Bagaimana cara menangkap monyet? Sebuah dilema prioritas.
Katanya sih begini.
Pemburu di Afrika punya cara cerdik untuk menangkap monyet. Ambil sebutir kelapa. Belah jadi dua. Pada salah satu belahan, buat lubang kecil, cukup untuk monyet memasukkan tanggannya. Pada belahan lain, tempatkan jeruk yang berbau harum. Lalu satukan kembali belahan kelapa itu, dan ikat di pohon yang banyak monyetnya.
Biarkan. Suatu saat seekor monyet yang berminat dengan bau jeruk akan mendapati jeruk di dalam kelapa itu. Maka si monyet akan memasukkan tangannya untuk mengambilnya. Karena tanggannya terkepal menggenggam jeruk, maka tangan itu tersangkut oleh lubang kecil tersebut. Monyet tidak dapat pergi kecuali dia lepaskan genggamannya. Monyet pantang menyerah, dia coba terus, dan coba terus untuk menarik jeruk keluar dari kelapa. Tentu saja dia gagal, jeruknya saja sebesar lubang kelapa.
Saat itulah pemburu muncul. Monyet menjadi panik dan berusaha lari namun tangannya tersangkut perangkap. Pemburu melempar jaring. Tertangkaplah si monyet.
Pemburu tinggal melepas pengikat kelapa tersebut, maka dia bisa tarik tangan si monyet. Yah, bolehlah jeruknya buat si monyet.
Begitulah kehidupan. Seringkali kita dihadapkan pada dilema untuk mempertahankan jeruk atau melepaskannya. Hanya monyet yang sadar bahwa jiwanya lebih berharga daripada jeruk yang akan sanggup melepaskan diri dari perangkap. Namun sadarkah si monyet?
Terkadang karir, kegembiraan, peluang, jabatan, dll, menjadi taruhan atas keutuhan keluarga, integritas moril, bahkan juga keselamatan diri. Bila terjadi dilema kepentingan, mana yang Anda pilih? Karir atau keluarga? Uang suap atau integritas moril? Pilih turun jabatan atau pengkhianatan amanat?
Tanpa mengetahui apa yang menjadi sumber kebahagiaan sejati kita, dapat terjadi kita menukar sesuatu yang berharga dengan sekedar suatu kesenangan sekejap atau mimpi semu.
Sumber cerita menangkap kera, perangkap dengan pisang, juga kisah sufi yang mirip.







1) Adalah tidak aneh bahwa si monyet tidak mengerti bahwa tidak mungkin ada jeruk di dalam kelapa, kecuali ada ’sesuatu’ yang membuat itu. Apa ini yang namanya nasib si monyet?
Dengan terjebak, dia memberi manfaat buat si pemburu.
2) Repotnya, seringkali batas antara benar dan salah teramat tipis. Mungkin perlu dibahas parameter-parameter yang dapat membantu membedakannya, atau mungkin ada keywordnya. Misalnya batasan antara suap dan hadiah. Atau yang penting dalam segala tindakan cukup diiringi dengan niat dan prasangka baik saja?Contohnya lagi, pada pilihan karir atau keluarga, gimana kalo alasan milih keluarga adalah untuk nunjang karir, atau sebaliknya, milih karir untuk kebahagiaan keluarga?
::: 1) sering hal di dunia ini merupakan rekayasa orang lain untuk memerangkap kita. Sistem gaji, kendali harga BBM, suku bunga, peraturan2, semua adalah rekayasa manusia dengan suatu maksud. Dengan melatih diri (terutama PQ) kita lebih mampu ikut bermain dalam kehidupan ini.
mungkin begitu…
2) batas benar dan salah memang sangat tipis. penting sekali memang meningkatkan SQ, karena kecerdasan spiritual erat kaitannya dengan kemampuan memilih benar dan salah (cara mudahnya adalah bergaul dengan orang shaleh - resep ‘tombo ati’).
Setiap tindakan kita idealnya memang dikaji dari banyak sudut pandang sehingga bisa menghasilkan sukses ‘dan’, bukan sukses ‘atau’. Misalnya sukses karir ‘dan’ keluarga, bukan sukses karir ‘atau ‘ keluarga. Seringkali kita terjebak pada mental menganggap sebuah peluang sebagai ‘kesempatan satu-satunya’ sehingga luput dari pilihan yang lain. Dalam kasus monyet tersebut, bisa terjadi si monyet melihat jeruk sebagai ‘kesempatan satu-satunya mendapat makanan enak’, itulah yang membutakannya dari kesediaan melepas jeruk untuk menyelamatkan nyawa.
Saya sangat setuju, kita senantiasa bisa memilih pasangan yang bisa membantu karir, atau memilih karir yang bisa membantu mewujudkan keluarga bahagia.
khairul
Comment by gunta — December 12, 2005 @ 4:28 pm
Di sekolah kita diajarkan untuk terbiasa membuat batasan atau definisi yang jelas. Kita pun dihadapkan (oleh pak guru atau pak dosen) dengan masalah-masalah yang sudah jelas. Tentu hal itu sangat bagus. Apa-apa yang tak jelas susah dikelola. Energi besar, tapi entropi sangat besar ya kita sudah menggunakannya. Kita perlu keteraturan dan kejelasan untuk bisa lebih powerful. Sayangnya, sebagian besar hidup ini aturannya tak jelas (tak diformalkan) dan segala penuh ketidakpastian. Saya setuju dengan Mas Khairul, suara hati yang jernih merupakan kompas tak tertandingi menghadapi hidup yang tampak tak jelas dan tak pasti.
Comment by Ahmad Thoha Faz — January 22, 2006 @ 4:53 am