Takdir seperti kalkulator
Demikianlah analogi yang disampaikan Agus Mustofa dalam bukunya Mengubah Takdir. Artinya keberhasilan kita di dunia ini bergantung pada potensi yang sduah diberikan Allah, dan usaha kita dalam bentuk memijit-mijit tobol kalkulator itu.
Saya rangkum kembali apa yang disampaikan Agus dalam bahasa saya. Kira-kira kurang lebih begini. Setiap diri kita ini sudah diprogram sebelumnya oleh Allah seperti halnya setiap kalkulator sudah diberi program di dalamnya oleh pabrik pembuatnya. Program dasar inilah yang kita sebut potensi diri, atau hukum Allah (sunnatullah). Setiap manusia mempunyai program dasar yang sama dengan variasi ada yang dilebihkan dikit ada yang dikurangi dikit. Ibaratnya semua kalkulator pasti punya program dasar penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Kalau tidak ada program dasar itu ya tidak layak disebut kalkulator normal. Demikian pula setiap manusia telah diberi program dasar ‘kemanusiaan’ yang membuatnya layak disebut manusia.
Nah, seperti halnya kalkulator, ternyata selain punya program dasar yang sama, atribut tambahannya bias berbeda-beda. Ada kalkulator yang cukup dengan tombol-tombol sederhana, ada yang dirancang khusus dengan tombol-tombol istimewa misalnya tombol kuadrat, akar, sin cos, dan lainnya. Nah dengan adanya perbedaan ini maka kecepatan kalkulator untuk mengerjakan sesuatu berbeda-beda. Misalnya bagi kalkulator sederhana untuk menghitung 3x3 perlu empat langkah yaitu pijit angka 3, pijit ‘x’, pijit 3 lagi, dan pijit ‘=’. Untuk kalkulator yang punya tombol kuadrat cukup dua langkah, yaitu pijit 3, lalu tombol kuadrat. Hasilnya sama, tapi kecepatannya beda.
Demikian halnya dengan keunikan kita masing-masing, untuk mencapai prestasi yang sama bagi setiap orang mungkin dibutuhkan ikhtiar yang beda jalannya dan beda kesulitannya. Ada yang pintar olahraga, akan mudah untuk main basket tapi belum tentu mudah mengerjakan matematika. Kita menyebutnya kecerdasan atau bakat yang berbeda. Namun kalau mau terus berusaha, yang tidak jago matematika tetap bisa mengerjakan soal matematika walaupun perlu usaha lebih keras, jalan lebih berliku, dan ketekunan. Bagi yang jago matematika, dia bisa mengerjakannya dalam sekejap, laksana pijit tombol kuadrat di kalkulator.
Selain keunikan yang sudah diberikan Allah kepada masing-masing diri kita, masih diperlukan ilmu untuk melakukan usaha dengan benar. Ini ibarat memijit tombol kalkulator dengan tombol yang benar dan urutan yang benar. Andai kita punya kemampuan laksana kalkulator yang canggih, tapi tidak pernah memijit tombol atau keliru memijit tombol, hasilnya juga akan salah. Lebih saying lagi bila punya kemampuan tapi tidak tahu bahwa punya kemampuan, ibarat kalkulator punya tombol kuadrat tapi tidak tahu kalau ada, atau tidak tahu cara pakainya.
Yang lebih ironis lagi ada orang yang salah pijit tombol ‘off’ alias mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri atau melakukan hal yang mencelakakan dirinya. Itulah mengapa orang yang bunuh diri itu berdosa, karena kematian jenis seperti itu adalah kematian yang mengandung ‘ikhtiar’ dari pelaku. Sebenarnya, seperti kalkulator juga, tanpa pijit tombol ‘off’ pun kelak si kalkulator akan mati sendiri, yaitu karena kehabisan batere!
Analogi pak Agus ini menurut saya cukup bagus untuk menjelaskan konsep takdir secara sederhana. Hasil kita di dunia ini adalah kombinasi antara potensi yang diberikan Allah (disebut qadla), kemudian berinteraksi dengan usaha kita (laksana memilih tombol yang dipijit, ini terserah pengguna dan bergantung ilmunya), maka hasilnya tak pernah akan keluar dari ketetapan Allah, laksana himpunan hasil yang mungkin dikeluarkan kalkulator pasti sudah diketahui oleh pembuatnya.
Demikianlah ketetapan tentang takdir. Allah sudah menetapkan takdir bagi kita dalam bentuk potensi, hukum sunnatullah, dan Allah pun memberikan kepada manusia kebebasan untuk memilih akan diapakan ‘kalkulator’ yang telah dikaruniakan kepada kita dalam hidup ini.







Untuk beberapa hal saya setuju Pak,
Buat yang punya potensi sebagai “scientific calculator”, gunakanlah untuk menyelesaikan persoalan2 yang sulit, biar tepat guna. Buat yang mempunyai potensi sebagai “kalkulator tukang cabe”, gunakan potensi ini untuk mempermudah menyelesaikan persoalan mudah.
Tapi Pak, kalau kalkulator kan makin sering dipake makin cepat abis batere nya…..gimana nih…..rajin-rajin istirahat aja kali ya?
::: iya Di. makanya biarpun di Jepang jangan lupa istirahatnya gaya orang Indonesia. malas dikit, pakai PQ, haha.
Comment by Odi — February 15, 2006 @ 2:54 pm
gimana pengaruh doa?
Comment by toto — October 26, 2006 @ 4:58 pm
ass…..
yth;
bisa ga tolong rangkumin bukunya agus mustofa, yang berjudul TERPESONA DI SIDROTUL MUNTAHA atau kirimkan ke email saya.
sebelum n sesudahnya, saya ucapkan TERIMAKASIH
Comment by aditia — November 17, 2006 @ 8:33 am
Mas Khairul..
menarik sekali kata2 inspirasi tentang takdir..operator kalkulator yg cerdas tentunya bisa mengupayakan “subroutine program ” yg hemat energi..kalau isunya kehabisan battery..masih bisa diupayakan program auto power recovery..bisa mengambil dari resources yg ada disekitar..(solar cell)..he..he..memang perlu dicari satu translation atas semua “petunjuk Tuhan” yg termaktub di Kitab suci..yang mudah dipahami oleh manusia saat ini..walau hak memberikan pemahaman “ada pada DIA”..
tetap semangat ya..
Comment by Birowo — November 20, 2006 @ 3:31 am
tadir emang karna adanya bakat dr Allah,tapi tanpa usaha yang maksimal maka rugilah orang yang berbakat tsb.dan yang terpenting dlm usaha hrs slalu mersa bahwa smua hanyalah krn Allah dan karna jasa2 Rosullulloh.
Comment by pebri swy — October 8, 2007 @ 2:53 pm
aslmlkum…..
tolong beri info dimana saya bisa memesan buku2 karangan agus mustofa karena saya sulit sekali mendapatkannya.
tolong info alamatnya
trims….
wassalam
Comment by evi — April 9, 2008 @ 2:03 am
seorang guru bertanya kpd muridnya pd saat pelajaran sejarah…
Guru: “andi! coba kmu jelaskan knp pangeran diponogoro bisa trtangkap oleh Belanda?”
Murid: ” Gampang pak! Jawabannya krn…krn..SDH TAKDIR PAK!”
‘lah klu bgtu indonesia dijajah 350 tahun jg…SDH TAKDIR.
seorang profesor brtanya kpd seorang mahasiswa…
Profesor:”Apa kmu tau knp di indonesia bnyk koruptor?”
Mahasiswa:”Karena banyak pejabat yg menganggap dirinya sdh ditakdirkan menjadi koruptor”
‘lah kapan insyafnyaaa…..
Comment by Nalar — October 10, 2008 @ 5:20 am
AGUS MUSTOFA
Comment by WAHYU — May 28, 2009 @ 2:33 pm