Meraih Bahagia & Sukses melalui IQ, EQ, SQ, PQ, AQ
bersama SEPIA Institute

Random Image

Siapa TOKOH KARTUN Sepia Modus Anda?
Coba saja fasilitas baru kami SEPIA Modus Online Quick Test!



Kini Anda bisa mendapatkan artikel SEPIA lewat email. Subscribe di menu sebelah kanan. Trims.


« Konosuke Matsushita. Andai tak dicoba ….Pilih Kaya atau Bahagia? »

September 7, 2005

Cara Kaya 1 : Kuda dan Penunggang

diper-keledaiCara menjadi kaya yang pertama adalah menerima kebenaran. Terkadang kebenaran sungguh menyakitkan. Terima saja. Bukan kebenaran yang perlu kita ubah (apalagi dihindari), namun kita yang harus bersikap cerdik dan mengambil tanggung jawab.

Setelah mencermati buku Rich Dad Poor Dad dari Robert T. Kiyosaki yang terkenal itu, ada satu bagian filososfis yang menarik untuk diingat. Saya membuat gambar kartun tentang hal ini dan memasangnya di dinding ruang kerja agar selalu ingat. Kartun itu bergambar orang naik kuda (tepatnya naik seekor keledai), orang tersebut membawa tongkat yang di ujungnya ditalikan sebuah wortel, lalu diayun-ayunkan di depan kuda. Dengan demikian kuda akan berjalan maju berusaha meraih wortel, dan penunggang dapat mengarahkannya kemana dia ingin pergi.

Apa beda kuda dengan penunggang? Setelah waktu terus berjalan, penunggang akan sampai di… tempat tujuan, sedangkan kuda hanya akan mendapat… wortel. Ini gambaran yang sangat sarkastis, tapi begitulah kebenaran memang sering menyakitkan. Terima saja.

Apa maksud gambar tersebut. Bila Anda seorang karyawan, maka setelah Anda bekerja sangat keras, di akhir bulan pemilik perusahaan akan mendapati sistem usahanya menjadi semakin bagus, dan mungkin laba makin naik. Karyawan hanya mendapat gaji. Setelah 20 tahun berjalan, pemilik (penunggang) akan mendapatkan perusahaan (sistem bisnis) dan kemudian pensiun dengan tenang, sementara karyawan (kuda) akan mendapat wortel sedikit lebih banyak (naik gaji), yang mungkin sudah dia habiskan di sepanjang jalan. Pemilik mendapatkan akumulasi dari usahanya (sampai di tempat tujuan), karyawan tidak mendapatkan akumulasi dari usahanya (hanya dapat wortel).

Pedih? Ya. Terima saja. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapi dan bertanggung jawab untuk diri kita sendiri. Jangan salahkan penunggang Anda, karena dia sebenarnya juga adalah ‘kuda’ dari sistem yang lebih besar lagi! Kita semua ini adalah “kuda di atas kuda, penunggang di bawah penunggang”. Artinya secara bertingkat kita adalah kuda dari sistem yang lebih besar sekaligus penunggang dari sistem yang lebih kecil. Jadi kalau mau menyalahkan, salahkan diri sendiri kalau masih terus menerima menjadi kuda.

Tunggu sebentar, penunggang dan kuda belum tentu berwujud manusia. Penunggang pada tingkat makro salah satunya adalah ‘negara’. Negara menunggangi rakyatnya dengan mengambil pajak. Namun negara pun hanyalah kuda bagi para penunggang sesungguhnya yaitu para elite. Sebaliknya pada tingkat mikro ada kuda berbentuk mesin-mesin, rumah sewa, lahan kebun, air sumber listrik, dan sumber daya alam. Di setiap tingkatan ada penunggang dan kuda.

Mari bersedih, terima kebenaran bahwa kita ini kuda, lalu mari kita ambil tanggung jawab. Jadi, setelah kita sadar bahwa kita ini hanyalah kuda yang diperkuda, maka yang sebaiknya dilakukan adalah : mengambil wortel, memakannya hanya sebagian, lalu menggunakan sisanya untuk mengendalikan kuda lain. Artinya, di saat lain, si kuda berubah menjadi penunggang!

Ini berarti setelah Anda lelah bekerja sebulan penuh, sudah saatnya memikirkan kemana sebagian uang (wortel) gaji Anda akan diinvestasikan. Anda bisa gunakan uang itu untuk mempekerjakan orang lain, atau mempekerjakan mesin yang mengantar Anda menuju tujuan. Mereka yang hanya memakan habis gajinya ibarat kuda yang memakan habis jatah wortelnya. Bila terus demikian maka dia akan menjadi kuda seumur hidupnya! Inilah pola konsumtif yang dilakukan sebagian besar orang. Gajinya hanya habis untuk kebutuhan hidup dan bersenang-senang. Di usia senja, baru dia sadar bahwa dia tidak memiliki apapun. Sangat tragis.

Miskin saat muda hanyalah ketidaknyamanan. Miskin saat tua adalah tragedi.

Coba sekarang Anda renungkan, apakah Anda masih sekedar kuda, atau sudah mulai menjadi penunggang? Atau lebih tragis lagi - celetuk Intan, rekan saya - , hanya menjadi wortelnya?

(bersambung)

khairulu Silahkan beri komentar ya..., tanya, kritik, atau menambah ...
Komentar Anda akan turut menyempurnakan ilmu kami, dan berharga buat pembaca lainnya. Tks! - khairul -

2 Comments »

    Gravatar Image
  1. Saya cukup salut setelah memahami arti filosofis yang dipercontohkan dengan kuda tadi,dan aku pribadi mulai merasa memang tidak salah apa yg tertulis oleh tiyosaki tersebut,memang pada kenyataanya kita lalai dengan apa yang ada pada kita,dengan didukung oleh keegoan manusia dan nafsu menyebabkan kelalaian yang tak tersadari,dan ujung2nya penyesalan akan dihadapi,tapi penanggapan saya atas ini adalah kebingungan yang mendasar bagi saya kenapa manusia {munafik} hanya teropsesi untuk memikirkan masalah keduniawian,kematerialan.Apakah kita tidak ingat bahwasanya kehidupan ini hanyalah sementara,dan kita diciptakan di dunia ini hanyalah untuk ibadah{dalam arti luas} dengan mengandalkan pemikiran2 seperti inilah yang menyebabkan konflik2 sosial terjadi,saling mengungguli,saling menjatuhkan,bahkan kalau perlu bisa sampai saling membunuh hanya demi persoalan duniawi {virus kapitalisme},pada hakekatnya kekayaan abadi adalah ketenangan jiwa,bukanlah kekayaan materi,karena belum tentu orang kaya merasa tenang dalam hidupnya.Untuk itu marilah kita ubah pola pemikiran kita tidak hanya mempersoalkan dunia,memang mencari nafkah termasuk ibadah,tapi jangan teropsesi hanya untuk memikirkan masalah itu aja,dikarenakan kehidupan abadi hanyalah di akhirat nanti {bagi yang percaya} Wallahu a’lam

    Comment by Makur Ismail Saleh — January 5, 2006 @ 3:17 am

  2. Gravatar Image
  3. Saya memahami cerita Kiyosaki tentang penunggang, keledai dan wortel tidak sampai sejauh itu tu mas Khairul. Saya memahaminya dengan memberikan pakan ke orang supaya mau bekerja dengan kita. Supaya kita mencapai tujuan kita. Carilah apa pakan yang diinginkan orang. Seringkali pakan itu adalah gaji. Alhamd4JJI, ada perspektif lain dari cerita Keledai dan wortel.

    Comment by A. Purnomo — March 9, 2007 @ 10:19 pm

Leave a comment



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Artikel lama, dipilih random, yang mungkin bermanfaat bagi Anda.
http://sepia.blogsome.com/2005/05/29/menulis-sebagai-terapi-emosi/





Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here