Cacat membawa nikmat : Kisah 2 ekor kodok
Sekelompok kodok sedang berjalan-jalan melintasi hutan. Malangnya, dua di antara kodok tersebut jatuh kedalam sebuah lubang. Kodok-kodok yang lain mengelilingi lubang tersebut. Ketika melihat betapa dalamnya lubang tersebut, mereka berkata pada kedua kodok tersebut bahwa mereka lebih baik mati.
Kedua kodok tersebut mengacuhkan komentar-komentar itu dan mencoba melompat keluar dari lubang itu dengan segala kemampuan yang ada. Kodok yang lainnya tetap mengatakan agar mereka berhenti melompat dan lebih baik mati.
Akhirnya, salah satu dari kodok yang ada di lubang itu mendengarkan kata-kata kodok yang lain dan menyerah. Dia terjatuh dan mati.
Sedang kodok yang satunya tetap melanjutkan untuk melompat sedapat mungkin. Sekali lagi kerumunan kodok tersebut berteriak padanya agar berhenti berusaha dan mati saja.
Dia bahkan berusaha lebih kencang dan akhirnya berhasil. Akhirnya, dengan sebuah lompatan yang kencang, dia berhasil sampai di atas.
Kodok lainnya takjub dengan semangat kodok yang satu ini, dan bertanya “Apa kau tidak mendengar teriakan kami?” Lalu kodok itu (dengan membaca gerakan bibir kodok yang lain) menjelaskan bahwa ia … tuli!
Akhirnya mereka sadar bahwa saat di bawah tadi mereka dianggap telah memberikan semangat kepada kodok tersebut.
Apa yang dapat kita pelajari dari ilustrasi di atas?
Kata-kata positif yang diberikan pada seseorang yang sedang “jatuh” dapat membuat orang tersebut bangkit dan membantu mereka dalam menjalani hari-hari. Sebaliknya, kata-kata buruk yang diberikan pada seseorang yang sedang “jatuh” dapat membunuh mereka. Hati hatilah dengan apa yang akan diucapkan.
Suarakan ‘kata-kata kehidupan’ kepada mereka yang sedang menjauh dari jalur hidupnya. Kadang-kadang memang sulit dimengerti bahwa ‘kata-kata kehidupan’ itu dapat membuat kita berpikir dan melangkah jauh dari yang kita perkirakan.
Semua orang dapat mengeluarkan ‘kata-kata kehidupan’ untuk membuat rekan dan teman atau bahkan kepada yang tidak kenal sekalipun untuk membuatnya bangkit dari keputus-asaanya, kejatuhannya, kemalangannya.
Sungguh indah apabila kita dapat meluangkan waktu kita untuk memberikan spirit bagi mereka yang sedang putus asa dan jatuh.
komentar : terkadang, ‘kekurangan’ bisa menjadi ‘bless in disguise’, rahmat terselubung.
Dikutip langsung dari Renungan Islam (situs bagus).







Telinga dengan bibir jaraknya kurang sejengkal. Apabila kita mengucapkan kata-kata, maka alam bawah sadar kita akan merekam dan tanpa disadari akan mengikuti apa yang kita ucapkan. Awali hari-hari dengan “bismillah” hari ini akan lebih baik dari kemarin.
Comment by jetixo — December 16, 2005 @ 5:44 am
keren euy… cerita ilustrasi yang sangat bagus
Comment by bobry — January 18, 2006 @ 7:49 am
Menumbuhkan semangat yang baik lebih mudah daripada mempertahankan dan mengekalkannya sehingga menjadi sebuah kebiasaan.Jemu dan cepat bosan yang menjadi karakter dominan apalagi saat suasana hati sedang gelisah atau berduka.Jadilah semangat itu seperti kerupuk di siram air.bagaimanakah cara mempertahankan semangat dan cita-cita agar terus membara?
Comment by Anonymous — March 29, 2006 @ 3:01 am
ilustrasinya sangat menenangkan jiwa.
Hewan saja bida kenapa manusia yang mempunyai akal tidak bisa??
Comment by hendy — May 17, 2006 @ 4:49 am
kayak cerita jangkrik 2 yang ditaruh pada box
Comment by A. Purnomo — March 14, 2007 @ 11:39 pm
ceritanya bagus mas bisakah saya membaca cerita-cerita yang lain? terimakasih…
Comment by eky — September 7, 2009 @ 1:30 pm
HEBAT.SIP LAH
Comment by ANGGONO — October 15, 2009 @ 8:10 am
sip…pencerahan nih bagiku
Comment by agus — November 25, 2009 @ 5:32 am