Hadiah si angsa : memberi apresiasi sebelum berhasil
The Gift of the Goose
If you wait for final results before patting people on the back, you might wait forever.
Dalam buku Gung Ho!, Ken Blanchard - penulis One Minute manager - menyampaikan 3 rahasia untuk membuat organisasi menjadi solid.
Rahasia pertama adalah memberikan visi kepada tim bahwa apa yang dilakukan mereka sangatlah bernilai. Ini dia sebut sebagai the Spirit of the Squirrel (semangat si Tupai). Rahasia kedua adalah membuat setiap orang tahu tanggungjawabnya masing-masing dan mengemban tanggung jawab sebaik-baiknya sesuai kemampuan, dengan caranya masing-masing. (konsep ini mirip dengan apa yang disebut Jim Collins dalam buku Good to Great sebagai orang tepat yang ’self-managed’). Ken menyebutnya the Way of the Beaver (cara si Beaver).
Rahasia ke-tiga adalah budaya saling memberi semangat yang diilhami perilaku angsa-angsa. Ken menyebutnya the Gift of the Goose. Kuncinya adalah terus mempertahankan antusiasme tim dengan memberikan apresiasi kepada kelompok terhadap prestasi baik besar maupun kecil. Lebih jauh lagi konsep ini bahkan menekankan pemberian apresiasi kepada tim walaupun belum mencapai hasil. Pernahkah Anda melihat sekelompok angsa (atau bangau kalau di tempat kita) yang terbang dalam formasi V dan selalu berkaok-kaok? Ya, mereka saling berkaok-kaok untuk memberi semangat satu sama lain.
Saya kira Anda juga pernah melihat pertandingan sepakbola di mana dukungan supporter mampu meingkatkan moral pemain. Kita lihat hal yang sama saat tim bulutangkis kita main di All England, juga kita lihat di liga Softball Amerika, dan yang paling kentara adalah cheer leader di pertandingan basket NBA. Sumbangsih para supporter ini luar biasa besar bagi pemain (bayangkan apa jadinya pertandingan dengan penonton yang pasif duduk manis melihat pertandingan… ). Mereka memberi semangat terutama ketika timnya tertinggal dari lawan. Coba kalau mereka memberi semangat hanya kalau tim nya sudah menang, tentu yang terjadi justru timnya tidak menang. Berikan semangat kapan saja, baik sebelum maupun setelah prestasi tercapai.
Seringkali karena kita terlalu banyak prestasi maka kita menjadi kurang peka terhadap prestasi-prestasi kecil. Saat SMA dulu, kebetulan SMA saya (SMA 1 Jogja) adalah sekolah penuh prestasi dan sering menjadi yang terbaik di berbagai bidang. Setiap kali upacara bendera hari senin, sangat sering diumumkan prestasi terbaru yang kami raih. Waktu itu saya perhatikan bahwa para siswa memberikan applaus yang meriah bila kami meraih juara 1 (terbaik). Sayangnya applaus tersebut sangat kurang bila juara 2 dan seterusnya. Saya kira hal positif dari budaya tersebut adalah dorongan untuk selalu menjadi yang terbaik (juara 1) seperti yang diterapkan Jack Welch di GE (menjadi no 1 atau no 2. kalau tidak, lebih baik tutup saja!). Tentu ini positif. Namun di sisi lain, budaya ini menunjukkan kurangnya apresiasi terhadap prestasi-prestasi kecil, yang sesungguhnya adalah awal dari munculnya prestasi-prestasi besar. Jadi, idealnya, kita selalu memberikan applaus yang meriah terhadap semua prestasi, dan spesial untuk juara terbaik kita berikan lebih meriah lagi!
Di jurusan Teknik Penerbangan ITB , tempat saya sekarang , kami selalu menjadi yang terbaik dalam disiplin pemasukan nilai akademik yang disebut DNA (Daftar Nilai Akademik) selama bertahun-tahun. Telah menjadi rahasia umum bahwa banyak dosen terlambat dalam mengoreksi ujian dan mengeluarkan nilai bagi mahasiswa. Akibatnya ITB membuat lomba memasukkan nilai DNA tepat waktu, dan memberi bonus kepada jurusan yang berhasil. Jurusan kami selalu menjadi juara pertama selama tahun-tahun awal program ini dijalankan. Jurusan lain yang kemudian mengikuti jejak kami adalah Teknik Fisika di masa Pak Kusmayanto Kadiman (waktu itu ketua jurusan, lalu menjadi rektor ITB, dan sekarang Menristek). Teknik Fisika membuat jargon :”Beat PN!” yang artinya kalahkan PN (kode jurusan kami) dalam lomba memasukkan DNA. Semester ini Teknik Penerbangan dan Teknik Fisika kembali sama-sama juara, dengan memasukkan DNA tepat waktu. Apa rahasia di balik prestasi bertahun-tahun kami tersebut? Setiap kali DNA selesai dimasukkan 100% ke administrasi ITB, kami selalu mengucapkan satu sama lain : Selamat!!! Sebuah papan monitor DNA (berupa kertas dengan informasi nilai yang sudah masuk) kami tempeli tulisan ucapan selamat bila semua DNA telah masuk. Papan ini cukup besar dan diletakkan di dekat pintu ruang makan. Besar atau kecil sebuah prestasi, kami akan tetap memberikan ucapan : Selamat!
Ternyata ini adalah salah satu rahasia keberhasilan kami. Gung Ho!







Formasi V angsa ketika terbang, kerjasama yang sangat apik.

Mhs Jurusan T. Penerbangan pasti paham mengapa formasinya V (vortex). (sekalian promosi ky tulisan di atas, pride!)
Maaf, komentar saya yg d bwh ini ga berhubungan sama topik. Tapi pingin uneg-uneg aja
Ketika para dosen berlomba2 mengumpulkan DNA tepat waktu, efeknya kadang merugikan mahasiswa, bahkan sampai ada yang ujian sehari 3 kali. Lalu kompensasi buat mahasiswa apa? DNA tepat waktu kan berkat kooperasi dosen dan mahasiswa
::: setuju! sering kelemahan satu pihak ‘ditimpakan’ ke pihak lain. Seperti halnya salah ngurus negara sehingga utangnya menggunung ditimpakan ke seluruh rakyat Indonesia.
Comment by AL — January 19, 2006 @ 8:54 pm
Wow ternyata Pak Khairul lulusan SMA 1 Yogyakarta tho? Sama dengan saya. Oh ya Pak, profesi saya kan wartawan kalau pemikirannya saya kutip tidak apa-apa khan? Pak Khairul nama lengkapnya siapa dan atributnya apa? Dosen Teknik Penerbangan ITB? Mungkin sebaiknya dijawab di email pribadi saya aja Pak. Saya alumni SMA 1 Yogyakarta Jurusan Fisika (III A1) tahun 86/87
Comment by katna — September 27, 2007 @ 7:37 am