Fokus pada kekuatan, dan mengelola kelemahan secukupnya
Seberapa beda kita dengan simpanse?
Sangat sedikit, cuma 2,7%!
Riset atas genom menunjukkan bahwa perbedaan genetik antara manusia dan monyet sangatlah tipis. (Sehingga ada yang menyimpulkan bahwa manusia satu nenek moyang dengan monyet. Wah, ngawur tuh! kalau seperti itu, tentu kita bisa disebut satu keturunan dengan rumput, karena sama-sama tersusun dari atom karbon. hehe.)
Di situlah justru yang menarik. Perbedaan kecil bisa berakibat perbedaan yang besar! Anda dan saya hampir seluruhnya sama. Hanya ada sedikit sekali perbedaan kecil genetik, dan akibatnya adalah perbedaan yang sangat besar antara saya dan Anda sebagai individu. Kita masing-masing unik secara individu.
Secara alamiah kita sebagai manusia belajar dari meniru manusia lain. Termasuk untuk mencapai sukses. Yang sering kita abaikan adalah bahwa setiap diri kita itu unik. Jadi jalan mencapai sukses setiap orang adalah unik. Karena itu kita perlu mencari cara kita yang paling alamiah untuk bekerja, berusaha, dan bertindak mencapai sukses.
Sebuah buku berjudul Now, Discover Your Strengths karya Marcus Buckingham berisi tentang riset organisasi Gallup terhadap orang-orang yang top di bidangnya selama 3 dekade menyimpulkan bahwa seharusnya setiap orang berfokus pada kekuatan talentanya masing-masing. Riset gallup menyimpulkan adanya 34 tema talenta. Mereka mengembangkan metode untuk menyingkap kekuatan seseorang dengan kuesioner berisi 180 pertanyaan. dari kuesioner tersebut akan teridentifikasi 5 talenta utama seseorang.
StrengthFinder, nama metode dan tool yang dikembangkan, telah diaplikasikan di Greenville College, Amerika. Hasilnya menakjubkan. Daripada berusaha membuat semua orang mempunyai kompetensi standar, konsep StrengthFinder ini menekankan setiap orang untuk tampil unik memanfaatkan talentanya masing-masing dan kemudian bersinergi dengan orang yang lain untuk membentuk tim kerja yang baik.
Konsep StrngthFinder ini sama dengan konsep yang dipakai SEPIA Modus, sebuah tool yang ditujukan untuk mengenali kekuatan diri, berfokus mengembangkan apa yang kuat secara alami, dan mengelola kelemahan sampai batas secukupnya.
Dulu semua anak dituntut untuk pintar matematika. Sekarang pun masih, sehingga banyak orang tua khawatir dengan lemahnya kemampuan matematika anaknya. Padahal kalau anak tersebut kelak mungkin jadi diplomat, maka semua kesusahan matematika itu akhirnya kurang berguna! Ada banyak profesi yang menuntut matematika cukup dengan tingkat aljabar 1+1=2. Daripada membuang banyak waktu untuk memaksa anak belajar matematika (yang membuatnya frustasi), mengapa tidak melihat keunggulan dia dalam segi bahasa misalnya, atau fisik (kinestetik), atau musikal?
StrengthFinder menekankan pentingnya setiap orang melihat keunikan dirinya, dan meraih sukses melalui jalur paling alami yang dia miliki.
Kami sangat setuju konsep ini, karena itu kami kembangkan SEPIA Modus. Anda setuju juga?







setuju sekali, mcari sukses ya dengan alami dengan menjadi diri sendiri. makasih
Comment by d. ramdani — February 24, 2006 @ 10:01 am