Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Solusi kreatif terkadang sangat sederhanaMelatih Kecerdasan Emosi Anak : melatih sikap Proaktif »

October 9, 2005

Menjadi Egois untuk menjadi bahagia

pasanganIrv dan Maryann sudah menikah 10 tahun. Irv sangat mencintai Maryann, baginya keinginan terkuat adalah membuat Maryann bahagia, sebab bila Mary bahagia Irv juga merasa bahagia.

Dari pandangan orang luar, Irv adalah pasangan ideal. Dari hal memberi rumah, merencanakan liburan akhir pekan, hingga menonton film, Irv selalu memperhatikan opini Mary dan memastikan bahwa keinginan Mary terpenuhi. Terkadang karena kurang informasi, Irv menebak keinginan Mary. Irv selalu berusaha menyenangkan Maryann. Anehnya Mary justru merasa frustasi.

Irv dan Mary kemudian menghadiri workshop menjadi bahagia. Pada sesi menuliskan ‘daftar mimpi’(dream list), Irv dengan mudah dapat menulis daftar yang panjang. Setelah dibandingkan dengan daftar mimpi Maryann, mereka berdua terkejut, isinya nyaris sama. Mereka saling berpandangan dan menyadari sesuatu yang telah terjadi : semua daftar mimpi Irv adalah sesuatu yang disukai Maryann. Inilah masalahnya, Irv tidak tahu mana yang merupakan keinginan murninya, mana yang keinginan istrinya.

Ternyata hal ini bermula sejak masa kecil Irv. Dia meyakini bahwa tugas utama dia adalah menyenangkan ibunya. Karena itu Irv kecil menjadi sangat pandai merasakan keinginan ibunya, tapi tidak untuk keinginannya sendiri. Itulah sebabnya bila Maryann menanyakan keinginan Irv sendiri, Irv tak mampu menjawabnya.

Sejak menyadari hal itu Irv mulai menanyakan kepada dirinya sendiri, apa yang benar-benar ia inginkan? Irv berusaha membuat daftar mimpi dia sendiri. Hal tersulit adalah menghilangkan ide orang lain. Dia terus menanyakan kepada dirinya sendiri, “Apa yang sungguh-sungguh saya inginkan? Keinginan saya. Hanya keinginan saya.”

Selama workshop beberapa hari, Irv memfokuskan perhatiannya untuk menyingkap apa yang benar-benar membuatnya senang dan bahagia. Akhirnya setelah dia membuat dream listnya dan membagikannya ke Maryann, Irv merasa menjadi lebih orisinil daripada sebelumnya. Irv merasa menjadi dirinya sendiri.

Beberapa bulan kemudian penyelenggara workshop tersebut, Rick Foster, bertemu dengan Irv dan Maryann. Mengejutkan, ternyata Maryann menyukai pribadi Irv yang baru. Mary tidak lagi menemui pasangan yang selalu menurut kepadanya. Mary merasa senang mengenal Irv yang lebih asli.

Moril dari cerita di atas adalah kita perlu menjadi diri sendiri. Kita perlu untuk juga melayani diri sendiri. Hidup dengan senantiasa berfokus kepada orang lain adalah hidup yang tidak seimbang. Bukankah salah satu misi kita adalah memenuhi peran kita secara pribadi kepada diri sendiri? Rick Foster, penulis buku How We Choose to be Happy, menamakan hal ini adalah Centrality, suatu sikap berfokus kepada apa yang kita inginkan dan bukan melayani apa yang diinginkan orang lain.

Secara tidak sadar sering kita terlalu memperhatikan keinginan orang lain. Mungkin karena terlalu cinta kepada pasangan. Mungkin juga karena terlalu takut kepada atasan atau senior. Akibatnya kita menjadi peka kebutuhan orang lain namun tumpul terhadap kebutuhan diri sendiri. Untuk hidup seimbang, menjadi ‘egois’ ternyata juga penting. Siapa lagi yang harus bertanggungjawab memikirkan diri kita, kalau bukan kita sendiri?

Mengenal orang lain adalah bijaksana,
mengenal diri sendiri adalah pencerahan.
Lao Tsu
khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

10 Comments »

    Gravatar Image
  1. Inspirating Articles.
    salah satu kewajiban kita yang terutama di dunia ini adalah bagaimana agar kita mampu untuk memelihara, serta melindungi diri maupun jiwa kita terlebih dahulu(baik di dunia maupun di akhirat), bagaikan orang yang ingin menyebarkan ilmu, bagaimana ia bisa menyebarkannya bila ia sendiri tidak berilmu, jadi bahagiakanlah dahulu diri dan jiwa kita barulah sebarkan kebahagiaan tersebut kepada orang lain, karena bukankah diri serta jiwa kita pribadi adalah suatu amanah yg senatiasa harus kita jaga…!!!

    Comment by Pratama — October 22, 2005 @ 11:08 pm

  2. Gravatar Image
  3. artikelnya bagus banget. jujur, saya sering seperti itu. untuk menyenangkan ibu saya, sahabat saya, atau yang lain. tapi sekarang saya berusaha untuk lebih sedikit ‘egois’ seperti yang kamu bilang, tapi mesti seimbang kan?

    Comment by arimbi — January 1, 2006 @ 3:26 am

  4. Gravatar Image
  5. Ini artikel yang saya cari-cari semenjak saya menikah. Untuk membahagiakan isteri, saya “membunuh” keinginan sendiri. Akibatnya, isteri justru tidak bahagia. Paradoks terselesaikan. Trims, Mas Khairul.

    Comment by Ahmad Thoha Faz — January 22, 2006 @ 3:55 am

  6. Gravatar Image
  7. Bismillah, walhamdulillah, washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah

    assalamu’alaikum akhi,

    Pertama kali menemukan dan membaca sekilas situs ini ana berucap subhanallah. ( ana belum terlalu banyak membaca artikel-artikel didalamnya yang menurut ana pasti sangat menarik dan bermanfaat ). Kebetulan semenjak tahun 1999-2000 ( ketika ana kuliah di Bandung ) ana sudah tertarik untuk mengkaji lebih dalam lagi tentang konsep pendidikan, psikologi, manajemen, entepreneur dan pengembangan diri ( Quantum quotient adalah salah satu buku yang sangat bagus menurut ana ). Dan ana lebih senang lagi dengan SEPIA karena mencoba menggunakan pendekatan integratif antara ilmu pengetahuan dengan agama yang selama ini paradigma berfikir integratif ini telah ikut tenggelam dalam kelemahan ulama dan kebodohan umat islam semenjak runtuhnya kekhilafahan islam.Sehingga ketika ada para ilmuwan islam yang menggunakan pendekatan paradigma integratif ini ana sangat bahagia sekali for eample antum bertiga . Insya Allah.

    Namun ketika mengetahui bahwa yang memberi pengantar buku antum adalah Prof Dr Jalaludin Rakhmat, ana sedikit terhenyak. Meskipun sedikit namun telah menyebabkan rasa bahagia ana menjadi terburai. Bukan dikarenakan kebencian ana kepada Dr Jalaludin Rakhmat atau kang Djalal, namun sepengetahuan ana beliau memang pandai dalam beretorika ( anapun banyak belajar dari bukunya untuk yang satu ini ). Namun sepengetahuan ana juga semasa kuliah di Bandung, beliau ini merupakan salah seorang tokoh syi’ah di Indonesia diakui ataupun tidak oleh beliau ( saat ini ??? ana tidak tahu). Sehingga ana fikir kedepannya akan lebih baik lagi kalau tulisan-tulisan ataupun buku-buku antum diberi pengantar oleh ulama-ulama ahlus sunnah wal jama’ah. ( ana juga tidak tahu apakah antum ini syi’ah ataukah ahlus sunnah )

    Apakah karena dia seorang tokoh syi’ah kemudian kita harus membencinya ? tidak akhi, yang kita benci adalah pemikiran-pemikiran beliau yang bertentangan dengan al quran dan as sunnah terutama dalam masalah ‘aqidah.

    Ana fikir demikian dahulu shilaturrahim dari ana, wal’afwa minkum. wallahu ‘alam bishshawwab
    aqulu qauli hadza wa astagfirullaha li wa lakum
    subhanakallahumma wa bihamdik asyhadu an la ilaaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.

    wassalamu’alaikum
    akhukum fillah
    al hub fillah wa lillah

    al faqir ila maghfirati rabbihi

    ::: wa’alaikum salam w w
    kalau antum sempat baca pengantarnya, maka pengantar Pak jalal jauh dari kutipan dalil agama. Justru yang dikutip adalah penelitian dari barat. memang kami meminta kepada beliau untuk memberikan pengantar dalam kapasitas sebagai ilmuwan yang mempunyai bacaan luas tentang teori kecerdasan dan praktik pendidikan. Buku-buku terakhir beliau adalah ‘Meraih Kebahagiaan’ yang banyak mengutip tokoh psikologi positif Martin Seligman, dan buku ‘Belajar Cerdas’ yang berisi menu makanan pilihan agar lebih cerdas. Saya kira dalam hal ilmu kita bisa belajar dari siapa saja, termasuk konsep SQ dari Danah Zohar yang seorang fisikawan Yahudi dari Inggris. Pengantar Pak Jalal berisi tantangan untuk memasukkan ‘kecerdasan intuisi’ dan ‘kekuatan imajinasi’ dalam konsep SEPIA (hal yang menarik, buku SEPIA kami susun hanya dalam 2 bulan, namun menunggu pengantar ini hingga 6 bulan!).

    saya sendiri dibesarkan dalam budaya NU, sekolah di Muhammadiyah, dan bergaul secara inklusif dengan banyak rekan berbagai aliran di Salman ITB. :) khairul

    Comment by salafy — March 8, 2006 @ 5:27 am

  8. Gravatar Image
  9. ya, saya jadi mulai memikirkan apa sebenarnya yang saya inginkan lakukan dan saya butuhkan….kadang saya merasa diri saya sangat egois ketika permintaan dan pendapat teman tidak saya terima…karana saya merasa itu tidak sesuai dengan diri saya…., dan sekarang setelah baca artikel tadi, saya jadi sedikit lega bahwa apa yang saya anggap salah(egois) itu ternyata juga memberikan kebaikan buat saya….setidaknya saya jadi yakin kalau saya telah belajar menghargai diri saya sendiri…..thanks yaw!

    Comment by cheeee... — April 18, 2006 @ 3:41 am

  10. Gravatar Image
  11. Suatu bahasan yang merubah paradigma saya tentang diri saya sendiri, thanks pak. Semoga anda mendapatkan banyak pahala atas tulisan-tulisan anda.

    Comment by Joyo — May 24, 2006 @ 3:29 pm

  12. Gravatar Image
  13. Pak saya ingin bertanya,apakah umur juga bisa dipatokan bahwa dia itu memang lagi masa-masa egois.Contoh,saya memiliki seorang gadis dia berumur 17 tahun boleh dikatakan dia egois.Jadi,intinya apakah umur gadis saya tersebut mang lagi masa-masa egoisnya….???
    terima kasih…..

    Comment by nando — May 12, 2008 @ 5:08 am

  14. Gravatar Image
  15. Memang ada kaitan umur dengan hormonal manusia. Kondisi hormon ini secara fisiologis juga mempengaruhi tabiat manusia. Masa puber biasanya membuat kondisi emosi ikut tidak stabil, akibatnya menjadi sensitif baik mudah marah, maupun menangis. Dengan pengertian dan perlakuan yang tepat, sikap-sikap positif bisa lebih dikuatkan dibandingkan sikap-sikap yang negatif. Jadi memang perlu ilmu di kedua pihak baik orang tua maupun anak.

    Comment by khairulu — May 12, 2008 @ 11:45 am

  16. Gravatar Image
  17. ego….penting tapi jangan sampai makan diri sendiri….

    Comment by manje — August 28, 2008 @ 4:37 am

  18. Gravatar Image
  19. mohon copy ya..sungguh menarik artikel ini

    Comment by aferiza — August 12, 2009 @ 3:54 am

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/07/11/anak-kecil-penemu-alat-keselamatan-udara/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here