Beriman dengan sederhana, beragama dengan sederhana
“saat ini saya lagi bimbang dengan “kepercayaan” saya. bisakah anda menunjukkan atau mengajarkan saya bagaimana cara untuk belajar menyakini sesuatu? karna saat ini saya tidak dapat menyakini apapun”
Saya bersyukur saudara mau berbagi tentang hal ini. Saya bersyukur saat ini saudara mampu merasa bimbang, karena setahu saya itulah awal dari pencarian spiritual yang mendalam. Banyak orang merasa ‘puas-puas’ saja dengan yang sudah ada sehingga berhenti ‘mencari’. Padahal apa yang sedang dia yakini saat ini boleh jadi sekedar warisan dari ‘nenek moyang’ yang tak lagi diuji kebenarannya. Mudah-mudahan saudara sepaham dengan saya bahwa sejarah para Nabi dimulai dengan kebimbangan. Demikianlah yang terjadi pada Ibrahim, Musa, Muhammad, dan para Rasul lainnya. Karena itu kebimbangan saudara pantas disyukuri.
Langkah pertama. Satu kesamaan yang saya amati dari sejarah para rasul adalah kisah masa kecil mereka yang banyak menyendiri merenungi penciptaan alam. Ibrahim sendirian sejak bayi. Musa gelisah dalam pelarian. Muhammad merenung sambil menggembala kambing. Saya menyimpulkan, bahwa kiat paling sederhana dan paling ampuh dalam perjalanan spiritual seseorang adalah : menyendiri mengamati keindahan dan keagungan alam.
Berkali-kali saya gagal dalam bisnis (juga dalam belajar, dan juga ‘cinta’). Salah satu yang saya rasakan amat menghibur adalah pengalaman mengamati bulan. Sampai sekarang saya masih senang mengamati gunung, langit, hamparan sawah, dan tentu saja debur ombak laut pantai selatan (saat sempat). Mengamati alam dan merasakan kedahsyatan penciptaan di baliknya, sungguh merupakan obat mujarab saat saya bimbang. Kehidupan moderen yang serba cepat ini menjadikan fokus kita hanya sempit pada masalah-masalah yang kita hadapi. Ini ibarat hewan ternak yang terus menunduk untuk merumput sehingga yang terlihat hanya rumput. Saat hewan itu mendongak, mengangkat kepalanya, barulah dia bisa tahu bahwa dunia itu amat luas.
Akar utama dalam perjalanan hidup manusia adalah beriman bahwa Tuhan itu ada. Dia ibarat akar yang membuat pohon tak roboh dilanda topan, jangkar yang membuat kapal tak hanyut oleh badai. Bila keyakinan iman kuat, problem apapun akan seperti ombak membentur karang. Semua kejadian nasib kita tidak pernah terlepas dari pengawasan Tuhan.
Meyakini hal-hal yang tak kelihatan (ghoib) di dalam Islam disebut dengan “iman”.
Langkah kedua. Setelah yakin kepada Tuhan, selanjutnya kita perlu mencari petunjuk wahyu karena ada banyak hal yang tak terjelaskan logika maupun suara hati. Saya pribadi, setelah mempelajari sejarahnya dan yakin bahwa mustahil Quran itu ciptaan manusia, meyakini bahwa Muhammad benar adalah rasul Allah. Artinya, yang dia sampaikan adalah kebenaran, bukan opini apalagi bualan.
Anggap kita telah meyakini salah satu agama sebagai panduan hidup. Agama itu merupakan kebenaran mutlak, namun penafsirannya bisa bias oleh keterbatasan manusia. Karena itu -sesuai petunjuk Rasulullah- saya berusaha mencari kemudahan dalam menjalankan agama. Saya mempunyai kesimpulan pribadi : jalankanlah agama itu dengan sederhana namun penuh penghayatan. Saat ini saya juga masih belajar menghayati shalat. Agama yang dibuat rumit dan sulit membuat kita menjadi malas menjalaninya.
Semua petunjuk agama itu sebenarnya untuk kepentingan manusia, karena Tuhan Maha Tidak Butuh apa pun dari makhluknya. Jadi beragama itu buat keuntungan kita sendiri. Harus ditukar dari keyakinan beribadah untuk persembahan kepada Tuhan, menjadi beribadah untuk keuntungan manusia itu sendiri. Kita butuh Tuhan, sementara Tuhan tidak butuh apapun. (Saya sering tertawa dalam hati kalau ada yang memaksa mahasiswa untuk masuk kuliah, padahal kuliah itu bukan untuk keuntungan dosen, tapi untuk keuntungan mahasiswa itu sendiri. Ini sama halnya menganggap ibadah untuk keuntungan Tuhan, padahal sebenarnya untuk diri sendiri.)
Berserah diri menjalankan perintah Tuhan -yang sebenarnya adalah untuk keuntungan manusia itu sendiri- dalam Islam disebut dengan “islam”.
Langkah ketiga adalah mencari cara terbaik beramal untuk bekal pulang ke akhirat nanti. (Siapa yang yakin tidak akan mati?). Setiap orang takut mati. Dulu saya takut mati karena membayangkan betapa sakitnya mati itu. Sekarang saya sadar, kengerian kematian itu bukan pada sakitnya sakaratul maut (yang cuma sebentar), namun karena kita ngeri tidak tahu nasib apa yang menimpa di kehidupan setelah mati itu. Artinya, saya menyadari -dalam hati kecil- amal saya kok rasanya jauh dari cukup ya?
Setelah saya hayati, kesimpulan (pribadi) saat ini adalah : setiap orang punya jalan terbaik untuk beramal. Dulu digambarkan bahwa yang amalannya paling hebat itu yang shalatnya buanyak. Sekarang saya meyakini setiap diri kita mempunyai jalan amal terbaik masing-masing.
Yang kuat shalat, silahkan banyak shalatnya. Yang pintar dagang, berdaganglah dengan jujur dan baik. Yang kaya silahkan bersedekah harta. Yang miskin silahkan bersedekah dengan tenaga. Yang jago berkelahi, silahkan jadi tentara yang berbudi. Yang pintar nulis, silahkan menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Yang penting kita menyadari bahwa kita selalu dilihat Tuhan sehingga menjalankan dengan yakin akan balasanNya.
Berbuat sungguh-sungguh dengan keyakinan dilihat Tuhan, dalam Islam disebut “ihsan”.
Dengan pemahaman itu saya menjadi lebih gembira, lebih ringan, lebih menikmati, dan lebih menghayati profesi saya. (Saat ini profesi saya adalah guru di sebuah perguruan tinggi). Saya tak lagi iri dengan perlombaan amal karena sebenarnya kita berlomba dengan diri sendiri, menjadi lebih baik daripada kemarin. Saya memilih menyempurnakan amal di arena yang telah diciptakan bagi diri saya (dan saya yakin setiap orang bisa merasakan dimana talenta dirinya masing-masing).
Maaf nih terlalu panjang. Saya singkatkan tulisan tersebut dengan poin-poin berikut :
- kiat sederhana menguatkan keyakinan adalah sering menikmati keindahan alam… sendirian.
- beragama dengan sederhana namun penuh penghayatan
- memilih jalan amal yang paling sesuai dengan bakat diri kita, dan berusaha menyempurnakan fungsi kita di wilayah tersebut
Jadi jawaban untuk “kebimbangan” itu :
- bila bimbang tentang Tuhan, maka jawabannya yang no 1
- bila bimbang tentang agama, maka jawabannya yang no 2
- bila bimbang tentang profesi (dan apa yang mau dilakukan dalam hidup ini) maka jawabannya yang no 3
- dan kalau ternyata saya salah menafsirkan arti “kepercayaan” dari pertanyaan saudara itu (haha, sangat mungkin demikian), maka sudilah kiranya memberikan tanggapan lebih lanjut…
Judul akhir dari semuanya itu : hidup jangan diperumit, mari kita sederhanakan.
Mudah-mudahan Allah menguatkan pencarian yang saudara lakukan. Dan mudah-mudahan pertanyaan saudara yang bagus ini dibalas dengan pahala dari Allah. Amin. Selamat mencari. kutipan dari Random hadits : Narrated Abu Huraira: The Prophet said, “Religion is very easy and whoever overburdens himself in his religion will not be able to continue in that way. So you should not be extremists, but try to be near to perfection and receive the good tidings that you will be rewarded; and gain strength by worshipping in the mornings, the nights.” (See Fath-ul-Bari, Page 102, Vol 1). Sahih Bukhari, Volume 1, Book 2, Number 38







Rumit dan sederhana itu relatif, maksud hadits dari riwayat Abu Hurairah bahwa agama itu mudah, hanya kita-kita inilah yang membuat rumit. Tapi lain lagi dengan pengertian, bahwa agama itu dapat dipermudah.
Seperti sabda Rasulullah SAW: ”Seburuk-buruk perkara dalam ubudiyah (pengabdian) adalah yang model-model. Semua ibadah yang diada-adakan adalah bid
ah. Dan semua bidah itu sesat dan semua sesat itu tempatnya dalam neraka”. Dalam hal ini kita tidak dapat memudahkan perkara-perkara dalam urusan beragama.Setiap amalan yang terkait dengan pengabdian kita kepada Allah SWT. Apabila kita tidak mengetahui apakah amalan tsb menurut tuntunan, maka tidak bisa kita pandang hal yang mudah. Disinilah tentu kita dituntut untuk selalu mengkajinya kebenaran agama kita.
Mudah-mudahan hal ini dapat menambah perbendaharaan kita dalam mencari keridhaan Allah SWT.
Comment by antok — December 14, 2005 @ 4:23 am
bahasannya cukup bagus dan terus di kembangkan lag,saran say bahasan apapun harus bersumber pada al’quran dan alhadist,mungkin itu yang dapat saya sampaikan.Terimakasih
Comment by Gilank budi unggara — March 7, 2006 @ 8:09 am
man arafa nafsahu, arafa rabbahu. sejauh mana manusia mengenal dirinya berbanding lurus dengan sejauh mana ia mengenal Tuhannya. setelah itu baru kita beranjak pada min aina ana dan ila aina ana. Islam itu mudah, tapi bukan untuk mencari kemudahan
Comment by syahida — January 24, 2007 @ 3:38 am
Semakin kuat keyakinan seseorang, semakin mantap dia melangkah. Terlepas keyakinan itu benar atau salah. Tidak mudah di goncang ombak kehidupan. Tidak lapuk dimakan usia. Setahu saya, orang yang imannya stabil dan meningkat Cuma dimiliki oleh para nabi dan rosul. Jadi, amat sangat layak dan wajib bagi kita untuk terus mengupgrade keimanan yang bersemayam di pikiran dan hati.
Comment by A. Purnomo — March 14, 2007 @ 11:17 pm
Alhamdulillah……….saya ucapkan karna saya sudah membaca tulisan diatas,karna saat ini saya sedang bingung tentang agama ini, saya mau curhat dikit…tolong jika mas berkenan tolong kasi saran,saya punya pacar beragama kristen,saya pacaran sudah satu tahun lebih,saya sangat mencintai dia, tapi dilain pihak saya muslim saya berusaha putus tapi enggak putus-putus karna kami saling cocok kecuali tentang agama itu saya takut ….kalo Alloh murka,tapi gimana?????….apakah saya harus putus karna saya lebih mencintai Agama saya tapi saya masi bimbang.
Comment by nurul bariyah — August 24, 2007 @ 3:45 am
Buat Nurul Bariyah. Setahu saya memang sebagian ulama masih toleran bila yang muslim suami, dan yang lain agama (ahli kitab) adalah yang istri. Karena dalam pandangan Islam seorang suami bertanggungjawab atas keluarganya.
Untuk dirimu, saya anjurkan shalat hajat agar diberi solusi dari Allah swt. Karena saya muslim, maka kewajiban saya untuk menyarankan agar Nurul memperhatikan betul masalah ini. Hal yang sama akan saya sampaikan andaipun saya beragama lain (yaitu menganjurkan agar masalah agama disesuaikan dengan panduan dari masing-masing agama tersebut, termasuk dari sudut pandang ajaran kristen yang dianut teman Nurul), karena masalah agama itu akan mewarnai kehidupan rumah tangga sehari-hari. Dan itu akan dijalani sepanjang hidup.
Comment by khairulu — August 27, 2007 @ 10:06 am
saya mau nanya nich, ada temen saya pernah ngucapin supah,trus bawa2 agama, ama nabinya, dia bilang saya bersupah apabila saya ngelakuin yang tidak senonoh saya tidak islam lagi tapi di mulut die aja, di hati kecil dia gak ngomong seperti itu, artinya cuman di mulut doang, trus gimn tuch hukumnya, setahu saya yang namanya sumpah itu khan gak ada, mana ada sumpah, mohon dibalas karena kawan saya dlm kondisi kebimbangan.
Comment by gilang — September 26, 2007 @ 1:53 am