan binatang, kayu, bahkan intan, yaitu susunan atom karbon. Dengan bukti ini mustahil semua itu diciptakan oleh banyak dewa. Mustahil ada dewa angin mencipta angin, ada dewa monyet mencipta monyet. Bahkan mustahil ada dua tuhan, karena seluruh alam ini ternyata mempunyai hukum yang teratur dan konsisten. Andai ada dua tuhan saja, pasti terjadi banyak ketidakteraturan! Di sinilah wahyu yang sudah diturunkan sejak ribuan tahun lalu mendapatkan bukti lebih kuat dengan pengetahuan manusia moderen. Bagaimana para nabi bisa tahu tentang dzat yang Maha Tunggal padahal waktu itu tidak dikenal galaksi maupun atom? Itulah pengetahuan dari wahyu. Level yang lebih tinggi daripada pengetahuan dari bisikan suara hati.

Pada level kesadaran Tauhid, seseorang akan takjub menemukan bahwa Tuhan yang maha Tunggal, yaitu Allah swt, hadir dimana-mana dan dengan kuasanya terus menjaga keteraturan itu. Bayangkan kalau Allah tidak menghendaki keteraturan ikatan atom, maka dalam sekejap seluruh alam semesta ini terburai hancur. Tubuh manusia yang tampan, cantik, menarik, yang berjabatan presiden, artis, maupun gelandangan, semuanya dalam sekejap akan terburai menjadi entah apa. Hanya karena kemurahan Allah lah semua di alam bisa berlaku seperti sekarang ini. Pada tingkatan kesadaran ini maka seseorang akan merasakan kehadiran Allah di setiap tarikan nafasnya, kegiatannya, bahkan pikirannya. Semua itu hanya karena Allah swt, dzat yang Maha Tunggal.

Mari kita kembali pada kisah Muhammad kecil si penggembala kambing. Pada usia yang masih muda dia telah mengembangkan kesadarannya hingga tingkat kesadaran spiritual. Semakin dewasa Muhammad semakin mampu mencapai kesadaran tauhid, dengan menyadari bahwa agama hanif (agama peninggalan Ibrahim yang dianut sebagian kecil masyarakat) adalah agama yang benar, bukan agama penyembah berhala yang sedang dominan di masyarakat jahiliyah waktu itu. Puncaknya adalah ketika kegelisahan Muhammad mencapai batas tertinggi yang membuatnya sering uzlah menyepi ke gua hira di malam hari. Pada saat itulah Allah menurunkan wahyu kepadanya dan mengangkatnya menjadi Nabi.

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

18 Comments »

    Gravatar Image
  1. As.Wr.Wb…
    Aku cuma mo ngasih masukan neh,boleh dong simpulin karya agus mustopa yg berjudul,soalnya aku penggemar beratnya.
    Aku belum sempat baca,karena aku keburu berangkat ke luar negeri tuk study….thans

    Comment by ading setia — February 20, 2006 @ 12:51 pm

  2. Gravatar Image
  3. maksud saya,yang berjudul:bersatu dengan allah & mengubah takdir,agus mustopa…..Thanks

    ::: kesimpulan menurut saya :

    Bersatu dengan Allah : Allah Maha Besar sehingga bahkan lebih besar dari alam semesta (ada apa di luar batas2 semesta tidak ada yang akan tahu). Saya analogikan kita ini seperti semut di dalam bangunan besar. tak pernah kita mampu memahami bentuk bangunan itu. Kemana pun semut menghadap, maka dia menghadap ‘wajah’ bangunan. Demikian pula kemanapun kita menghadap, kita menghadap ‘wajah’ Allah. Kita ini ini semua ‘dilingkupi’ oleh Allah. Tentu saja Allah jangan dibayangkan jadi bangunan, maksudnya hanya kita tak pernah mampu membayangkan wujud Allah, karena Maha Besar melebihi besarnya alam semesta yang masih terkena ruang 3 dimensi ini.
    Mengubah takdir : takdir seperti kalkulator, jadi hasil wujud takdir bergantung kepada potensi yang diberikan Allah kepada kita beserta hukum-hukum alamnya (pre-defined), dengan pilihan ikhtiar kita (choice). Karena itulah manusia terkena pahala dan dosa, berkenaan dengan pilihan-pilihannya itu. manusia memang dikaruniai keistimewaan boleh memilih tindakan.
    khairul

    Comment by ading setia — February 20, 2006 @ 1:20 pm

  4. Gravatar Image
  5. Assalamu’alaikum..WR..WB..aku pelajarsma mau ngasih opini+pertanyaan : kenapa averus seorang ilmuan islam yg mampu berfikir bebas,tidak di terapkan umat islam..dan malahan yang nerapin pola pikir averus adalah umat yahudi dan nasrani..?
    opini:dari tulisan tentang nabi muhammad tidak disebutkan tentang bagai mana Rosulullah mampu memiliki kecerdasan yg begitu tinggi, sedangkan beliau awalnya adalah orang yg tidak mengetahui apa2..
    terimakasi….Assalamu’alaikum….(siswa)

    ::: wa’alaikum salam wr wb. memang ada berbagai aliran dalam pemahaman Islam sehingga ada yang membebaskan dalam berpikir, ada pula yang mengekang dalam berpikir. di agama lain pun hal yang sama juga terjadi. secara umum untuk hal-hal yang sifatnya wahyu maka cara berpikir kita harus diimbangi dengan kerendah-hatian bahwa masih banyak ilmu yang belum kita ketahui. Misalnya, mengapa orang Islam haram makan babi? Jawaban ilmiah apapun tetap harus diimbangi dengan kerendah-hatian bahwa ada suatu manfaat dibalik perintah itu yang kita tidak tahu. Waktu kecil dulu alasan ilmiahnya adalah adanya cacing pita (haha), padahal di sapi pun ada cacing pita. trus bagaimana kalau dimasak sehingga cacingnya mati? apakah hukum makan babi bagi orang Islam lalu berubah? Tidak, kita tetap harus rendah-hati bahwa kita belum tahu ilmunya.

    Rasulullah mempunyai kecerdasan sebagai salah satu ciri sifat rasul yaitu fathonah (cerdas). beliau banyak belajar dari kehidupan sehari-hari dan perenungan.

    Comment by Rusdi Ali Hanafia — April 3, 2006 @ 9:07 am

  6. Gravatar Image
  7. Sbg non-Muslim aku curious kenapa Nabi Muhammad SAW yg fathonah, mnrt claims umat Islam, tetap ummi ato butahuruf sampai wafatnya? Tidakkah Al Qur’an menganjurkan agar orang kalo perlu pigi ke China untuk cari ilmu?

    Umat Islam juga claim bhw perintah Allah SWT yg pertama kpd Sang Nabi ialah ‘BACA!’ yg mnrt sebagian umat Islam ini pertanda bhw Muslims diwajibkan menimba ilmu! Sayangnya dlm kenyataan lebih dari 50% Muslimah di 22 Negara Liga Arab di th. 2002 misih butahuruf (Source Ara Human Resource Report, UN). Sumber yg sama jug mencatat bhw di semua negara Liga Arab itu hanya menerbitkan buku dlm jumlah yg kurang dari jumlah buku yg diterbitkan di Portugal dlm taun yg sama.

    Apakah ini berarti bhw banyak umat Islam tidak patuh thdp perintah Allah SWT?

    Salam pencerahan,

    GKR

    ::: betul. umat Islam memang masih banyak yang tidak patuh kepada perintah Allah swt. padahal sudah dijanjikan bahwa Allah akan mengangkat derajat (kemuliaan) seseorang yang berilmu.

    Comment by Gabriela — May 18, 2006 @ 11:43 pm

  8. Gravatar Image
  9. saya sedang mencoba menyusun skripsi tentang pengaruh training kecardasan kenabian terhadap kesadaran diri mahasiswa. tapi saya kesulitan untuk mencari keterkaitannya secara pasti.saya mohon anda mau membantu saya. ke email saya aja ya. makasih, assalamu’alaikum

    Comment by yudha — January 26, 2007 @ 7:03 pm

  10. Gravatar Image
  11. Kalau dalam agama Islam dan terutama mau sembahyang diharuskan menghadap ke Mekkah…karena rumah Allah itu ada di Mekkah dengan batu Hitam nya yg kalau kesana harus dicium dan disembah…(Rumah Allah itu hanya terdapat di Mekkah) Apakah ini bukan teori pembodohan dari bangsa Arab…? terhadap Umat Islam…?

    ::: tentu saja merupakan pembodohan bila itu suruhan orang Arab. tapi ini bukan suruhan orang Arab kok, ini contoh yang diberikan Nabinya orang Islam, terlepas dia Arab atau bukan. Di semua agama ada bentuk peribadatan yang bisa dipertanyakan penganut agama lain. Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, semua mempunyai bentuk peribadatan yang sulit dijelaskan dengan logika (dan kebudayaan) manusia…

    Comment by Rorokidul — May 26, 2007 @ 9:10 pm

  12. Gravatar Image
  13. mas saya mau naya emailnya yudha, karena saya juga lagi meneliti ttg kecerdasan kenabian tapi beda fokus pembahasannya.tolong ya mas

    Comment by Farid — June 1, 2007 @ 7:50 pm

  14. Gravatar Image
  15. mas tolong titip buat Yudha dan Farid ya, yang lagi nyari2 “konco” peneliti kecerdasan kenabian. saya juga lagi neliti itu. bisa tolong kirim alamat email mereka berdua biar bisa sharing2. semangat terus..

    Comment by erna — September 14, 2007 @ 1:49 am

  16. Gravatar Image
  17. Ass,
    salam kenal pak…

    Comment by herry — September 25, 2007 @ 4:44 am

  18. Gravatar Image
  19. artikelnya bagus bangetzzzzz!!!

    Comment by rus harminanti — November 1, 2008 @ 5:41 am

  20. Gravatar Image
  21. k’ading hebat banget..!!!

    Comment by ida — May 25, 2009 @ 6:14 am

  22. Gravatar Image
  23. bego luh

    bachhhhhhhhooooooooootttttttttt

    Comment by Anonymous — October 5, 2009 @ 12:45 pm

  24. Gravatar Image
  25. Ass.. Blog ni pengetahuan baru buat sy..pemikiran2 baru yang inovatif dan kreatif memang hrs selalu ditumbuhkan. trims buat SEPIA. Wass..

    Comment by irpanm — October 6, 2009 @ 6:44 pm

  26. Gravatar Image
  27. Sepia oh sepia… maju terus

    Comment by Vw — November 2, 2009 @ 9:35 am

  28. Gravatar Image

  29. Comment by Anonymous — November 2, 2009 @ 9:45 am

  30. Gravatar Image

  31. Comment by Anonymous — November 2, 2009 @ 9:47 am

  32. Gravatar Image

  33. Comment by Anonymous — November 11, 2009 @ 10:47 pm

  34. Gravatar Image

  35. Comment by Anonymous — November 11, 2009 @ 10:56 pm

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2006/02/03/jaringan-pemikir-di-dalam-perusahaan/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here