Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Menjadi Egois untuk menjadi bahagiaMenghargai Ilmu Sederhana : Telur Columbus »

October 12, 2005

Melatih Kecerdasan Emosi Anak : melatih sikap Proaktif

anak kecilAkhir tahun 80 an Stephen Covey, penulis Seven Habits of Highly Effective People, membuat istilah baru sebagai lawan dari sikap reaktif, yaitu sikap “proaktif”. Istilah ini kemudian menjadi sangat populer di seluruh dunia.

Sikap reaktif adalah sikap seseorang yang gagal membuat pilihan respon dikala mendapatkan rangsangan (stimulus). Sederhananya adalah, bila seseorang selalu menjadi marah kalau dihina, maka orang tersebut dikatakan “reaktif” karena selalu memberikan tanggapan (respon) yang sama terhadap suatu rangsangan (stimulus). Binatang secara umum adalah makhluk yang reaktif. Bila Anda pukul, reaksinya hanya dua, takut atau marah. Suatu tanggapan yang mudah diduga sebelumnya.

Proaktif merupakan kebalikan reaktif. Bila reaktif tidak mampu memilih respon, maka proaktif adalah kemampuan seseorang untuk memilih respon. Sikap proaktif adalah sikap seseorang yang mampu membuat pilihan dikala mendapatkan rangsangan (stimulus). Menurut Covey, seseorang yang bersikap proaktif mampu memberi jeda antara datangnya stimulus dengan keputusan untuk memberi respon. Pada saat jeda tersebut seseorang yang proaktif dapat membuat pilihan dan mengambil respon yang dipandang terbaik bagi dirinya. Proaktif dia definisikan sebagai “kemampuan memilih respon”.

Bila dibandingkan dengan binatang yang senantiasa reaktif, manusia bisa bersikap proaktif. Misalnya saat dipukul binatang akan memberi reaksi dengan lari karena takut atau balas menyerang karena marah. Manusia berbeda, saat dipukul rekasinya bisa lebih beragam, misalnya justru tersenyum dan mengatakan, “Lagi doong…” (kata cowok kepada cewek pacarnya) atau bisa berlagak pura-pura tidak tahu (karena tidak ingin menimbulkan pertengkaran). Manusia punya kendali untuk memilih respon terhadap stimulus tertentu. Inilah yang disebut sikap proaktif.

Sikap proaktif sangat berguna bagi manusia terutama dalam menghadapi rintangan maupun dalam berinteraksi dengan manusia lain. Sikap proaktif menunjukkan tingkat kecerdasan emosi (EQ) yang tinggi. Seseorang bisa bertahan saat menghadapi musibah, bisa menumbuhkan motivasi saat kondisi tidak menyenangkan, juga bisa memberikan respon positif yang disesuaikan dengan situasi, semua itu merupakan sikap proaktif yang menunjukkan pengelolaan emosi secara baik.

Anak kecil biasanya masih bersikap reaktif. Emosinya tida terkendali sehingga respon yang muncul adalah respon yang semacam, itu-itu saja. Untuk melatih sikap proaktif kita perlu menunjukkan pilihan yang lebih beragam kepadanya.

Suatu ketika anak saya, waktu itu umur sekitar 4 tahun, dipukul oleh saudara sepupunya. Reaksi yang muncul tentu saja menangis karena sedih. Jenis respon tidak berdaya. Karena saya pandang penting untuk membela harga diri, maka anak tersebut harus diajarkan menuntut balas. Ini masalah prinsip nilai, sesuatu kenakalan harus dibalas dengan pembalasan yang sepadan. Namun ada prinsip nilai lain yang juga perlu dipegang, yaitu balaslah dengan lebih baik. Artinya suatu kenakalan tidak harus dibalas dengan kenakalan yang sama. Dalam Islam berlaku mata dibalas mata, darah dibalas darah, namun memaafkan – tidak karena lemah- adalah lebih baik. Maka anak itu saya dorong menuntut balas (melalui saya).

Pertama sepupunya yang nakal ditegur. Setelah itu dituntut balas. Namun daripada membalas dengan pukulan yang sama, saya berikan alternatif lain. Mau pukul di pantat? Mau pukul di kaki (bagian-bagian yang tidak berbahaya)? Atau mau diminta saja roti miliknya sebagai balasan? Pilihan terakhir yang tidak terduga ini ternyata membuat keduanya tertawa. Dan akhirnya pilihan itulah yang diambil. Roti sepupunya diberikan sebagai ‘denda’ atas kenakalannya.

Kebanyakan orang tua mencegah anak untuk menuntut balas yang menyebabkan anak terbiasa dalam situasi kalah-menang (lose-win). Bukannya menyebabkan anak menjadi berjiwa besar, hal ini justru menyebabkan anak rendah diri dan kalah. Karen aitu penting melatih untuk menuntut balas dengan pilihan-pilihan yang lebih baik.

Seringkali anak juga malas untuk makan. Ketika disuruh makan oleh ibunya reaksi pertama adalah, “Tidak mau!” Sebagian orang tua dengan segera menggunakan pilihan memaksa anak untuk makan yang menyebabkan anak merasa kalah. Alternatif yang biasa saya lakukan adalah menanyakan pilihan apa selain makan yang diusulkan oleh anak itu. Mau makan 5 menit lagi? Makan pakai pisang? Sepuluh suap saja? Semua pilihan kita –dan dia- sodorkan asal bukan pilihan tidak makan. Hasilnya seringkali mau makan 5 menit lagi. Mungkin dia menolak karena sedang sibuk melakukan suatu kegiatan (kalau anak saya biasanya karena sedang asyik membaca).

Pengalaman yang paling sulit adalah ketika anak saya minta boneka barbie yang cukup ‘premium’ harganya. Karena menurut saya ada pilihan lain, maka permintaan itu ditolak yang berakibat dia menangis keras-keras di toko (bikin malu nih!). Pilihan yang umum adalah segera membawa anak itu pergi dari toko dengan paksa yang tentu bukan pilihan ideal. Akhirnya kami berikan kesempatan si anak untuk membuat pilihan alternatif dari keinginannya tersebut. Dia memilih membuat karya dari pasir warna. Yah, mungkin solusi ini tidak semua orang bisa melakukan karena akhirnya kami tetap juga mengeluarkan uang, walaupun jauh-jauh lebih hemat.

Intinya adalah senantiasa menunjukkan kepada anak bahwa dia mempunyai pilihan dan selalu yang memiliki kendali untuk memilih. Kalau dia dipukul, maka dia boleh memilih untuk menangis, boleh memilih untuk marah, boleh memilih untuk tersenyum, boleh memilih apapun saja, asal tetap ‘memilih’!

Itulah proaktif, sadar bahwa kita memiliki kebebasan dalam memilih respon.

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

18 Comments »

    Gravatar Image
  1. Right!!!Melatih anak untuk bersikap proaktif, lebih jauh akan mengengembangkan kepribadian dan karakter anak menjadi lebih berotot, self confident anak salah satunya dapat dibentuk melalui cara ini, so selalu berikanlah kesempatan baginya untuk memilih. Always make him/her as a SUBJECT!!

    Comment by pratama — October 23, 2005 @ 4:04 pm

  2. Gravatar Image
  3. gimana caranya menyikapi anak yang temprament, dan suka berteriak. kalau dia dipukul anak tetangga apa yang harus saya lakukan, karena anak tetangga saya sangat nakal, dan orang tuanya tida peduli pada hal itu.

    kalau memungkinkan, menurut saya layak untuk mengajarkan kepada anak melindungi diri dan harga dirinya sendiri dengan membalas perlakuan anak tetangga. Ini prinsip keadilan. Kalau belum mampu dengan hal itu, maka kurangi kontak dengan anak tetangga itu (apa gunanya berkawan dengan anak yang sering menyakiti?). Bila sering berteriak (temperamental) kita bisa menunjukkan sikap jengkel, marah, bosen, dengan tingkah itu. Buku One Minute Mother karya Spencer Jhonson dan Ken Blanchard (ada di Gramedia) memberi contoh bagaimana bersikap asertif dalam mengajarkan emosi kepada anak. Bila berteriaknya karena histeris, maka mungkin diperlukan latihan penenangan. :) khairul

    Comment by ayu — October 25, 2005 @ 7:18 am

  4. Gravatar Image
  5. saya sangat tertarik dengan pembahasan ini. trus apa hubungannya sikap proaktif dengan kecerdasan emosional pada anak, khususnya remaja awal. dan ada ga’ buku - buku atw literatur yg membahas tentang sikap proaktif pd anak remaja?

    ::: Saya kira sikap pro aktif sangat menuntut kecerdasan emosi. Bila terlatih membuat pilihan dan menunda respon maka kecerdasan emosi bisa meningkat. Sebaliknya, salah satu ciri kecerdasan emosi adalah mampu mengendalikan emosi, dengan demikian sikap proaktif lebih mudah dilakukan mereka yang ber EQ tinggi. Ada konsep “six second” yaitu bila kita mampu menunda reaksi emosi selama 6 detik, maka kita akan mampu menimbang dengan lebih jernih. Demikian yang disampaikan salah satu organisasi pelatihan EQ yaitu Six Second.

    Salah satu buku yang menarik adalah buku karya Sean Covey berjudul 7 Habits for Teens. Terjemah Indonesianya sudah ada (sampul merah). Salah satu yang menarik dalam buku itu adalah ‘gaya menantang si anak untuk melakukan apa yang dia mau dan merasakan sendiri akibatnya’. Misalnya ada yang malas belajar, justru ditantang, ya sudah silahkan malas, main saja melulu, sia-siakan waktu belajarmu, sekalian gak usah sekolah saja. Silahkan nikmati rasanya hidup luntang-lantung, dsb, dsb.. Ini gaya khas mengatasi anak remaja yang suka ngeyel. Sean Covey saya kira cukup mengerti psikologi remaja. Mungkin mbak Shanti sdh baca yaa…. Saya belum dapat lagi buku yang menarik ttg proaktif bagi remaja. :) khairul

    Comment by shanti — November 19, 2005 @ 1:50 am

  6. Gravatar Image
  7. Bagus… Saya pikir ga cuma bisa diterapkan pada anak, tapi diri sendiri dan orang lain ketika berinteraksi dengan kita.
    Manusia sering dihadapkan pada situasi dimana mereka harus membantu orang lain mencari solusi. Tentunya ‘alternatif/pilihan’ adalah solusi itu sendiri.
    Yang menjadi hambatan adalah: tidak mudah menciptakan alternatif/pilihan.
    Ada solusi ga? :)
    –fyi, awal paragraf-2 saya pikir maksudnya adalah ’sikap reaktif’–

    ::: trims banget. setelah dibaca memang kalimat utama harusnya ttg ‘reaktif’. sudah dikoreksi. tks ya.

    Tentang alternatif pilihan, memang penciptaannya bergantung pada IQ (daya cipta) seseorang. makin kreatif dan terlatih, makin mudah membuat pilihan. Karena itu sikap proaktif juga perlu didukung IQ. Salah satu cara melatih kreatifitas adalah dengan ‘menghubungkan 2 hal yang jauh’, misalnya coba apa hubungan spongebob dengan golf, maka kita bisa jawab, misalnya ’saya lihat bola golf bergambar spongebob’, ’saya main golf sambil nonton spongebob’, ’spongebob sedang main golf’, ’sponegbob dijadikan maskot pertandingan golf’, dll. makin sering berlatih kreatif, makin terlatih pula membuat pilihan.

    Comment by AL — November 19, 2005 @ 7:54 am

  8. Gravatar Image
  9. Menanamkan sikap proaktif terhadap anak dengan berbagai alternatif menurutku gampang-gampang susah. Ada kecenderungan orangtua mengharapkan anaknya untuk mampu mempertahankan harga diri, sehingga seringkali jika anak misalnya dipukul temannya, biasanya respon orangtua akan menyuruh anaknya untuk balik memukul. Dengan kata lain suatu tindakan yang diterima anak harus dibalas dengan tindakan yang sama. Ajaran Islam yang memberikan alternatif memaafkan adalah lebih baik, wujud riilnya gimana? karena terlalu mudah memaafkan seringkali dinilai sebagai respon lemah dan cenderung mengesampingkan harga diri. tanggapannya yaaaaa …..

    ::: menurut saya memaafkan tidak berarti lalu tidak ada balasan. Yang betul adalah dimaafkan dan dibalas. Dimaafkan artinya hati kita telah ikhlas, dan dibalas sebagai wujud pembelajaran adanya konsekuensi. Dalam kasus qishash (pembunuh wajib dihukum bunuh), keluarga korban dapat memaafkan, dan pihak pelaku masih harus membayar denda (dam) yang juga berat. Artinya, ketika suatu kesalahan dimaafkan, bukan berarti lalu tidak ada pembalasan sama sekali, tapi masih bisa dituntut balas dengan cara yang lain, tentunya yang lebih baik. Gitu kan ya maksudnya? khairul

    Comment by MH — January 20, 2006 @ 5:59 pm

  10. Gravatar Image
  11. aku dan dia putus gara2 kita masih saudara, nenekku punya dua suami, dari suami pertama punya anak 1 namanya Sukiyem. Dari suami ke-2 punya anak 1 namanya Sukarsi, Sukarsi itu Ibuku, sedangkan Sukiyem itu neneknya pacarku…! pada saat kubilang kalo dia masih ada saudara sama dia, dia langsung putusin aku, padahal aku gak bisa hidup tanpa dia, sudah 3 tahun ini tetapi aku tetep mikirin dia dan g bisa melupakannya…! gimana ya solusinya..?

    ::: secara agama boleh. nikah sepupu. dalam hal ini salah satu adalah paman atau bibi. jadi kalau alasannya karena saudara saya kira tidak ada alasan. cobalah untuk silaturahmi lagi. mungkin dia juga gamang hanya karena masalah itu. setelah yakin tidak ada masalah hukum agama mungkin jadi bisa dekat kembali. kalau masalahnya sudah cinta dengan orang lain, ya… baiknya sih cari yang saling mencintai bukan cinta sepihak. kadang-kadang kita terus ingat ke suatu hal sebenarnya bukan karena ‘cinta’ tapi karena ‘penasaran’ (kok bisa sih dia mutusin saya?). kalau dipikir mendalam, ternyata hidup ini begitu banyak pilihan! semoga lekas jodoh kembali ya. amin. :)

    Comment by ali romzan — March 10, 2006 @ 11:05 am

  12. Gravatar Image
  13. faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional itu apa saja serta jelaskan

    Comment by Anonymous — April 22, 2006 @ 2:28 am

  14. Gravatar Image
  15. Anak saya baru berumur 11 bulan dan dia sehat sekali tetapi saya menghadapi suatu problem karena dia merupakan anak yang mudah bosan dengan mainan. untuk itu saya ingin sekali memberikan dia mainan yang dapat membuat meningkatkan kecerdasannya dan sekaligus dia bisa menyenangi mainan itu. mohon penjelasannya.

    Comment by mega — November 22, 2006 @ 1:35 am

  16. Gravatar Image
  17. intervensi apa yang harus dilakukan untuk membangun kecerdasan emosi pada remaja di panti sosial anak nakal

    Comment by ipeh — November 24, 2006 @ 5:13 am

  18. Gravatar Image
  19. cara menghasilkan uang dengan cara cerdas
    cara mempunyai uang diantanranya memang dengan investasi, asuransi, saham, bikin mall,tetapi bagaimana jika anda tidak punya modal jutaan rupiah..
    karena itulah sekarang telah muncul situs www.rahasia.net.tc
    yang memberikan tips dan rahasia yang bisa dikerjakan siapapun bahkan anak pelajar smu.
    anda pun bisa menjadi kaya jika mereka saja bisa.
    selengkapnya lihat saja di
    http://rahasia.net.tc

    BUKTIKANLAH

    Comment by diana — April 28, 2007 @ 3:48 am

  20. Gravatar Image
  21. nanya soal jenis emosi anak yang positif n negatif,sekalian fungsi n pengaruh atau dampak buat anak.segera ya penting nih buat tugas?!

    Comment by marvilia — December 3, 2007 @ 12:58 am

  22. Gravatar Image
  23. cara terapi emosi untuk anak autis …. infokan donk.. makasih.

    Comment by ida — April 18, 2008 @ 1:37 pm

  24. Gravatar Image
  25. kalo menrut sya….kecerdasan emosi itu harus di asah biar pinter……ih g xmbung…

    Comment by dea — April 28, 2008 @ 1:55 am

  26. Gravatar Image
  27. sekarang saya mau bertanya pak. kira-kira kalau setiap hari seorang anak dimarahioleh orang serumah, dampak jangka pendek dan panjang apa ya ?
    Masalahnya saya pribadi merasa amat kesihan dengan sepupu saya yang setiap hari pasti dimarahi entah oelh Mama saya, Kakak, atau Bapak saya. saya ingin menegur mereka, tapi saya belum punya argumen yang kuat untuk menegur mereka. jawaban bapak..?

    Comment by rio — June 28, 2008 @ 2:04 pm

  28. Gravatar Image
  29. coment seh tidak ada,tapi cuma mau tanya saja apakah pertanyaan atau coment yang kita sampaikan hurus tentang anak2 saja?

    Comment by sofi — August 27, 2008 @ 4:55 am

  30. Gravatar Image
  31. Saya terkejut, saat ipar saya menyuruh anaknya membalas memukul keponakan saya yang lain setelah berantem. Anak harus tau konsekuensi dari rasa sakit. Anak harus belajar membela dirinya, demikian pembelaan ipar saya. Duh, hancur hati saya mendengarnya. Buat saya itu sama artinya memelihara rasa marah. Marah itu setan. Kalo pun itu terjadi pada anak saya, saya tidak mengajarkan demikian. Anak saya bukan anak setan. Anak adalah selembar kertas putih. Soal membela diri diri dan bertahan itu adalah fitroh. Tidak harus diajarkan.Sama seperti nafsu sex. Prinsip ‘rasa’ atau ‘hati’ itu yang penting. Tidak ada salahnya kan mendidik bijak dari kecil?

    Comment by andy — October 6, 2008 @ 9:35 am

  32. Gravatar Image
  33. menarik bangets…kebetulan saya juga sedang menyusun skripsi tentang kecerdasan emosi. yang masih jadi pertanyaan saya sekarang adalah Mana yang benar?”emotional Question atau Emotional intelligence ?”.mohon referensinya yang berkaitan, terimaksih banyak.

    Comment by ita — October 24, 2008 @ 5:59 am

  34. Gravatar Image
  35. saya redha saya sekarang mengambil desain penelitian mengenai kecerdasan emosi. saya mengangkat penelitian ini karna ini benar-benar terjadi pada saya. saya merasa saya memiliki kecerdasan emosi tersebut. bukannya saya GR. tapi saya memang benar-benar merasakannya. profil saya itu saya itu orangnya suka mengajak orang ngomong sama orang yang pertama kali saya kenal(merasa sudah kenal pd hal baru pertama kali), saya selalu ramah pada semua orang baik itu yang saya tegur orang tua anak-anak, dan kalangan usia seperti saya. saya terkadang bisa melihat dari sorot mata seseorang secara jelas masalah yang dihadapinya, rasa senang yang di hampirinya, rasa was-was dsb.

    tapi yang sekarang yang saya hadapi sekarang ini saya merasa apakah ada keterkaitan mengenai bisa melihat penampakan yang tidak bisa dilihat dari mata kepala orang lain? soalnya saya merasa ddi bawah alam tak sadar padahal saya merasa sadar ?!

    mohon kejelasannya di email saya ? redha _feb@yahoo.co.id

    Comment by redha — April 25, 2009 @ 3:32 pm

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/daftar-isi/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here